
Seusai sarapan dan merangkai bunga, Elea mengajak Gabrielle pergi ke rumah Jackson dan Kayo terlebih dahulu. Oya, sekedar pemberitahuan saja. Pasangan batu es berhati malaikat itu sudah menikah beberapa bulan lalu. Sengaja di persingkat karena alurnya dimajukan, jadi harap tidak bertanya lagi ya. Karena kemungkinan nanti emak bakalan kasih flashback ke pernikahan Kayo dan juga Jackson.
Tok tok tok
"Sayang, duduklah dulu. Aku tidak mau kau kelelahan!" ucap Gabrielle sembari menepuk sebelah pahanya. Dia sudah setengah berjongkok, menyediakan tempat agar Elea tidak terlalu lama berdiri karena menunggu Kayo dan Jackson membuka pintu rumah mereka.
"Hmmm, kau memang suami yang sangat siaga, Kak Iel. Kalau terus seperti ini, aku benar-benar tidak akan pernah bisa berhenti mencintaimu," sahut Elea dengan manja menggoda Gabrielle. Dia kemudian duduk di atas pahanya dengan melingkarkan satu tangan ke leher Gabrielle. Setelah itu Elea memberikan satu kecupan manis di pelipisnya. "I love you, Ayah Gabrielle."
Gabrielle langsung tersenyum semringah mendapat pesangon dadakan seperti itu. Andai saja posisi mereka mendukung, dia pasti akan membalas kecupan Elea dengan sesuatu yang jauh lebih manis lagi. Sayang, saat ini Gabrielle sedang di siagakan untuk menjadi seorang ayah dan juga suami yang pengertian. Tapi tidak apa-apalah, toh masih ada banyak sekali kesempatan untuk dia bisa bermanja dan memanjakan istrinya ini. Apalagi jika mereka berdua sedang berada di dalam kamar. Gabrielle-lah yang akan menjadi penguasa di sana. Hehee.
Tak berapa lama kemudian pintu rumah Jackson akhirnya terbuka. Dan wajah yang pertama kali dilihat oleh Gabrielle dan Elea adalah wajah pucat Jackson yang terlihat seperti orang kurang tidur.
"Kak Jackson, kau masih manusia 'kan?" tanya Elea kaget melihat penampilan kakaknya yang cukup berantakan.
"Apa kau berharap kalau aku adalah zombie, Elea?" sahut Jackson balik bertanya.
"Hehehe, sedikit."
Jackson menghela nafas. Dia kemudian melihat ke arah dua keranjang bunga yang tergeletak di lantai. "Bunga apa itu?"
"Bunga kuburan," jawab Gabrielle asal.
"Sembarangan. Kau pikir rumahku adalah pemakaman apa?"
__ADS_1
Gabrielle terkekeh.
"Kak, mana Kayo? Kau tidak memenggalnya kan di dalam?" tanya Elea penuh penasaran. Dia sampai melongokkan kepala ke arah dalam saking penasarannya dia kenapa Kayo tak ikut muncul menyapa.
"Dia sedang ....
"Aku di sini!"
Wanita dengan wajah cantik nan anggun itu muncul dengan di barengi sebuah senyuman manis di bibirnya. Di tangan Kayo ada buah mangga muda yang baru termakan sedikit. Sepertinya wanita dingin ini sedang mengidam.
"Kakak ipar Elea, bunga untuk siapa itu?" tanya Kayo sambil menatap ke arah lantai dimana ada dua keranjang bunga tergeletak di sana. Dia kemudian menggeser tubuh Jackson supaya tidak menghalangi jalannya yang ingin menyentuh keranjang bunga tersebut. "Cantik sekali. Apa ini untukku?"
"Ya, itu untukmu dan untuk Kak Jackson," jawab Elea. "Semalam perutku berkedut. Dan bunga-bunga ini sengaja aku rangkai untuk merayakan kebahagiaan itu. Apa kau suka?"
