Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Mulutmu, Harimau-mu


__ADS_3

"Tidak apa-apa, sayang. Relakan saja karena ini adalah yang terbaik. Semua yang hidup sudah memiliki garis takdirnya sendiri-sendiri, termasuk kita. Jadi jangan bersedih lagi ya. Bukankah Tuhan sudah menghadirkan tiga malaikat kecil untuk menggantikan kepergian Grandma? Mama tahu kau merasa kehilangan, tapi ini sudah takdir. Kasihan Grandma, kau sudah menahannya begitu lama agar terus bertahan menantikan kabar bahagia ini. Jadi sekarang kau harus ikhlas ya?"


***


Elea membuka mata kemudian menatap langit-langit kamar dalam diam. Mimpi itu datang, dan yang bicara adalah sosok yang menyerupai Mama Sandara. Mungkinkah ini waktunya?"


"Grandma?"


Sebutir demi sebutir cairan bening mulai menetes keluar dari sudut mata Elea. Begitu luka, tapi tiada darah. Sakit, hancur, tapi tidak berbekas. Kenapa sesakit ini? Elea hancur. Ya, hancur. Karena Tuhan telah mengunjukkan kembali kelebihan yang dia miliki.


"Hiksss ... Grandma?" lirih Elea mulai terisak.


Ceklek


"Astaga, sayang. Kau kenapa?"


Gabrielle kaget setengah mati melihat Elea yang menangis sambil berbaring. Dia baru saja keluar dari dalam kamar mandi, bahkan sekarang hanya mengenakan handuk setengah lutut. Tak peduli dengan kondisi tubuhnya yang masih sedikit basah, Gabrielle segera berlari ke arah ranjang kemudian menangkup kedua pipi Elea. Saat dia hendak bertanya apa yang membuatnya menangis, mulut Gabrielle langsung terkatup rapat begitu Elea menyebut nama Grandma. Sudah tibakah waktunya?


"Sssstttt, it's oke it's oke. Tidak apa-apa, mungkin ini adalah yang terbaik untuk Grandma Clarissa. Jangan menangis ya? Kasihan bayi-bayi yang ada di dalam perutmu, sayang. Nanti kalau mereka ikut menangis bagaimana?" ucap Gabrielle berusaha mengeluarkan candaan meski candaannya itu terkesan garing dan tidak mengena.


"ini terlalu sakit, Kak Iel. Aku sulit bernafas," sahut Elea dengan nafas tercekat.

__ADS_1


"Aku tahu ini sangat sulit untukmu, sayang. Tapi tidak ada cara lain lagi untuk menghadapi hal ini. Ikhlas, hanya ini satu-satunya cara yang bisa kita lakukan untuk Grandma. Kasihan dia, sayang. Grandma sudah cukup lama menahan kesakitan demi menunggu kebahagiaan yang jau janjikan. Bukankah waktu itu kau pernah meminta pada Tuhan untuk memberinya kesempatan hidup sampai kau bisa memberikan kabar bahagia untuknya? Sekarang Tuhan sudah datang menagih janji itu, jadi kau tidak boleh serakah. Oke?"


"Menyesal aku pernah berucap seperti itu, Kak Iel. Harusnya aku meminta pada Tuhan untuk tetap membiarkan Grandma hidup selama mungkin. Harusnya itu yang aku lakukan 'kan?"


Paham kalau suasana hati Elea benar-benar sedang sangat buruk, dengan penuh perhatian Gabrielle membantunya duduk kemudian memeluknya. Dia membiarkan punggungnya menjadi sasaran emosi Elea, mengabaikan rasa perih ketika kuku-kuku tangan Elea mulai menggores luka di sana.


"Kenapa Tuhan mudah sekali menjungkirbalikkan duniaku, Kak? Baru semalam aku tertawa bahagia, tapi sekarang. Sekarang dia mengganti semua tawaku dengan kesedihan yang tak berujung. Aku benci menjadi orang yang seperti ini, Kak Iel. Aku benci mengetahui lebih dulu kepergian dari orang-orang yang aku sayang. Aku benci, Kak Iel. Aku benci!!!" teriak Elea pilu.


"Jangan berkata seperti itu, Elea. Tidak boleh. Itu sama saja dengan kau tidak menghargai pemberian Tuhan!" sahut Gabrielle sedikit panik melihat Elea yang seperti kehilangan kendali. "Sayang, aku tahu kau merasa sangat tertekan akan kelebihanmu itu. Aku tahu, karena aku juga merasakan. Tapi bukan berarti kau bisa seenaknya berkata seperti tadi. Ibu pernah berkata agar kita menjaga lisan dengan baik karena mulutmu ... adalah harimau-mu. Kau yang meminta sendiri pada Tuhan untuk memberi Grandma kesempatan, dan Dia mengabulkan. Kini tiba saatnya untuk Dia menagih janji yang kau ucap, jadi kau harus melakukan hal yang sama seperti yang telah dilakukan Tuhan padamu. Mengerti?"


