Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Semut Mutan


__ADS_3

Bruugggg


Jantung di tubuh Jackson hampir saja berhenti berdetak saat membuka pintu mobil Elea. Sungguh, dia tidak menyangka kalau adiknya akan datang dengan di temani oleh seekor harimau kecil yang tatapan matanya begitu garang. Membuat Jackson jadi terkenang dengan Lan ketika sedang menyiksanya dulu.


"Kak Jackson, jangan seperti itu. Nanti Tora kaget!" tegur Elea sembari mengelus-elus kepala Tora.


"T-Tora?"


Jackson membeo.


"Dia anaknya Lan?" tanya Jackson sembari menatap datar ke arah binatang kecil yang hanya diam saja di tangan adiknya. Ingin heran, tapi ini adalah Elea. Binatang sekelas harimau saja terlihat nyaman, apalagi manusia. Pantaslah jika Gabrielle terus menempel pada adiknya seperti pohon benalu. Haihh.


Tapi jika harimau ini adalah anaknya Lan, kapan-kapan dia melahirkan? Dan harimau mana yang telah menghamilinya? Berani sekali.


"Bukan, Kak. Tora ini adalah harimau hadiah dari Ibu Liona. Waktu itu aku yang memintanya," jawab Elea jujur. Setelah itu Elea melongokkan kepala melihat ke arah tangan sang kakak. "Mana bunganya, Kak? Kau tidak lupa mengambilnya untukku bukan?"


"Aku mana mungkin lupa, Elea. Semua barang yang kau inginkan ada di dalam mobil," jawab Jackson seraya menunjuk ke arah mobilnya.


"Oh, syukurlah. Aku pikir kau lupa membawakannya untukku."


"Tidak. Ayo turun. Kau bilang kau ingin membuat kebun di dalam rumah 'kan? Aku sudah membelikan alat-alatnya khusus untukmu!" ucap Jackson sambil tersenyum kecil.


"Waahhh, kau terbaik, Kak Jackson!"


Nun langsung menatap datar ke arah Jackson begitu melihat nyonya kecilnya terlihat begitu gembira. Kali ini Jackson selamat karena Tuan Muda-nya tidak ada di sini. Jika ada, Nun yakin pasti akan ada pertengkaran sengit di antara kedua pria tersebut gara-gara saling cemburu dan berebut perhatian nyonya kecilnya.


"Dia adikku. Kau jangan berpikir yang tidak-tidak tentangku, Nun," ucap Jackson tanggap akan arti orang kepercayaan Gabrielle. Dia kemudian menoleh ke arah Elea yang sedang memekik kesenangan melihat banyaknya barang yang ada di dalam mobilnya.


"Hanya adik dalam anggapan anda saja, dokter Jackson. Sebelum anda dan Nyonya Elea menjadi akur, pernah ada rasa khusus di hati anda untuk beliau. Jadi saya tidak bisa tenang begitu saja membiarkan anda berada dalam jarak yang cukup dekat dengan Nyonya kami," jawab Nun tanpa ragu menegaskan bahwa tidak ada pria lain yang boleh mendekati sang nyonya, meski itu adalah dokter yang mengaku sebagai kakaknya sendiri.


"Jadi ... apa yang akan kau lakukan? Ikut menginap di sini?"


"Itu bisa saja saya lakukan, dokter. Tergantung bagaimana Tuan Muda memberikan perintah."

__ADS_1


"Jika dia memintamu untuk pulang?"


"Maka saya akan meminta Nun-Nun lain untuk mengawasi Nyonya selama tinggal bersama anda," jawab Nun. "Sekarang Nyonya Elea sedang mengandung tiga pewaris dari keluarga Ma. Sudah sepantasnya bukan kami semua siap siaga di setiap waktu?"


Mata Jackson memicing tajam setelah mendengar jawaban yang keluar dari mulutnya Nun. Tersinggung, ya, Jackson tersinggung. Dia tentu tahu kalau Nun sedang mengungkit tentang kejahatan yang pernah dia lakukan pada Elea dulu. Namun ketika Jackson mulai terbakar api amarah, tiba-tiba saja Elea mengeluarkan sebuah celetukan yang membuat Jackson membeku di tempat.


"Kak Jackson, bunga-bunga ini cantik sekali. Kau mencuri ya?"


Nun segera memperhatikan jenis bunga yang tengah di pegang oleh sang nyonya. Dia harus memastikan dengan teliti kalau bunga-bungaan itu aman untuk di sentuh.


"Kak, kenapa diam saja? Ini bunganya kau curi dari rumah siapa?" tanya Elea sembari mengangkat bunga yang berada di dalam kantong plastik.


"Aku tidak mencurinya, Elea. Bunga itu aku dapatkan dari pinggiran jalan tadi. Bukankah kau sendiri yang memintanya padaku, hm?" sahut Jackson setelah tersadar dari kekagetannya karena di tuduh mencuri bunga. Luar biasa.


"Benarkah? Tapi kenapa aku merasa tidak yakin ya. Bunga ini terlalu bagus untuk ukuran bunga liar, Kak Jackson. Aku sanksi kau tidak mencuri."


