Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Malam Spesial


__ADS_3

"Kak Iel kapan pulang?" tanya Elea sambil menatap layar ponsel. Dia tengah melakukan panggilan video dengan suaminya yang masih belum kembali dari kantor meski jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam.


"Sebentar lagi, sayang. Aku akan langsung pulang ke rumah begitu pekerjaan di sini selesai. Kenapa? Sudah sangat merindukan aku ya?"


Tanpa ragu Elea langsung menganggukkan kepala. Rindu, oh bahkan lebih dari itu. Elea sudah tidak sabar ingin segera menyaksikan reaksi sang suami begitu melihat penampilannya. Ya, Elea telah membeli kostum terbaik sesuai dengan yang di fantasikan oleh suaminya itu. Gaun putih transparan, dan guru di balik semua ini adalah Levita. Sekembali mereka dari salon tadi, Elea langsung di ajak ke sebuah butik pakaian d*lam untuk mencari kostum gaib tersebut. Dan mereka berhasil mendapatkannya dalam bentuk yang sangat luar biasa seksi. Namun baju tersebut belum Elea kenakan sekarang. Nanti, tunggu suaminya sudah sampai di halaman rumah baru Elea akan memakainya.


"Setiap detik aku kan memang selalu merindukan Kakak. Bukannya Kak Iel juga begitu ya?" ucap Elea balik bertanya.


"Hmmm itu sudah pasti, sayang. Ya sudah, sekarang biarkan aku menyelesaikan pekerjaan dulu ya supaya aku bisa segera pulang dan memelukmu. Nanti aku akan mengirim pesan saat sedang dalam perjalanan ke rumah. Kau ....


"Aku belum makan malam, Kak Iel."


Terlihat Gabrielle yang langsung membelalakkan mata begitu Elea mengatakan kalau dirinya belum makan malam. Elea yang melihat reaksi kaget di wajah suaminya dengan sengaja malah memasang tampang memelas. Dia melakukannya agar suaminya yang tampan ini bisa segera kembali ke rumah kemudian berbuka puasa bersamanya. Dalam hati, Elea meminta maaf pada Nun karena dia terpaksa harus menumbalkannya dulu. Demi kesejahteraan bersama, begitu pikirnya.


"Sayang, ini sudah jam sembilan malam. Kenapa kau belum makan, hm? Apa Nun dan para pelayan tidak ada yang mengurusmu? Astaga, kenapa mereka lalai begini sih. Bagaimana kalau kau sampai sakit? Res, telfon Nun sekarang juga. Tanyakan padanya kenapa istriku bisa belum makan di jam begini. Kalau mereka malas-malasan, pecat saja. Aku membayar mereka dengan sangat mahal tapi kenapa istriku di telantarkan? Telpon sekarang, Res!"


"Sudahlah Kak Iel, jangan marah-marah. Biarkan saja mereka mau berbuat apa. Lebih baik sekarang Kakak cepat bereskan semua pekerjaan di sana kemudian pulang ke rumah. Aku ingin di suapi oleh Kak Iel. Boleh?" tanya Elea dengan manja.


Tak lama kemudian, dari arah luar ada yang mengetuk pintu kamar Elea. Membuat si pemilik kamar menoleh kemudian tersenyum penuh maksud.


"Tunggu sebentar!" teriak Elea.


"Sayang, sepertinya aku harus kembali ke pekerjaan dulu. Itu yang mengetuk pintu pasti Nun, minta dia untuk membawakan makanan untukmu. Tidak apa-apa kan kalau sekarang aku tinggal bekerja dulu? Aku janji tidak akan lama lagi semua pekerjaan ini akan beres. Oke?"

__ADS_1


Meski enggan, Elea tak memiliki alasan lain lagi selain mengizinkan suaminya untuk kembali bekerja. Setelah memberi kecupan kecil di dekat kamera ponsel, barulah Elea memutuskan panggilan. Dia kemudian berjalan ke arah pintu dimana Nun dan para pelayan sedang menunggu.


Ceklek


"Nyonya, Tuan Muda ....


"Sssttt, jangan panik begitu, Pak Nun. Aku memang sengaja memberitahu Kak Iel kalau aku belum makan malam supaya dia bisa cepat kembali ke rumah," ucap Elea langsung menyela ucapan Nun. "Ini adalah malam yang sangat spesial, Pak Nun. Dan aku ingin makan malam berdua dengan Kak Iel. Jadi tolong jangan memaksaku untuk makan dulu ya?"


Nun menaikkan sebelah alisnya begitu mendengar pengakuan sang nyonya. Curiga, itu sudah pasti. Nun sangat hafal dengan ekpresi aneh di wajah sang nyonya setiap kali memiliki niat terselubung. Khawatir Tuan Muda-nya menjadi korban, Nun pun segera mencecar nyonyanya dengan hati-hati.


