Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Cemburu (Reinhard)


__ADS_3

📢 Jangan lupa mampir ke My Destiny ( Clara & Eland). Tinggalkan jejak ya gengss 💜


Ekor mata Levi terus memperhatikan gerak-gerik Reinhard yang terlihat aneh. Sejak dia pulang dari makan malam di restoran bersama generasi para wanita hamil, suaminya ini terus saja bertingkah seperti orang asing. Reinhard mendadak berubah menjadi seorang pendiam, suaminya ini bahkan tidak mencium ataupun menyapa calon anak mereka seperti yang biasa dia lakukan. Mengherankan sekali bukan? Dan hal ini tentu saja mengundang rasa penasaran di benak seorang Levita Foster.


"Rein, kau ini kenapa. Sedang sariawan atau bagaimana?" tanya Levi.


Di tanya seperti itu oleh istrinya Reinhard hanya diam saja. Kini dia memilih untuk bermain ponsel kemudian keluar menuju balkon. Jadi man-teman, apakah kalian ada yang tahu kenapa dokter tampan kita bersikap sedemikian rupa? Baiklah, akan emak jabarkan alasannya.


Pertama, Reinhard cemburu. Kedua, Reinhard cemburu, dan ketiga, Reinhard juga cemburu. Di dalam kepala Reinhard saat ini terus terbayang satu kejadian yang membuatnya merasa sangat jengkel. Bagaimana tidak! Saat Reinhard and the geng menyamar menjadi pelayan, istrinya yang genit ini kedapatan sedang menggoda para brondong dengan mengabsen nama mereka satu-persatu. Sebagai suami yang sayang istri sudah pasti jiwa macan tutul di diri Reinhard langsung mencuat hebat. Suami manalah yang akan terima melihat istrinya yang sedang hamil sibuk bercanda dengan laki-laki lain. Jadi wajar saja kan kalau sekarang Reinhard merajuk dan memilih untuk diam?


Greeepppp


"Sayang, kau marah padaku ya?" tanya Levi sambil mengeratkan pelukan ke punggungnya Reinhard.


"Hmmmm."


Hanya deheman sesingkat itu yang keluar dari dalam mulut Reinhard. Levi yang menyadari kalau suaminya marah besar pun jadi merasa bersalah. Tapi rasa bersalah itu hanya sekejab saja singgah di hati Levi karena di detik selanjutnya Levi di buat kaget oleh rasa sakit yang tiba-tiba menyergap di bagian perutnya.


"Awwwhhhh, perutku!" ringis Levi yang langsung melepaskan pelukan. Dia akan lalu mencengkram kuat pinggang Reinhard ketika rasa sakit itu kian menguat.


Awalnya Reinhard diam tak merespon suara ringisan Levi. Akan tetapi ketika Reinhard merasakan rasa pedih di pinggangnya barulah dia sadar kalau Levi tidak sedang berpura-pura, istrinya benar-benar sedang kesakitan sekarang.


"Astaga, sayang. Kau kenapa? Apa yang sakit?" cecar Reinhard panik begitu berbalik badan. Wajah istrinya sangat pucat dengan keringat yang mulai membanjiri wajahnya.


Astaga, kenapa aku bodoh sekali sih. Levi pasti merasa tertekan gara-gara aku diamkan. Ck, kau benar-benar tidak berguna, Reinhard. Kau kekanakan.

__ADS_1


"S-sakit, Rein. Sepertinya perutku kram," sahut Levi lirih. Giginya saling beradu saat rasa sakit itu kian menekan.


"Kita ke rumah sakit sekarang!"


Tanpa ba-bi-bu lagi Reinhard langsung membopong tubuh Levi lalu membawanya masuk ke dalam. Namun ketika mereka hendak keluar kamar, tiba-tiba saja Levi meminta untuk di baringkan saja di atas ranjang. Awalnya Reinhard ingin menolak, tapi dia urungkan saat Levi mengatakan sesuatu yang membuatnya menjadi panas dingin.


"Tidak usah ke rumah sakit, Rein. Perutku sudah baik-baik saja begitu kau menyentuhku. Mungkin anak kita hanya sedang rindu padamu saja."


"Kau yakin tidak perlu ke rumah sakit?" tanya Reinhard sambil membaringkan Levi perlahan-lahan di atas ranjang. Dia lalu mendekatkan kepala ke perut Levi, mencoba menenangkan amarah bayi mereka dengan cara mengajaknya bernegosiasi. "Nak, apa kau marah pada Ayah, hem? Maaf, Ayah hanya sedang cemburu pada Ibumu saja. Dia begitu gatal, jadi Ayah bermaksud menegurnya sedikit. Tolong jangan marah lagi ya? Kasihan Ibu, nanti dia kesakitan!"


Levi tersenyum kemudian mengelus kepala Reinhard begitu tahu alasan kenapa suaminya ini tiba-tiba mendiamkannya. Lucu juga.


"Hehehe, jadi kau itu sedang cemburu ya, Rein?" ledek Levi sambil terkekeh pelan.


