Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Kantin


__ADS_3

“Wahhhhh, jadi ini ya putri dari keluarga Ma. Aaa, imut sekali!” pekik salah seorang siswa ketika melihat dua orang gadis kecil berjalan dengan dikawal oleh tujuh most wanted yang ada di sekolah ini.


“Tidak kusangka ukuran Nona Muda Flow begitu mungil. Tapi wajahnya lucu sekali, aku jadi tidak tahan ingin mencubit pipinya!” pekik siswa lainnya.


“Tapi ngomomg-ngomong siapa gadis yang satunya lagi ya? Sepertinya dia bukan bagian dari keluarga Ma."


“Ah masa bodo dengan gadis itu. Ke depannya nanti kita hanya perlu bersikap baik pada Nona Muda dan gadis itu saja. Dengan begitu kita baru akan mempunyai teman yang keren. Benar tidak?”


“Iya, kau benar sekali. Ya ampun matanya indah sekali. Aku jadi iri,”


Menjadi bahan pembicaraan siswa satu sekolah membuat Flowrence seakan terbang tinggi ke langit. Saat dia bersekolah di sekolah yang lama, jangankan ada yang memuji, mencari satu teman saja sudah sangat sulit bagi Flowrence. Tapi di sekolah barunya ini sepertinya Flowrence akan mempunyai banyak teman. Yeyy, rasanya sungguh menyenangkan sekali.


Jika Flowrence merasa sangat senang akan sambutan baik dari para siswa yang di sekolah ini, hal berbeda justru dirasakan oleh Sisil. Sejak di dalam mobil tadi Sisil perhatian terus tertuju pada Russel yang kebetulan datang menjemputnya. Tadinya dia dan Flowrence akan ikut bersama Russel, tapi gagal setelah Bern memaksa agar Flowrence ikut dengannya saja. Jadilah di dalam mobil hanya ada Sisil dan Russel, juga dengan satu sopir pribadi yang akan mengantarkan mereka setiap paginya. Dan ketika Sisil sampai di sekolah ini, dia sama sekali tak tertarik pada keantusiasan para siswa yang ada. Sambil berjalan bergandengan dengan Flowrence, Sisil terus melirik ke arah Russel yang berjalan tepat di belakangnya. Dia terpesona, itu sudah pasti. Dengan raut wajahnya yang datar, Russel terlihat bak seorang pangeran di mata Sisil yang membuatnya jadi tidak bisa berpaling dari pangeran tampan tersebut.


Ya Tuhan, mimpi apa aku selama ini sampai bisa satu sekolah dengan Kak Russel. Apa jangan-jangan kecelakaan waktu itu adalah pertanda kalau aku dan Kak Russel itu berjodoh ya? Ya ampuunn, aku malu sekali ….


Bern diam-diam memperhatikan gelagat Sisil yang sedang kecentilan karena tak henti melirik ke arah Russel. Sungguh sangat beruntung nasib gadis satu ini. Setelah berhasil menyelamatkan adiknya dari kematian, Sisil jadi mendapatkan perlakuan khusus dari keluarganya. Bern sebenarnya kurang suka dengan keberadaan gadis ini, tapi dia juga tak memiliki alasan untuk membuatnya pergi menjauh. Juga karena Bern tahu kalau diam-diam keluarganya tengah mewaspadai sesuatu. Jadi dia memutuskan untuk tidak mengusik Sisil karejna tak mau memancing kecurigaan keluarganya.


“Eittssss, kau mau pergi kemana, hm?” tanya Oliver sambil menarik tasnya Flowrence yang tiba-tiba berbelok ke arah lain. Dia lalu tersenyum kecil saat gadis ini balas menatapnya dengan tatapan yang begitu polos.


“Kak, aku jadi lapar setelah melihat tulisan kantin,” jawab Flow sambil menelan ludah. “Apa aku boleh pergi ke sana?”


“Astaga! Yak kau mumi cacingan. Bahkan saat sarapan tadi kau yang paling banyak makan, bagaimana bisa sekarang kau sudah merasa lapar hanya karena membaca tulisan kantin? Kau itu zombie atau apa hah?” omel Karl syok mendengar adiknya yang sudah kembali merasa lapar.

__ADS_1


“Kak Karl, sekarang aku sudah bukan mumi lagi. Lihat, lukanya sudah sembuh semua. Korengnya sudah hilang,”


“Hilang apanya. Coba lihat sikumu, masih ada luka yang belum kering di sana. Bagaimana sih!”


Bibir Flowrence bergerak-gerak seperti sedang menahan tangis setelah diomeli oleh kakak keduanya. Setelah itu Flowrence menoleh ke belakang, menatap kakak pertamanya dengan pandangan memelas. “Kak Bern, aku lapar. Aku ingin makan.”


“Apa sangat lapar?” tanya Bern sedikit kasihan melihat raut wajah adiknya. Dia lalu berjalan mendekat saat Flowrence menganggukkan kepalanya. “Lalu kemana perginya semua makanan yang baru beberapa menit lalu masuk ke dalam perutmu?”


