Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Sebuah Saran


__ADS_3

"Cuwee," ....


Sambil mengeratkan sweater yang membungkus tubuhnya, Elea berjalan menghampiri kuda kesayangannya yang masih belum keluar dari dalam kandang. Dia kemudian tersenyum saat kuda tersebut menyambut kedatangannya dengan meringkik sembari mengibaskan ekor panjangnya.


"Lucu sekali. Apa kau merindukan aku?" tanya Elea setelah sampai di dekat kandangnya Cuwee.


Meski semalam telah menghabiskan malam yang panas dan panjang bersama suaminya, hal tersebut belumlah mampu mengurangi kegundahan di hati Elea. Dia masih tetap risau memikirkan kemungkinan terburuk dari keadaan sang nenek. Andai Elea bisa lebih kuat dan tegar dalam menerima kenyataan, dia pasti tidak akan sekalut ini. Sungguh, bukannya dia tidak mensyukuri kelebihan yang telah di berikan Tuhan untuknya. Akan tetapi Elea terkadang benar-benar merasa sangat amat frustasi setiap kali mendapat mimpi buruk tentang orang-orang yang berada di sekitarnya. Dia seperti akan mati, tapi di paksa agar tetap hidup. Kalian bisa bayangkan sendiri bukan tekanan yang harus Elea rasakan karena memiliki kelebihan seperti itu?


"Cuwee, setiap manusia pasti memiliki kelebihan dan juga kekurangan. Benar tidak?" tanya Elea mulai mengeluarkan unek-unek yang menyelimuti hatinya. "Tapi kenapa kelebihan yang aku miliki membuatku merasa sangat amat tersiksa? Apakah aku kurang dalam bersyukur? Atau malah Tuhan terlalu menyayangiku sampai-sampai Dia memberikan ujian yang tiada habisnya. Aku bingung, Cuwee. Aku bisa gila jika terus seperti ini."


Tak jauh dari tempat Elea berada, Gabrielle yang diam-diam mengikuti Elea sejak keluar dari kamar terlihat menghembuskan nafas beratnya. Meski tak merasakan langsung seberapa besar tekanan yang di rasakan oleh Elea, Gabrielle bisa melihat kalau istrinya itu sangat amat tersiksa. Mungkin memang benar apa yang di katakan oleh ibunya kalau Elea bisa saja sakit jiwa menghadapi kelebihan yang dia miliki jika dia di biarkan sendirian. Siapalah orangnya yang tidak akan stress berat jika setiap kali ada orang terdekat kita yang tertimpa musibah, kita akan mengetahuinya lebih dahulu. Apalagi sekarang yang tengah terancam takdir kematian adalah nenek Elea sendiri. Pastilah perasaan Elea menjadi sangat tidak karu-karuan.


"Tuan Muda, apakah saya perlu mengatur suatu kejutan untuk membantu menghibur suasana hati Nyonya Elea?" tanya Nun prihatin melihat kesedihan di wajah kedua majikannya.


"Hmmm, kalau saja itu bisa membuatnya merasa lebih tenang, aku pasti sudah melakukannya lebih dulu, Nun," jawab Gabrielle seraya men*desah panjang. "Elea memiliki sesuatu yang tidak semua orang bisa memiliki. Tuhan memberinya kemampuan melihat apa yang akan terjadi pada orang-orang yang berada di dekatnya. Dan sebelum peragaan busana musim panas waktu itu, dia sudah mendapat mimpi kalau Grandma Clarissa tidak akan hidup lama lagi. Elea sudah hancur sejak lama, tapi dia berusaha menahannya karena tak ingin membuat kita semua menjadi khawatir. Istriku sudah lama berdarah-darah."


Nun terkesiap kaget saat mendengar perkataan Tuan Muda-nya. Sungguh, dia sangat tidak menyangka kalau Nyonya kecilnya ternyata mempunyai sesuatu yang sangat amat spesial. Namun, Nun tidak tahu harus merasa senang atau malah sedih setelah mendengar kabar tersebut. Karena pada kenyataannya, yang dia lihat bukanlah sebuah kebahagiaan. Melainkan kemurungan dan juga kesedihan yang di sebabkan oleh kelebihan tersebut. Nyonya kecilnya murung karena mampu mengetahui lebih dulu tentang musibah yang akan menimpa keluarganya. Sementara Tuan Muda-nya, dia murung karena melihat istrinya yang bermuram durja.


"Andai saja bisa di tukar, aku akan meminta pada Tuhan agar segala tekanan yang Elea rasakan di pindahkan saja padaku. Hatiku seperti terkoyak melihat Elea seperti ini, Nun. Dia berusaha untuk terlihat baik-baik saja di depanku. Dia tersenyum, tapi sebenarnya hatinya sedang sangat hancur. Aku harus bagaimana, Nun?" tanya Gabrielle sambil mengepalkan tangan ketika mendengar suara isakan lirih. Elea-nya menangis.


"Tuan Muda, saya sungguh kaget mengetahui kalau Nyonya Elea ternyata sangat istimewa. Tapi terlepas dari itu semua, saya ingin memberi sedikit saran kepada anda. Siapa tahu saran tersebut bisa membuat Nyonya Elea sedikit melupakan perasaan tertekan itu," jawab Nun dengan bijak.


"Saran apa? Cepat katakan!"


Sebelum menjawab, Nun melirik sekilas ke arah sang nyonya yang sedang terisak pelan.

__ADS_1


"Coba Tuan Muda tanyakan pada Nyonya Elea apa yang ingin beliau lakukan hari ini? Bahagiakan beliau dengan menuruti semua keinginannya. Mengingat dari kesederhanaan di diri Nyonya Elea, sepertinya beliau akan menyukai sesuatu yang merakyat. Contohnya mendatangi panti asuhan, mungkin."


