Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Tertukar


__ADS_3

📢📢📢 BESTIE, JANGAN LUPA DUKUNGANNYA YA SUPAYA JOVAN DAN NANIA BISA MENANG DI LOMBA DI YOU ARE A WRITER SEASON 8. OKE 💜💜💜



***


Elea nampak tersenyum lega melihat berita yang sedang di bacanya.


“NYONYA LIONA MEMBUKA BAZAR AMAL SELAMA SATU BULAN LAMANYA. SIAPAPUN BERHAK UNTUK DATANG. DI UTAMAKAN ORANG DARI KELAS MENENGAH KE BAWAH KARENA BAZAR INI DI PERUNTUKKAN BAGI MEREKA YANG KEKURANGAN. SILAKAN DATANG. GRATIS.”


“Ibu, mungkinkah acara ini Ibu gelar karena Ibu mengetahui sesuatu tentang Karl? Jika benar, aku ingin berterima kasih sekali pada Ibu. Banyak harapanku dengan di adakannya acara ini. Di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin bukan? Dan aku percaya kekerashatiannya Karl bisa luluh dengan niat baik yang sedang coba Ibu lakukan,” gumam Elea terharu akan kebaikan hati ibu mertuanya dalam memberikan bantuan untuk orang-orang yang tidak berpunya.


Sambil terus membaca komentar orang-orang atas di adakannya bazar amal tersebut, Elea mengenang kebersamaanya dengan Karl beberapa hari lalu. Dari sorot matanya, Elea bisa merasakan kalau Karl itu sebenarnya sangat menyayangi kedua saudaranya. Namun ada sesuatu yang membuatnya jadi tidak terkendali. Entah sesuatu seperti apa itu, Elea tidak tahu. Yang jelas Elea meyakini kalau pikiran Karl belum benar-benar tersesat dalam dendam yang dirasakannya. Masih ada segelintir kesempatan untuk membuatnya sadar.


“Karl, tolong bersabarlah sebentar ya, Nak. Ibu akan mencari cara untuk membebaskanmu dari kekeliruan ini. Ibu yakin pasti ada jalan keluarnya,” ucap Elea lirih.


Deg


Tiba-tiba saja jantung Elea serasa seperti di hantam batu besar saat ingatan tentang ucapan wanita yang dia lihat waktu itu terngiang di telinganya. Putra pertama? Bukankah seharusnya itu Bern? Tapi kenapa Flowrence bilang kalau Karl adalah orang yang terlahir dengan membawa karma buruk itu? Ada apa ini? Rahasia apalagi yang tidak Elea ketahui?


Tok tok tok

__ADS_1


Lamunan Elea buyar seketika saat ada orang yang mengetuk pintu kamarnya. Dia kemudian menoleh saat pintu kamarnya terbuka.


“Ibu, apa aku mengganggu?” tanya Flowrence seraya tersenyum manis ke arah sang Ibu yang sedang duduk sendirian di atas ranjang.


“Mengganggu apa. Kemarilah, biarkan Ibu memelukmu,” jawab Elea meminta agar Flowrence segera datang mendekat.


Setelah mendapat izin dari sang Ibu, Flowrence pun melangkah masuk ke dalam kamar. Dia kemudian menghambur memeluk ibunya. “Ibu, maafkan atas kebohongan yang telah kulakukan selama ini ya. Aku tidak berniat membohongi kalian. Tolong maafkan aku ya, Bu?”


“Flow, Ibu sama sekali tidak marah atas apa yang kau lakukan. Ibu mengerti dan Ibu sangat bisa memahami alasan kenapa kau melakukan semua itu. Justru seharusnya Ibulah yang harus meminta maaf padamu. Maaf karena selama ini tidak peka dan membiarkanmu hidup dalam tekanan seorang diri. Andai saja Ibu tahu segalanya, kau pasti tidak akan semenderita sekarang. Tapi apa mau dikata, Ibu hanya manusia biasa yang tidak selalu bisa melihat masa depan orang lain. Kau maukan memaafkan Ibu?” sahut Elea dengan sedih meminta maaf atas ketidakpekaannya.


Tanpa sadar airmata Flowrence menetes. Beruntung ibunya tidak bisa mendengar isi pikiran orang lain. Jika tidak, Ibunya pasti akan tahu apa yang sedang Flowrence pikirkan sekarang. “Bu, aku bukan tidak bersyukur atas apa yang telah Tuhan berikan padaku. Tapi jika bisa aku tidak mau menerima ini semua di hidupku. Melihat masa lalu, melihat kejadian di masa depan, juga mendengar isi pikiran orang lain, semua ini membuatku merasa sangat tersiksa, Ibu. Kapan aku akan terbebas dari ini semua? Aku … ingin hidup normal seperti orang lain. Aku lelah mengetahui yang orang lain tidak ketahui. Aku lelah sekali, Bu.”


Hati Elea serasa di iris-iris mendengar keluhan putrinya. Andai bisa memilih Elea juga tidak mau memiliki kelebihan ini. Namun, sekali lagi dia hanyalah orang biasa yang tidak bisa melawan kehendak Tuhan. Termasuk putrinya juga. Jadi yang bisa Elea lakukan sekarang hanyalah menghibur Flowrence agar tidak terlalu merasa tertekan lagi.


