
📢📢📢 BESTIE, JANGAN LUPA DUKUNGANNYA YA SUPAYA JOVAN DAN NANIA BISA MENANG DI LOMBA DI YOU ARE A WRITER SEASON 8. OKE 💜💜💜
***
“Kenapa terus menatapku, hem?” tanya Oliver sambil mencubit pelan pipinya Flow. Dia sampai tidak fokus bekerja karena sejak tadi terus di perhatikan oleh kekasihnya yang menggemaskan ini.
“Kak Oli, kau tahukan kalau aku sangat menyukaimu?” sahut Flow malah balik bertanya. Dia terus saja menatap manik mata pria tampan ini, ingin merekam sebanyak mungkin kenangan sebelum semuanya terjadi.
“Tentu saja aku sangat tahu itu,” jawab Oliver. “Kenapa memangnya? Akhir-akhir ini kau selalu berkata seperti itu tiap kita bertemu. Ada apa, Flow? Apa karena ada sikapku yang membuatmu merasa tidak nyaman? Jika benar maka beritahukan saja padaku. Aku pasti akan berusaha untuk memperbaikinya. Oke?”
“Tidak, Kak. Sikapmu selalu berhasil membuatku merasa sangat bahagia. Aku bertanya seperti ini karena aku ingin terus memastikan kalau perasaanmu padaku tidak berubah. Mungkin karena sekarang aku sudah semakin menua, jadi pikiranku mudah cemas. Aku sadar diri dengan kekuranganku, dan aku khawatir hal itu akan membuatmu merasa bosan. Makanya aku terus bertanya padamu. Begitu.”
Mungkin kalian berpikir kalau sekarang Flowrence sedang bersedih hati. Tenang saja, Flowrence sudah benar-benar yakin akan menukar kebahagiaannya dengan kebahagiaan Amora dan kakaknya. Walau dia tak bisa memastikan akhir dari semua ini, tapi setidaknya Flowrence sudah berusaha untuk memperbaiki segalanya. Tak apa dia kehilangan kenangan indah bersama Oliver, Flow sudah siap. Sudah cukup bagi mereka mereguk kebahagiaan. Kini tiba saatnya untuk Amora dan sang kakak yang merasakan kebahagiaan. Selama ini kakaknya selalu berada di bawah kendali kakak keduanya tanpa menyadari kalau dirinya tengah di bentuk menyerupai monster yang tidak memiliki hati nurani. Namun setelah bertemu dengan Amora, Flow bisa melihat dengan begitu jelas bagaimana sang kakak bisa tersenyum tanpa merasa terbebani. Juga dengan Amora sendiri yang sejak lahir sama sekali tak pernah merasakan yang namanya hidup bahagia. Jadi tidak ada salahnya bukan jika Flowrence berkeinginan untuk menyatukan mereka meski sebagai imbalannya dia harus melupakan kenangan bersama dengan orang yang di cintainya?
“Astaga sayang, sejak kapan kau menyadari kalau dirimu itu sudah menua, hem? Aku, kau, juga kedua kakakmu, kita ini seumuran. Dan umur kita sekarang masih sangat muda. Lupa ya?” ucap Oliver menertawakan alasan Flowrence. Lucu sekali. Gemas melihatnya, Oliver menarik agar Flow berpindah duduk ke atas pangkuannya. Dia yang kala itu sedang duduk di kursi kerjanya sedikit bergerak mundur agar kaki Flowrence tidak terbentur meja. Sambil menciumi rambut Flowrence yang selalu wangi, Oliver memberikan pengertian kalau perasaannya tidak akan mungkin berubah meski kepala Flowrence di penuhi uban sekalipun. “Dengarkan aku, Flow. Aku Oliver, akan tetap mencintaimu sampai kapanpun juga. Mau wajahmu di penuhi keriput, kau yang sudah tidak kuat berjalan lagi, atau sakit-sakitan sekalipun, perasaanku padamu tetap tidak akan pernah berubah. Aku menyayangimu, sangat sayang malah. Jadi usia tidak akan menjadi masalah untuk kita tetap saling cinta. Paham?”
__ADS_1
“Jika seandainya nanti aku tiba-tiba hilang ingatan lalu melupakanmu bagaimana, Kak? Waktu itu aku pernah menonton film tentang seorang wanita yang melupakan suaminya karena dia sakit. Apa kau akan tetap mencintaiku seperti sekarang?” tanya Flowrence terus menggali sedalam apa perasaan Oliver kepadanya.
“Hmmmm, lagi-lagi kau terpengaruh sebuah film. Dasar,” sahut Oliver kembali menertawakan Flowrence yang alasannya selalu saja mengundang tawa.
“Jadi bagaimana, Kak? Kau akan meninggalkan aku atau tidak?” desak Flowrence tak sabar.
