Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Saling Memaafkan


__ADS_3

"Sungguh, Elea. Tidak ada sedikit pun niat di hati Ibu dan teman-temanmu yang lain untuk menyakitimu. Kami semua terpaksa, juga takut kalau wanita itu akan mengincarmu jika kami sampai melawan. Tolong maafkan kesalahan kami semua ya, Nak. Kami sangat menyesal!" ucap ibu panti sambil menangis sesenggukan.


Di dunia ini adakah rasa yang jauh lebih menyakitkan lagi daripada kata maaf? Jika ada, tolong beritahu Elea. Maaf yang dia maksud bukanlah maaf untuk orang-orang yang dulu di paksa untuk menyakitinya, melainkan maaf untuk sang nenek yang menjadi penyebab dari semua penderitaannya dulu. Berat memang, tapi Elea berusaha untuk tetap berlapang dada. Kini semua rasa sakit itu hanya tinggal kenangan. Namun kenangan tersebut sangat amat menyakitkan saat kembali terbayang di pelupuk mata. Seperti sekarang. Elea berhadapan dengan orang-orang yang dulunya bagaikan musuh. Mereka menangis, meminta maaf sambil mengucapkan kata penyesalan. Andai Elea adalah orang yang egois, dia pasti tidak akan pernah memberikan maafnya pada mereka. Tapi di sisi lain, Elea masih memiliki kesadaran kalau orang-orang ini hanyalah korban dari suatu keegoisan yang di sebabkan oleh keluarganya sendiri. Mereka juga mungkin sama tersiksanya karena terus di paksa melakukan sesuatu yang bertolak belakang dengan hati nurani mereka.


Kuatkan hatimu, Elea. Mereka tidak bersalah, penyesalan mereka tulus dari dasar hati.


"Ibu panti, sudah ya jangan menangis lagi. Tidak apa, semua permasalahan itu sudah lama terlewat. Kedatanganku kemari adalah ingin bertanya kabar tentang kalian. Tolong kita sudahi saja membahas semua itu. Dadaku ... sesak," ucap Elea lirih. Dia sedang berusaha keras agar tidak menitikkan air mata.


"Baiklah-baiklah. Maaf ya jika sikap Ibu membuatmu merasa tidak nyaman. Ibu sudah sangat lama menantikan pertemuan ini, Nak," sahut ibu panti seraya menyeka air matanya dengan cepat.


"Tidak apa-apa, Bu. Aku maklum."


Tatapan mata Elea teralih pada beberapa penjaga yang muncul sambil membawa kotak berisi sembako. Dia tersenyum, suaminya benar-benar mengatur segalanya dengan sangat sempurna. Tadinya Elea pikir mereka hanya akan membawa beberapa bingkisan kecil saja sebagai buah tangan untuk anak-anak panti. Tapi siapa yang menduga kalau suaminya ternyata telah memesan bahan sembako dan juga makanan dalam jumlah yang sangat besar. Bahkan ada puluhan dus mie goreng kesukaannya juga ikut di bawa kemari, yang mana mie goreng tersebut di ambil dari pabrik yang sudah berganti kepemilikan atas namanya.


"Tuan Muda, apa semua makanan itu untuk anak-anak panti di sini?" tanya ibu panti tercengang-cengang melihat tumpukan dus makanan yang semakin menggunung.


"Iya. Semua makanan itu kubeli atas nama istriku. Dulu di sini dia sering kelaparan dan harus menelan ludah saat teman-temannya makan makanan enak. Ya anggap saja kalau aku sedang mengganti semua kesedihan itu dengan sesuatu yang bisa bermanfaat bagi orang lain. Terutama untuk anak-anak yang tinggal di panti ini. Iya kan, sayang?" jawab Gabrielle sembari mengelus rambut panjang Elea.


"Kak Iel," ....


"Jangan bersedih lagi ya. Lihatlah, Tuhan sangat adil padamu. Segala kesedihan yang dulu selalu membayangi langkahmu, kini berbalas dengan kau yang bisa mengulurkan tangan pada mereka membutuhkan. Jadi mulai sekarang kau tidak ku izinkan menangisi sesuatu yang bahkan tidak pantas untuk kau tangisi," ucap Gabrielle. "Berbahagialah, sayang. Karena sekarang mereka adalah temanmu. Mereka keluargamu yang tidak akan pernah membuangmu lagi seperti dulu. Berdamailah, tertawalah bersama mereka."

__ADS_1


Tangis Elea langsung pecah begitu dia mendengar perkataan suaminya. Air mata yang sejak tadi sudah dia tahan-tahan akhirnya keluar membasahi pipinya. Sedetik kemudian Elea menghambur ke pelukan ibu panti. Dia meraung, merasakan sisa rasa sakit yang harus segera dia sudahi.


"Huhuhu, ibu panti. Maafkan aku. Gara-gara aku kalian semua jadi kesusahan. Maafkan aku!" ucap Elea di sela-sela tangisnya.


