
“H-hai,” … sapa Amora sambil melambaikan tangan pada seorang gadis yang tengah berdiri di hadapannya. Dia kikuk, tentu saja. Karena gadis yang barusaja dia sapa adalah Flowrence, adiknya Bern.
“Woaahhh, sejak kapan ada bidadari yang tinggal di rumahnya Kak Bern?” pekik Flowrence sambil menatap takjub ke arah gadis cantik yang dia predikisi berusia lebih muda darinya.
Mungkin di hadapan gadis ini Flowrence kembali memainkan perannya sebagai gadis yang polos. Namun di dalam hatinya, Flowrence merasa begitu perih. Tak bisa dia bayangkan betapa berdosanya Karl nanti jika memang benar ingin menumbalkan gadis tak berdosa ini. Wajah Amora begitu lugu, sendu, dan juga sederhana. Namun Flowrence bisa melihat jelas besarnya ketulusan di diri Amora. Gadis ini menyimpan banyak sekali cinta dan penderitaan.
Amora, kenapa nasibmu bisa seperih ini? Kesalahan apa yang telah kau perbuat di masa lalu sampai-sampai kau harus menebusnya dengan penderitaan yang begitu menyakitkan? Tahukah kau, Amora. Aku merasa sangat serba salah berada di posisi seperti ini. Tuhan memang memberiku suatu kelebihan yang sangat luar biasa sekali dimana aku bisa melihat apa yang akan terjadi pada kehidupan orang-orang di sekelilingku. Namun, di balik kelebihan tersebut aku tetaplah manusia biasa yang tidak bisa mengubah takdir manusia lain. Aku bisa saja menyelamatkanmu dari kekejamannya Kak Karl, tapi aku tidak bisa menjamin kau bisa bertahan hidup. Amora … kematianmu sudah dekat. Usiamu sudah tak lama lagi, sayang.
“Em Nona Flow, anda baik-baik saja bukan?” tanya Amora bingung melihat Flowrence hanya berdiri diam sambil menatapnya dengan pandangan aneh. Tatapan mata gadis ini seolah menunjukkan suatu kesedihan yang begitu panjang, yang mana membuat perasaan Amora jadi terasa aneh.
“Hah?”
Flow membeo. Dia lalu mengerjap-ngerjapkan mata kemudian mendekat ke arah Amora. Sambil tersenyum lebar, Flow menggaet lengan Amora kemudian mengajaknya masuk ke dalam rumah. Sebisa mungkin Flowrence menata kembali perasaannya yang sempat teriris memikirkan nasib Amora yang sudah tidak akan lama lagi berada di dunia ini.
Oya, kalian mungkin penasaran kenapa Flowrence bisa berkata seperti itu tentang Amora. Memang benar kalau usia Amora sudah tak lama lagi, dan karena hal inilah Karl membuatnya tinggal di rumah ini. Karl berniat menggunakan kematian Amora untuk menghancurkan masa depan kakaknya sehingga dia bisa dengan mudah merebut semua miliknya. Kalian tentu tidak lupa bukan kalau Karl itu mempunyai kemampuan yang sama dengan Flowrence? Dan ini juga yang menjadi salah satu sebab mengapa Karl tidak bisa melihat masa depannya Flowrence. Mereka mempunyai kemampuan yang sama persis, jadi sulit bagi mereka untuk bisa mengetahui kepribadian masing-masing. Namun, Tuhan memberikan pengecualian khusus terhadap Flowrence dimana Tuhan memberinya izin untuk mengetahui semua tentang Karl. Karena nantinya semua kelebihan yang Flowrence miliki akan hilang bersamaan dengan semua kenangannya bersama Oliver.
__ADS_1
“Bidadari cantik, siapa namamu?” tanya Flow setelah dia dan Amora duduk di sofa ruang tengah.
“Nama saya Amora, Nona,” jawab Amora dengan sopan. Dia merasa canggung sekali duduk berdua dengan adiknya Bern.
“Haaa?? Saya?”
Amora bingung saat Flowrence menertawakan gaya bicaranya yang memang terkesan formal. Ya mau bagaimana lagi, diakan tidak tahu harus bersikap seperti apa kepada Flowrence. Jadi tidak ada salahnya bukan kalau Amora berbicara menggunakan bahasa yang sedikit lebih sopan mengingat kalau gadis ini adalah putri tunggal di keluarga Ma?
