Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Bujukan Aneh


__ADS_3

“Hikss,” …


Hening. Taka da suara lain yang terdengar selain suara isak tangis lirih yang berasal dari mulut mungil seorang gadis.


“Hikss,” ….


Lagi, suara isak tangis itu kembali terdengar. Dan isakan tersebut berasal dari mulut anggota termuda di keluarga Ma. Siapa lagi kalau bukan Flowrence, gadis bantat yang memegang tujuh nyawa di tangannya. Tadi saat Flowrence sedang asik menonton kakaknya yang berkejaran dengan Tora di taman, tiba-tiba kursi roda yang di duduki Flowrence di dorong masuk oleh kakak sulungnya. Awalnya Flowrence ingin menolak, tapi setelah di ancam akan di goreng di dalam wajan yang sangat panas Flowrence langsung patuh. Dan penyebab dia menangis seperti ini adalah karena dia menolak saat diminta untuk meminum obat. Ukuran obat-obat itu cukup besar, membuat Flowrence merasa tertekan. Ya, Flowrence takut dirinya akan meninggal dunia gara-gara tersedak obat tersebut. Mengerikan sekali bukan?”


“Hikss,” ….


“Hakss hikss hakss hikss. Cepat minum obatnya , Flow!” sentak Karl habis kesabaran menunggu adiknya yang malah menangis saat diminta untuk meminum obat. Sudah hampir tiga puluh menit terlewat, tapi Flowrence masih belum menelan sebutirpun obat yang di sediakan oleh dokter pribadinya. Membuat Karl menjadi sangat luar biasa dongkol.


“Harusnya kau itu membujuknya, Karl. Bukan malah memarahinya seperti itu!”


Bern menoleh. Dan itu langsung membuat Karl diam seketika. Teringat pesan sang ibu, Bern akhirnya turun tangan untuk membujuk Flowrence agar bersedia meminum obatnya. Sambil berjongkok di hadapan kuris roda, Bern dengan sabar mengiming-imingi sesuatu yang langsung membuat isak tangis Flowrence terhenti. Bahkan adiknya sampai menelan ludah sambil menyedot ingus yang hampir menetes keluar dari lubang hidungnya ketika Bern menatapnya lekat.


“Kalau kau tidak segera meminum obat ini, percaya tidak kalau Oliver pasti akan mencari gadis lain untuk di jadikan istri. Oliver itu sangat tampan, dia mana mau menikah dengan gadis yang tubuhnya di penuhi borok menjijikkan sepertimu. Minum ya?” bujuk Bern dengan penuh kasih.


Kedua rahang Karl seperti jatuh menyentuh bumi saat mendengar cara aneh kakaknya dalam membujuk adik mereka. Sungguh, baru kali ini Karl mendengar ada orang yang membujuk menggunakan kata yang lebih terkesan seperti sedang menghina. Borok yang menjijikkan, astagaaaa. Apa kakaknya ini tidak bisa menggunakan kata yang lebih halus lagi? Untung Flowrence bodoh, jadi Karl tidak perlu mendengar raungannya yang tidak terima di bujuk seperti itu. Ada-ada saja.


Drrttt drrttt


Pucuk dicinta ulam pun tiba. Karl langsung mengarahkan layar ponsel ke depan wajah kakak dan adiknya begitu dia tahu siapa yang menelpon. “Yaahhhhh, Kak Bern. Lidahmu sungguh sangatlah sakti. Lihat. Baru saja kau menyebut nama Oliver, sekarang anaknya sudah menelponku. Aku jadi curiga jangan-jangan kalian itu memiliki ikatan batin batin ya, makanya Oliver bisa langsung tahu kalau kau menggunakan namanya untuk membujuk adik kita. Tebakanku benar tidak?”


“Angkat dan rubah panggilannya menjadi panggilan video. Aku butuh dia untuk membantu membujuk anak kucing ini agar bersedia meminum obatnya,” sahut Bern acuh.


“Baiklah,”

__ADS_1


Flowrence langsung salah tingkah sendiri begitu dia melihat wajah Oliver di ponsel sang kakak. Sambil tersenyum malu-malu, Flowrence berniat menyelipkan anak rambut ke belakang telinganya. Namun karena dia lupa kalau wajahnya sedang terluka, tangannya malah tak sengaja tersangkut ujung perban hingga membuat darah merembes keluar di pipinya.


“Hikss, sakit,” rengek Flowrence sambil terus berusaha memasang senyum semanis mungkin di hadapan Oliver. Walaupun borokan, dia harus tetap cantik bukan?


Bern dan Karl hanya bisa menghela nafas panjang melihat kelakuan adik mereka. Sedangkan Oliver, wajahnya terlihat begitu khawatir. Bahkan kini layar ponsel Karl penuh dengan wajah anak itu yang kemungkinan berada dalam jarak yang sangat dekat dengan kamera di ponselnya.


“Flow, you okay?” tanya Oliver dari dalam telepon.


“Aku sedang tidak oke, Kak,” jawab Flowrence. “Tapi kalau kau tersenyum sepertinya aku akan langsung oke,”


“Woeeekkkkk!!’


Sambil meneteskan air mata, Flowrence menoleh ke arah kakak keduanya. “Kak Karl, apa kau sakit?”


“Ya, aku sakit. Sangat sakit malah,” jawab Karl cetus. “Aku sangat sakit sampai rasanya seperti akan mati mendengar bualanmu. Ck, Flow. Aku sedang banyak pekerjaan, cepat minum obat itu lalu ganti perbannya. Aku tidak punya banyak waktu untuk menjadi obat nyamukmu di sini.”