"Tidak, Nak. Ibu lah yang salah, kami semua yang tidak berani melakukan perlawanan untuk menyelamatkanmu dari kekejamannya. Tolong jangan meminta maaf seperti ini. Ibu tidak pantas menerimanya."


Gabrielle berbalik badan kemudian menengadahkan wajahnya ke atas. Terharu, sangat amat terharu melihat Elea yang akhirnya mau melepas segala kepedihan yang sejak tadi terus dia tahan. Saking terharunya Gabrielle mendengar suara isak tangis dan juga permintaan maaf Elea pada ibu panti, tubuhnya sampai ikut gemetar. Bayangkan saja. Di hadapan orang yang telah menorehkan luka terdalam dalam hidup kita, kata maaf adalah sesuatu yang sangat amat luar biasa jika mampu untuk mengucapkan. Dan hal luar biasa tersebut lah yang tengah dilakukan oleh istrinya. Meski sama-sama tidak bersalah, baik Elea maupun ibu panti tidak ada yang egois untuk saling meminta maaf. Awalnya mungkin Elea memang sedikit menjaga jarak. Tapi setelah Gabrielle sedikit memberi sentuhan di hatinya, es yang mengendap di diri istrinya itu langsung mencair. Sungguh, tidak ada hal lain yang jauh lebih membahagiakan lagi selain menyaksikan dua orang yang dulunya bagaikan musuh kini saling memeluk dalam kesadaran hati. Gabrielle sangat amat beruntung karena memiliki istri yang mempunyai hati luas seluas samudra.


Sayang, jangan lupakan kenangan buruk itu jika terlalu menyakitkan untukmu. Tapi kesampingkanlah luka itu, karena sekarang luka tersebut telah berganti dengan sejuta kebahagiaan. Aku berjanji akan selalu ada untukmu, entah itu dalam suka maupun dukamu. Aku mencintaimu, istri kecilku.


"Tuan Muda, anda baik-baik saja?" tanya Nun.


"Aku akan baik-baik saja jika Elea juga baik-baik saja, Nun," jawab Gabrielle pelan. "Terima kasih. Jarak di antara Elea dan ibu panti tidak akan terpangkas kalau kau tidak menyarankan untuk membawanya datang kemari. Terima kasih banyak, Nun. Sebagai balasan, kau boleh meminta apa saja padaku sepulang kita dari sini. Asal masih bisa kudapatkan, aku pasti akan memberikan apa yang kau minta."


"Saya tidak membutuhkan apapun di dunia ini, Tuan Muda. Tuan Chris Harrison menciptakan saya hanya untuk menjaga dan melindungi anda. Bukan untuk hal lain."


"Benar juga ya. Kenapa aku bisa sampai lupa kalau kau itu mutan."


"Pelankan suara anda, Tuan Muda. Nanti ada yang mendengar."


Mulut Gabrielle langsung terkunci rapat. Dia kemudian berbalik menatap ke arah Elea saat tak terdengar lagi suara tangisan dari sana.

__ADS_1


"Ibu panti, apa kau masih di ancam setelah aku pergi dari sini?" tanya Elea. Dia kini sudah berbaring di pangkuan wanita pemilik panti ini. Sesuatu yang sejak dulu begitu ingin dia lakukan, tapi tidak pernah kesampaian.


"Tidak, Nak. Tuan Karim dan istrinya tak pernah lagi datang kemari setelah Ibu mengusirmu pergi dari sini," jawab ibu panti seraya membelai-belai kepala perempuan yang dulu selalu dia siksa. Rasa sesak kembali menderanya saat terkenang dengan tatapan tak berdaya di mata Elea ketika di acuhkan olehnya.


"Dulu aku ingin sekali bermanja-manja seperti ini, Bu. Tapi tidak berani, karena Ibu pasti akan langsung mengusirku pergi."


Jeda sejenak.


"Jadi seperti ini ya rasanya berbaring di pangkuan seorang ibu. Benar-benar sangat nyaman. Aku suka."


Suasana menjadi hening saat mata Elea perlahan-lahan mulai terpejam. Bahkan anak-anak panti yang mengenal siapa Elea tak berani membuka suara lagi ketika mendengar dengkuran halus yang keluar dari mulut perempuan yang dulu selalu mereka jauhi.


Elea, tolong maafkan semua kesalahan kami dulu. Kami menyesal, kami merasa sangat amat berdosa kepadamu. Andai ibu panti tidak di ancam, kita semua pasti akan menjadi teman yang akrab. Tapi syukurlah semua masalah itu sudah selesai. Kami harap kau masih sudi untuk berteman dengan kita yang tinggal di sini. Kau adalah sahabat kita semua, Elea. Selamanya akan tetap seperti itu.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


...πŸ€Jangan lupa vote, like dan comment...


...ya gengss...


...πŸ€Ig: rifani_nini...

__ADS_1


...πŸ€Fb: Rifani...


__ADS_2