"Elea, apa kau baik-baik saja setelah merasakan kedutan itu?" tanya Jackson khawatir. Jujur, sampai saat ini kehamilan Elea belum bisa di anggap baik-baik saja. Rahimnya masih lemah, di tambah lagi sebelumnya Elea melakukan operasi besar sebelum hamil. Sebagai seorang dokter sekaligus seorang kakak, sudah pasti Jackson sangat mengkhawatirkan keadaan Elea. Dia takut kalau Elea sebenarnya merasa sakit, tapi sengaja di tahan demi mempertahankan ketiga calon anak-anaknya.
Mendengar pertanyaan Jackson yang sarat akan kekhawatiran, sudah pasti hal ini memancing ketakutan tersendiri di benak Gabrielle. Segera dia menatap wajah Elea dalam-dalam kemudian mulai mencecarnya dengan beberapa pertanyaan serius.
"Sayang, kau tidak sedang menutupi sesuatu dariku bukan? Tolong jangan lakukan itu karena aku bisa mati karenanya. Jika sakit, katakan sakit. Tidak apa-apa, aku akan selalu ada bersamamu."
"Kak Iel, Kak Jackson. Aku sungguh baik-baik saja, aku tidak kenapa-napa. Dan jika kalian khawatir aku menutupi rasa sakit di tubuhku, maka kalian salah besar. Aku sangat bahagia dengan kehamilan ini terlepas dari keadaan rahimku yang sedikit lemah. Ada kalian bersamaku, apa yang harus aku takutkan. Benar tidak?" jawab Elea langsung menegaskan bahwa dia dan kandungannya sangat baik-baik saja.
Jackson dan Gabrielle saling melempar pandangan. Mereka ingin percaya, tapi ini adalah Elea. Antara mulut dan hatinya terkadang saling bertabrakan. Jadilah mereka memilih untuk pura-pura mengerti saja karena tak ingin membuatnya merasa kecewa. Sedangkan Kayo, dia tidak terlalu menyimak pembicaraan ketiga orang ini karena Kayo sibuk menikmati buah mangga muda yang dimakan begitu saja tanpa ada campuran apapun. Juga dengan tangannya yang asik memegang bunga indah yang ada di dalam keranjang.
__ADS_1
"Jack, kau tidak tidur?" tanya Gabrielle sambil memperhatikan wajah Jackson yang pucat dan juga kusut. Dia penasaran apa yang telah terjadi pada mantan penjahat ini.
"Bagaimana mungkin aku bisa tidur kalau Kayo setiap detiknya selalu menginginkan makanan yang berbeda-beda," jawab Jackson lirih. Dia takut suaranya di dengar oleh istrinya yang tiba-tiba menjadi labil. "Aku rasa sekarang aku sedang kena karma, Gab. Dulu aku pernah tidak sengaja menertawakanmu saat menghadapi mengidamnya Elea, dan sekarang semua itu seakan-akan berbalik padaku. Kayo dulu sangat manis, tapi sekarang dia berubah seperti macan tutul yang sebentar-sebentar menangis jika keinginannya tidak segera di penuhi."
Kedua sudut bibir Gabrielle berkedut. Ingin tertawa, tapi takut kena karma juga. Alhasil Gabrielle dan Jackson hanya bisa saling menatap sambil masing-masing menahan tawa dalam hati. Mungkin memang seperti inilah yang di rasakan oleh para suami dalam menghadapi istri mereka yang sedang hamil muda. Ibarat kata, mau mengeluhkan pun tidak akan ada gunanya karena semua ini sudah menjadi takdir. Jadi satu-satunya hal yang bisa mereka lakukan hanyalah bersabar karena bagaimana pun mereka lah yang sudah membuat kedua wanita ini hamil. Hehehe.
