Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Nafas Terakhir


__ADS_3

Sementara itu di kediaman keluarga Young, terlihat Patricia yang sedang asik bermain bersama baby Cio. Di sebelahnya ada Yura. Wanita cantik itu sedang sibuk dengan kain rajutan di tangannya.


Ceklek


"Oh, Cira. Ada apa? Apa kau lapar, Nak?" tanya Yura sambil menoleh ke arah pintu kamar yang baru saja terbuka.


"Tidak, Bibi. Entah kenapa di dalam udaranya terasa sangat dingin, padahal aku sudah menata suhu ruangan agar tetap hangat. Makanya sekarang aku keluar sebentar. Tubuhku tidak berhenti menggigil sejak tadi," jawab Cira sambil menutup pintu kamar. Setelah itu Cira berjalan mendekat ke arah Patricia kemudian mencolek pipi gembul baby Cio. "Halo tampan. Apa kabar?"


"Halo juga, Bibi Cira. Kabar Cio baik, kabar Bibi sendiri bagaimana?" sahut Patricia membalas sapaan Cira sambil menggerak-gerakkan tangan anaknya.


"Bibi juga baik. Ya ampun, kenapa ketampananmu semakin bertambah saja sih setiap harinya? Bibi kan jadi gemas."


Yura memperhatikan wajah Cira yang terlihat begitu kelelahan. Wanita ini sedang hamil muda, tapi pikirannya sudah terbebani dengan sesuatu yang cukup berat. Sungguh sangat kasihan, tapi Yura juga tidak bisa melakukan apa-apa. Mama Clarissa adalah satu-satunya keluarga yang dimiliki oleh Cira, dengan keadaannya yang seperti ini tentu saja menjadi pukulan yang sangat berat untuknya. Tapi mau bagaimana lagi, tidak ada satupun manusia yang akan meminta sakit seperti ini. Termasuk juga Mama mertuanya. Jadi Yura hanya bisa mendoakan kesembuhan untuknya agar Cira dan Elea tidak berlarut-larut dalam kesedihan mereka.


"Oh ya, Cira. Aku perhatikan sejak Grandma sakit kau tidak pernah lagi memeriksakan kandunganmu. Apa kau tidak khawatir?" tanya Patricia sambil menatap iba ke arah wanita yang di bawah matanya terdapat lingkaran hitam khas mata panda.


"Sebenarnya aku khawatir. Akan tetapi aku lebih khawatir lagi untuk meninggalkan Mama sendirian di sini. Hatiku selalu mengatakan kalau Mama akan pergi jauh, Cia. Jadi aku takut meninggalkannya," jawab Cira lirih. Dia kemudian mengelus-elus perutnya sebelum lanjut berbicara. "Bayiku kuat. Aku yakin dia pasti bisa mengerti apa yang sedang aku rasakan sekarang."


"Sayang, Mama Clarissa tidak akan sendirian di sini. Kan masih ada Bibi dan juga Patricia yang bisa menggantikanmu untuk menjaganya. Jadi kau jangan khawatir ya. Lebih baik sekarang kau telpon Ares lalu minta dia untuk mengantarkanmu pergi ke rumah sakit. Kasihan bayimu, sayang. Sebagai seorang ibu kau harus tahu tumbuh kembangnya saat di dalam rahim. Apa kau tidak takut kalau ternyata bayimu kekurangan gizi atau tidak berkembang seperti bayi normal lainnya? Pergi ke rumah sakit ya?" bujuk Yura dengan lembut.


"Tapi Bibi, kasihan Mama. Langkahku terlalu berat untuk pergi dari sisinya. Ini aku keluar juga karena terpaksa. Udara di dalam terlalu dingin, tubuhku tidak kuat."

__ADS_1


Kenapa Cira bilang kalau ruangan Mama terlalu dingin ya? Padahal kan ada alat penghangat di dalam kamarnya. Aneh sekali ....


Saat Cira, Yura, dan juga Patricia sedang asik mengobrol, seorang penjaga masuk ke dalam rumah kemudian melaporkan sesuatu pada mereka.


"Permisi, Nyonya Yura. Saat ini Nyonya Elea dan Tuan Muda Gabrielle sedang dalam perjalanan kemari. Tuan dan Nyonya besar Ma juga ikut datang!"


"Haa? Kenapa mereka tiba-tiba datang rombongan begini? Perasaan di sini tidak sedang ada acara apapun. Ada apa ya?" gumam Yura keheranan begitu mendengar kalau anak, mantu, dan juga besannya akan datang berkunjung.


"Ibu benar. Tidak biasanya juga mereka datang beramai-ramai jika tidak sedang ada acara. Ada apa ya, Bu? Kenapa rasanya jadi tidak nyaman begini ya?" imbuh Patricia yang langsung menggendong baby Cio.


Cira terdiam. Pandangan matanya kemudian tertuju ke arah kamar di mana sang mama berada. Takut kalau kedatangan orang-orang ini ada hubungannya dengan kesehatan sang mama, dengan cepat Cira berjalan masuk ke sana. Dan tangannya sempat gemetaran ketika dia hendak memutar knop pintu.


"Relaks, Cira. Relaks. Mama baik-baik saja, Mama pasti akan sembuh seperti semula," gumam Cira sebelum akhirnya melangkah masuk ke dalam kamar.


"Ma, mau sampai kapan kau terus tidur seperti ini? Aku sedang hamil, aku ingin Mama ada di sini menemaniku. Bisakah?" ucap Cira sambil mengelus pipi sang mama yang terasa sangat amat dingin.


