
Di halaman depan sebuah gedung perbelanjaan, terlihat ada tiga orang laki-laki yang tengah berdiri diam sambil menatap gedung tersebut. Di hadapan mereka ada satu pria yang juga tengah terdiam dengan tatapan bingung, heran, dan juga tak berdaya. Dan pria itu adalah Ares. Dia tidak tahu harus melakukan apa kepada tiga pria yang ada di hadapannya.
"Gabrielle, kau saja yang masuk ke dalam. Biar aku, Reinhard, dan juga Ares yang menunggu di sini," ucap Gleen sambil menghela nafas panjang.
"Kenapa aku? Nania itu kan adik iparmu, seharusnya kau yang pergi menjemput mereka!" protes Gabrielle enggan di perintah.
"Tapi Elea kan istrimu, dan gedung ini juga kan berada di bawah naungan perusahaan Group Ma. Sudah pasti kau yang lebih berhak masuk ke dalam untuk menjemput para wanita hamil itu. Aku sedang malas berpikir, kakiku lelah."
Gabrielle menoleh ke arah Gleen kemudian memicingkan mata. "Gleen, bukankah yang kau pakai untuk berpikir itu otak di dalam kepalamu ya? Lalu kenapa bisa kakimu yang lelah. Pintar sedikit lah kalau kau mencari alasan, membuatku malu saja."
Reinhard dan Ares hanya diam menyimak perdebatan antara Gabrielle dan Gleen. Jujur, saat ini mereka sedang di hantui rasa takut akibat keberadaan Nania di antara istri-istri mereka. Mulut gadis beracun itu terlalu menyakitkan jika di dengar, jadi wajar saja kalau Gabrielle dan Gleen saling menunjuk siapa yang akan masuk ke dalam untuk menjemput para wanita tersebut. Meski Cira tidak ada di sana, nyatanya Ares tetap ikut merasakan ketakutan yang tengah di rasakan oleh para lelaki ini. Ares tentu saja tahu kalau gadis yang bernama Nania itu sebelas dua belas dengan Nyonya-nya. Jadi sebisa mungkin Ares akan menjaga jarak supaya tidak menjadi tumbal kejahatan dari gadis itu.
"Gab, hampir di setiap pertemuanku dengan Nania aku selalu di siksanya. Kali ini tolong mengalahlah. Kau saja ya yang masuk ke dalam. Ya?" ucap Gleen berusaha merayu Gabrielle.
"Tidak mau."
"Memangnya kau tidak khawatir apa kalau di dalam sana ada pria yang sedang menggoda Elea? Istrimu itu kan sangat cantik, aku yakin pria yang melihatnya pasti akan langsung jatuh cinta. Percaya padaku!"
Gabrielle tertegun. Benar juga. Bahkan sekarang kecantikan Elea semakin bertambah saja semenjak hamil. Ini tidak boleh di biarkan. Gabrielle harus secepatnya menjemput Elea lalu membawanya pulang ke rumah. Ya, begini baru benar.
__ADS_1
"Res, begitu aku membawa Elea keluar, pastikan mobil sudah siap. Aku tidak rela kecantikan Elea menjadi konsumsi mata para buaya darat yang bertebaran di luar mall ini!"
"Baik, Tuan Muda!" sahut Ares patuh.
Namun saat Gabrielle baru akan melangkah masuk, dari pintu keluar mall muncullah empat orang wanita yang memiliki kadar kecantikan yang hampir sama. Namun di mata Gabrielle, tetap Elea-lah pemenangnya. Hehehe.
Di tangan wanita-wanita ini ada banyak sekali paperbag dari berbagai macam toko. Dan yang paling mencolok di antara ke empatnya adalah Nania. Ya, gadis yang berpura-pura sedang hamil besar ini muncul dengan membawa barang belanjaan paling banyak daripada yang lain. Ingin heran, tapi ini adalah Elea kedua. Jadi Gabrielle dan yang lainnya memutuskan untuk diam saja. Karena melindungi kesehatan jantung mereka itu jauh lebih baik ketimbang melakukan protes pada gadis yang memiliki back-up paling kuat. Nania dan Elea, mereka adalah ras terkuat yang ada di novel ini. 😅
"Kak Iel, apa kau sudah mandi?" tanya Elea ketika Gabrielle hendak menghampirinya. Perut Elea mulai bergejolak.
"Sayang, aku bahkan hampir menghabiskan satu botol parfum sebelum datang kemari. Tolong bujuk bayi kita lah agar jangan membenciku. Kau tahu kan kalau aku tidak bisa jauh darimu?" jawab Gabrielle dengan tatapan memelas. Sekuat hati Gabrielle menahan keinginannya untuk tidak memeluk wanita yang sudah dirindukannya sejak pagi tadi.
"Bagaimana caraku membujuknya, Kak. Mereka itu kan ada di dalam perutku," sahut Elea bingung.