“Sepertinya mereka berhenti dan parkir di dalam usus dua belas jari milikku, Kak. Makanya sekarang aku merasa kelaparan seperti orang yang belum makan selama satu tahun,” jawab Flowrence dengan polosnya.


Selain Bern, Andreas dan Oliver, semua orang tercengang heran mendengar jawaban polos Flowrence. Ini masih pagi, tapi Flowrence sudah start lebih dulu membuat urat leher mereka menjadi tegang. Sungguh hari pertama yang sangat luar biasa. Hanya karena merasa lapar mereka harus mendengar istilah kata aneh di mana ada makanan yang parkir di dalam usus dua belas jari. Mereka jadi penasaran darimana Flowrence bisa menemukan istilah nyeleneh seperti ini. Orang yang mengajarinya pasti adalah orang yang sangat luar biasa hebat. Mereka yakin itu.


“Ekhmm, Flow. Sejak kapan ada makanan yang bisa parkir di dalam usus?” tanya Reiden gemas hingga membuatnya tak tahan untuk bertanya. Dia harus mendapat penjelasannya.


“Sejak aku di tanya oleh Kak Bern, Kak. Kenapa memangnya?” jawab Flowrence jujur.


“Ayo kita ke kantin. Masih ada sepuluh menit sebelum bel berbunyi,” ajak Bern lalu menggandeng tangan Flowrence dan mengajaknya pergi ke kantin.


Sisil yang di tinggal pergi oleh Flowrence jadi bingung harus melakukan apa. Ingin langsung pergi ke kelas tapi dia tidak tahu di mana kelasnya. Ya kali dia harus menunggu di sini sampai Flowrence kembali dari kantin. Kan tidak lucu.


“Sisil, apa kau ingin pergi ke kelasmu saja? Sepertinya Bern dan Flowrence akan sedikit lama berada di kantin karena Flowrence kan tidak bisa cepat saat makan. Daripada kau menunggunya di sini lebih kau pergi ke kelasmu saja. Bagaimana?” ucap Russel berinisiatif untuk bertanya pada Sisil yang terlihat bingung.


“Em, aku mau. Tapi aku tidak tahu di mana kelasku, Kak,” jawab Sisil malu-malu.

__ADS_1


“Jangan khawatir. Kami semua akan mengantarkanmu ke kelas. Ayo!”


“S-semua?”


“Iya semua. Kenapa memangnya?”


Sisil kemudian menatap satu-persatu wajah kakak sepupunya Flowrence. Sungguh, ini seperti tidak nyata. Siapalah yang akan menyangka kalau Sisil akan di antarkan secara khusus oleh remaja-remaja tampan ini. Bangga? Itu sudah pastilah. Bahkan saking bangganya Sisil sampai terdiam seperti orang bodoh.


“Ahh lama. Ayo cepat jalan!” ucap Karl kemudian merangkul bahu Sisil lalu mengajaknya pergi menuju kelas. Dia lalu terkekeh mendengar ejekan yang dilontarkan oleh Cio dan Reiden di mana menyebutnya sedang mencuri kesempatan. Masa bodo. Lagipula Sisil lumayan cantik, jadi tidak ada ruginya bagi Karl memeluk bahunya seperti ini. Haha.


Sementara itu di kantin, Bern dengan sangat sabar membawakan piring berisi semua makanan milik adiknya. Dia sama sekali tak menghiraukan tatapan kagum dari para gadis yang tengah sarapan di sana.


“Ummm, apalagi ya?” gumam Fowrence sambil bertopang dagu. Tidak di sangka makanan di kantin sekolah ini begitu banyak dan juga terlihat sangat lezat. Membuat Flowrence tidak bisa berhenti untuk mengambil mereka.


“Flow, piringmu sudah hampir penuh. Siapa yang akan memakannya nanti kalau kau sampai tidak habis?” tanya Bern sambil menghela nafas.


“Kakak tidak perlu cemas. Masih ada Sisil, Russel, Kak Karl, Kak Oli, Kak Iyas, Kak Cio dan Kak Rei yang akan membantu menghabiskan semua makanan itu. Percayalah, semua makanan yang kuambil tidak akan terbuang percuma kok. Sungguh,” jawab Flowrence dengan begitu yakinnya.


“Kau yakin mereka mau memakan makanan yang kau pilih ini?”


“Tentu saja. Mereka semua kan sayang padaku, jadi tidak mungkin mereka menolak saat aku meminta bantuan mereka untuk menghabiskan makanan itu.”


Lagi-lagi Bern menghela nafas. Semua makanan yang di ambil Flowrence adalah makanan manis, adik dan para sepupunya pasti akan langsung terkena diabetes dadakan jika memakannya. Astaga, Flowrence ini kenapa suka sekali sih menjahili orang lain. Bern jadi menyesal telah mengajaknya datang ke kantin.

__ADS_1


Hmmmm, kalian semua dalam masalah besar sekarang.


***


__ADS_2