Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Menggarap Ladang


__ADS_3

📢 BOM KOMENTARNYA BESTIE BIAR NANTI SORE EMAK CRAZY-UP 💜


***


Russel menoleh ke arah pintu begitu mendengar derap langkah kaki yang cukup ramai tertuju ke arah kamar tempat dia dirawat. Dan sedetik kemudian senyumnya langsung mengembang begitu dia melihat ke enam sepupunya datang menjenguk.


"Ekhmmm, aku tahu kalau aku ini tampan, Russel. Jadi tidak perlulah sampai seterpesona itu melihat kedatanganku!" ucap Reiden narsis. Dia lalu mengendikkan bahunya saat Karl menatapnya sinis. Biasalah, iri. 🤣


"Ya ya ya, kau yang paling tampan, Rei," sahut Russel menanggapi kelakar Reiden dengan candaan.


"Ciihhh, kenapa perutku terasa mual sekali ya!" sindir Karl sambil berpura-pura ingin muntah.


"Itu karena kecoa yang ada di dalam perutmu sedang berkembang biak, Karl. Makanya kau mual!" ucap Reiden dengan entengnya.


"Sialan!"


Russel tertawa. Dia kemudian melihat ke arah kamar mandi saat sang ayah keluar dari sana.


"Oh, kalian datang," ucap Jackson yang baru saja selesai mandi. "Apa kalian sudah menjenguk Flowrence?"


"Belum, Paman," sahut Andreas mewakilkan yang lain untuk menjawab. "Flowrence terluka cukup parah, dan kemungkinan besar sekarang dia masih tidur. Jadi kami memutuskan untuk menjenguk Russel terlebih dahulu."


Jackson mengangguk paham. Dia lalu mengambil ponsel di atas meja kemudian menghubungi Kayo yang masih berada di rumah.


"Halo, Jack. Ada apa? Russel baik-baik saja 'kan?"

__ADS_1


"Ya, dia baik-baik saja. Kay, kau temanilah Ayah dan Ibu dulu di rumah. Anak-anak datang menjenguk Russel, jadi kau beristirahat saja. Aku tidak mau melihatmu sakit karena kelelahan menjaga Russel," ucap Jackson menjawab pertanyaan Kayo. Ekor matanya tak sengaja menangkap pergerakan yang aneh di diri Bern, dan itu cukup menyita perhatian Jackson.


Bern yang tadinya sedang membalas pesan dari seseorang langsung melihat ke arah Paman Jackson yang tengah menelepon. Entah kenapa dia merasa kalau ayahnya Russel sedang memperhatikannya. Tak ingin memancing kecurigaan, Bern memutuskan untuk tidak lagi membalas pesan yang dikirimkan oleh anak buahnya. Ya, seperti yang kalian tahu. Diam-diam Bern melatih sebuah kelompok rahasia yang nantinya akan dia jadikan sebagai penjaga khusus setelah Bern mendapat semua yang dia inginkan. Ide yang sangat genius bukan?


"Aku tutup dulu panggilannya. Selamat beristirahat, aku mencintaimu," ucap Jackson mengakhiri panggilan dengan kata yang manis. Setelah itu dia menoleh ke arah Cio, remaja yang entah kenapa begitu menggilai wanita yang usianya berada jauh di atasnya. "Cio, jangan sekali-kali kau berani membayangkan sedang berkencan dengan istriku ya. Percaya tidak kalau aku akan membuatmu koma seperti yang di alami oleh Sisil!"


"Ck, pelit sekali sih. Lagipula siapa suruh Paman menikahi wanita secantik Bibi Kayo. Adrenalinku kan jadi terpacu untuk merebut Bibi Kayo dari Paman!" sahut Cio dengan santainya memantik keributan.


(Hehe, Cio belum tahu saja siapa Paman Jackson sebenernya. Kalau saja Cio tahu, dijamin dia pasti akan langsung kencing di celana. Benar tidak bo-ebooo?)


"Ayah, apa saat muda dulu Paman Junio juga menyukai wanita yang usianya jauh lebih tua darinya? Aku sungguh heran kenapa aku bisa mempunyai sepupu semata keranjang Cio," tanya Russel penasaran. Kesal juga dia saat mendengar pengakuan Cio yang terang-terangan ingin merebut ibunya dari sang ayah. Benar-benar sudah tidak ada obat anak satu itu.


"Paman Junio dulunya hanya tertarik pada wanita sekelas model-model ternama saja, Russel. Harus cantik dan bodinya seperti gitar Spanyol," jawab Jackson.


"Lalu kenapa Paman Junio bisa memiliki anak seperti dia?"


"Paman, Ayah dan Ibuku adalah pasangan pembisnis yang sangat hebat. Mereka bukan petani!" ucap Cio tak terima saat kedua orangtuanya di sebut salah menggarap ladang.


"Hmmm," Jackson berdehem. "Russel, kau temanilah mereka mengobrol. Ayah ingin melihat Flowrence dulu."


"Iya, Ayah."


