
Pagi harinya, di kediaman keluarga Ma suasana terasa begitu mencekam. Bahkan Lan dan Cuwee sampai tidak berani bersuara saking takutnya mereka akan kemarahan sang nyonya rumah yang terlihat sangat tidak bersahabat sejak bangun dari tidur.
"Honey, sudahlah. Kau bisa membuat semua orang mati kaku kalau terus mengeluarkan aura mengerikan seperti ini. Tenang ya?" bujuk Greg sembari mengelus-elus punggung Liona yang tengah menikmati wine sambil menatap lurus ke depan.
"Bagaimana mungkin aku bisa tenang, Greg. Elea pergi malam-malam dari rumah kita dan Gabrielle sama sekali tidak pergi mencarinya. Elea itu sedang hamil kembar tiga, Greg. Bagaimana kalau sampai terjadi hal buruk padanya di luaran sana?" sahut Liona kesal.
"Elea hanya pergi ke rumahnya Jackson, di sana dia tidak mungkin kenapa-napa. Jackson pasti akan menjaganya dengan sangat baik. Kau jangan cemas!"
"Ck. Semua laki-laki sama saja, bisanya hanya menggampangkan apa yang kalian lihat. Awas!"
Setelah mengomeli Greg Liona memilih untuk pergi dari sana. Sebagai seorang ibu, Liona merasa gagal dalam mendidik Gabrielle agar tumbuh menjadi pria yang bertanggung jawab. Bayangkan, hanya mengurus satu wanita saja Gabrielle pun tidak mampu. Liona benar-benar sangat kecewa pada putranya itu.
Di saat yang bersamaan, Gabrielle yang baru saja akan keluar dari dalam lift langsung menelan ludah saat mendapati raut wajah sang ibu yang begitu mengerikan. Gabrielle tahu, ini bencana. Kakinya serasa sangat kaku ketika pandangan sang ibu seakan menggelap begitu menyadari kalau dia masih berada di dalam lift.
"Mau sampai kapan kau menjadi pengecut begini, Gab? Pokoknya Ibu tidak mau tahu. Hari ini juga kau harus membawa Elea kembali ke rumah ini. Jika tidak, maka kau jangan pernah memanggilku Ibu lagi!" teriak Liona penuh emosi. Kali ini kesabarannya benar-benar sudah habis. Liona tidak bisa mentolerir sikap Gabrielle yang begitu santai di saat istrinya yang sedang hamil berada di rumah pria lain.
"Bu, jangan mengambil keputusan sebelum Ibu mengetahui apa yang terjadi sebenarnya!" sahut Gabrielle mencoba membujuk sang ibu supaya tenang dan mau mendengarkan penjelasannya.
"Elea pergi dari rumah ini dan kau sama sekali tidak melakukan apa-apa. Wajar kan kalau Ibu mengamuk padamu?"
Gabrielle menghela nafas. Di melangkah keluar dari dalam lift kemudian memeluk sang ibu yang sedang marah besar. Setelah merasa sedikit tenang, barulah Gabrielle menjelaskan tentang ancaman yang dilontarkan oleh Elea yang mana membuat Gabrielle tidak memiliki keberanian untuk menjemputnya dari rumah Jackson.
"Bu, semalam Elea meminta agar di izinkan pergi ke club Ivory bersama dengan Tora. Dia sedang hamil muda, sudah pasti aku melarangnya pergi ke sana karena khawatir asap rokok bisa mempengaruhi kehamilannya. Elea merajuk, dia menangis dan memilih untuk kabur ke rumahnya Jackson. Awalnya aku ingin ikut pergi, tapi dia mengancam akan tinggal selamanya di sana jika aku berani datang menyusul. Ancaman itu begitu mengerikan, Ibu. Itulah kenapa aku hanya berdiam diri meratapi nasib di rumah. Aku tidak berdaya menghadapi moodnya Elea yang sedang naik turun!" jelas Gabrielle.
"Oh, jadi begitu ya cerita sebenarnya?" tanya Liona langsung merasa bersalah karena sudah salah paham pada putranya. "Gabrielle, maafkan Ibu karena sudah meneriakimu barusan ya. Ibu sangat mengkhawatirkan Elea, Ibu hanya takut dia kenapa-kenapa!"
"Tidak apa-apa, Ibu. Aku tahu Ibu memarahiku karena sangat menyayangi Elea. Tapi sekarang Ibu sudah tidak marah lagi 'kan?" ledek Gabrielle seraya terkekeh pelan.
Liona tersenyum.
__ADS_1
"Apa Elea sudah mengabarimu pagi ini?"
"Hmmm, Ibu. Sebaiknya aku menceritakan apa yang terjadi di rumahnya Jackson sambil kita sarapan saja. Pagi ini ada rapat penting di perusahaan jadi aku tidak boleh telat datang. Tidak apa-apa 'kan?"
"Baiklah."
Gabrielle dengan penuh sayang menggandeng tangan sang ibu lalu mengajaknya pergi ke ruang makan. Dia berpura-pura tidak melihat ketika sang ayah melayangkan tatapan membunuh ke arahnya. Biasalah, pria tua itu sedang cemburu.
