
Di tempat acara resepsi pernikahan Levita dan Reinhard berlangsung, terlihat sudah ada banyak tamu yang berdatangan sejak tadi. Tamu-tamu tersebut nampak saling menyapa sesama teman yang mereka kenal. Wajarlah, semua tamu yang datang ke pesta ini di dominasi oleh para pembisnis mengingat kalau mempelai wanita dan juga ayahnya adalah pemilik dari salah satu perusahaan besar yang ada di negara ini. Belum lagi status mempelai wanita yang juga adalah mantan seorang model papan atas. Bisa di pastikan para tamu yang datang berasal dari kalangan atas, termasuk juga dengan para dokter kenamaan yang menjadi bawahan dan juga kenalan mempelai pria.
Di saat para tamu sibuk bercengkrama dengan tamu yang lain, di ruang tunggu terlihat Levita yang duduk dengan gelisah. Sebentar-sebentar dia melihat ke arah pintu, menunggu kehadiran dari orang terpenting di hidupnya.
"Sabarlah, Gabrielle tidak akan mungkin mengurung Elea di istananya. Mereka pasti datang," ucap Reinhard maklum akan kekhawatiran di diri istri barunya.
"Tapi aku sudah cukup lama menunggu mereka, Rein. Bagaimana kalau ternyata Gabrielle tidak mengizinkan Elea datang gara-gara gaun yang aku pilihkan membuat bagian dadanya terekspos. Kau kan tahu sendiri kalau Gabrielle itu sangat posesif. Aku takut Elea di sandera!" sahut Levita dengan tampang yang sangat khawatir.
"Sudah tahu kalau Gabrielle itu sangat posesif pada Elea kenapa juga kau masih berani mencari gara-gara dengannya. Jika memang benar Elea tidak di izinkan datang, maka itu adalah salahmu sendiri, sayang. Kenakalanmu lah yang membuat Elea tidak bisa hadir di hari bahagia kita!"
Levita menggigit bibir. Bodoh sekali dia. Harusnya Levita berpikir sampai ke sana dulu sebelum memilihkan gaun untuk teman kecilnya itu. Kalau sudah begini kan jadi repot.
Tok tok tok
"Kak Levi, apa kau merindukan aku?"
Kecemasan di diri Levita langsung hilang begitu dia mendengar suara Elea. Segera dia berjalan ke arah pintu untuk memastikan apakah benar itu suara Elea atau hanya halusinasi saja.
"Aaaa Elea, kau datang juga ternyata. Aku pikir kau di sekap Gabrielle di rumahnya!" pekik Levita sambil menarik gaunnya yang lumayan berat.
Elea segera membantu Levita memegangi ekor gaunnya yang begitu panjang. Dia tersipu saat terkenang kejadian saat acara pemberkatan di gereja waktu itu. Dengan kondisi mabuk, Elea merengek meminta untuk tidur di atas ekor gaun pernikahan yang waktu itu di pakai oleh Levita.
"Memikirkan apa kau sampai tersenyum-senyum seperti itu, hm?" tanya Levita. "Aaaa, aku ingat. Kau pasti malu karena membayangkan ulahmu sewaktu kau mabuk kan?"
"Hehehe, tahu saja kau, Kak."
"Tahulah. Siapa dulu ... Levita."
"Hilih, begitu saja bangga. Berikan aku satu kartu hitam, baru kau boleh berbangga diri. Bagaimana sih, CEO kok miskin. Tidak keren sekali!" ejek Elea.
Gabrielle dan Reinhard sama-sama melihat ke arah lain sambil menahan tawa mereka melihat Levita yang langsung di sembur dengan kata-kata beracunnya Elea. Itulah jika berani bersikap angkuh di hadapan seorang Eleanor Young, mati kutu kan dia sekarang?
Mendengar ejekan Elea yang begitu menusuk hati, hidung Levita sampai kembang kempis karena menahan emosi. Kalau saja sekarang dia tidak sedang memakai gaun pengantin, Levita pasti akan langsung menabok bokong perempuan yang dengan begitu santainya tersenyum sambil memegangi ekor gaun pengantinnya. Ingin mengamuk, tapi itu adalah Elea. Jadi mau tidak mau sekarang Levita hanya bisa memendam kekesalannya dulu setelah di katai sebagai CEO miskin. Sangat membagongkan sekali bukan?
__ADS_1
Tak lama kemudian, WO yang mengurus acara pesta masuk ke ruang tunggu. Dia memberitahukan kalau sudah saatnya untuk kedua mempelai pengantin keluar menemui para tamu.
"Selamat, Rein. Akhirnya seluruh dunia tahu kalau kau bukan perjaka tua lagi!" ejek Gabrielle sembari memeluk erat tubuh sahabatnya. Dia merasa sangat amat terharu bisa ikut menjadi saksi kehidupan baru yang akan di rajut oleh sahabatnya ini.
"Gab, apa kau tidak bisa memilih kata yang tidak menyakitkan hati manusia lain? Cukup Elea saja Gab, kau jangan. Mengerti tidak!" protes Reinhard kesal di ejek sebagai perjaka tua. Padahal usianya baru menginjak tiga puluh tahun. Sahabatnya ini benar-benar ya.
Gabrielle terkekeh. Dia melepas pelukannya kemudian merapihkan jas putih yang di pakai oleh Reinhard.
"Pergilah. Umumkan pada dunia kalau kau telah menikahi seorang wanita hebat dan juga cantik. Jangan ragu untuk mengakui kalau kau begitu mencintai Levita. Karena mulai sekarang, dia adalah harga dirimu, juga adalah cinta yang akan menemani hari-harimu. Selamat berbahagia, sahabatku!"
