Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Sedang Jatuh Cinta


__ADS_3

Sementara itu Flow yang sudah kelelahan bercanda dengan Amora memutuskan untuk membawanya pergi jalan-jalan keluar. Flow ingin memberikan kebahagiaan yang selama ini tak pernah Amora dapatkan dari keluarganya.


“Tidak, Flow. Aku tidak boleh sembarangan keluar dari rumah ini tanpa seizin Bern. Aku takut dia marah,” ucap Amora lirih. Jauh di dalam lubuk hatinya, Amora sebenarnya begitu ingin menerima ajakan Flowrence. Namun kembali lagi dia tersadar dengan statusnya di rumah ini. Kecuali jika Bern telah memberinya izin, maka Amora baru akan bersedia untuk pergi jalan-jalan. Sesuatu hal yang sangat ingin Amora lakukan selama ini.


“Kak Bern marah?” beo Flow sambil mengerutkan kening. Tak kehabisan akal, Flow segera mengambil ponselnya kemudian melakukan video call ke nomor sang kakak. Amora harus bahagia, dan ini adalah harga yang tidak boleh di tawar dengan apapun juga.


“Halo. Ada apa?”


“Kak Bern, Amora sudah membuatku menggendut seperti anak b*bi karena kekenyangan. Dan aku berniat mengajaknya pergi jalan-jalan untuk mengempeskan perut. Tapi Amora menolaknya. Dia bilang takut Kakak marah. Memangnya benar begitu ya?” tanya Flowrence begitu panggilan tersambung. Tanggap kemana arah pandangan mata sang kakak, Flowrence pun segera mengarahkan kamera ponsel ke wajah Amora. Dia kemudian terkikik kencang melihat wajah Amora yang langsung memerah seperti pantat ayam. “Kak Bern, coba perhatikan wajah Amora baik-baik. Sepertinya dia malu setelah melihat wajahmu. Cieeee.”


Amora langsung sesak nafas saat digoda terang-terangan oleh Flowrence. Dan tengkuknya meremang melihat Bern yang malah tersenyum mendengar perkataan adiknya. Sungguh, senyum manis yang di perlihatkan Bern membuat hati Amora bergetar. Pikirannya kemudian melayang pada kejadian manis sebelum Bern berangkat ke kantor. Tanpa sadar Amora tersenyum.


“Waahhhh, lihat Amora tersenyum. Ya ampun, aku seperti sedang melihat anak anjing yang sedang jatuh cinta. Manis sekali,” ledek Flowrence dengan sengaja.


“Pergilah, nikmati waktumu bersama Flowrence. Nanti aku akan mentransfer uang untuk kalian berbelanja. Tersenyumlah,” ucap Bern tak menggubris ucapan adiknya yang agak nyeleneh itu. Matanya fokus memperhatikan wajah cantik yang terlihat malu-malu di depan layar ponsel.

__ADS_1


“Em Bern, lebih baik tidak usah. Aku dan Flowrence hanya akan berjalan-jalan di sekitar sini saja kok. Kami tidak pergi jauh,” sahut Amora agak sungkan menerima kebaikan yang Bern tawarkan. Dia cukup sadar diri dengan tidak bersikap rakus yang terkesan memanfaatkan keadaan. Amora bukan gadis yang seperti itu.


“Bohong, Kak Bern. Aku dan Amora berniat jalan-jalan ke bulan,” sahut Flowrence dengan hebohnya. Sedetik kemudian Flowrence tersadar ada yang salah dengan perkataannya. “Amora, bukannya bulan itu berada di tempat yang sangat jauh ya? Aku rasa kita sebaiknya jangan pergi kesana. Aku khawatir kita akan menua dalam perjalanan. Benar tidak?”


Setelah berkata seperti itu Flow mengarahkan layar ponsel ke depan wajahnya. Dia lalu mengerucutkan bibir ketika kakaknya terlihat tidak senang karena bukan Amora yang dilihatnya. “Kak Bern, apa kau marah padaku?”


“Tidak,” sahut Bern singkat. Dia lalu meminta Flowrence agar mengarahkan layar ponsel kepada Amora. Bern sekali lagi ingin melihat kecantikan gadis itu sebelum lanjut bekerja. “Amora, kalian pergilah bersenang-senang. Jangan pulang sebelum aku sendiri yang datang menjemput. Dan aku tidak mau kau pulang dengan tangan kosong. Kau tidak lupa bukan kalau sekarang aku yang akan bertanggung jawab dengan hidupmu? Jadi aku minta kau jangan mengecewakan aku. Oke?”


Meskipun sungkan, Amora akhirnya tak bisa lagi menolak keinginan Bern. Dengan pipi merona merah Amora menganggukkan kepala. Dia kemudian tersenyum saat Bern pamit untuk menutup panggilan. Masih dengan senyum menghiasi bibirnya, Amora mengembalikan ponsel pada Flowrence.


