Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Kompor Meleduk


__ADS_3

"Sayang, kau harus banyak-banyak memakan buah dan sayuran supaya anak kita tumbuh sehat," ucap Gabrielle sembari menarik kursi untuk Elea duduk. Mereka baru saja keluar dari dalam kamar setelah akhirnya Gabrielle bisa tidur di ranjang yang sama dengan Elea meski hanya sebentar.


"Apa Kak Iel pikir aku ini kambing pemakan sayuran?" tanya Elea sambil menatap wajah suaminya.


Jakun Gabrielle bergerak naik turun dengan cepat. Dia salah bicara ternyata. Sambil menggeret kursi agar bisa duduk berdekatan dengan Elea, Gabrielle pun menjelaskan kenapa dia menyarankan istrinya ini agar memakan banyak sayuran dan juga buah-buahan.


"Sayang, bukan masalah kau itu kambing atau bukan. Akan tetapi buah dan sayuran itu sangat baik untuk tumbuh kembang bayi-bayi di dalam perutmu. Kau juga harus mulai membiasakan diri dengan memperbanyak makan kacang-kacangan. Pokoknya semua makanan yang mengandung banyak gizi, itu sangat bagus untuk kesehatan kandunganmu."


"Oh, begitu ya. Aku pikir Kak Iel menganggapku seperti seekor kambing gara-gara hamil. Aku padahal sudah siap menangis tadi," ucap Elea lega.


Sebenarnya di hadapan Gabrielle dan Elea saat ini ada beberapa orang yang tengah duduk sembari mendengarkan pembicaraan mereka. Akan tetapi baik Gabrielle maupun Elea, mereka berdua acuh saja. Bukan tidak menghargai, tapi mereka memang sengaja melakukannya agar amarah di diri salah seorang dari mereka bisa cepat tersulut kemudian menjerit frustasi.


"Elea, jangan terlalu menuruti kata-kata suamimu. Kau makan saja semua makanan yang kau inginkan. Selama itu tidak membahayakan janin di perutmu, maka tidak usah terlalu membatasinya. Setahuku yang paling di butuhkan oleh ibu hamil adalah suasana hati. Karena setiap rasa yang di rasakan oleh ibu hamil tersebut akan langsung terhubung dengan perasaan si janin. Jadi aku rasa kebahagiaanmu jauh lebih berpengaruh ketimbang memakan banyak sayur dan buah-buahan," ucap Levi yang sudah gatal ingin menimbrung pembicaraan Gabrielle dan Elea.


Begitu Levi bersuara, Elea pun langsung menoleh ke arahnya. "Oh, ada Kak Levi ternyata."


Greg dengan cepat memasukkan makanan ke dalam mulutnya begitu tahu kalau sebentar lagi akan ada gencatan senjata antara istri sah dan si pelakor. Sedangkan Liona, dia hanya diam sambil terus memperhatikan raut berbeda di wajah Levita.


"Karena sekarang kau sedang hamil muda, maka aku akan lebih mengkondisikan suara teriakanku, Elea. Tapi tidak dengan cara begini juga!" ucap Levi dengan suara tertahan. "Dari sebelum kau keluar dari dalam kamar aku dan yang lainnya sudah duduk di sini. Tapi bagaimana bisa kau baru menyadari keberadaan kami sekarang? Kau lawak sekali, Elea. Perutku sampai kram karenanya."


"Pelankan suaramu, Levita. Nanti anak-anakku kaget!" tegur Gabrielle.

__ADS_1


Reinhard dengan cepat menahan tangan istrinya yang ingin melemparkan garpu ke arah Gabrielle. Dia kemudian menggelengkan kepala ke arah Levita yang hendak memprotes kelakukannya.


"Perasaan ibu hamil biasanya sangat sensitif, sayang. Nanti kalau Elea merajuk gara-gara kau menyerang Gabrielle bagaimana? Bisa panjang nanti urusannya," bisik Reinhard tak enak hati pada kedua orangtua Gabrielle yang tengah melihat ke arah istrinya.


"Yang lebih pantas untuk merajuk itu aku, Reinhard. Bukankah kau dengar sendiri tadi bagaimana mereka mengolok-olok kita? Bayangkan saja. Mana ada bayi yang besarnya baru seukuran kacang polong bisa terkejut hanya gara-gara aku bicara dengan suara yang cukup kuat. Aku jamin orang sekelas Albert Einstein pasti akan menganggap hal ini sebagai sesuatu yang sangat mustahil. Benar kan Bibi Liona, Paman Greg?" sahut Levita kemudian melayangkan pertanyaan pada kedua orangtua Gabrielle.


