
Drrttt drrttt
Gabrielle mengerutkan kening saat mendengar getaran ponsel dari atas meja. Dia kemudian melihat ke arah jam dinding.
"Jam sembilan. Siapa yang meneleponku malam-malam begini?" gumam Gabrielle dengan suara yang cukup keras. Dia segera berkamuflase menjadi patung tak kasat mata saat menyadari mata Elea yang terbuka gara-gara mendengar gumamannya.
Aku akan meremukkan ginjal orang yang menelpon kalau Elea sampai kembali merengek. Huhh, dasar pengganggu.
"Aku mau tidur di bajunya Kak Levi, Kak. Aku mau di sana."
"Ssstttt, tidurlah. Iya, besok aku akan memesankan gaun yang mirip dengan gaun milik pelakor itu agar kau bebas menidurinya. Sekarang tidur ya. Ini sudah malam, sayang," sahut Gabrielle pelan seraya menciumi kedua mata Elea agar kembali terlelap.
Gabrielle mengeratkan rahang saat getaran ponsel kembali terdengar. Penasaran siapa yang berani menganggunya di malam-malam begini, Gabrielle pun segera mengambil ponsel yang tergeletak di atas nakas. Dia terheran-heran begitu tahu kalau Reinhard-lah yang menelpon.
"Kenapa pengantin baru ini malah menelponku ya? Bukankah seharusnya dia dan Levita sedang bermain kuda-kudaan sekarang? Aneh. Apa jangan-jangan karena begitu bern*fsu Reinhard sampai membuat Levita pingsan. Ah, tapi itu tidak mungkin!" ucap Gabrielle bermonolog dengan dirinya sendiri. Setelah itu barulah dia menjawab panggilan dari sahabatnya itu. "Halo, Rein? Levita tidak mati kan?"
"Ck, kau salah mengkhawatirkan wanita itu, Gab. Yang hampir mati itu aku, bukan Levita. Huhh, benar-benar menjengkelkan."
Gabrielle merasa sangat aneh saat mendengar gerutuan Reinhard dari seberang telepon. Dia jadi berpikiran yang tidak-tidak.
__ADS_1
"Apa yang terjadi? Bukankah malam ini adalah malam pertamamu dengan Levita? Harusnya kalian kan sedang heboh-hebohnya mencoba berbagai macam pose, tapi kenapa sekarang kau malah menelponku sambil marah-marah tidak jelas? Apa goanya Levita berubah menjadi pedang yang sama besarnya dengan pedang milikmu?" tanya Gabrielle berkelakar.
"Sembarangan. Memangnya aku sudah gila apa menikahi wanita bersenjata double seperti itu. Biarpun dia masih belum pecah perawan, sebelumnya aku pernah melakukan pemeriksaan pada goanya itu. Jadi apa yang kau katakan barusan sangat tidak benar. Levita adalah wanita tulen, dia tidak memiliki pedang seperti yang kau tuduhkan barusan."
Mendengar cara Reinhard membela wanita bar-bar itu, Gabrielle menarik kesimpulan kalau marahnya Reinhard malam ini adalah karena hal lain. Sambil memainkan alis mata Elea, Gabrielle kembali menanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada si pengantin baru ini.
"Kalau bukan karena Levita yang mempunyai senjata double, lalu masalah apa yang membuatmu marah malam-malam begini, Rein? Tahu tidak kalau kau itu sangat mengganggu waktu istirahatku dengan Elea. Dia baru saja tertidur setelah aku puas membujuknya yang terus merengek meminta untuk tidur di atas gaun bolong milik istrimu."
"Levita sedang palang merah. Dan dia baru memberitahu saat aku sudah sangat ingin menyentuh goa hangat miliknya. Jika kau berada di posisiku, apa yang akan kau lakukan, Gab? Tolong jawab aku. Karena sekarang aku sedang sangat menderita. Rudalku tidak mau berdamai, dia terus mengacung tegak seperti sedang melakukan demo gara-gara aku tidak segera membawanya memasuki goa berlendir itu. Argghhh, brengsek! Levita benar-benar jahat. Dia menjatuhkan aku ke dasar bumi setelah aku terbang tinggi ke atas langit. Rasanya sangat sakit, Gab. Aku bingung harus melakukan apa sekarang. Tolong bantu aku, please ....
Andai saja saat ini mereka sedang melakukan panggilan video, Reinhard pasti akan sangat marah begitu melihat ekspresi di wajah Gabrielle sekarang. Kalian bayangkan sendiri posisi Gabrielle yang tengah menahan tawa agar tidak membangunkan Elea yang tengah tertidur nyenyak setelah mendengar aduan Reinhard yang sangat menggelitik hati. Sungguh, malam pertama sahabatnya benar-benar sangat stragis. Rudalnya Reinhard pasti sudah sangat membengkak gara-gara tidak menemukan tempat untuk meledakkan bibit mesiunya.
