Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Kesedihan Hati


__ADS_3

"Russel, kau pasti kuat 'kan?" tanya Kayo sembari mengelus wajah putranya yang begitu pucat. Tadi dia langsung kembali begitu mendapat kabar kalau Andreas berhasil menyelamatkan Russel dan juga teman Flowrence.


"Iya Bu, aku pasti kuat. Demi Flow, aku tidak akan mati dengan mudah," jawab Russel antara sadar dan tidak sadar.


Kayo diam tertegun begitu mendengar jawaban Russel. Demi Flow, aku tidak akan mati dengan mudah. Kenapa kata-kata ini terdengar sangat ambigu ya? Kayo seolah merasakan ada makna tersirat di balik kata tersebut. Tapi apa? Mungkinkah Russel menyukai kakak sepupunya sendiri? Ini mustahil.


Tidak mungkin kepedulian yang Russel tunjukkan pada Flow di dasari oleh semacam perasaan suka. Ini tidak boleh, mereka adalah saudara. Tapi masa iya Russel menyukai kakak sepupunya sendiri? Ya Tuhan, ada apa ini.


Gabrielle dan Liona saling melempar pandangan begitu mereka mendengar apa yang sedang di pikirkan oleh Kayo. Setelah itu mereka beralih menatap bergantian ke arah Russel dan juga Flowrence. Aneh. Rasanya mustahil jika Russel sampai menyukai kakak sepupunya sendiri. Atau jangan-jangan yang sedang di khawatirkan oleh Kayo hanyalah bentuk kepedulian yang coba Russel tunjukkan pada Flowrence, sama seperti para sepupunya yang lain. Entahlah, ini terlalu aneh untuk mereka bayangkan.


"Nyonya Liona, tim dokter meminta izin untuk membawa Nona Muda, Russel dan juga Sisil ke rumah sakit. Tim dokter khawatir luka di tubuh mereka akan bertambah parah jika tetap di biarkan berada di ruangan terbuka seperti ini!" lapor salah satu penjaga.


"Baiklah. Bawa mereka semua ke rumah sakit utama, dan pastikan hanya dokter yang berada di sini yang akan merawat cucu-cucuku!" sahut Liona sambil menahan rasa sesak di dada. Sakit rasanya melihat cucu kesayangannya terbaring penuh luka seperti itu.


"Baik, Nyonya."


"Satu lagi. Jika kabar tentang kejadian ini sampai bocor ke media, habisi saja para bajingan yang lancang menulis berita tanpa seizinku. Wajah Flowrence tidak boleh muncul di media, jadi jangan ragu untuk menghancurkan orang-orang bebal yang nekad mencari keuntungan dengan menjual nama dari salah satu anggota keluargaku. Paham!"


"Paham, Nyonya Liona!"


"Pergilah!"


Si penjaga segera pergi menghampiri tim dokter kemudian memberitahu mereka kalau para korban boleh di bawa ke rumah sakit. Sementara Liona dan yang lainnya, mereka hanya bisa menatap sedih ketika Flowrence, Russel dan juga Sisil di dorong masuk ke dalam mobil ambulans. Mungkin di antara kalian ada yang penasaran bagaimana keadaan Levita dan Reinhard. Saat ini pasangan suami istri itu memilih untuk pergi mengunjungi Elea yang kabarnya masih belum sadarkan diri sampai sekarang. Ya seperti yang kalian tahu, Levita sangat menyayangi Elea dan Reinhard adalah salah satu dokter yang paham apa yang akan dilakukan Elea ketika tak mampu menahan tekanan di hatinya. Si Nyonya kecil pasti akan nekad menyakiti dirinya sendiri, dan itu seratus persen akan terjadi mengingat bagaimana parahnya kondisi Flowrence sekarang.


"Bu, kemana aku harus pergi? Flowrence atau Elea?" tanya Gabrielle gelisah. Kedua-duanya sangat penting dalam hidup Gabrielle, jadi dia bingung harus menemani siapa antara istri dan putrinya.

__ADS_1


"Pulang dan temani Elea di rumah. Flowrence ada banyak yang menemani. Jangan khawatir, ada Kayo dan juga Jackson yang akan menjaga Flowrence di rumah sakit. Kau sebaiknya dampingi Elea saja. Saat sadar nanti dia pasti akan sangat membutuhkanmu," jawab Liona sembari mengelus pelan bahu Gabrielle. Liona tahu betapa berat beban yang sedang di pikul oleh menantunya, jadi dia tidak akan membiarkan menantunya berjuang sendirian.


"Apakah ini keputusan yang paling benar, Bu?"


"Tentu saja!" sahut Greg menyela. Dia lalu menepuk pundak Gabrielle yang sedang gelisah. "Ingat Gabrielle. Anak memang penting, tapi istri kita jauh lebih utama. Karena apa? Karena yang akan menemanimu sampai tua adalah Elea, bukan Flowrence. Di masanya nanti, Flowrence akan hidup bersama pria pilihannya, dia akan meninggalkanmu sendirian. Tapi Elea, dia adalah satu-satunya orang yang tidak akan pernah meninggalkanmu. Percaya pada Ayah!"