"Hmmm, ini meja makan. Seharusnya kita itu menikmati makanan yang sudah di sajikan oleh para pelayan, bukan malah mendebatkan sesuatu yang tidak penting," jawab Liona mencoba menengahi gencatan senjata antara menantu, anak, dan juga si pelakor.


"Aku setuju dengan Ibu Liona," sahut Elea. "Lagipula kenapa sih kalian berdua selalu bertengkar setiap kali bertemu? Bukankah seharusnya kalian itu akur ya?"


Gabrielle menarik nafas, sedangkan Levi terlihat begitu jengkel saat Elea menuduh mereka sebagai perusuh di sana. Yang benar saja. Pertengkaran antara Gabrielle dan Levita tidak akan mungkin terjadi jika seandainya Elea tidak menjadi kompor meleduk. Entah bagaimana caranya wanita hamil ini dengan santainya malah menuduh mereka seolah-olah mereka adalah biang kerok dari semua ini. Mau marah, tapi ini adalah Elea. Jadi ya sudah, pasrah saja.


"Sayang, ayo cepat makan sarapanmu. Bukankah sebentar lagi kau sudah harus berangkat ke kampus?" tanya Gabrielle sembari menyuapkan sesendok nasi ke mulut istrinya. Dia harus segera menyudahi semua ini sebelum Levita kembali mengomel.


"Tapi, sayang. Anak-anak kit ....


"Jangan di paksakan kalau Elea memang tidak mau memakan sayuran itu, Gab. Biarkan saja. Yang terpenting vitamin dan juga susu untuk ibu hamil jangan sampai telat," ucap Greg menasehati putranya.


"Tapi kalau bayi-bayiku kelaparan bagaimana, Ayah?"


"Kalau mereka lapar mereka pasti akan membuat Elea menginginkan sesuatu. Jadi kau tidak perlu sibuk memikirkan tentang makanan mereka."

__ADS_1


"Paman Greg benar, Gab. Mungkin kau tidak akan percaya kalau aku pernah bertemu dengan ibu hamil yang selama kandungannya berusia satu sampai empat bulan, ibu hamil tersebut sama sekali tidak memakan makanan apapun kecuali apel dan juga ikan kukus. Dan ketika di lahirkan bayi tersebut sangat luar biasa sehat," ucap Reinhard membenarkan perkataan ayahnya Gabrielle. "Jadi pada intinya kau tidak perlu mengkhawatirkan tentang makanan apa yang ingin dimakan oleh Elea. Cukup pastikan saja kalau Elea rutin meminum susu dan juga vitaminnya. Pastikan juga kalau Elea jangan sampai kelelahan karena hal tersebut bisa sangat mempengaruhi kehamilannya. Paham?"


Hah? Reinhard tidak sedang membual kan? Masa iya aku harus membiarkan Elea hanya memakan makanan yang di inginkannya saja. Bayinya kan ada tiga. Bagaimana jika saat lahir nanti ukuran tubuh mereka hanya sebesar anak tikus karena ibunya tidak makan dengan baik? Tidak-tidak. Elea dan bayi-bayinya harus sama-sama sehat. Mereka tidak boleh kekurangan suatu apapun. Titik.


"Gabrielle?" panggil Liona sambil menghela nafas.


"Ya, Bu. Ada apa?" sahut Gabrielle sedikit kaget saat sang ibu tiba-tiba memanggilnya.


"Di sini siapa yang hamil?" tanya Liona.


"Elea."


"Kalau begitu kau jangan terlalu ikut campur dengan makanan apa yang ingin Elea makan," ucap Liona tegas. "Dia yang hamil, dia juga yang merasakan betapa tersiksanya ketika mencium aroma makanan yang membuatnya merasa mual. Dan perkara mengenai kesehatan bayinya, kau tidak perlu cemas. Tuhan menciptakan kami para kaum wanita dengan beribu-beribu keistimewaan. Salah satunya tidak akan mati meskipun kami tidak makan nasi selama masa mengidam. Kau harus percaya akan hal ini, Gabrielle!"


Di saat semua orang tengah menyimak perkataan Liona dengan begitu khidmat, di salah satu kursi ada seseorang yang sudah terhanyut dalam dunia mimpinya. Wanita tersebut tidur dengan kondisi terduduk di mana di dalam mulutnya terdapat nasi yang belum di kunyah. Ya, Elea tidur. πŸ˜…


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


...πŸ€Jangan lupa vote, like dan comment...


...ya gengss...

__ADS_1


...πŸ€Ig: rifani_nini...


...πŸ€Fb: Rifani...


__ADS_2