"Maaf Nyonya, jika boleh tahu malam spesial ini di tujukan untuk memperingati hari apa? Bukannya saya lancang, saya hanya ingin memastikan kalau semuanya baik-baik saja!"


"Eii, kau ini kepo sekali, Pak Nun. Malam spesial ini hanya bisa di mengerti oleh pasangan suami istri seperti aku dan Kak Iel. Pak Nun itu kan tidak punya pasangan, nanti kau bisa meneteskan air liur jika mengetahuinya!" jawab Elea seraya tersenyum nakal.


"Maksud Nyonya apa? Saya kurang paham."


"Nah, sekarang sudah paham kan maksud dari malam yang spesial? Karena aku sedang gembira, maka aku akan memberitahu kalian semua kalau aku sudah sembuh. Dokter Reinhard dan Kak Jackson sudah mengizinkan aku untuk membuat adonan bersama Kak Iel. Dan malam ini kami akan buka puasa bersama setelah libur hampir satu tahun lamanya. Hebat kan?" ucap Elea dengan raut wajah penuh kebahagiaan.


Hening.


Baik Nun maupun para pelayan mereka tidak ada yang mampu berkata-kata. Bahagia, itu sudah pasti. Namun rasa malu di diri semua orang ini jauh lebih besar karena sang nyonya mengatakan hal sakral tersebut dengan begitu enteng. Bukannya mereka tidak tahu kalau nyonya kecil ini memiliki sikap polos dan suka bicara asal, akan tetapi mereka tidak menyangka akan mendengar secara langsung tentang sesuatu yang biasanya hanya boleh dilakukan oleh pasangan yang sudah menikah. Ingin mengumpat, tapi tidak berani karena wanita ini adalah Eleanor Young, istri kecil kesayangan Tuan Muda Ma. Jadi ya sudah, mereka hanya bisa pasrah ketika menjadi korban dari kepolosan wanita ini.


"Ekhmmm, kalau begitu selamat untuk anda dan Tuan Muda, Nyonya. Untuk menyambut malam spesial ini bagaimana kalau kami membantu Nyonya untuk mempersiapkan jamuan yang romantis sebelum Tuan Muda sampai di rumah. Apa Nyonya setuju?" tanya Nun setelah tersadar dari kekagetannya.

__ADS_1


"Em, boleh juga. Tapi Kak Levi sudah memesankan makanan untuk kami berdua, Pak Nun. Bagaimana? Mubadzir kalau makanan itu di buang kan?" jawab Elea jujur.


Pelakor itu benar-benar membantu Elea secara total. Mulai dari perawatan sekujur badan, pemilihan kostum gaib, cara dan pose untuk memuaskan laki-laki, termasuk juga makanan yang bisa memanjakan lidah suaminya. Namun tawaran dari Pak Nun juga cukup menggiurkan bagi Elea. Karena standar kebersihan yang di terapkan oleh Pak Nun sangat amat di sukai oleh suaminya itu.


"Kalau begitu nanti sebelum makanan tersebut di sajikan, saya akan memastikan terlebih dahulu kalau semua makanan itu dalam kondisi sehat dan bersih. Nyonya tahu bukan Kalau Tuan Muda adalah penderita OCD akut?"


"Tentu saja aku sangat tahu, Pak Nun. Kau ini bagaimana sih, kecil-kecil begini aku kan sudah lama menjadi istrinya Kak Iel. Jangankan hanya tentang penyakitnya, ukuran belut Kak Iel saja aku tahu."


Blussshhhh


Selain Nun, wajah semua pelayan yang ada di sana langsung memerah kembali begitu mereka mendengar ucapan Elea. Sementara pelakunya terlihat biasa-biasa saja setelah mengeluarkan kata-kata vulgar yang membuat semua orang syok dan gemetaran.


"Nyonya, kalau begitu kami permisi ke belakang. Nanti saat pesanan makanannya sampai saya akan memberitahukannya pada anda!" pamit Nun yang sudah tidak kuat lagi menghadapi kepolosan sang nyonya. Dia secara tidak langsung sudah mengibarkan bendera putih tanda bahwa dia dan para pelayan sudah tidak mampu untuk tetap beradu percakapan dengan wanita mungil yang tengah menatap mereka tanpa dosa.


"Baik, Pak Nun. Terima kasih sudah mau membantuku. Kakak-kakak semua, terima kasih banyak ya," sahut Elea sembari melambaikan tangan ke arah Nun dan para pelayan yang sudah beranjak pergi dari depan kamarnya. Dia kemudian menyeringai.


Hehehehehehehe .... 😝


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


...πŸ€Jangan lupa vote, like, dan comment...


...ya gengss...

__ADS_1


...πŸ€Ig: rifani_nini...


...πŸ€Fb: Rifani...


__ADS_2