Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Kecurigaan Gabrielle


__ADS_3


📢 NANIA UDAH UP DI YUTUP EMAK YA BESTIE. SILAHKAN PADA MAMPIR 💜


📢 JANGAN LUPA BOM KOMENTAR DI NOVEL


- My Destiny ( Clara & Eland)


- Ma Queen Rose


- Marriage Contract With My Secretary


- Pesona Si Gadis Desa


BOM KOMENTAR SEBANYAK-BANYAKNYA YA BIAR EMAK SEMANGAT UP. OK BESTIE 💜


🎗🎗🎗🎗🎗🎗🎗


Gabrielle menatap tajam ke arah Karl yang tengah berdiri sambil menundukkan kepala. Tadi setelah Gabrielle sempat beradu mulut dengan kedua putranya, dia langsung menanyakan pada Bern dan Karl tentang apa yang sedang mereka lakukan di dekat pintu masuk. Awalnya Gabrielle tak mendapat jawaban dari kedua putranya itu. Karena merasa tak puas, Gabrielle segera berjalan mengelilingi kedua putranya dan dia langsung di buat penasaran ketika mendapati ponselnya Karl di sembunyikan di belakang tubuh Bern. Curiga, itu sudah pasti. Dan kini Gabrielle tengah menunggu penjelasan dari pemilik ponsel tersebut.


"Karl, mau sampai kapan kau diam seperti itu, hm? Bicaralah, jelaskan mengapa ponselmu bisa berada di tangan kakakmu. Cepatlah, Ibu sudah lapar," ucap Elea.


"Bu, tidak ada apapun di dalam ponselku. Tadi Kak Bern hanya sedang meminjamnya saja. Iya kan, Kak?" sahut Karl sambil menatap penuh harap ke arah sang kakak. Dia sangat berharap kalau kakaknya ini akan menjawab iya agar sang ayah berhenti mengintimidasinya. Jujur, Karl paling takut kalau ayahnya sudah seperti ini, rasanya dia seperti akan mengompol di celana.


Di tanya seperti itu oleh Karl tak membuat Bern bersedia untuk bicara. Dia hanya diam saja di samping ibunya, membiarkan Karl terus berada di bawah tekanan ayah mereka. Bern adalah kakak yang kejam bukan? Tentu saja, terkhusus lagi jika sudah berhubungan dengan Karl karena adiknya satu ini memiliki sikap yang cukup nakal. Jadi sekali-kali bolehlah membiarkan Karl mendapat obat hangat yang bisa membuatnya sedikit jera. Hehe.


Huh, dasar penjahat. Memang apa susahnya sih menjawab iya. Nasib-nasib, beginilah jika mempunyai saudara kembar dalam jalur yang berbeda. Yang satunya dingin macam balok es, yang satunya lagi sangat bodoh seperti tak punya otak. Karl-Karl, malang sekali nasibmu.


Dengan cepat tangan Gabrielle menjewer telinga Karl begitu mendengar apa yang dia pikirkan. Bisa-bisanya ya anak ini mengatai saudara kembarnya seperti itu. Heran.


"Ayah, sakit!" keluh Karl tanpa berani menepis tangan sang ayah dari telinganya.


"Masih tidak mau menjawab, hemm?" tanya Gabrielle.


"Kan tadi sudah aku jawab, Ayah. Kak Bern hanya sedang meminjam ponselku saja. Sungguh!" jawab Karl masih dengan jawaban yang sama.


"Ayah tidak percaya!"


"Kalau tidak percaya Ayah cek saja!"

__ADS_1


Dan begitu selesai bicara, Karl langsung membelalakkan matanya. Sialan, dia kelepasan bicara lagi. Tamatlah riwayatnya sekarang karena di dalam ponsel itu tersimpan banyak sekali gambar yang ....