Mata Levita berkaca-kaca melihat ketulusan yang di tunjukkan oleh Gabrielle pada suaminya. Dia kemudian menoleh saat merasakan sebuah elusan pelan di lengannya.
"Jangan menangis, Kak. Itu bisa merusak eyeliner dan riasan di wajahmu. Nanti para tamu bisa mati ketakutan karena melihatmu yang muncul dengan riasan rusak seperti hantu. Jadi menangisnya di tunda dulu ya untuk sementara. Tunggu setelah pestanya selesai, baru kau lanjutkan lagi acara menangisnya. Oke?" ucap Elea lembut.
Kriikk kriikkkk
Levita, Gabrielle dan juga Reinhard diam membisu mendengar perkataan nyeleneh yang keluar dari mulut beracun Elea. Bahkan sang WO pun sampai ternganga tak percaya di buatnya.
Elea dengan tanpa bersalahnya menggelengkan kepala. Dia mengerjap-ngerjapkan mata sambil menatap si mempelai wanita yang tengah berjuang meredam emosinya.
"Astaga, aku bisa gila. Berhenti menatapku, Elea."
"Kenapa memangnya, Kak?" tanya Elea.
Nanti hatiku meleleh, bodoh. Ya ampun, kenapa makhluk kecil ini menggemaskan sekali sih jika sedang mengedip-ngedipkan mata begitu. Aku kan jadi tidak tega memarahinya.
"Ekhmmm maaf Nona Levita, bisakah kita keluar sekarang? Para tamu sudah menunggu kalian keluar untuk menyapa mereka!" ucap WO kembali mengingatkan.
"Oh, baiklah. Mari!"
Levita segera mengalungkan tangan ke lengan Reinhard sebelum akhirnya mereka melangkah bersama menuju ruangan pesta. Sebelum pintu ruangan terbuka, mereka melayangkan tatapan penuh bahagia ke arah Gabrielle dan Elea yang berdiri di belakang mereka.
"Gabrielle, Elea. Kalian jangan berani-berani pulang ke rumah sebelum pestanya selesai ya. Jika nanti kalian ketahuan kabur, maka hidup kalian tidak akan tenang. Paham tidak!" ancam Levita sambil tersenyum semringah.
__ADS_1
"Tenang saja, Kak Levi. Aku tidak akan mungkin pulang sebelum kantong makananku penuh. Jadi kau nikmati saja menjadi raja dan ratu sehari di atas pelaminan nanti. Aku akan dengan senang hati berada di sini," sahut Elea tanpa ragu memberitahukan kebiasaannya yang akan membawa pulang beberapa makanan untuk para pelayan yang ada di rumahnya. Dia tidak mau makan enak sendirian, dan kebiasaannya ini sudah di ketahui oleh seluruh keluarga besarnya.
"Haihh, sudah menjadi istri konglomerat saja kau masih sibuk mengumpulkan makanan di pesta untuk berbagi dengan para pekerjamu di rumah. Elea-Elea, kalau begini kan aku jadi semakin menyayangimu," gumam Levita diam-diam mengagumi kebaikan hati teman kecilnya.
"Itulah pesona seorang Elea, sayang. Kau harus mencontoh sikap baiknya itu," bisik Reinhard.
"Tanpa mencontoh pun aku sudah menjadi orang yang baik, Rein. Tuhan hanya kelebihan saja saat menuangkan kebaikan di diri Elea, makanya dia jadi overdosis begini."
"Overdosis dalam hal kebaikan tidak ada salahnya bukan?" celetuk Gabrielle gemas mendengar bisik-bisik kedua pengantin.
Reinhard dan Levita terkikik pelan. Setelah itu pintu terbuka, dan berjalanlah mereka menuju pelaminan di mana para tamu sudah menunggu. Decak kagum dan juga tepuk tangan langsung membahana memenuhi ruangan tersebut saat pembawa acara meminta Reinhard dan Levita berdansa bersama untuk membuka acara pesta malam ini.
"Ummm, romantis sekali," gumam Elea yang iri melihat kebahagiaan pelakornya.
"Jangan sedih. Nanti saat pernikahan kita di umumkan, aku akan membuatkan pesta yang jauh lebih berkesan dan juga mewah di bandingkan dengan pesta pelakor itu. Sabar ya sayang, waktunya tidak akan lama lagi," ucap Gabrielle sambil mengusap pelan bibir ranum Elea.
"Apa kita akan berdansa juga seperti mereka, Kak?"
"Tentu saja. Apapun yang kau mau, pasti akan aku kabulkan selama aku mampu. Tunggu saja, oke?"
Elea mengangguk senang. Dia dan suaminya kemudian membaur bersama para tamu yang lain. Dan kebersamaan mereka mengundang beberapa pertanyaan di hati banyak orang mengingat kalau status Elea sebagai putri yang hilang dari keluarga Young dan juga cucu dari desainer kondang, Clarissa Wu, cukup menggegerkan. Mereka mulai menebak kalau kemungkinan besar Elea adalah calon menantu dari wanita paling di segani di negara ini. Padahal yang sebenarnya, Elea bukanlah calon, melainkan sudah menjadi menantu kesayangan Nyonya Liona Serra, istri dari Greg Ma.
ππππππππππππππππ
...BOM KOMENTAR GENGSS BIAR NANTI SORE EMAK CRAZY UP LAGI... π...
...πJangan lupa vote, like dan comment...
...ya gengss...
...πIg: rifani_nini...
...πFb: Rifani...
__ADS_1