"Maksudmu mengajak Elea untuk pergi berbagi dengan anak yatim?"


"Benar, Tuan Muda. Saya yakin orang-orang baik seperti Nyonya Elea pasti akan sangat menyukai kegiatan seperti itu. Selain bisa menenangkan hati, kegiatan tersebut juga bisa memberikan energi positif ke tubuh dan pikiran Nyonya. Dan semoga saja setelahnya Nyonya Elea bisa jauh lebih relaks dalam menerima kelebihan yang sudah terlanjur Tuhan berikan."


Gabrielle diam tertegun setelah mendengar penuturan Nun. Dia heran, kenapa bisa dirinya tidak terpikirkan ke arah sana? Bodoh sekali dia.


"Tuan Muda, ini hanya sekedar saran saja. Mau sebagus apapun saran yang saya berikan, kehadiran dan perhatian anda tetaplah menjadi yang paling utama. Saya terfikir hal ini karena teringat akan kesedihan Nyonya di masa lalu ketika masih berada di panti asuhan. Beliau selalu sedih dan terlunta-lunta akibat kearoganan istri mendiang Tuan Karim. Siapa tahu dengan mendatangi panti asuhan tersebut Nyonya bisa merasa lega. Bukan maksud saya ingin menjebak Nyonya agar bernostalgia dalam rasa sakitnya, Tuan Muda. Tapi saya merasa kalau Nyonya akan menemukan suatu kehangatan yang dulu tidak pernah beliau dapatkan dari pemilik panti dan juga teman-temannya karena sekarang beliau akan berkunjung dalam keadaan yang sudah berbeda dari yang dulu!" imbuh Nun menjelaskan dengan rinci maksud dari saran yang dia berikan.


Tanpa di sangka-sangka, Gabrielle langsung menghambur memeluk Nun dengan sangat erat. Dia seperti menemukan jalan keluar di kala terjebak di jalan buntu.


"Terima kasih untuk saran berhargamu, Nun. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi jika tidak ada kau. Sekali lagi terima kasih banyak!"


"Sudah menjadi tugas saya menjaga kebahagiaan anda dan Nyonya Elea, Tuan Muda. Jadi anda tidak perlu berterima kasih seperti ini. Tuan Christ Harrison menciptakan saya adalah untuk memastikan kalau anda dan keluarga kecil anda baik-baik saja. Dan saat ini saya sedang melakukan tanggung jawab tersebut. Harap Tuan Muda tidak merasa sungkan!"


Nun mengangguk. Dia menatap dalam ke arah Tuan Muda-nya saat pelukan mereka terlepas. Bak putranya sendiri, Nun mengelus pelan bahu pria yang sudah sedari kecil dia rawat. Meski hanya seorang mutan, Nun sangatlah menyayangi Tuan Muda-nya ini.


"Tuan Muda, sekarang pergilah bujuk Nyonya Elea. Semoga saja beliau setuju dengan saran yang tadi saya berikan."


"Baiklah. Kalau begitu aku pergi menghampirinya dulu. Nanti jika Elea mau, tolong kau bantu siapkan barang apa saja yang akan di bawa ke sana. Sekalian kau antarkan kami pergi ke panti asuhan itu. Ares sedang menjaga Cira yang sedang bersedih karena memikirkan keadaan Grandma Clarissa. Belum lagi sekarang Cira sedang hamil muda, aku tidak tega untuk menyita waktunya!" ucap Gabrielle.


"Baik, Tuan Muda."


Setelah mengatur perintah untuk Nun, Gabrielle bergegas pergi menghampiri Elea yang sedang diam melamun sambil mengelus bulu-bulu lembut di tubuh Cuwee.

__ADS_1


"Sayang," ....


Elea tersentak kaget. Dia kemudian menoleh saat ada sebuah tangan yang melingkar di pinggangnya.


"Owh, Kak Iel. Kakak sudah bangun?" tanya Elea sambil tersenyum manis.


"Sudah," jawab Gabrielle. "Sayang, hari ini aku sedang tidak ada pekerjaan di kantor. Jadi aku ingin mengajakmu pergi ke panti asuhan yang dulu kau tinggali. Kira-kira kau keberatan tidak?"


"Kenapa Kak Iel tiba-tiba ingin mengajakku pergi ke sana?"


"Ada yang bilang padaku jika hati sedang gundah, ada baiknya kita melakukan suatu kegiatan yang bisa mendatangkan aura positif ke pikiran kita. Sejak hari dimana kau melihat nasib Grandma, aku tak pernah lagi melihatmu tersenyum dengan lega, sayang. Kau tertekan, kau juga sering menangis seorang diri. Jadi aku berinisiatif mengajakmu pergi ke sana untuk bertegur sapa dengan mereka. Tapi itu jika kau mau. Kalau pun tidak, aku tidak memaksa."


"Aku mau!" sahut Elea dengan cepat. "Ayo Kak, kita berangkat sekarang."


Gabrielle menarik nafas lega saat Elea merespon perkataannya dengan baik. Sambil tersenyum, dia menggenggam erat tangan Elea yang mengajaknya masuk ke dalam rumah. Gabrielle kemudian menganggukkan kepala ke arah Nun. Memberi tanda kalau sarannya ternyata berhasil.


Semoga sepulang dari sana nanti kau bisa merasa jauh lebih tenang, sayang. Maaf, hanya ini yang bisa aku lakukan untukmu sekarang.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


...πŸ€Jangan lupa vote, like dan comment...


...ya gengss...


...πŸ€Ig: rifani_nini...

__ADS_1


...πŸ€Fb: Rifani...


__ADS_2