“Bagaimana? Apa sekarang kau sudah tidak takut akan dimarahi oleh kakakku lagi?” tanya Flowrence sambil memperhatikan raut kebahagiaan yang tengah menghiasi wajah Amora. Dalam hati, Flowrence terus memohon pada Tuhan agar memberikan umur yang panjang untuk gadis ini. Flowrence merasa tidak rela jika harus melihat kakaknya mengalami patah hati. Ya, Flowrence tentu bisa melihat benih-benih cinta mulai tumbuh dari cara kakaknya menatap Amora. Sama persis seperti cara Oliver menatapnya.


“Tidak,” jawab Amora sembari menyelipkan rambut ke belakang telinga. “Bern bilang aku tidak boleh pulang sebelum dia datang menjemput. Dia juga bilang kalau aku tidak boleh pulang dengan tangan kosong. Nanti dia kecewa.”


“Nah, kalau sudah begini ayo kita habiskan saja uangnya Kak Bern. Kau tahu tidak, Amora. Uang Kak Bern itu sangat banyak, dan ini adalah pertama kalinya dia membiarkan seorang wanita menikmati kekayaannya secara cuma-cuma. Jadi kita tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan baik ini. Ayo cepat ganti bajumu dan mari kita berbelanja sampai puas. Yeyyyy!”

__ADS_1


Sambil bersorak kesenangan, Flowrence menyeret Amora masuk ke dalam kamar. Dia berniat mendandani gadis ini agar ketika kakaknya datang menjemput nanti, kakaknya akan langsung meneteskan air liur karena terpesona. Namun ketika Flowrence membuka lemari tempat Amora menyimpan pakaian, dia dibuat syok akan isi di dalamnya. Separah inikah Amora mendapat perlakuan kejam dari keluarganya sendiri sampai-sampai dia tidak memiliki pakaian yang layak untuk ukuran seorang gadis dari keluarga kaya? Tak mau merusak moment bahagia ini, tangan Flowrence langsung bergerak cepat memesankan satu gaun manis dari salah satu toko kenamaan. Sambil menunggu gaun itu di kirim ke rumah ini, Flowrence mengajak Amora untuk mandi terlebih dahulu. Awalnya sih Amora menolak, tapi bukan Flowrence namanya kalau tidak bisa mendapatkan apa yang di inginkannya. Hehehe.


“Uwahhhh, ternyata di dada dan punggungmu juga banyak sekali bekas alerginya, Amora. Mana-mana, biarkan aku menghitungnya,” teriak Flowrence sambil menelan ludah melihat banyaknya bekas keunguan hasil dari berburu kakaknya.


Ya ampun, Kak Bern. Kenapa kau bisa sebuas ini sih? Kaget aku.


“Em Flow, bisakah aku mandi sendiri saja? Tubuhku … buruk. Nanti kau tidak nyaman,” ucap Amora canggung melihat Flowrence yang tercengang melihat banyaknya bekas luka di tubuhnya. Jujur, ini membuat Amora merasa sangat malu. Dan Amora tidak ingin Flowrence tahu kalau semua luka-luka di tubuhnya adalah hasil kekejaman dari keluarganya sendiri.


“Kenapa aku harus merasa tidak nyaman dengan tubuhmu, Amora. Bukankah kau yang bilang sendiri kalau kau itu mengidap alergi?” sahut Flowrence tak membiarkan Amora merasa malu dengan kondisi tubuhnya. Seperti biasa, Flowrence sedang dalam mode pura-pura bodoh. Jadi dia bisa dengan mudah mengalihkan kecemasan Amora .


“Alergi?”


J-jadi Flowrence sama sekali tidak tahu kalau luka di tubuhku merupakan perbuatan Ayah dan kakak-kakakku? Ya Tuhan, aku sungguh tidak tahu harus merasa senang atau bagaimana menghadapi sikapnya Flowrence yang begitu polos. Tapi jujur, aku lega sekali. Dengan begini Flowrence tidak akan mencecar siapa orang yang telah melukaiku. Maafkan aku ya, Flow. Maaf karena aku merasa lega melihat kebodohanmu. Maafkan aku,


Andai Amora bisa memperhatikan dengan teliti, saat ini air yang membasahi wajah Flowrence telah tercampur dengan airmatanya. Hatinya kembali teriris setelah Flowrence mendengar isi hati Amora. Meski mendapat perlakuan yang sangat kejam dari keluarganya, tapi Amora tetap tak ingin Flowrence mengetahui kebusukan keluarganya itu. Benar-benar jelmaan malaikat tak bersayap. Kak Bern sungguh sangat beruntung jika bisa menikahi gadis sebaik Amora. Sungguh.

__ADS_1


***


__ADS_2