"Jangan meledekku. Kau masih belum menjelaskan kenapa tadi kau begitu bahagia saat sedang mengobrol dengan para brondong itu. Kau tahu bukan kalau aku sangat anti melihatmu bicara dengan laki-laki lain?" sahut Reinhard tanpa menghentikan tindakannya yang masih saja menciumi lokasi tempat anaknya berada.


Reinhard menelan ludah. Dia kelepasan bicara Arrggh, dasar mulut rusak. Kalau begini caranya sama saja dengan dia mempermalukan diri sendiri. Sungguh bodoh.


Kenapa aku ceroboh sekali sih. Gabrielle dan yang lainnya pasti akan langsung mengulitiku besok kalau penyamaran tadi sampai terbongkar. Kau benar-benar sangat bodoh, Rein. Bodoh bodoh bodoh.


"Aaaaaa ... jadi kau diam-diam mengawasiku saat di restoran tadi ya?" olok Levi sambil menaik-turunkan kedua alisnya.


"Mereka semua adalah karyawan magang di Group Ma. Bagaimana mungkin aku tidak mengetahui apa yang terjadi di sana kalau Gabrielle sudah memerintahkan mereka agar melaporkan apa saja yang terjadi. Kau salah jika menganggap kalau aku mengawasimu. A-aku ... aku hanya mendengar laporan dari mereka saja!" sahut Reinhard berusaha untuk mengelak.


"Mengawasi juga tidak apa-apa, Rein. Tapi kenapa ekpresimu terlihat seperti orang yang baru saja tertangkap basah sedang mencuri pembalut? Lucu sekali!"

__ADS_1


Sambil terkikik geli Levi berusaha bangun kemudian duduk. Dia lalu menyentuh rambut Reinhard sembari menatapnya penuh cinta. Laki-laki ini, dokter ini, bagaimana bisa Levi marah padanya kalau apa yang dilakukan oleh suaminya ini adalah satu tindakan yang sangat manis? Sekalipun Reinhard menyamar menjadi seorang pelayan di restoran yang tadi Levi datangi pun dia tidak akan mungkin mengamuk. Karena apa? Karena di mata Levi hanya Reinhard-lah satu-satunya pria yang dia cintai. Mungkin Reinhard bukanlah seorang bos besar seperti Gabrielle, Gleen, dan juga Junio. Tapi Levi tahu kalau Reinhard begitu kaya akan cinta dan kasih sayang. Jadi jikapun benar Reinhard mengawasinya, Levi akan terima-terima saja di perlakukan secara posesif olehnya. Toh sikap tersebut di dasari atas nama cinta dan kecemburuan. Benar tidak?


"Rein, walaupun di dunia ini ada laki-laki lain yang memiliki segalanya jauh di atasmu, perasaanku tidak akan pernah bisa berpaling darimu. Jadi kau tidak perlu khawatir aku akan berpindah ke lain hati meski terkadang aku suka menggatal. Semua itu tak lebih dari sekedar mencari hiburan saja. Just fun. Okey?" ucap Levi dengan begitu tulus.


"Apapun itu aku tetap merasa cemburu, sayang. Kau milikku, dan kau tahu itu sedari lama bukan?" sahut Reinhard sambil memberanikan diri menatap mata Levi. Wanita ini, satu-satunya wanita yang mampu menjungkirbalikkan perasaan Reinhard. Dia sangat mencintainya dan tak pernah ingin kehilangannya.


"Aku sangat tahu itu, Rein. Karena aku juga merasakan perasaan yang sama sepertimu," sambung Levi. "Ya sudah, kalau begitu aku minta maaf ya sudah membuatmu merasa cemburu. Tapi sungguh, aku sama sekali tidak menggunakan perasaan saat sedang mengobrol dengan para brondong itu. Aku kasihan saja pada mereka karena di anggurkan begitu saja oleh yang lain. Mubadzir 'kan?"


"Ck."


"Hehehehe, iya-iya maaf."


Seulas senyum manis akhirnya terbit di bibir Reinhard setelah sekian lama dia memasang wajah masam. Dia kemudian menangkup kedua pipi Levita yang semakin berisi sebelum akhirnya meninggalkan sebuah kecupan manis di bibirnya.


"Aku sangat mencintaimu, Levita. Kau dan anak kita, selamanya akan menjadi yang utama di hidupku. Selalulah sehat agar aku bisa terus melihat kalian tersenyum bahagia," ucap Reinhard dengan tatapan yang begitu dalam.


"Begitu pun aku, Rein. Aku rasa aku akan lebih memilih menjadi janda seumur hidup jika seandainya kau mati lebih dulu," sahut Levi dengan santainya menghancurkan suasana romantis yang coba di ciptakan oleh suaminya. Sengaja dia lakukan karena Levi hampir tidak sanggup menahan desakan air mata, jadi dia memilih untuk berkata demikian untuk melindungi harga dirinya yang setinggi langit. 🤣


"Hmmm, kau mulai lagi," protes Reinhard. Kali ini dia bicara sambil tersenyum, tahu kalau istrinya hanya sekedar bercanda saja.


"I love you, Rein. Dokter tampanku, suamiku."


"I love you too, istriku yang gatal."


"Hahahahaha!"

__ADS_1


💜


*****


__ADS_2