Setelah di yakinkan oleh sang ayah, Gabrielle pun segera berpamitan untuk pulang ke rumah. Tak lupa sebelum itu dia menghampiri Andreas dan juga Oliver untuk mengucapkan terima kasih pada mereka. Baru setelahnya Gabrielle dan Ares bergegas pergi untuk menemui Elea di rumah.


"Oliver, kau terluka!" ucap Andreas saat tak sengaja melihat siku Oliver berdarah.


"Masih belum seberapa jika di bandingkan dengan luka di tubuh Flowrence dan Russel," sahut Oliver dingin. "Apa para penjahat itu sudah di tangani?"


"Mereka masih menjadi mainannya Karl. Kau tidak perlu cemas," timpal Bern.


Bern mengangguk. Dia lalu menghela nafas, sedikit heran memikirkan sikap agresif yang tiba-tiba muncul di diri adik kembarnya.


"Tapi Bern, kenapa aku seperti melihat sisi lain dari seorang Karl ya? Selama ini kan dia selalu terlihat konyol dan juga jahat pada Flowrence, tapi kenapa tadi dia terlihat sangat marah dan bahkan auranya jadi begitu mengerikan? Bulu kudukku sampai berdiri semua tadi," tanya Cio mengungkap rasa penasarannya.


Pleetaakkkk


"Awwww, Rei. Apa-apaan kau hah!"


"Kau ini bodoh atau bagaimana sih, Cio. Karl itu kakaknya Flowrence, wajar saja kalau dia menjadi sangat emosi saat adiknya di celakai sampai seperti itu. Dasar gila kau!" omel Reiden tak habis pikir akan pertanyaan yang dilayangkan oleh Cio. Sepupunya satu ini benar-benar sangat bodoh. Heran.


"Ya tapi kan kau tidak harus menjitak kepalaku juga, Reiden. Kepalaku ini suci, tahu kau!"

__ADS_1


"Suci apanya. Jelas-jelas isi kepalamu itu selalu di dominasi dengan keseksian para gadis. Masih berani kau berkata seperti itu. Heh!"


Bern, Oliver dan juga Andreas hanya menggelengkan kepala melihat pertengkaran antara Cio dengan Reiden. Setelah itu ke limanya terdiam saat mendengar suara raungan Lan, sahabatnya Tora.


"Hmmm, sepertinya Karl sudah selesai bermain!" ucap Greg sembari merengkuh pinggang Liona. "Haruskah kita pergi ke rumah sakit sekarang? Flowrence membutuhkan kita, Honey."


"Greg, aku lemah!"


Liona merebahkan kepalanya ke dada Greg. Air mata yang sudah sejak tadi dia tahan akhirnya perlahan-lahan mulai menetes keluar. Sakit, rasanya benar-benar sakit. Liona tidak mengerti kenapa kedua cucu perempuannya harus mengalami hal tragis seperti ini. Pertama Rose, dan sekarang Flowrence. Liona sangat bingung mengapa nasib buruk terus datang menghampiri anggota keluarganya.


"Honey, kau adalah wanita yang kuat. Aku sangat percaya akan hal itu," ucap Greg berusaha menguatkan.


"Apakah ini semua adalah karma atas perbuatanku di masa lalu?


"Honey, aku mohon tolong berhenti berpikiran yang tidak-tidak. Apapun penyebabnya, semua itu datang atas kehendak Tuhan. Kalaupun benar ini semua adalah karma, mari kita tanggung bersama-sama. Kau wanita hebat, dan aku percaya apa yang kau lakukan di masa lalu terjadi bukan atas kehendakmu sendiri. Dulunya kau adalah seorang jendral, yang artinya kau hidup di bawah perintah seorang kaisar. Jadi jangan pernah berpikir dirimu adalah penyebab semua kesialan yang terjadi di keluarga kita ya. Semua musibah ini datangnya dari Tuhan, kau harus percaya itu!"


Tak ingin Liona berlarut-larut menyalahkan diri sendiri, Greg pun segera membawanya pergi dari tempat itu. Dia tidak suka melihat wanita yang sangat di cintainya ini bersedih hati, Greg sangat tidak suka.


"Kawan, ayo kita pergi ke rumah sakit. Flowrence dan Russel sedang membutuhkan kita semua sekarang!" ajak Andreas sambil menatap kepergian kakek dan nenek Ma.


"Baiklah. Ayo!"


Dan akhirnya semua orang pun pergi dari tempat tersebut, kecuali Karl, Lan, dan juga beberapa penjaga. Sepertinya mereka masih ingin bermain-maina dengan ke tujuh penjahat yang keadaannya sudah sangat mengenaskan. Kasihan, tapi itu belum seberapa. Masih ada kejutan besar yang sudah menanti mereka bertujuh di kediaman keluarga Ma. Yaitu para pelatih renang, cicitnya Sulli.


*******

__ADS_1


__ADS_2