Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Rasa Sakit


__ADS_3

Bantu bom komentar dong gengs di novel PESONA SI GADIS DESA 💜


Dengan langkah gontai Elea berjalan masuk ke dalam rumah mertuanya dengan Gabrielle yang terus memeluknya dari samping. Sungguh, pikiran Elea sedang sangat hancur sekarang karena sepertinya Tuhan benar-benar mengabulkan doa yang dia panjatkan waktu lalu. Saat Elea menangisi kondisi Grandma Clarissa, dia memang sempat meminta pada Tuhan agar Grandma-nya di izinkan untuk bertahan sampai dia mengandung. Dan keajaiban itupun benar terjadi. Namun sakitnya, Elea kembali mendapat penglihatan di mana Grandma-nya berada di dalam peti mati berwarna putih dengan kondisi wajah yang begitu pucat. Kalian bisa mengartikan sendiri bukan apa arti penglihatan tersebut?


"Sayang, hati-hati," ucap Gabrielle ketika kaki Elea hampir menabrak undakan tangga yang ada tepat di depan pintu masuk.


Dasar tukang sialan. Bisa-bisanya ya mereka memasang tangga kecil di sini? Kalau tadi aku tidak memperhatikan, Elea bisa saja tersandung kemudian terjatuh. Hal ini kan bisa membahayakan keselamatan dia dan si kembar tiga? Awas saja. Setelah ini aku akan meminta Ares untuk menghukum kalian semua. Beraninya ya kalian membahayakan keselamatan anak dan istri kesayanganku. Huh.


Andai saja Gabrielle tahu kalau para tukang yang membangun kediaman sang ibu adalah tukang-tukang yang berasal dari Eropa, dia pasti tidak akan berpikiran seperti ini. Sayangnya otak Gabrielle tidak akan bisa berpikir sampai ke arah sana jika sudah berhubungan dengan Elea. Dia terlalu membucin, sampai-sampai tidak sadar kalau kadang tindakannya membuat orang lain tercengang heran.


"Gabrielle, Elea. Kalian sudah pulang?" tanya Liona sambil berjalan cepat ke arah anak dan menantunya yang masih berada di luar rumah. Dia cukup kaget saat mendapat pesan dari Hansen kalau kedua orang ini sama-sama tidak ada di perusahaan maupun di kampus.


"Ibu Liona, apa Ibu mempunyai makanan enak di rumah?" tanya Elea lirih. "Anak-anakku kelaparan, mereka belum makan sejak tadi."


"Ada, sayang. Memangnya kau ingin makan apa, hm?" jawab Liona dengan cepat merebut Elea dari sisi Gabrielle. Dia langsung melayangkan tatapan tajam ketika putranya hendak melakukan protes.


"Aku ... ingin makan makanan yang manis-manis, Ibu Liona. Rasanya sangat pahit, bahkan air liur di dalam mulutku terasa seperti racun."


Sadar kalau ada yang tidak beres dengan menantunya, tanpa membuang waktu lagi Liona langsung membawanya masuk ke dalam rumah. Dia lalu mengajak Elea menuju dapur, berusaha sebisa mungkin menghibur hati menantunya yang sedang memendam suatu permasalahan.


"Kau mual tidak kalau mencium aroma masakan?" tanya Liona setelah membantu Elea untuk duduk. Dia lalu mengibaskan tangan ketika beberapa pelayan datang hendak membantunya. "Kalian istirahat saja. Elea ingin aku yang membuatkan makanan untuknya."

__ADS_1


"Baik, Nyonya."


Setelah pelayan pergi, Liona kembali bertanya pada Elea apakah dia keberatan menemaninya memasak atau tidak. Jujur, Liona sangat mengkhawatirkan kandungan Elea sekarang. Rahim menantunya ini tergolong lemah, dia takut cucu-cucunya akan berada dalam masalah jika Elea terlalu merasa tertekan seperti ini. Juga karena Liona yang sangat amat mengkhawatirkan kesehatan menantu kesayangannya ini.


"Ibu kalau ingin memasak, ya tinggal memasak saja. Aku akan berusaha menahan nafas sampai Ibu selesai membuatkan makanan untukku," ucap Elea seraya tersenyum paksa.


"Astaga, sayang. Tidak begitu juga konsepnya. Kau tidak harus menahan nafas jika memang tidak tahan mencium aroma makanan yang akan Ibu masak!" sahut Liona terkaget-kaget. Seperti biasa, hanya perempuan satu ini yang berani menjungkirbalikkan emosinya. Dan sialnya lagi Liona tak mampu untuk melakukan apa-apa. Lebih baik pasrah demi keselamatan detak jantungnya.


"Bu ....


"Hm, ada apa?"