"Ekhmmm, aku turut prihatin atas apa yang terjadi pada malam pertamamu, Rein. Tapi jujur, aku sebelumnya juga pernah merasakan hal yang sama. Tapi bedanya itu terjadi bukan di malam pertama kami. Jadi aku tidak terlalu menderita sepertimu!" ucap Gabrielle sambil terus berusaha agar tidak mengeluarkan suara tawa.
"Dasar kau sahabat kurang ajar. Bukannya memberi saran bagaimana cara untuk menjinakkan rudalku, kau malah asik-asikan menertawakan kesialanku. Sia-sia aku menelponku, Gab. Dasar teman tak berakhlak."
"Hahahaha, maaf-maaf. Lagipula siapa yang tidak akan tertawa jika mendengar ceritamu, Rein!" sahut Gabrielle yang akhirnya melepaskan suara tawanya. Perutnya sampai kram saking puasnya dia menertawai kesialan yang di alami oleh sahabatnya ini. "Ekhmmm, kalau saran dariku, cobalah untuk berdiri di bawah guyuran air dingin, Rein. Dulu itu yang selalu aku lakukan setiap kali terjebak dalam posisi seperti ini."
"Sudah Gab, sudah. Aku bahkan hampir menjadi beku saking lamanya berada di bawah guyuran air dingin. Arrgghhh, bagaimana ini. Rasanya benar-benar sangat sakit, Gab. Aku tidak menyangka kalau rasanya akan semenyiksa ini, padahal sebelum menikah aku juga pernah menahannya."
__ADS_1
Lama-lama Gabrielle menjadi tak tega juga mendengar keluhan Reinhard. Agar pembicaraan mereka tidak mengganggu kenyamanan tidur Nyonya Ma, Gabrielle akhirnya memutuskan untuk bicara di balkon kamarnya saja. Dia mencium bibir Elea kilat sebelum pergi beranjak dari ranjang.
"Rein, kau catat baik-baik tanggal dimana Levita kedatangan bulan. Jadikan ini sebagai pelajaran agar ke depannya nanti kau tidak harus mengalami kesialan seperti ini lagi. Dan saranku, kau jangan coba-coba memantik amarah wanita yang tengah berada di periode palang merah karena mereka bisa berubah menjadi hantu valak yang sangat mengerikan. Percaya padaku!"
"Memangnya Elea pernah berubah menjadi seperti itu, Gab? Kapan?"
Sambil memandang langit, Gabrielle menceritakan salah satu kegilaan yang Elea lakukan ketika berada dalam masa membahayakan tersebut.
"Hari itu pernah ada kejadian naas dimana Lan yang menjadi korban masa palang merah itu. Mungkin jika manusia lain mendengar suara auman binatang buas seperti Lan, mereka pasti akan lari terbirit-birit saking takut akan di mangsa. Tapi Elea, dia malah kerasukan. Elea murka karena merasa Lan sedang mengejeknya. Padahal jelas-jelas Lan mengaum bukan karena mengejeknya, tapi sedang kesenangan karena Elea datang ke sana. Alhasil, Lan berakhir dengan tangan dan kaki yang terikat dengan sangat kuat. Di tangan Elea yang sedang datang bulan, Lan kehilangan jati dirinya sebagai seekor binatang buas yang di takuti oleh banyak makhluk hidup. Kau bayangkan saja Rein, tidak datang bulan saja Elea sudah sangat meresahkan. Jadi sewaktu dia berada dalam kondisi mood yang berubah-ubah, dia benar-benar sangat mengerikan. Aku bahkan menyakini kalau hantu valak akan langsung kena mental jika sampai berpapasan dengan Elea yang sedang seperti itu. Pokoknya aku sarankan kau jangan melawan jika Levita sedang dalam masa seperti ini. Cukup sayangi nyawamu saja dengan diam dan tidak banyak bicara. Aku jamin kau akan berumur panjang!"
Mungkin jika percakapan antara Gabrielle dan Reinhard di dengar oleh orang lain, mereka pasti akan terheran-heran. Karena apa? Karena pembicaraan mereka sangat absurd dimana hanya mereka saja yang paham. Suami dari Levita dan Eleanor sangat sesuatu bukan? Dan itulah kenyataan yang di alami oleh Gabrielle dan Reinhard sekarang. Jika istri-istri mereka mempunyai sikap dan perilaku yang aneh, maka keduanya juga memiliki sikap yang hampir serupa. Levita dan Eleanor, dua anak manusia yang tingkahnya selalu membuat orang lain mengelus dada. Sementara Gabrielle dan Reinhard, mereka akan selalu menjadi korban dari kebrutalan istri-istri mereka. π€£
πππππππππππππππππ
...GENGSS... JANGAN LUPA BOM KOMENTAR YA BIAR EMAK MAKIN SEMANGAT CRAZY UP π...
...πJangan lupa vote, like dan comment...
...ya gengss...
__ADS_1
...πIg: rifani_nini...
...πFb: Rifani...