Meski terkesan tegas dan tidak berperasaan, Gabrielle harus tetap menyadarkan Elea tentang hal ini. Bukannya apa, Gabrielle tidak mau kalau Elea sampai menyalahkan Tuhan atas apa yang terjadi pada Grandma Clarissa. Dia hanya ingin membantu Elea agar tidak lemah dengan kelebihan yang dimilikinya. Itu saja.


"Hiksss, aku lelah, Kak Iel. Perutku mual," ucap Elea sambil menutup mulutnya. Perutnya bergejolak.


Sebegini menderitanya kau, Elea? Maaf karena aku tidak bisa melakukan apa-apa untuk membantumu karena ini sudah di luar kendaliku. Tapi semoga saja kau kuat menghadapinya. Ya Tuhan, aku tidak tega melihat Elea tak berdaya seperti ini. Tolong dia, Ya Tuhan.


"Kak Iel, kau busuk sekali. Sabun apa yang kau pakai di kamar mandi?"


"Aku memakai sabun yang biasa kita pakai sayang," jawab Gabrielle lebih sabar dalam menghadapi ngidamnya Elea yang terkesan brutal dan mengerikan. "Tapi, sayang. Sebenarnya bukan tubuhku yang berbau busuk, tapi saraf di hidungmu yang sudah rusak. Sepertinya aku perlu membawamu pergi ke bengkel untuk melakukan pemeriksaan. Iya kan?"


Mendengar selorohan Gabrielle membuat Elea tiba-tiba tertawa kencang. Namun sedetik kemudian dia langsung melompat turun dari atas ranjang ketika rasa mual itu datang dengan begitu hebatnya.

__ADS_1


Hoeeekk hoeeekkkk


"Kak Iel, pergi dari sini. Wajahmu benar-benar menjengkelkan!" teriak Elea dari dalam kamar.


"Tapi, sayang. Aku ....


"Pergi, atau aku akan meminta Ibu untuk mengusirmu dari rumah ini. Pergi, Kak Iel. Cepat!"


Alhasil, Gabrielle hanya bisa menuruti keinginan Elea. Dengan tampang yang begitu terluka Gabrielle akhirnya melangkah keluar dari dalam kamar. Dia lalu menatap ke arah Nun yang tengah menundukkan kepalanya.


"Selamat pagi, Tuan Muda!" sapa Nun sopan.


"Nun, apa si kembar tiga itu sangat membenciku ya? Setiap kali aku ingin bermesraan dengan Elea, mereka selalu saja mengirimkan rasa mual yang membuat Elea tak mau melihatku lagi. Aku ini kan tampan, masa iya mereka tidak mau mengakuiku sebagai ayahnya? Lagipula kan aku yang memutar adonan setiap malam. Ini sangat tidak adil bukan?" tanya Gabrielle mengeluarkan unek-uneknya tentang kelakuan si baby BKF.


"Maaf, Tuan Muda. Saya kurang tahu mengenai hal seperti ini. Tuan Christ tidak memprogram hal seperti itu di dalam otak saya, jadi saya tidak bisa menjawab pertanyaan anda," jawab Nun. "Tapi sepertinya Ares tahu jawabannya, Tuan Muda. Dia itu kan manusia, dan istrinya juga sedang hamil. Saya sarankan sebaiknya anda bertanya pada dia saja."


Mendengar jawaban Nun yang menyebalkan itu membuat Gabrielle menarik nafas dalam-dalam. Mutan tetap saja mutan yang tidak tahu tentang kehidupan manusia. Menyesal dia sudah bertanya padanya tadi.


"Hmm, sudahlah. Aku tidak mau bicara lagi denganmu, Nun. Bukannya meringankan beban, kau malah membuatku semakin berat untuk berpikir. Kau ini bagaimana sih sebenarnya. Heran!" keluh Gabrielle kemudian pergi menuju kamar lain untuk berganti pakaian. Dia harus segera berangkat ke kantor karena pagi ini ada rapat penting di perusahaan.


Nun yang melihat Tuan Muda-nya merajuk hanya diam saja sambil mengikuti langkahnya dari belakang. Sudah biasa, dan bagi Nun kejadian seperti ini sudah tidak mengagetkan lagi. Nun kemudian terpikir untuk mencari tahu penyebab sang nyonya jadi seperti ini. Dia rasa perlu untuk melakukannya karena Nun tidak suka melihat Tuan Muda-nya tidak bahagia. Sesuai tugas yang telah di atur oleh Tuan Christ Harrison, kebahagiaan dan keselamatan majikannya ini adalah sudah menjadi tanggung jawab abadinya Nun. Jadi sudah sewajarnya bukan kalau Nun mencaritahu jalan keluar perihal ngidamnya sang nyonya kecilnya itu?

__ADS_1


*****


__ADS_2