"Berikan ponslnya pada Ibu, Bern!" perintah Gabrielle. Dia yakin sekali kalau putra Karl pasti menyimpan foto-foto wanita dengan pose dan pakaian tak senonoh di dalam ponsel miliknya.


"Baik, Ayah."


Bern segera memberikan ponsel milik Karl pada sang ibu. Setelah itu dia memandang datar ke arah Karl yang tengah mengerutu tak jelas sambil menggerak-gerakkan bibirnya.


"Eh, gambar apa ini, Karl? Kenapa bentuknya aneh sekali," tanya Elea kebingungan saat mendapati ada banyak sekali foto-foto aneh di dalam ponsel anaknya. Dia lalu melihat ke arah GabrielleGabrielle sambil menggelengkan kepala tanda bahwa dia tidak tahu tentang gambar tersebut.


"Memangnya menurut Ibu itu gambar apa?" sahut Karl malah balik memberi pertanyaan.


"Ibu tidak tahu, Karl. Itu sangat aneh, semacam patung-patung dari zaman kuno," jawab Elea ragu-ragu.


Gabrielle mengerutkan keningnya. Dia melepaskan jeweran di telinga Karl kemudian pergi untuk melihat gambar apa yang dilihat oleh Elea. Dan benar saja. Begitu Gabrielle mengambil ponsel Karl dari tangan Elea, dia langsung di buat terheran-heran akan gambar yang ada di sana. Sangat aneh, dan ini berbeda jauh dari apa yang dia bayangkan.


Setahuku dari garis keturunan Ayah dan Ibu tidak ada yang menggemari hal-hal yang berbau kerajaan kuno. Tapi kenapa Karl bisa menyimpan foto-foto seperti ini? Apa iya dia berniat menjadi sejarawan? Astaga, aneh sekali dia.


"Karl, sejak kapan kau mulai tertarik dengan hal-hal seperti ini?" tanya Gabrielle penasaran.


"Em, kalau tidak salah sejak aku berusia delapan tahun, Ayah," jawab Karl jujur. "Waktu itu aku tidak sengaja membaca sebuah buku tentang sejarah kerajaan di peradaban masa lalu. Karena penasaran, aku akhirnya terus mencari dan membaca buku-buku yang berhubungan dengan mereka. Aku juga banyak sekali mengumpulkan gambar seperti yang Ayah dan Ibu lihat di ponselku!"


"Apa kau tidak tertarik menjadi penerus salah satu perusahaan milik keluarga kita?" tanya Gabrielle. "Kakak dan adikmu masing-masing sudah mendapat bagiannya. Akan kau apakan nanti perusahaan yang Ayah wariskan padamu?"


Kedua sisi rahang Bern langsung mengetat begitu sang ayah membahas tentang harta keluarga. Seketika kesenangan yang sempat Bern rasakan karena Karl lebih tertarik pada hal lain lenyap begitu saja. Dia marah, juga muak karena perusahaan milik sang ayah telah terbagi menjadi tiga.


"Em, ini hanya sekedar hobi saja, Ayah. Nantinya aku akan tetap bekerja di perusahaan membantu Kak Bern dan juga Flowrence. Lagipula hobi seperti ini membutuhkan banyak uang. Kalau tidak bekerja, bagaimana nasibku ke depannya nanti? Masa iya aku hanya akan makan tidur dan meminta uang dari kalian saja? Kan tidak lucu," jawab Karl sambil tertawa.


"Ouh, hanya hobi. Ayah pikir kau akan benar-benar menjadi sejarawan, Karl. Huffft,"


"Memangnya kenapa kalau aku menjadi seorang sejarawan, Ayah? Apa Ayah dan Ibu akan merasa malu?"


"Sudah-sudah, sampai di sini dulu pembicaraan kita. Ini sudah malam, waktunya untuk kita semua mengisi perut. Ayo!" ucap Elea langsung mengakhiri percakapan Gabrielle dan Karl. Elea sadar kalau suasana mulai tak nyaman.