Sambil berjalan keluar, tatapan Jackson terus tertuju pada Bern. Jujur, saat ini Jackson begitu ingin menguliti tubuh remaja ini. Dia masih sedikit sulit untuk menerima kenyataan kalau orang yang telah menyebabkan putri angkatnya celaka adalah Bern. Namun, Jackson berusaha keras menepis keinginannya itu karena tak mau membuat Elea bersedih hati. Dia memilih untuk tetap diam meski tangannya ssuda sangat gatal ingin membuat perhitungan dengan remaja yang adalah keponakannya sendiri.


Paman Jackson, kau sebaiknya jangan mencampuri urusanku. Kau mungkin tahu kalau aku terlibat dalam kecelakaan yang di alami Flowrence, tapi aku tidak akan membiarkanmu mengacaukan apa yang sudah kurencanakan. Flowrence milikku, dan akan terus seperti itu sampai semua yang dia miliki berpindah ke tanganku.

__ADS_1


"Russ, bagaimana keadaanmu sekarang? Luka di kepalamu cukup parah, apa kau baik-baik saja?" tanya Oliver. Meski mereka kadang tidak akur, Oliver tidak sekejam itu untuk tidak mempedulikan keadaan sepupunya.


"Yah seperti yang kau lihat. Keadaanku sudah jauh lebih baik meskipun luka di kepalaku terkadang masih berdenyut nyeri. Tapi kau tenang saja, nanti lukanya juga akan sembuh sendiri," jawab Russel.


"Hmmm, syukurlah kalau begitu. Lain kali tolong berhati-hatilah jika ingin bertindak. Melompat ke dalam jurang tanpa membawa pengaman apapun itu sangat berbahaya, Russ. Aku tahu niatmu baik, tapi tidak dengan cara seperti ini juga. Memangnya kau tidak kasihan apa pada Ayah dan Ibumu apa jika sampai terjadi hal buruk padamu. Mereka sangat mengkhawatirkan keselamatanmu. Tahu kau?!"


Russel tersenyum kecut. "Gadis yang selama ini begitu kita lindungi berada dalam bahaya, Oliv. Aku menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri bagaimana para bajingan itu menyeret Flowrence dan Sisil lalu melemparkan mereka begitu saja di pinggiran jurang. Jangankan aku, kau juga pasti akan melakukan hal yang sama jika saat itu kau yang ada di sana. Aku tidak setega itu Oliver. Jadi ya sudah, tanpa mempedulikan keselamatanku sendiri aku langsung terjun ke dalam jurang untuk menolong mereka. Untung saja Tuhan begitu baik dengan tidak membiarkanku mati di sana. Hehe!"


Begitu mendengar cerita Russel, Karl diam-diam melirik ke arah kakaknya yang terlihat begitu tenang. Padangan Karl begitu dalam, entah apa artinya, hanya dia dan Tuhan saja yang tahu. Sementara Bern sendiri, dia berpura-pura tidak tahu kalau Karl sedang memperhatikannya. Biar saja. Toh adiknya itu tidak memiliki bukti kalau dia adalah orang yang telah merencanakan semua ini. Heh.


"Oh ya. Ngomong-ngomong di mana para bedebah itu sekarang. Mereka sudah mati atau belum?" tanya Russel penasaran.


"Hemmm, kau lupa atau bagaimana, Rus. Yang mereka celakai itu adalah cucu emasnya Nenek Liona, jadi tidak mungkinlah mereka bisa mati dengan mudah. Bagaimana sih!" sahut Cio. "Asal kau tahu saja ya. Saat kau masih berada di dalam jurang, Nenek Liona memerintahkan para penjaga untuk melakukan hal yang sama seperti yang telah mereka lakukan pada Flowrence dan Sisil. Setelah di hajar sampai pingsan, mereka diikat ke mobil kemudian diseret sampai kulit di tubuh mereka mengelupas paras. Karl yang mengemudikan mobilnya. Dan orang yang waktu itu memegangi Sisil harus rela kehilangan sebelah kakinya begitu berhadapan dengan Lan. Pokoknya mereka sangat menderita!"


"Baguslah. Sudah sepantasnya mereka menerima balasan seperti itu dari Nenek Liona. Aku lega sekali mendengarnya,"


"Siksaan mereka belum selesai sampai di situ saja, Russel. Masih ada kejutan besar yang sedang menunggu mereka di rumahnya Nenek Liona!" imbuh Karl ikut berkomentar.


"Benarkah? Apa itu?"


"Berenang bersama dengan para perenang handal di danau belakang rumah Nenekku. Hehehe,"


Bulu kuduk Reiden langsung berdiri semua saat membayangkan betapa mengerikannya berenang bersama pawangnya secara langsung. Benar-benar siksaan yang sangat mengerikan. Reiden lalu mengucap sumpah sampai ke tujuh keturunannya kalau dia tidak akan pernah mau mencari masalah ataupun memancing kemarahan Nenek Liona agar hidupnya aman sejahtera.


Hiiii ....

__ADS_1


***


__ADS_2