Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Makan Malam Mematikan


__ADS_3

Suasana kaku tercipta di salah satu restoran milik keluarga Ma di mana ada beberapa pria muda duduk bersama dengan para wanita yang sangat cantik. Mengapa suasananya terasa kaku? Jawabannya adalah karena wanita yang ada di sana berasal dari keluarga-keluarga ternama dan status mereka adalah istri dari para pengusaha besar yang ada di negara ini. Sungguh suatu makan malam yang sangat amat mematikan bukan?


"Kak Cira, ayo makan sup yang ini. Pokoknya aku tidak mau tahu, malam ini kau harus menjadi orang yang paliiiing bahagia. Oke?" ucap Elea sembari mengambilkan sup untuk Cira. Dia lalu memberikan sup tersebut pada wanita yang sebentar lagi akan segera melahirkan bayi generasi pertama.


"Kenapa aku? Kan yang ingin makan malam itu Lusi, harusnya dia yang kau perhatikan, Elea. Bukan aku," sahut Cira sambil menggelengkan kepala. Ada-ada saja sikap perempuan satu ini.


"Aihhh, pokoknya ini harus menjadi malam yang sangat berkesan untukmu. Ya?"


"Hmmmm, baiklah-baiklah terserah kau saja."


Elea tersenyum lebar menampilkan deretan giginya yang putih bersih saat Cira mulai menikmati sup yang dia ambilkan. Namun jika di perhatikan lebih dalam lagi sebenarnya tatapan mata Elea begitu pilu. Ya, dia menutupi sesuatu tentang Cira. Elea mengetahui sesuatu tentangnya.


Mungkin ini akan menjadi pilihan yang terbaik untuk semuanya, Kak Cira. Apapun yang terjadi nanti, aku berharap itu akan membuatmu merasa bahagia.


"Hei, siapa nama kalian?" tanya Levi sambil menatap lima orang brondong tampan yang duduk kaku di hadapannya. Tadi siang Levi hampir hilang nafas saat Elea memberitahunya tentang makan malam berharga ini. Meski di awal meminta izin Levi sempat bertengkar hebat dengan Reinhard, nyatanya dia tetap bisa datang ke restoran ini. Alasannya satu, pamali menolak tawaran baik dari seseorang yang berbau uang. 🤣


"Saya Mahen, Nona."


"Saya Steven."


"Saya Andrian."


"Saya Tommy."


"Saya Feer."


Levi mengangguk.

__ADS_1


"Kalian tidak mungkin tidak mengenal siapa aku bukan?"


"Anda adalah CEO dan juga mantan model, Nona Levita Foster."


"Benar sekali. Rupanya kau cukup up to date juga ya. Hehehehe!"


Setelah berkata seperti itu Levi melihat ke arah Lusi yang malah sibuk mencicipi makanan yang di sediakan di atas meja. Dia merasa aneh. Bukankah para brondong ini di datangkan atas keinginannya? Tapi kenapa Lusi lebih terkesan tidak menghiraukan? Sepertinya ada yang salah di sini.


"Kak Lusi, mau kau apakan brondong-brondong tampan itu? Lihat, mereka malah menjelma seperti patung yang bisa bernafas. Kasihan," tanya Elea.


"Em, aku tidak tahu, Elea. Sebenarnya aku tidak benar-benar menginginkan mereka, aku hanya ingin makan di temani oleh mereka. Gleen saja yang tidak peka. Padahal kan dia bisa melakukannya lewat video call, siapa yang akan menduga kalau dia malah akan mewujudkannya secara nyata seperti ini. Jadi ya sudah biarkan saja mereka tetap di sana lalu kita menikmati semua hidangan yang ada. Kebetulan aku sangat lapar setelah seharian di kurung di dalam kamar," jawab Lusi sambil terus mengunyah makanan di dalam mulutnya.


Levi yang saat itu ingin menanyakan hal yang serupa pada Lusi langsung cengo begitu mendengar jawabannya. Tidak di sangka kalau para brondong ini akan memiliki nasib yang begitu tragis. Tapi ya sudahlah ya, yang penting kan malam ini mereka semua bisa bersenang-senang sejenak. Lagipula bukan mereka juga yang akan merogoh kocek untuk membayar semua ini. Santai, ada sugar mommy bersama mereka. Hehehehe.