"Oh ya kakak ipar, kenapa kedutan anak-anakmu tidak di jadwalkan sebagai hari libur saja di perusahaan? Dulu saat Bibi Liona hamil, Paman Greg sampai menjadikan hari itu sebagai hari libur masal untuk seluruh karyawan Group Ma. Kenapa sekarang tidak? Apa Kak Gabrielle tidak mengizinkan? Ceraikan saja dia!" tanya Kayo yang entah kenapa mulutnya jadi begitu fasih membujuk kakak iparnya untuk bercerai.
"Sayang kalau suami sebaik Kak Iel di ceraikan begitu saja, Kay. Di mana lagi aku bisa menemukan seorang suami yang tampan, mapan, dan juga perhatian? Juga siapa yang akan membiayai kebutuhan pelakor peliharaanku kalau kami sampai bercerai? Kan kasihan Kak Levi, nanti dia jadi tidak bisa pamer lagi pada teman-temannya," jawab Elea tanpa ragu memuji Gabrielle di hadapan Kayo dan juga kakaknya.
"Em, benar juga ya. Ngomong-ngomong kau punya pelakor simpanan tidak, kakak ipar? Jika ada, tolong hubungi aku ya. Aku juga butuh seseorang seperti Levi untuk menjadi pawang di saat Jackson berada di luar rumah," ucap Kayo. Setelah itu dia menatap sinis ke arah Jackson yang entah kenapa menjadi sangat buruk di matanya. Ya, Kayo sangat amat membenci Jackson sejak semalam. "Kau tahu tidak, kakak ipar. Jackson main mata dengan seorang janda yang dia kenal di rumah sakit. Janda itu bahkan berani mengirim pesan secara pribadi ke ponselnya. Kira-kira kalau kau yang ada di posisiku, apa yang akan kau lakukan padanya, kakak ipar? Tolong jawab karena aku sedang membutuhkan pencerahan!"
"Ceraikan, kemudian bunuh. Itu adalah cara yang paling efektif untuk membasmi para hidung belang yang suka mencari mangsa di luar sana. Dasar payah kau, Jack. Beraninya main janda di belakang sepupuku. Ingin mati atau bagaimana hah!" amuk Gabrielle tak terima mendengar aduan Kayo.
"Janda-janda kepalamu. Kau pikir aku semurahan itu apa mendua di belakang Kayo? Wanita itu saja yang gatal terus mengejar-ngejar aku. Padahal semua orang di rumah sakit juga tahu kalau aku sudah menikah dan wanita yang aku nikahi adalah kerabat dari pemilik rumah sakit tempatku mencari nafkah. Jadi tolong kau jangan hanya mendengar dari sebelah pihak saja!" sahut Jackson yang juga mengamuk karena di tuduh main janda.
"Lalu yang di ucapkan oleh Kayo itu apa? Kau mau bilang kalau Kayo berkata bohong? Iya?"
"Kak Iel, Kak Jackson. Sudah, jangan bertikai lagi. Sesama wanita hamil aku bisa mengerti kok kenapa Kayo bisa berpikir seperti itu. Karena apa? Karena sebelumnya aku juga pernah berpikir kalau Kak Iel diam-diam menjalin hubungan gelap dengan Kak Ning. Kalian semua tahu kan siapa Kak Ning?"
Dan celetukan Elea suskes membuat Gabrielle, Jackson, dan bahkan Kayo mematung seketika. Mungkin kalau janda masih mending ya, tapi ini ... astaga Kak Ning. Wanita jadi-jadian itu ... entah bagaimana Elea bisa berpikir kalau Gabrielle menjalin hubungan dengan manusia sepertinya. Benar-benar sangat gila.
Sayang, apa kau tidak memiliki kandidat selingkuhan lain yang jauh lebih terhormat? Astaga, Kak Ning. Mimpi apa aku bisa di tuduh selingkuh dengan siluman bunglon seperti dia. Ya Tuhan....
__ADS_1
*****