Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Di Serang


__ADS_3


📢 JANGAN LUPA BOM KOMENTAR YA BESTIE


- My Destiny ( Clara & Eland)


- Pesona Si Gadis Desa


- Ma Queen Rose ( TAYANG JAM 12 SIANG)


- Marriage Contract With My Secretary ( TAYANG JAM 12 SIANG)


BOM KOMENTAR SEBANYAK-BANYAKNYA YA BESTIE SUPAYA EMAK TAMBAH SEMANGAT BUAT UP. 💜


🎗🎗🎗🎗🎗🎗🎗


Flashback


"Oliver, dengarkan perkataan Ibu baik-baik. Oke?" ucap Levita sambil memegang bahu putranya. "Kau tidak boleh sedikit pun menyakiti Flowrence. Karena apa? Karena dialah kita bisa hidup sampai sekarang. Ibunya Flow dulu hampir kehilangan nyawa karena ingin menyelamatkan kita, dan Ibu sudah berjanji akan menjodohkan kalian setelah besar nanti. Kita berhutang nyawa pada mereka, Nak. Kau paham kan apa maksud ucapan Ibu?"


Oliver mengerjap-ngerjapkan mata begitu mendengar penuturan sang ibu. Dia lalu melihat ke arah Flow yang sedang menangis tersedu-sedu sambil memegangi kepalanya yang terbungkus perban. Karena risih dan malu di ikuti terus menerus, Oliver dengan marah memukul kepala Flow dengan pentungan kayu yang di bawanya. Dia pusing sendiri karena Flow selalu mengekorinya kemana-mana. Bahkan beberapa temannya pun mulai menggoda dengan menyebut Flow sebagai istri kecilnya setelah mereka tak sengaja mendengar yel-yel aneh yang Flow ucapkan ketika Oliver mengikuti pertandingan sepak bola antar sekolah menengah pertama. Tapi setelah mendengar perkataan sang ibu, Oliver jadi merasa sangat bersalah karena telah menyakiti Flow. Dia merasa sangat amat berdosa padanya.


"Oliver, Ibu tahu ini sedikit keterlaluan karena kau masih kecil. Tapi Ibu harap kau mau ya menyayangi Flow?" ucap Levita sedih.


"Apa Ibu akan bahagia jika aku tidak jahat lagi padanya?" tanya Oliver melunak. Walaupun galak, Oliver paling tidak bisa melihat ibunya bersedih. Hatinya sakit.


"Tentu. Karena itu tandanya Ibu telah berhasil membesarkan seorang anak yang penuh tanggung jawab,"


"Baiklah kalau begitu. Aku berjanji pada Ibu mulai sekarang aku akan menjaga dan menyayangi Flow dengan baik. Karena kami masih kecil, jadi aku tidak akan mau menjadi suaminya dulu. Nanti setelah kami sama-sama dewasa barulah Ibu boleh membahas tentang hal ini. Oke?" ucap Oliver mencoba untuk bernegosiasi dengan sang ibu. Dia masih berusia tiga belas tahun sekarang, jadi tidak mungkin kan Oliver menikahi Flow? Benar tidak?


"Ibu setuju, sayang. Terima kasih ya karena sudah mau mengerti perasaan Ibu. Ibu menyayangimu, Oliver,"


"Aku juga sangat menyayangi Ibu,"

__ADS_1


Flashback Now


Oliver tersenyum-senyum sendiri saat mengenang kejadian lucu yang membuatnya mau berdamai dengan keberadaan Flow. Jujur, keadaan ini sebenarnya masih sedikit sulit untuk Oliver percayai. Karena apa? Karena Flow adalah satu-satunya cucu perempuan di keluarga Ma. Walaupun keluarganya sendiri tidak tergolong sebagai orang miskin, tetap saja Oliver sulit untuk memahami mengapa Flow bisa sampai di jodohkan dengannya. Kalau alasannya hanya untuk balas budi, Oliver rasa itu tidak terlalu memuaskan. Apakah mungkin ada rahasia besar yang tidak dia ketahui? Entahlah.


"Kak? Kak Oli?"


Flow mengguncang pelan sudut baju Oliver yang sedang tersenyum aneh sambil melamun. Posisinya sekarang yang sedang berada di pelukan Oliver membuat Flow mendongakkan kepala ke atassampai lehernya terasa pegal.


"Kak Oli, kau sudah gila ya tersenyum-senyum sendiri?"


"Hmmm, Flow. Bisa tidak kau jangan mengatakan sesuatu yang membuatku kaget?" sahut Oliver sambil menghela nafas. Selalu saja seperti ini, bicara tanpa di saring terlebih dahulu. Tapi anehnya Oliver menyukainya. Menurut kalian Oliver gila tidak?


"Kaget? Mana coba aku dengar detak jantungmu dulu, Kak. Kata Ibu kalau dada kita berdebar-debar, itu tandanya kita sedang gugup. Dan kalau tidak berdebar, itu artinya kita sudah menjadi mayat!"


Tanpa menunggu persetujuan dari Oliver, Flow langsung mendorong tubuhnya hingga jatuh terlentang kemudian menempelkan kepalanya di bagian dada. Oliver yang melihat kelakuan menggemaskan Flow hanya bisa tersenyum saja sambil membelai rambutnya. Dia merasa kalau adegan mereka ini sangatlah romantis. Sayang, Flow masih begitu polos dalam menyikapi hubungan mereka. Karena yang dia tahu Oliver adalah miliknya. Itu saja.