Gabrielle cengo. Sedangkan yang lainnya ... sudahlah jangan di tanya lagi. Nyawa mereka bahkan hampir berpindah tempat setelah mendengar celetukan Nania yang begitu vulgar. Dan yang membuat mereka semakin syok adalah cara Nania ketika mengatakan hal tersebut. Gadis belia ini sepertinya masih belum paham kalau kata kunjungan yang di maksud oleh Elea adalah kata yang menjurus dalam urusan ranjang. Semacam burung yang menemukan sarangnya.
Ya Tuhan, baru kali ini aku menemui dua wanita polos yang tingkat kebodohannya hampir sama rata. Gabrielle, Gleen. Sebenarnya di belahan dunia mana kalian menemukan kedua wanita ini? Membuat jantungku kaget saja.
Ekor mata Gabrielle langsung tertuju ke arah Reinhard setelah mendengar apa yang dia pikirkan. Gabrielle tidak suka ada yang mengatai istrinya meski di dalam hati. Bagi Gabrielle Elea itu selalu benar, istrinya tidak pernah salah, tapi orang lain lah yang bersalah. Dan ini adalah fakta yang tidak bisa terbantahkan lagi. Namun ketika Gabrielle hendak mengomeli Reinhard, Lusi sudah lebih dulu bersuara.
__ADS_1
"Em, Nania. Bisa bantu Kakak memasukan barang-barang ini ke dalam mobil tidak?" tanya Lusi berusaha mencari cara untuk menjauhkan Nania dari hadapan semua orang. Lusi benar-benar merasa tak enak akan sikap Nania yang terkesan kurang terdidik. Dia sangat takut kalau semua orang akan berpikiran buruk tentang adiknya.
"Tentu saja sangat bisa, Kak Lusi. Kakak sedang hamil, jadi jangan sampai kelelahan ya. Tenang saja, ada aku yang siap siaga menjaga Kakak di manapun berada. Tidak seperti seseorang yang bisanya hanya diam mematung tanpa memiliki inisiatif untuk membantu istrinya!" sahut Nania sembari melayangkan sindiran untuk kakak iparnya. Dia kemudian segera membantu sang kakak menyusun barang belanjaan mereka di dalam mobil tanpa menghiraukan raut keheranan di wajah orang-orang. Bagaimana tidak! Saat ini Nania masih belum melepas kain yang tertanam di balik bajunya. Jadi wajar saja jika orang-orang tersebut berpikir kalau Nania adalah ibu hamil yang sedang di tindas untuk bekerja paksa.
"Mampus kau, Gleen. Memangnya enak di sembur oleh adik ipar sendiri!" ejek Levi sambil tersenyum miring. Dia puas sekali melihat korban kembali berjatuhan setelah beberapa jam terakhir di buat mati rasa oleh kelakuan Nania dan Elea.
"Banyak mulut kau, Levita. Memangnya saat di dalam tadi Nania membiarkanmu bersenang-senang dengan tenang? Pasti tidak kan?" sahut Gleen sedikit kesal mendengar ejekan Levita.
"Ohohoho, kau tentu saja tidak salah, Gleen. Aku bahkan hampir mati suri di tangan Elea dan adik iparmu itu. Untung saja Tuhan masih sayang nyawaku. Jika tidak, aku pasti sudah akan menjadi almarhum saat keluar dari mall ini!"
Gleen dan Reinhard tergelak. Sedangkan Ares, dia hanya menghela nafas. Menurut Ares ini adalah hal yang sudah sangat biasa karena dirinya sudah mati berkali-kali semenjak Tuan Muda-nya mengenal seorang gadis bernama Elea. Dan ketika Gleen ingin kembali berdebat dengan Levita, dia di buat mati berdiri oleh perkataan Nania saat menjawab pertanyaan dari seorang wanita paruh baya.
"Permisi, Nona. Kau sedang hamil besar, tidak baik melakukan pekerjaan seperti ini. Nanti bayimu kenapa-napa."
"Oh, Nyonya tenang saja. Sekalipun aku mengangkat tank lalu memindahkannya ke negara lain, bayi ini akan tetap baik-baik saja. Apa Nyonya ingin tahu alasannya?" tanya Nania sambil tersenyum lebar.
Wanita tersebut pun menganggukkan kepala. Dan sedetik kemudian dia di buat syok dan tercengang kaget ketika wanita hamil di depannya mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya.
"Karena aku hanya hamil kain, Nyonya. Bukan hamil bayi seperti yang kau pikirkan. Sekarang sudah tidak penasaran lagi 'kan?"
__ADS_1
Dan bumi pun berguncang saking stresnya melihat kejadian luar biasa ini. Termasuk juga rombongan para lelaki yang baru mengetahui bahwa di dunia ini ada orang setengil Nania.
*****