"Elea, Gabrielle kemana? Tumben sekali dia tidak mengekorimu. Memangnya kau tidak takut dia bunuh diri di rumah karena di tinggal makan malam bersama brondong-brondong ini?" tanya Patricia seraya menunjuk para daun muda yang sangat amat memanjakan mata.


"Berani dia melakukannya aku akan langsung membuat juniornya menjadi botak saat itu juga," sahut Patricia sambil menusukkan pisau ke atas daging yang ada di atas piring.


Prraaaannggg


"Astaga, apa itu!" pekik para wanita kaget. Mereka lalu melihat ke arah waiters yang baru saja menjatuhkan piring yang di bawanya.


"M-maaf, Nyonya. Lantainya licin dan saya tidak sengaja terpeleset!"


"Owhhhhh ... ya sudah hati-hati!" sahut Cira maklum.


Jika Cira dan yang lainnya tidak merasa ada yang salah dengan kecerobohan waiters tersebut, lain halnya dengan yang di pikirkan oleh Patricia. Begitu dia mendengar suara waiters itu pikiran Patricia langsung tertuju pada suaminya. Ya, Patricia curiga kalau suaminya yang gila itu nekad membuntutinya kemari kemudian menyamar menjadi salah satu pelayan yang ada di sini.

__ADS_1


Tapi kalau yang tadi bicara itu adalah Junio, lalu Cio dengan siapa sekarang? Ah, tidak mungkin. Junio tidak setega itu pada anaknya sendiri. Otaknya mungkin sedikit gila, tapi kalau hati nuraninya masih bisalah sedikit di harapkan.


Andai saja Patricia tahu kalau yang dia pikirkan adalah benar, mungkin dia akan langsung membalik semua meja yang ada di sana. Yap, yang kalian bayangkan sangat benar. Waiters yang tadi menjatuhkan piring adalah Tuan Morigan Junio, si ayah bayi kecambah yang nekat menyamar menjadi seorang pelayan demi agar bisa memantau kegatalan istri kesayangannya. Dan jangan kalian pikir hanya Junio saja yang melakukan penyamaran gila seperti itu. Gabrielle, Ares, Reinhard dan juga Gleen, mereka semua malam ini sama-sama menjelma menjadi seorang pelayan. Alasannya hanya satu, agar bisa terus memantau pergerakan istri masing-masing. Sangat menggelikan sekali bukan? Tapi inilah dunia perbucinan di dalam novel. Ingin menemukannya di dunia nyata? Haha, tidak semudah itu Ferguso 🤣🤣🤣


"Kak Cira, kau sudah menyiapkan nama untuk calon anakmu belum?" tanya Elea. Dia lalu mengedipkan mata ke arah salah satu brondong yang baru saja menuangkan jus ke dalam gelas miliknya. "Steve, kau baik hati sekali. Nanti tolong kau berikan nomor rekeningmu padaku ya. Kak Levi akan mentransfer bonus tambahan untukmu."


"Kenapa aku?"


Levi naik darah. Sayuran yang ada di dalam mulutnya langsung tertelan begitu saja karena terkejut saat di peras oleh Elea. Benar-benar makhluk kecil satu ini, beraninya dia melakukan pemerasan secara terbuka.


"Karena kita adalah teman, jadi uangmu adalah uangku juga. Begitu!" sahut Elea tanpa beban.


"Hah! Sejak kapan peraturan seperti itu ada di dunia ini, Elea. Kau sudah gila ya!" teriak Levi tak terima.


"Ya sudah sih kalau tidak boleh. Aku akan meminta pada Kak Cira saja. Boleh kan, Kak?"


"Sangat boleh, Elea," sahut Cira seraya terkekeh lucu melihat pertengkaran antara pelakor dengan istri sah. Kedua wanita ini selalu saja mengundang tawa di bibirnya. Sangat menggemaskan.


"Ummm, kau baik sekali, Kak Cira. Tenang saja ya, nanti aku akan meminta Kak Iel untuk mengganti uangmu sepuluh kali lipat. Cukup 'kan?"


"A-APA? SEPULUH KALI LIPAT?"


Ingin rasanya Levi melubangi ubun-ubun Elea begitu dia tahu kalau uang yang akan di pinjam nantinya akan di kembalikan dengan jumlah yang jauh lebih besar. Tahu begini tadi Levi langsung memberikannya saja. Memang dasar sialan anak satu ini.


Awas saja kau, Elea. Huhhffff.


*****

__ADS_1


__ADS_2