Oh ya, mungkin di antara kalian ada yang berpikir kalau kedekatan mereka sedikit berlebihan. Sebenarnya tidak seperti itu. Oliver membiarkan Flow berbuat sesukanya atas izin kedua keluarga. Dan juga Oliver telah menerima mandat penting dari sang ayah kalau sebagai laki-laki sejati, mereka tidak boleh merusak masa depan wanitanya sampai waktunya tiba untuk mereka saling berhubungan. Jadi sedekat apapun mereka sekarang, Oliver tidak akan pernah menyentuh Flow secara berlebihan. Sudah jelas kan?


"Bagaimana?" tanya Oliver setelah Flow selesai memeriksa detak jantungnya.


Oliver tergelak. Dia lalu meminta Flow untuk sedikit bergeser karena dia ingin bangun. Kalian tahu tidak, tadi setelah Flow datang, Oliver mengajaknya untuk tidur. Jangan salah paham dulu. Awalnya mereka memang sama-sama berbaring di atas ranjang, tapi setelah mata Flow terpejam Oliver langsung pindah ke sofa. Dia merelakan ranjang kesayangannya di tiduri oleh gadis yang selalu saja mengekorinya. Ibarat kata, di mana ada Oliver, di sana pasti ada Flow. Dan fakta ini sudah di ketahui oleh hampir seluruh teman-temannya. Kini Oliver sudah tak malu lagi, justru malah merasa bangga karena teman-temannya bilang dia sangat beruntung di sukai oleh boneka hidup semenggemaskan Flow.


"Mau kemana, Kak? Aku ikut?" rengek Flow ketika melihat Oliver turun dari ranjang.


"Aku akan mandi sebentar," sahut Oliver dengan begitu sabar. "Kau tunggu di sini dulu ya? Aku janji tidak akan lama,"


"Aku ikut ya?"


"Tidak boleh,"


"Kenapa?"


"Karena kau adalah seorang gadis dan aku adalah seorang laki-laki,"

__ADS_1


"Memang apa salahnya, Kak? Di rumah aku sering kok melihat Ayah dan Ibu mandi bersama. Dan mereka bilang aku boleh melakukannya hanya bersama dengan suamiku saja," protes Flow.


Astaga, racun apa yang Paman Gabrielle dan Bibi Elea ajarkan pada Flow? Ya Tuhan, kenapa mereka vulgar sekali sih. Memangnya mereka lupa kalau Flow ini masih begitu polos. Ya Tuhan,


Tak ingin Flow membahas sesuatu yang bukan menjadi ranahnya, Oliver memilih untuk mengangkat tubuh mungilnya kemudian mendudukkannya di atas meja dekat pintu kamar mandi. Setelah itu Oliver mengurung tubuh Flow dari kedua sisi menggunakan tangan dan membiarkan wajah mereka berada dalam jarak yang cukup dekat.


"Flow, jangan pernah katakan hal seperti itu di hadapan laki-laki lain. Mengerti?"


"Kenapa memangnya, Kak? Dosa ya?"


Flow mengerjapkan mata beberapa kali. Dia paling suka jika wajahnya berdekat-dekatan dengan wajah Oliver. Serasa kalau dia sedang berpandangan dengan kembaran Ayah Reinhard. Hihihi.


"Sangat. Maka dari itu kau cukup mengatakan saat di depanku saja. Bisa?" jawab Oliver.


"Tentu saja sangat bisa, Kak."


"Gadis baik. Kalau begitu kau tunggu di sini saja ya. Jangan kemana-mana dan jangan coba-coba melompat turun. Nanti kakimu patah lalu di amputasi. Mau?"


"Tidak,"


Oliver tertawa. Setelah itu dia bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


"Karena aku tidak boleh berbicara pada laki-laki, berarti nanti aku akan bicara pada Ibu Elea dan Ibu Kayo saja. Mereka pasti akan memberitahuku kenapa Kak Oli menolak saat aku ingin ikut mandi bersamanya. Aneh, padahal kalau mandi berdua kan bisa saling menggosok punggung, tapi kenapa Kak Oli tidak mau ya?"


Dengan patuh Flow tetap duduk di atas meja sambil mengayun-ayunkan kedua kakinya. Sesekali dia juga berteriak memanggil Oliver lalu memberitahunya kalau ada banyak semut yang datang menggerogoti kedua kakinya yang pendek.


"Bilang pada semut-semut itu kalau daging di tubuhmu pahit. Mereka pasti akan langsung pergi!" teriak Oliver dari dalam kamar mandi.


"Semut-semut ini bilang mereka lapar, Kak!"


"Kalau begitu anggap saja kau sedang sedot lemak gratis,"


"Oh, baiklah, Kak Oli!"

__ADS_1


Dan Flow yang bodoh pun akhirnya hanya bisa pasrah ketika para semut melakukan sedot lemak di kakinya. Padahal yang sebenarnya terjadi dia itu sedang kesemutan, bukan sedang di serang oleh pasukan semut. Anaknya Elea ini sangat luar biasa sekali ya Bun bodohnya?


*****


__ADS_2