"Aku ke kamar Flow dulu ya. Sejak tadi batang hidungnya belum kelihatan. Aku merindukan gadis bantat itu," ucap Gabrielle langsung melenggang pergi dari hadapan istri dan kedua putranya.


"Kak Iel, Flow ....


Elea tak jadi melanjutkan perkataannya saat Gabrielle sudah dulu hilang dari pandangan. Setelah itu dia menatap Karl dan Bern bergantian, menanti detik-detik suara teriakan kuat menggema di dalam rumah ini.

__ADS_1


"NUN, KAU KEMANAKAN PUTRI KESAYANGANKU!"


Suara melengking itu di barengi dengan kemunculan Gabrielle yang datang dengan kondisi wajah merah padam penuh emosi.


"Tuan, malam ini sudah jatahnya Nona Muda tidur di rumah Tuan Jackson dan Nyonya Kayo," jawab Nun dengan begitu tenang.


"APA? Sialan. Siapa di antara mereka yang berani menculik putri kesayanganku dari rumah ini, hah!?" teriak Gabrielle tak terima.


"Tuan Russell yang menjemput Nona Muda dari kediaman dokter Reinhard dan Nyonya Levita, Tuan."


"Brengsek. Dasar pelakor tidak berguna. Apa dia lupa kalau Flow itu adalah anakku? Woaahhh, ini tidak bisa di biarkan!" omel Gabrielle. "Siapkan mobil sekarang juga, Nun. Kita jemput Flow di rumahnya Jack-Gal sialan itu!"


"Kak Iel," ....


Langkah Gabrielle langsung terhenti begitu Elea memanggilnya. Dia kemudian berbalik, menatap istrinya dengan raut wajah tak berdaya.


"Flow itu putri kita, sayang. Tidak seharusnya Jackson membawanya pergi tanpa seizinku!"


"Aku tahu, Kak. Tapi kan sedari awal memang sudah seperti ini perjanjiannya," sahut Elea sambil berjalan menghampiri Gabrielle yang terlihat kesal dan juga sedih. "Tidak apa-apa. Kak Jackson dan Kayo pasti akan menjaga putri kita dengan sangat baik di sana. Jangan khawatir, ya?"


"Aku merindukannya, sayang. Aku rindu suara berisik gadis nakal itu," ucap Gabrielle. Dia tidak bohong, dia benar-benar sangat merindukan putrinya.


"Aku tahu,"


"Jackson sialan. Argghh!"


Bern dan Karl hanya berdiri diam melihat ayah mereka yang berjalan masuk sambil terus menyumpah-serapahi ayahnya Russell. Setelah itu mereka menghela nafas, sudah terbiasa dengan tabiat sang ayah yang akan menggila setiap kali adik bungsu mereka tidak ada di rumah.


"Bu, kenapa Ibu tidak hamil lagi saja. Aku pusing melihat Ayah yang selalu kerasukan jin reog setiap kali Flow dijemput oleh Paman Jackson," ucap Karl.


"Kau dan Flow sudah cukup membuatku gila. Jangan di tambah lagi!" sahut Bern langsung menolak ide yang baru saja di ucapkan oleh Karl. Saingannya bisa bertambah lagi nanti.


"Haih, kalian ini. Ayo masuk, Ibu sudah lapar!" lerai Elea tanggap akan ketidaksukaan Bern.


"Baik, Ibu!" sahut Karl patuh.


Sedangkan Bern, dia berjalan paling terakhir karena pikirannya sedikit terganggu akan ucapan Karl tadi. Dia benar-benar tidak rela jika sang ibu sampai mengandung dan melahirkan anggota baru lagi. Karena jika hal tersebut sampai terjadi, kekayaan di keluarga ini pasti akan di bagi kembali yang mana bisa membuat posisi Bern tergeser. Tidak-tidak, Bern tidak boleh membiarkan petaka ini terjadi. Tidak boleh.


*******

__ADS_1


__ADS_2