“Em Bu, bisakah aku menanyakan sesuatu hal pada Ibu?” tanya Flowrence sambil mengurai pelukan. Dia kemudian membaringkan kepalanya di atas pangkuan sang ibu. “Saat Ibu masuk ke rumah sakit kemarin, apa itu ada penyebab lain yang mendasarinya? Hatiku terus saja bertanya-tanya kalau penyebab pingsannya Ibu bukan di karenakan kelelahan, tapi karena Ibu melihat sesuatu. Apa benar?”


Elea mengangguk. Dia lalu menceritakan tentang wanita aneh yang tiba-tiba datang menemuinya untuk memberi peringatan. “Saat Ibu pergi menghadiri acara bersama Ibu Levita, tiba-tiba Ibu di datangi oleh seorang wanita aneh. Dia mengingatkan Ibu kalau orang yang memangku karma Nenekmu adalah anak pertama Ibu, yaitu Kak Bern. Wanita itu juga mengatakan beberapa hal lain yang membuat Ibu sangat syok hingga akhirnya Ibu pingsan dan dilarikan ke rumah sakit.”


“Apa? Jadi bukan Kak Karl yang di sebut oleh wanita itu?”


“Iya. Makanya Ibu merasa agak bingung karena yang wanita itu katakan tidak sama dengan yang kau pikirkan. Wanita itu bilang Kak Bern-lah orangnya, bukan Kak Karl. Tapi dari semua yang kau ceritakan pada Ayah Jackson dan Ibu Kayo, semua fakta menjurus jelas pada kakak keduamu. Ini aneh sekali bukan?”

__ADS_1


Flowrence tercekat.


Kak Bern bahkan tidak memiliki kemampuan apa-apa, tapi kenapa wanita itu bilang pada Ibu kalau anak pertamanyalah yang menanggung karmanya Nenek? Tunggu-tunggu. Mungkinkah Kak Karl yang seharusnya menjadi anak pertama Ibu? Tapi bagaimana mungkin? Jelas-jelas di dalam akta keluarga yang menjadi anak paling tua adalah Kak Bern. Ada apa ini sebenarnya? Pasti ada sesuatu yang belum terkuak di sini.


“Bu, sepertinya ada yang salah dalam hal ini. Apa jangan-jangan saat Kak Bern dan Kak Karl lahir dokter yang waktu itu menangani Ibu lupa untuk menandai siapa di antara mereka yang lahir lebih dulu? Karena mustahil bisa ada perbedaan begini kalau mereka tidak tertukar. Sedang yang aku tahu, Kak Bern itu sama sekali tidak memiliki kemampuan apa-apa. Dia yang paling murni di antara kami berdua. Menurut Ibu bagaimana?”


“Itu tidak mungkin terjadi, Flow. Yang waktu itu membantu persalinan Ibu tidak hanya satu dokter saja, tapi ada banyak sekali. Mustahil kakakmu tertukar,” sahut Elea agak syok mendengar perkataan Flowrence. Mendadak hatinya jadi gelisah, merasa tak tenang membayangkan ada kejadian seperti ini di hidup kedua putranya. “Kak Bern lahir lima menit lebih dulu sebelum Kak Karl. Setelah itu Ibu sempat kritis karena … karena ….


Nafas Elea dan Flowrence sama-sama tertahan saat mereka terpikir akan sesuatu hal. Segera Flowrence duduk kemudian menyalakan ponselnya. Dengan hati yang berdebar-debar, Flowrence menghubungi nomor Ayah Jackson. Dia membutuhkan bantuan darinya.


“Halo, sayang. Ada apa? Semuanya baik-baik saja bukan?”


“Ayah, bisakah Ayah membantuku? Tolong periksa siapa saja yang waktu itu ikut membantu proses persalinan Ibu. Ada hal penting yang belum terkuak di sini, Ayah. Dan rahasia ini yang akan menjadi jawaban kenapa Kak Karl bisa berubah menjadi sekejam itu. Tolong bantu aku ya? Aku mohon,” ucap Flowrence menghiba.


“Baiklah. Kalau begitu kau matikan saja panggilan ini. Nanti Ayah akan langsung menghubungimu setelah semua datanya terkumpul. Oke?”


Flowrence mengangguk. Setelah itu dia menggengam tangan ibunya yang sedang gemetaran. “It’s okay, Ibu. Jangan panik. Mari kita selesaikan kutukan karma ini bersama-sama. Ya?”


Tidak ada kata yang keluar dari mulut Elea, sepatah katapun. Batinnya terlalu syok memikirkan kemungkinan kalau benar kedua putranya telah tertukar. Jika dugaan tersebut sampai terbukti benar, maka Elea adalah orangtua yang sangat berdosa sekali karena salah mencurigai putranya. Dan tanpa di sadari oleh semua orang, perkataan mereka yang selalu mengunggulkan Bern dan Flowrence secara tidak langsung menjadi penyebab mengapa Karl menggila sampai seperti ini. Anak itu merasa kecewa dan terabaikan akibat dari posisinya yang tidak sengaja tertukar. Tapi ...


Ya Tuhan, ada apa dengan keluargaku? Tolonglah.

__ADS_1


***


__ADS_2