Terdengar suara tawa dari dalam telepon. Bahkan dokter yang ada di sana pun tak kuasa untuk tidak tertawa saat Karl di anggap sebagai produk keluaran pabrik oleh adiknya sendiri. Bern yang sadar kalau gencatan senjata antara kedua adiknya sudah akan dimulai, segera meminta dokter untuk mengambilkan obat dan juga air putih. Ini kesempatan bagus karena rasa takutnya Flowrence sedang teralih berkat Oliver.


“Minumlah,”


“Tapi itu besar,” keluh Flowrence. Dia lalu berhenti menangis saat luka di pipinya sudah tidak terlalu perih.


“Semakin besar obatnya maka proses kesembuhanmu akan semakin cepat, Flow. Minum ya, aku akan menemanimu dari sini,” sahut Oliver dari dalam telepon.


“Em baiklah.”


Karl langsung mencebikkan bibirnya melihat Flowrence yang menjadi sangat patuh begitu Oliver yang meminta. Kalau tahu begini, sudah sejak tiga puluh menit yang lalu dia menghubungi sepupunya itu. Terkadang Flowrence ini membuat orang tak habis pikir. Ingin menumbuknya, tapi gadis ini adalah adiknya sendiri. Jadi Karl hanya bisa gigit jari sambil menahan rasa kesal yang selalu muncul setiap hari. Haaihh.

__ADS_1


“Sudah, Kak,” ucap Flow sambil menatap layar ponsel. Ah, kekasihnya masih ada di sana. Sungguh kekasih yang sangat setia.


“Good girl,” sahut Oliver seraya mengacungkan dua jempol untuk memuji kehebatan Flowrence.


Tak lama kemudian Flowrence teringat dengan ucapan kakak sulungnya yang menyebut kalau Oliver akan menikahi gadis lain gara-gara borok yang ada di tubuhnya. Khawatir akan hal itu, Flowrence pun segera memastikan hal itu pada yang bersangkutan.


“Kak Oli, apa benar Kakak akan menikahi gadis lain gara-gara tubuhku di penuhi borok yang sangat menjijikkan?”


“Astaga, Flow. Kenapa kau bisa bicara seperti itu? Siapa yang memberitahumu kalau aku akan menikah dengan gadis lain hanya karena sekaramg kau sedang terluka?” kaget Oliver. Dia syok sekali.


Bern acuh saja saat Flowrence menunjuk ke arahnya. Dia memilih menyibukkan diri mempersiapkan obat dan juga perban baru untuk adiknya.


“Kak Oli, jika itu benar maka besok aku akan meminta Ayah dan Ibu untuk mengajak Ibu Levita berbelanja perhiasan. Ibu Levita pernah bilang kalau kita tidak akan di izinkan menikah jika sesajennya tidak banyak. Dan mungkin saja maksud di balik ucapan Kak Bern tadi adalah karena Ibu Levita merasa kalau aku sudah tak kaya lagi lalu berniat menikahkanmu dengan gadis kaya yang lain. Ibu Levita kan mata duitan. Ayah yang bilang,”


Kata-kata jujur yang keluar dari mulutnya Flowrence sukses membuat Karl dan Oliver memijit pinggiran kepala mereka. Sedangkan Bern, dia hanya diam mendengarkan. Walaupun kaget tapi Bern masih mampu mengendalikan keterkejutan di dirinya. Harus tetap slay.


"Untung kau adikku, Flow. Kalau bukan, aku pasti sudah memanggangmu hidup-hidup. Membuat orang malu saja sih," ujar Karl lirih.


“Flow, sejak kita masih berbentuk embrio, kedua Ibu kita itu sudah menjanjikan sebuah perjodohan untuk kita berdua. Jadi seperti apapun dirimu, aku tidak mungkin menikah dengan gadis lain. Ayah dan Ibuku bisa menjualku ke psikopat gila jika aku sampai berani menjalin hubungan dengan gadis selain dirimu. Jadi tolong kau jangan berpikir macam-macam ya. Tadi Bern itu hanya ingin menggodamu saja. Mengerti?”


“Ooohhh, hanya menggodaku saja ya. Aku pikir itu serius, Kak. Panik sekali tadi aku,” sahut Flowrence seraya menghela nafas lega.


Tanpa mengatakan apa-apa Bern langsung memutuskan panggilan video yang sedang berlangsung kemudian memelototkan mata saat Flowrence hendak merengek. Setelah itu Bern segera meminta dokter untuk membantunya membuka perban. Karl yang tak tahan melihat luka-luka di tubuh adiknya memilih untuk beerbalik badan setelah mengambil ponsel dari tangan kakaknya.


“Diamlah. Berbunyi sedikit saja aku akan langsung merobek perban ini agar kulitmu terkelupas semua. Mau?” ancam Bern ketika melihat mata adiknya mulai berkaca\=kaca.


Karena takut, Flow hanya diam saja tanpa berani membalas ancaman kakaknya yang begitu mengerikan. Oya, mungkin kalian ada yang penasaran di mana keberadaan mereka sekarang. Saat ini Flowrence sedang berada di salah satu kamar khusus yang sebelumnya sudah di sterilkan agar lukanya tidak terkena kotoran ketika perbannya di buka. Dan untuk Bern, dia sama sekali tak merasakan apa-apa ketika melihat bagian tubuh adiknya yang terbuka. Niatnya tulus hanya ingin membantu mengobati lukanya saja. Begitu. Jadi kalian tidak perlu merasa cemas akan ini dan itu. Oke?

__ADS_1


***


__ADS_2