Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Planet Mars


__ADS_3

Gabrielle diam melamun sambil menatap kosong ke arah foto pernikahannya dengan Elea. Rasanya dia seperti akan mati saat ayahnya memberitahu kalau Elea di bawa pergi oleh ibunya sebagai hukuman atas kebodohan yang dia lakukan pada waktu itu. Sungguh, Gabrielle benar-benar tidak menyangka kalau ide untuk membuat Elea cemburu akan berbuntut panjang seperti ini. Ingin menyesal, tapi semuanya sudah terlambat. Hukuman dari ibunya sudah terlanjur di jatuhkan, dan Gabrielle pun tidak memiliki keberanian untuk melanggar hukuman tersebut. Terlalu takut untuknya melawan amarah seorang ibu yang tengah memendam kekecewaan pada anaknya.


"Kenapa semuanya jadi seperti ini? Aku yang bodoh atau Ibu yang terlalu posesif pada Elea? Niatku kan baik, hanya ingin memancing kecemburuan istriku saja. Tapi kenapa sekarang kami malah terpisah? Ya Tuhan, bagaimana ini? Aku bisa gila jika tidak ada Elea di sisiku. Tolong perintahkan malaikat-Mu untuk membawa Elea-ku pulang ke rumah ini. Aku tidak bisa jauh darinya, Tuhan."


Nun hanya bisa diam mendengarkan kesedihan Tuan Muda-nya yang tengah menjalani hukuman dari Nyonya Liona. Sebenarnya Nun sangat tidak tega melihatnya, tapi dia juga tidak memiliki keberanian untuk melawan perintah seorang Liona Serra, wanita cantik dengan seribu kekejaman di balik amarahnya. Jadi sekarang yang bisa Nun lakukan hanyalah menemani Tuan Muda-nya meratapi kesedihan karena di tinggal oleh sang nyonya kecil. Sungguh miris.


"Nun?" panggil Gabrielle tak berdaya.


"Iya, Tuan Muda."


"Bisakah kau membawa Elea kembali ke sisiku? Aku sekarat, Nun."


"Maaf, Tuan Muda. Bukannya saya tidak patuh, tapi saya tidak berani memancing amarah Nyonya Besar Liona. Anda tahu sendiri bukan apa yang akan terjadi pada diri saya jika saya nekad melanggar aturan yang sudah di tetapkan oleh beliau?"


Gabrielle mend*sah pelan. Sama saja. Selain Elea, tidak ada satupun orang yang berani melawan perintah ibunya. Bahkan Nun yang hanya seorang mutan saja tidak memiliki keberanian untuk melakukan hal tersebut. Apalagi dia yang hanya memiliki satu nyawa. Keadaan Gabrielle benar-benar terjepit sekarang. Dia tersiksa oleh ide sesat yang dia ciptakan sendiri.


Brengsek! Semua ini gara-gara Altez. Kalau saja dia tidak muncul dan menggodaku, Ibu pasti tidak akan membawa Elea pergi dariku. Ck, aaarrrrgghhhh. Mana kami sedang hangat-hangatnya membuat adonan. Kapan baby Bern, Karl, dan Flow bisa cepat jadi kalau adonan utamanya saja di bawa pergi seperti ini. Sungguh sangat sialan kau, Altez. Arrrgghhhh.


Gabrielle meremas rambutnya dengan kuat saat lagi-lagi terbayang senyum manja di bibir istrinya. Dia gila, ya. Gabrielle benar-benar akan menjadi gila jika tidak segera di pertemukan dengan istrinya. Tak tahan menahan perasaan tersebut, secepat kilat Gabrielle pergi mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja kamar. Dia mengumpat saat tidak sengaja melihat bra milik Elea yang masih teronggok di lantai, sisa dari pergulatan panas mereka semalam.


"Ini tidak bisa di biarkan. Aku harus segera pergi menemui Elea meskipun nanti Ibu akan menjemurku dalam keadaan terbalik di bawah terik matahari. Aku tidak bisa jauh dari Elea, Bu. Dia duniaku, aku dan juniorku bisa mati rasa kalau kami di pisahkan seperti ini," ujar Gabrielle sambil menelpon nomor milik ibunya.


Sambilan berjalan mondar-mandir di dalam kamar, Gabrielle dengan gelisah menunggu panggilannya di jawab. Dia memejamkan mata saat panggilannya tidak di respon.


"Jangan menyerah, Tuan Muda. Terus lakukan panggilan sampai Nyonya Besar Liona menjawabnya. Jika nanti anda di hukum, saya akan menemani anda melewati hukuman tersebut!" ucap Nun memberikan semangat pada Tuan Muda-nya. Dia sangat tidak tega melihat raut tak berdaya di diri pria yang biasanya selalu bersikap dingin seperti kulkas empat pintu.

__ADS_1


"Kalau kau sampai mengkhianati ucapanmu, aku akan merontokkan gigimu, Nun!" sahut Gabrielle antara senang dan juga kesal.


"Baik, Tuan Muda."