“Tentu saja aku tidak akan meninggalkanmu, sayang. Drama yang kau tonton itu mungkin menggambarkan tentang seorang wanita yang menderita penyakit Alzheimer dimana dia tidak bisa mengingat apa-apa tentang orang di sekitarnya. Dan seandainya kau berada di posisi yang sama seperti wanita itu, maka aku akan terus berusaha untuk membantumu mengingat kenangan kita. Tidak apa-apa meski kau terus melupakan aku, yang penting aku tidak. Satu alasan yang perlu kau pahami. Di dalam drama tersebut si wanita melupakan suaminya bukan karena faktor kesengajaan, melainkan karena dia yang sedang sakit. Jadi ….
Oliver menjeda perkataannya sejenak. Di tatapnya lekat gadis cantik yang entah kenapa terus saja menunjukkan sikap yang aneh. Oliver bukannya tidak tahu, dia hanya membiarkan Flowrence mencari ruang ketenangannya sendiri. Biarlah, mungkin ini jalan bagi Flowrence untuk menemukan titik kedewasaan di hidupnya.
“Jadi aku pastikan kita akan terus bersama tak peduli badai apa yang terjadi. Aku mencintaimu dan kau mencintaiku. Cinta kita akan terus bersemi selamanya sampai kita memiliki anak, cucu, dan juga cicit. Apa jawaban ini sudah bisa membuatmu merasa tenang?”
“Sedikit?” beo Oliver sambil menyipitkan mata. Ada-ada saja anak ini. Sepanjang itu dia memberikan penjelasan tapi Flow malah hanya mengerti sedikit. Haih. Membuat orang jadi semakin gemas saja.
“Kak Oli, nanti malam ayo kita pergi berkencan. Kitakan sudah lama tidak bermesraan. Kasihan cinta yang tumbuh di dalam hatiku. Nanti dia kering. Kita pergi kencan ya?”
“Pffttttt, hahahahaha!”
__ADS_1
Oliver tertawa terbahak-bahak mendengar ajakan Flowrence yang cukup nyeleneh. Dan dia baru berhenti tertawa saat Flowrence menatapnya kesal sambil mengerucutkan bbirnya. Gemas, Oliver akhirnya mengecup bibir merah muda itu. Kali ini tidak lama, dia hanya menempelkannya saja tanpa ada niat untuk mel*matnya.
“Ummm, tanggung sekali. Biasanyakan kau langsung menggigit bibirku, Kak. Kenapa sekarang tidak?” protes Flowrence tak mengerti kenapa Oliver hanya menempelkan bibir mereka saja. Kan Flowrence juga ingin dicium. Hehe.
“Dasar gadis nakal. Ini masih pagi, aku bisa kebablasan nanti. Dan akibatnya aku tidak akan fokus bekerja. Jadi nanti saja ya kita melakukannya. Tidak apa-apa ‘kan?” sahut Oliver sambil merapihkan anak rambut yang menutupi kening Flowrence. Dia lalu menatap gadis cantik ini dengan penuh cinta.
Sepertinya aku bisa mati jika Flowrence sampai melupakan atau meninggalkan aku. Hmmm, semoga keanehan sikapnya hanya karena dia yang terpengaruh drama di televisi saja. Aku tidak rela jika kami benar sampai berpisah. Aku tidak mau itu.
Flowrence hanya tersenyum saja saat dia mendengar apa yang sedang dipikirkan oleh Oliver. Andai saja Oliver tahu kalau semua yang dikatakannya akan benar-benar terjadi, pria tampan ini pasti tidak akan bisa tersenyum seperti sekarang. Dalam hatinya, Flowrence tak henti meminta maaf pada Oliver karena sebentar lagi akan terjadi badai dalam hubungan mereka. Dan jika Oliver mampu bertahan dalam menghadapi Flowrence yang tak bisa mengingat apapun lagi tentang kisah cinta mereka, mungkin Tuhan akan memberi kesempatan untuk mereka bersama sampai akhir hayat. Memikirkan hal itu membuat perasaan Flowrence terasa berdesir secara perlahan. Flowrence lalu membenamkan wajahnya di ceruk leher Oliver, membaui selama mungkin aroma maskulin dari pria yang sangat dicintainya ini.
“Flow, you okay?” tanya Oliver pelan.
“Ada kau bersamaku, aku pasti baik-baik saja,” jawab Flowrence tak kalah pelan.
“Kenapa tiba-tiba jadi manja begini, hem? Sedang rindu atau sedang terbawa suasana dari drama yang kau tonton?”
“Kak Oli, jangan bicara lagi. Cepat selesaikan semua pekerjaanmu kemudian mari kita pergi berkencan. Akukan tadi sudah bilang kalau cinta di hatiku hampir kering karena kita sudah jarang bermesraan. Bagaimana sih!”
__ADS_1
Oliver tergelak kaget saat Flowrence memarahinya. Lalu sedetik kemudian dia tertawa kencang karena Flowrence tidak menyadari kalau interaksi mereka sekarang sudah termasuk dalam kata bermesraan. Tapi ya sudahlah, terserah kekasihnya ingin bicara apa. Oliver tak peduli. Yang jelas sekarang dia harus melanjutkan pekerjaan sambil memangku seorang gadis cantik yang tengah menyembunyikan wajah di ceruk lehernya. Ada-ada saja. Hmmmm.
***