"Lepaskan istriku!" teriak Greg.
"Tidak akan. Wanita cantik ini milikku!" seru Gabrielle tak peduli.
"Kurang ajar. Kalau begitu akan aku rebut istrimu!"
"Silahkan saja jika mampu. Aaaa, aku ingatkan padamu kalau mood istriku sedang sangat buruk sekarang. Pastikan jantungmu sedang dalam kondisi sehat jika ingin mendekatinya."
Setelah sampai di ruang makan, Liona segera mengambilkan lauk untuk Greg dan juga Gabrielle. Dia bukannya tidak tahu kalau suaminya sedang cemburu, tapi sengaja Liona biarkan karena sudah sedikit kelewatan. Masa dengan anaknya sendiri Greg cemburu? Masuk akal tidak menurut kalian? Tapi ya sudahlah, toh keadaan ini sudah berjalan sejak Gabrielle dilahirkan ke dunia ini. Jadi mau heran pun Liona rasa itu hanya akan percuma, lebih baik di biarkan saja seperti sekarang. Nanti juga sembuh sendiri.
"Makan, Greg."
"Tidak mau!" sahut Greg merajuk.
"Apa kau ingin aku kabur juga seperti Elea?" ancam Liona seraya mendudukkan bokongnya ke kursi makan. Setelah itu dia mengambil lauk untuknya sendiri.
"Baiklah aku makan!"
Ruang makan itu kini mulai di penuhi dengan suara dentingan sendok yang beradu dengan garpu. Baik Liona, Greg, maupun Gabrielle, mereka bertiga sama-sama fokus dengan makanan masing-masing. Hingga tak lama kemudian datanglah Nun yang muncul dengan kondisi perut sebatas paha di penuhi lumpur.
"Selamat pagi, Tuan Muda, Tuan Besar Greg, Nyonya Besar Liona!" sapa Nun seraya membungkukkan tubuh.
__ADS_1
"Selamat pagi kembali, Nun," sahut Liona dengan cepat. "Kau kenapa? Tubuhmu begitu kotor, menantu dan calon ketiga cucuku baik-baik saja bukan?"
"Nyonya Elea dan kandungannya baik-baik saja, Nyonya. Perihal kenapa pakaian saya kotor adalah karena semalam saya di sulap menjadi bunga oleh Nyonya Elea. Dan pagi ini dokter Jackson baru mendapat izin untuk membebaskan saya," jawab Nun jujur.
Uhuk uhuk uhuk
Greg langsung tersedak begitu mendengar perkataan Nun yang ternyata semalam di tanam hidup-hidup oleh menantunya. Sungguh, baru kali ini Greg menemukan wanita hamil yang moodnya begitu mengerikan. Untung saja tadi dia tidak jadi menyusul. Kalau iya, Greg pasti akan di jadikan bunga juga seperti Nun.
"Oh, ya sudah tidak apa-apa. Yang penting kau masih hidup," ucap Liona yang sebenarnya juga sangat syok mendengar penuturan mutan di depannya.
Nun mengangguk. Dia lalu melihat ke arah Tuan Muda-nya yang tengah menahan diri agar tidak tertawa.
"Tuan Muda, Nyonya Elea meminta agar anda memetik mangga untuknya. Harus tiga dan wajib yang masih setengah matang. Jika terlalu muda, Nyonya bilang itu tandanya anda sudah tidak menyayanginya lagi. Tapi jika terlalu matang, maka itu artinya Nyonya tidak akan pernah kembali ke rumah ini lagi!" ucap Nun menyampaikan pesan genting yang dia bawa.
Kalau tadi Greg yang tersedak setelah mengetahui Nun di tanam hidup-hidup, kini giliran Gabrielle yang tersedak setelah mendengar pesan yang Nun sampaikan. Bayangkan! Bagaimana caranya Gabrielle bisa membedakan mana mangga muda dan mana mangga setengah matang di saat ada ratusan buah mangga yang bergelantungan di pohon dekat danau. Ini gila, benar-benar sangat gila.
"Nun, tolong bantu ak ....
"Maaf, Tuan Muda. Ada alat penyadap di tubuh saya, jadi saya tidak bisa membantu anda kali ini. Mohon anda melakukan semua pesan Nyonya sendirian saja sebelum beliau murka dan kehilangan moodnya!" sela Nun seraya memperlihatkan cahaya merah yang tertempel di dekat kupingnya.
Ares yang baru saja masuk langsung memberi tanda pada Tuan Muda-nya agar langsung pergi ke batang mangga saja. Dia sudah mengatur beberapa penjaga dan juga pelayan agar membantu mencarikan mangga setengah matang yang di inginkan oleh Nyonya mereka.
"Semangat, Gabrielle. Demi ketiga anakmu!" teriak Greg memberikan semangat untuk putranya yang terlihat frustasi.
"Nun, kau bersihkan dulu tubuhmu. Walaupun mutan, kau harus tetap menjaga penampilan!" ucap Liona.
"Baik. Kalau begitu saya permisi dulu, Nyonya, Tuan!" pamit Nun sebelum akhirnya pergi menuju kamar untuk membersihkan diri dan berganti pakaian.
*****
__ADS_1