Tidak ada pergerakan apapun. Dan sedetik kemudian Cira mengerutkan kening ketika tak bisa mendengar suara tarikan nafas yang keluar dari lubang hidung sang mama. Panik, Cira panik seketika. Segera dia memeriksa mesin monitor yang berada di atas meja. Garis di layar monitor masih menunjukkan pergerakan bergelombang, yang menandakan kalau sang mama masih hidup. Namun secara perlahan-lahan garis gelombang tersebut mulai berganti dengan garis lurus yang mana membuat mata Cira jadi berkunang-kunang. Bahkan pendengarannya mulai tidak jelas lagi ketika Cira mendengar suara melengking yang keluar dari monitor tersebut. Semuanya menjadi gelap, Cira tak bisa merasakan apapun lagi. Lidahnya kelu dan tubuhnya menegang hebat. Ini ... ini apa yang terjadi? Suara apa itu? Kenapa suara tersebut mampu membuat dunia Cira seakan runtuh? Apa yang terjadi?


Tiiiiiiiiiiitttttttt


Braaakk

__ADS_1


Tepat ketika pintu kamar di dobrak dengan kuat, tubuh Cira luruh ke lantai. Samar-samar Cira masih bisa mendengar suara seorang pria yang berteriak memanggil namanya. Namun desakan untuk menutup mata terlalu kuat memaksa Cira hingga membuatnya jatuh ke dalam jurang gelap yang begitu menyesakkan. Ya, Cira pingsan.


"Cira sayang, hei. Bangun!" teriak Ares sambil mengangkat tubuh Cira yang terkulai lemas di lantai. "Bangun sayang, bangun. Maaf karena sudah meninggalkanmu sendirian di sini. Maaf!"


Yura dan Patricia terlihat sangat syok begitu Reinhard menggelengkan kepala setelah memeriksa Mama Clarissa. Sedangkan Gabrielle, dia berdiri di sisi ranjang sambil terus memeluk Elea yang diam membisu dengan tatapan kosong. Wanita kuat yang beberapa waktu ini sudah berjuang keras untuk bertahan hidup hari ini akhirnya menghembuskan nafas terakhir tanpa ada seseorang yang menemani di detik-detik terakhirnya. Dan anehnya, rasa dingin yang tadi di katakan oleh Cira sama sekali tak terasa lagi setelah semua orang masuk kemari. Mungkinkah itu adalah pertanda jika malaikat maut datang berkunjung? Entahlah, hanya Tuhan yang tahu.


"Res, bawa Cira istirahat ke kamar kalian. Dan kau, Reinhard. Tolong hubungi Tuan Bryan dan juga Junio. Minta mereka agar segera pulang ke rumah!" ucap Liona. Dia lalu memperhatikan menantu kesayangannya yang hanya diam tanpa menunjukkan reaksi apa-apa. Hatinya terenyuh.


Gabrielle, lebih baik kau bawa Elea keluar dari kamar ini dulu. Ibu khawatir dia akan semakin merasa tertekan yang mana akan berpengaruh pada kehamilannya. Dan ingat, jangan pernah tinggalkan dia sedetikpun. Masalah pemakaman Nyonya Clarissa biar Ayah dan Ibu yang akan mengurus. Pergilah.


Gabrielle menganggukkan kepala setelah mendengar isi pikiran sang ibu. Namun ketika dia hendak membawa Elea keluar dari sana, dia di buat kaget karena Elea menolak untuk pergi.


"Ini adalah kesempatan terakhirku bisa melihat wajah Grandma, Kak. Jadi tolong jangan bawa aku pergi kemana-mana. Ya?" ucap Elea lirih.


"Apa tidak apa-apa, sayang?" tanya Gabrielle tak tega.


"Aku tidak tahu, Kak. Tapi yang jelas aku tidak akan pergi selangkah pun dari sisi Grandma. Aku ingin terus berada di sisi Grandma sampai Grandma sampai di tempat pembaringan terakhirnya. Boleh ya?"


"Baiklah."


Yang hidup, suatu saat pasti akan mati. Umur tiada siapalah yang tahu karena itu adalah rahasia Tuhan. Tugas kita selagi hidup hanyalah untuk terus berbuat baik dan juga memperbaiki kesalahan yang pernah kita lakukan. Grandma Clarissa, dengan segala kepedihannya dia melewati sesal berkepanjangan akibat ketidakberaniannya melawan amarah orangtua hingga terpaksa harus mengorbankan kebahagiaan putri semata wayangnya, yang dia kira akan hidup bahagia bersama dengan ayah kandungnya. Namun sayang, manusia hanya bisa berencana tapi Tuhan lah yang menentukan. Kebahagiaan yang dia harapkan untuk sang putri malah harus berakhir dengan petaka yang sangat menyakitkan. Namun di sisa terakhir hidupnya, Tuhan masih memberi sedikit kesempatan untuk Grandma Clarissa menebus kesalahannya. Dari sini kita bisa mengambil kesimpulan bahwa tidak selamanya pendosa akan berakhir dengan penyesalan. Ada kalanya juga para pendosa akan berakhir dengan senyum kelegaan meski dalam batasan waktu yang bersisa.

__ADS_1


Teman-teman, anggaplah kisah Grandma Clarissa sebagai kisah seorang ibu yang gagal memberikan kebahagiaan untuk putrinya. Namun dia tidak gagal untuk menjadi ibu dari anak angkat dan juga cucunya. Percayalah, kesempatan itu akan selalu ada. Jadi jangan pernah putus asa meski kita sedikit terlambat dalam melakukan kebaikan. Salam sayang dari emak 🥰


*****


__ADS_2