Gabrielle kembali melakukan panggilan tanpa merasa putus asa meski selalu di abaikan oleh ibunya. Sesekali nafasnya juga tercekat saat panggilannya di reject dengan begitu kejam.


Tok tok tok


"Permisi, Tuan Muda. Apa saya mengganggu?"


"Sangat!"


Ares berdehem pelan. Setelah itu dia memberanikan diri untuk menghampiri Tuan Muda-nya yang tengah sibuk menelpon seseorang.


"Ada perintah dari Paman Hansen, Tuan Muda. Nyonya Liona ingin Group Ma memutuskan semua kontrak kerja sama yang terhubung dengan perusahaan milik keluarganya Nona Altez. Jika kita menolak, maka Nyonya Elea akan di bawa pindah ke planet Mars supaya anda tidak bisa menemuinya lagi!"


"Karena ini adalah permintaan Nyonya Elea sendiri, Tuan Muda. Saya mendapat bocoran kalau beliau ingin membuat anda kering kerontang karena sudah berani berselingkuh darinya!" jawab Ares jujur.


Whaaaatttt? Jadi Elea yang ingin pindah ke planet Mars? Bagaimana bisa dia menghukumku dengan cara seperti ini? Semalam saja dia masih merintih dan mend*sah menikmati tusukan belut listrikku. Kenapa sekarang dia jadi kejam begini? Apa jangan-jangan Levita sudah mencuci otaknya. Biasanya kan kalau Elea mengeluarkan ide aneh begini pasti dia yang menjadi dalangnya. Kalau memang benar, akan kukirim penjahat untuk merusak bulan madu mereka di Maldives. Enak saja pelakor itu ah-uh-ah-uh bersama Reinhard di sana. Sementara di sini aku di biarkan tersiksa seorang diri. Awas saja kau, Levita.


Ares memperhatikan dengan seksama perubahan ekpresi di wajah Tuan Muda-nya. Dia yakin sekali kalau Tuan Muda-nya ini pasti sedang mencari seseorang untuk di jadikan pelampiasan. Tak ingin menjadi tumbal, Ares pun segera memikirkan cara untuk mengalihkan perhatian si banteng pencemburu ini.


"Ekhmm Tuan Muda, saya rasa masalah ini baru akan selesai jika anda memberikan sebuah kejutan untuk Nyonya Elea. Bisa saja beliau beralibi seperti ini dengan tujuan agar bisa menyusul Nona Levita dan dokter Reinhard di Maldives. Saran saya bagaimana kalau anda menyiapkan acara bulan madu susulan saja untuk membujuk Nyonya agar mau kembali ke rumah ini. Nyonya Elea kan sangat menyukai kejutan."


Namun sayang, niat Ares yang ingin mengalihkan perhatian Tuan Muda-nya malah berakhir tragis. Dia lupa kalau di rumah ini tidak ada yang boleh mengenal dekat kebiasaan sang nyonya lebih dari yang Tuan Muda-nya ketahui. Dan Ares tanpa sadar baru saja melakukan kesalahan tersebut. Dia dengan santainya mengatakan kalau sang nyonya sangat menyukai kejutan, melupakan fakta kalau dia bisa saja lenyap dari muka bumi ini di tangan pria yang kini tengah memelototkan mata penuh tatapan membunuh.

__ADS_1


"Kau sepertinya begitu memperhatikan kebiasaan istriku ya, Res. Apa kau begitu tidak sabarnya ingin segera masuk ke dalam perutnya Lan? Iya?" tanya Gabrielle seraya menggeram marah.


Matilah aku. Kenapa aku ceroboh sekali sih. Kalau ini namanya bukan melarikan diri supaya tidak menjadi tumbal, melainkan keluar dari kandang macan kemudian masuk ke kandang singa. Kau benar-benar sangat bodoh, Res.


"Maaf, Tuan Muda. Saya hanya ....


"Aku tidak mau tahu. Karena kau sudah berani melanggar batasan yang aku buat, besok pagi Elea harus sudah ada di rumah ini. Kalau tidak," ....


Ares menelan ludah. Sementara Nun, dia hanya berdiri diam mendengarkan. Cari aman jauh lebih baik untuk saat ini.


"Aku akan meminta Elea membawa Cira kabur dari rumah. Coba saja kalau tidak percaya!" ucap Gabrielle sebelum kembali melanjutkan menghubungi ibunya.


Tamat kau, Ares.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


Happy Chinese New Year buat yang merayakanπŸ’œ


GENGSS.... NOVEL TENTANG GERALD SUDAH UP YA. DI SANA ADA GIVEAWAY, SILAHKAN KALIAN BACA SENDIRI PERATURANNYA. OH YA, KARENA MASIH BARU JUDUL NOVELNYA PASTI BELUM MUNCUL DI PENCARIAN. KALIAN LANGSUNG KLIK SAJA DI BIO EMAK YA.



...πŸ€Jangan lupa vote, like dan comment...


...ya gengss...

__ADS_1


...πŸ€Ig: rifani_nini...


...πŸ€Fb: Rifani...


__ADS_2