“Ya ampun, Amora. Aku baru tahu ada bidadari bodoh sepertimu. Selama ini aku pikir hanya akulah gadis yang bodoh dan tidak tahu apa-apa, tidak di sangka ternyata aku mempunyai teman juga. Lucu sekali bukan?” tanya Flow sambil menertawakan Amora. Flow jadi merasa seperti sedang berhadapan dengan dirinya yang polos. Hahaha.
“Nona, lalu saya ….
Krikk krikk krikkk
Tubuh Amora langsung menegang saat Flowrence menganggap jejak keunguan di lehernya sebagai kumbang penghisap darah. Terkenang dengan perkataan Bern yang menyebut kalau Flowrence adalah gadis yang istimewa, ketegangan di diri Amora pun menghilang. Dia lalu memikirkan cara terbaik untuk memberi penjelasan terhadap kesalahpahaman Flowrence dalam mengartikan bekas kissmark yang dibuat oleh Bern semalam. Sambil berdehem dan kembali menutupi bekas keunguan itu dengan rambutnya, Amora pelan-pelan memberi penjelasan.
__ADS_1
“No, em maksudku Flow. Yang di leherku ini bukan kumbang, tapi luka karena alergi. Kemarin itu aku salah makan dan seluruh tubuhku gatal kemudian aku menggaruknya sampai lecet. Makanya leherku bisa terluka seperti ini. Begitu ceritanya,”
“Alergi dan gatal-gatal?” beo Flow sambil memicingkan mata. Dia tak percaya. “Kalau gatal-gatal bukankah seharusnya tidak seperti itu ya bekas lukanya? Aneh. Apa jangan-jangan kukumu memiliki sihir yang bisa membentuk luka menyerupai kumbang?”
“Hahahaha Flow, kau ini ada-ada saja sih. Mana mungkinlah kuku tanganku bisa seajaib itu. Tapi sungguh, luka yang kau anggap kumbang penghisap darah itu sebenarnya adalah luka bekas alergi. Aku tidak bohong,” sahut Amora sambil menertawakan kepolosan Flow. Ternyata ucapan Bern memang benar kalau Flow ini sangat polos dan sedikit bodoh. “Karena sebentar lagi sudah waktunya untuk makan siang, bagaimana kalau sekarang kita memasak saja, Flow. Kau mau tidak?”
“Memasak?”
Amora mengangguk. Dan di detik selanjutnya Amora di buat kaget ketika Flowrence menarik tangannya dan membawanya pergi ke dapur. Sambil terus berceloteh ini dan itu, dengan sabar Amora meladeni semua jenis pertanyaan nyeleneh yang dilontarkan oleh gadis unik ini. Untuk pertama kalinya di hidup Amora, dia merasa bahagia sekali karena memiliki seorang teman yang bisa di ajak bercanda dengan bebas. Ya meski sebenarnya usia Flow jauh lebih tua darinya, tapi sikap ramai gadis ini mampu menutupi perbedaan usia di antara mereka berdua. Terbukti karena sekarang Flow sibuk menceritakan kisah cintanya bersama pria yang bernama Oliver. Flow mengaku kalau mereka telah di jodohkan semenjak masih berbentuk embrio.
Aneh. Baru kali ini aku mendengar jenis perjodohan yang begitu unik. Di jodohkan sedari masih embrio? Ya Tuhan, nasibmu beruntung sekali, Flow. Aku sungguh iri padamu.
“Flow, aku mau mencuci sayuran ini dulu ya. Kau bisa meneruskan memilih udang kalau tidak lelah,” ucap Amora sambil membawa sayuran hijau yang tadi di pilihnya. Amora berniat membuatkan salad sayur untuk makan siang mereka nanti.
Flowrence mengangguk. Dia kemudian berbalik memunggungi Amora saat akan memilih udang. Bukan, bukan memunggungi. Tapi lebih tepatnya bersembunyi agar Amora tidak tahu kalau Flowrence sedang menangis.
__ADS_1
Amora, maafkan aku ….
***