Wuuusssshhhh


"Ada apa, Elea?" tanya Jackson.


"Nyonya Elea, jika ada apa-apa tolong beritahu saya atau dokter Jackson. Tuan Muda bisa membunuh kami berdua jika anda dan bayi-bayi anda sampai kenapa-napa," imbuh Nun ikut merasa tak tenang melihat nyonya kecilnya tiba-tiba diam melamun sambil tersenyum aneh.


Bukannya menjawab, Elea malah berbalik ke arah mobil sang kakak kemudian mulai mengeluarkan satu-persatu barang yang ada di dalamnya. Tak mau Elea sampai kelelahan, Jackson dan Nun bergegas pergi membantunya. Jackson bahkan tidak membiarkan Elea tetap memegang bunga dalam plastik karena khawatir hal itu akan mempengaruhi kehamilannya.


"Pak Nun, Kak Jackson. Aku ini hanya sedang hamil, bukan sedang mengidap penyakit serius. Kenapa kalian memperlakukan aku seperti orang yang sakit keras?" tanya Elea sedih. Dia merasa seperti patung karena hanya di izinkan untuk berdiri saja. Padahal kan Elea ingin ikut membantu membawa bunga-bungaan masuk ke dalam rumah kakaknya.


Di tanya seperti itu oleh Elea membuat Nun dan Jackson sama-sama menghentikan apa yang sedang mereka lakukan. Setelah itu mereka berdua menoleh, menatap datar ke arah wanita hamil yang terlihat kecewa karena tidak di izinkan membantu.


*Nun : Nyonya, apa anda lupa betapa Tuan Muda begitu menyayangi anda dan calon anak-anak anda? Jika kalian sampai kenapa-napa, maka bisa di pastikan semua orang yang ada di sini akan mati di tangan Nyonya Besar Liona. Dan juga apakah anda tidak sadar kalau anda itu di kelilingi oleh orang-orang yang siap membunuh kapanpun? Termasuk dokter Jackson!"


Jackson : Elea, apa lau lupa kalau Gabrielle begitu posesif padamu? Aku, Nun, dan juga yang lainnya bisa mati di jemur seperti ikan asin oleh ibu mertuamu jika kau dan anak-anakmu sampai kenapa-napa. Karena sakit dan lelahnya dirimu adalah petaka bagi semua orang yang ada di sini. Jadi aku mohon tolong diam dan mengertilah agar kami semua bisa tetap hidup*!"


Andai saja Elea bisa mendengar kepanikan di diri Nun dan juga Jackson, dia pasti tidak akan sekecewa ini. Sayangnya saat ini emosi Elea sedang naik turun akibat hormon kehamilan di tubuhnya. Alhasil, karena merasa di abaikan oleh Nun dan juga Jackson, lama-lama Elea jadi tidak tahan untuk tidak meneteskan air mata. Dia menangis tersedu-sedu, dan sengaja membiarkan ingusnya menetes keluar dengan harapan kalau kedua orang ini akan memperhatikannya.

__ADS_1


"Biarkan saja, Nun. Elea melakukan semua itu supaya kita luluh dan mau mengizinkannya ikut mengangkut barang-barang ini. Jangan sampai karena kau merasa tidak tega nyawa kita jadi melayang sia-sia di tangan Gabrielle!" cegah Jackson ketika melihat Nun hendak berbalik menghampiri adiknya.


"Apa tidak apa-apa jika Nyonya di biarkan menangis seperti itu, dokter?" tanya Nun antara tega dan juga takut. Takut di bunuh oleh Tuan Muda-nya.


"Percaya padaku. Air mata yang keluar dari mata Elea adalah air mata buaya. Kau jangan sampai tertipu," jawab Jackson.


"Baiklah kalau begitu."


Sadar kalau suara tangisannya tidak mempan untuk membujuk kedua orang ini, Elea akhirnya memilih untuk menyudahinya saja. Dia kemudian berjalan perlahan menghampiri kakaknya.


"Kak Jackson, aku menangis."


"Aku tahu."


"Apa kau tidak kasihan?"


"Tidak!"


"Kenapa begitu? Apa kau sudah tidak sayang lagi padaku?" tanya Elea penasaran.


"Sangat sayang. Akan tetapi aku tetap tidak akan terpengaruh oleh bujuk rayumu itu karena aku masih ingin hidup. Aku belum menikah, Elea. Jadi tolong jangan membahayakan keselamatanku dulu. Oke," jawab Jackson berusaha mati-matian untuk tidak memeluk adiknya.


Elea menghela nafas.


"Pak Nun, aku ....


"Maaf, Nyonya Elea. Pagi ini telinga saya di sengat serangga, jadi saya tidak mendengar suara tangisan anda tadi," sela Nun tanpa memberi waktu untuk si nyonya kecil menyelesaikan kata-katanya.


Elea mengerjapkan mata.


Memangnya mutan bisa di sengat oleh semut ya? Kuat sekali binatang itu. Apa jangan-jangan semut yang menggigit Pak Nun adalah jelmaan mutan juga? Ya ampun, lucu sekali.


*****

__ADS_1


__ADS_2