Paham kalau menantunya baru saja melihat sesuatu hal yang menyakitkan, dengan penuh sayang Liona langsung memberikan pelukan hangat. Dia yang hanya bisa mendengar isi pikiran orang lain saja sudah cukup membuatnya stress. Apalagi Elea yang bisa melihat gambaran dari sebuah kejadian duka yang akan di alaminya sendiri maupun yang akan di alami oleh orang-orang terdekatnya. Sudah bisa di pastikan kalau Elea pasti akan sangat amat tertekan, bahkan bisa membuatnya gila.


"Sayang, Ibu tidak tahu apakah hal semacam itu benar adanya atau tidak. Karena selama ini Ibu hanya mempercayai takdir dari Tuhan saja. Yang selalu Ibu yakini bahwa Tuhan akan memberi kita kebahagiaan setelah badai besar menghantam kehidupan kita. Atau bisa saja keyakinan Ibu ini kau artikan kalau Tuhan itu selalu adil pada semua ciptaannya. Dia yang mendatangkan duka, tapi Dia juga yang menghadirkan tawa!" jawab Liona. "Elea, Ibu tahu kau merasa sangat tersiksa atas kelebihan yang ada di dirimu. Tapi di balik itu semua kau harus bisa bersyukur karena setidaknya kau memiliki kesempatan untuk menyiapkan diri. Tidak seperti Ibu dan yang lainnya. Ceritalah, katakan semua hal yang sedang mengganggu hatimu. Kau tidak sendirian, sayang. Ada Ibu yang akan selalu bersamamu."


"Hiksssss," ....


Dapur yang harusnya menghasilkan suara yang berasal dari kuali dan teman-temannya, kini malah berganti dengan suara isak tangis lirih yang keluar dari mulut Elea. Ya, dia menangis. Hanya di hadapan suami dan ibu mertuanya saja Elea baru bisa leluasa menunjukkan kerapuhan yang ada di hatinya. Suara isak tangis yang keluar dari mulut Elea terdengar begitu memilukan. Hatinya benar-benar sangat sakit. Sangat luar biasa sakit sampai-sampai membuatnya seperti ingin mati.


"Kendalikan dirimu, Elea. Tidak apa-apa jika masih ingin menangis, tapi kau harus tetap menjaga kesadaranmu. Jangan lemah, sayang. Ada Ibu bersamamu di sini,", ucap Liona yang begitu tidak tega mendengar suara isak tangis menantunya yang begitu menyayat hati.

__ADS_1


"Ak-aku melihat G-Grandma terbaring d-di dalam peti putih, I-Ibu Liona. Wajahnya p-pucat, dan-dan matanya ter-terpejam."


Setelah bicara dengan tersendat-sendat Elea tiba-tiba meraung dengan sangat kuat. Gabrielle yang saat itu menguping dari balik tembok tampak mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Hatinya seperti teriris setiap kali melihat Elea yang tersiksa karena tekanan dari kelebihan yang dia miliki.


Ya Tuhan, tolong hentikan siksaan ini. Jika memang Grandma Clarissa harus kembali padamu, ambillah. Tapi tolong jangan biarkan Elea mengetahuinya lebih dulu. Dia sedang hamil, Tuhan. Keadaan ini bisa membuat dia dan kandungannya berada dalam bahaya. Tolong aku, Tuhan. Aku mohon.


Ares yang sebelumnya sudah tahu kalau nyonya kecilnya memiliki kemampuan seperti ini hanya bisa terdiam kaget. Sungguh, kejadian ini sangatlah mengerikan. Ares tidak bisa membayangkan betapa tersiksanya sang nyonya karena mengetahui lebih dulu setiap kali ada orang terdekat yang akan segera kembali ke pangkuan Tuhan. Mungkin jika itu Ares, dia pasti sudah bunuh diri sejak dulu. Ares jamin dirinya tidak akan kuat menahan tekanan seperti itu.


"Res, coba kau tanyakan pada Paman Hansen apakah harimau yang waktu itu diminta oleh Elea sudah datang atau belum. Siapa tahu dengan hadiah itu kesedihan Elea bisa sedikit teralihkan," perintah Gabrielle sembari menyeka cairan bening yang tadi menggenang di pelupuk matanya.


"Baik, Tuan Muda," sahut Ares patuh.


"Dan satu hal lagi. Pilih pekerjaan yang penting saja di kantor kemudian kau selesaikan. Sisanya biar sekertaris saja yang mengurus. Cira sedang hamil, kau harus sering-sering menemaninya dulu untuk sekarang ini. Kau dengar sendiri kan apa yang di katakan Elea tadi?"


"Saya mendengarnya, Tuan Muda. Kalau begitu saya permisi."


Gabrielle mengangguk. Dia menarik nafas sebanyak mungkin lalu menghembuskannya perlahan. Setelah itu Gabrielle berjalan menghampiri ibunya yang tengah memeluk Elea. Dia ingin ada di sisi Elea ketika istrinya itu sedang berada dalam kesedihan.


Tolong, Tuhan. Hentikan kesedihan ini, aku tidak sanggup melihat wanita yang kusayangi terus terisak sakit begini. Aku tidak sanggup, Tuhan.


*****

__ADS_1


__ADS_2