Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Putri Tidur


__ADS_3

Sreeettt


Tujuh buah mobil sport nampak berhenti berjejer di halaman sebuah sekolah. Para murid yang sebelumnya belum pernah melihat mobil tersebut nampak terheran-heran ketika satu-persatu orang mulai keluar dari sana. Bahkan banyak di antara murid perempuan yang sampai terbengang takjub menyaksikan ke tujuh remaja tampan yang kini tengah berjalan menghampiri sebuah mobil berwarna merah muda yang datang paling akhir.


"Huhh, bahkan mobilnya pun bergerak lambat seperti keong," gumam Cio lirih.


"Bukan lambat, tapi sopirnya yang tidak berani menambah kecepatan karena takut tuan putri kita terbangun," timpal Andreas yang tidak sengaja mendengar gumaman Cio. Sudah biasa.


"Tuan putri apanya. Di mana-mana yang di sebut tuan putri itu berpenampilan anggun dan elegan. Sedangkan Flow, Ya Tuhan ... kalau dia bukan anaknya Paman Gabrielle dan Bibi Elea, aku pasti sudah menjadikannya kain lap di rumahku. Bisa-bisanya ya kau bicara seperti itu, Iyas!"


"Kalaupun benar Flowrence bukan anaknya Paman Gabrielle dan Bibi Elea, apa benar kau masih berani untuk menjadikannya kain lap jika di belakang Flowrence ada Nenek Liona dan Kakek Greg?" tanya Andreas.


Glukkk


Cio sudah tak bisa berkata apa-apa lagi begitu Andreas menyinggung nama nenek paling mengerikan yang pernah Cio kenal. Cio lalu bergeser menjauh dari sisi Andreas karena dia merasa kalau sepupunya ini adalah seorang mata-mata. Kadang Cio merasa kalau Andreas sering bersikap layaknya seorang penjaga karena tak pernah absen untuk membela Flowrence ketika sedang di bully. Membuatnya jadi merasa canggung dan juga kikuk di waktu-waktu tertentu.


"Nona Muda, kita sudah sampai di sekolah!" ucap sopir dengan suara yang sangat pelan. Dia memandang lucu ke arah gadis cantik yang sedang tertidur dengan mulut terbuka lebar.


"Paman, kalau Paman membangunkan putri tidur itu dengan suara yang begitu pelan, sampai para binatang menggelar hari raya mereka sendiri pun Flowrence tidak akan bangun. Percaya padaku!" ucap Karl gemas melihat cara sopir membangunkan adiknya.


"Maaf, Tuan Muda. Nyonya Elea telah berpesan kalau hari ini kita semua harus bersikap halus dan penuh cinta dalam mengurus Nona Muda. Dan sebagai sopir yang telah bertahun-tahun mengantarkan kemanapun Nona Muda pergi, sudah pasti saya tidak akan tega untuk berbicara keras kepadanya. Coba Tuan Muda lihat sendiri, Nona Muda Flowrence begitu menggemaskan ketika sedang tidur begini. Lihatlah!"


Raut wajah Karl langsung berubah masam ketika ingin melihat adiknya seperti yang diminta oleh sopir. Bagaimana tidak! Baru juga dia maju selangkah. Tapi Oliver, Russell, Cio, Reiden, Andreas dan bahkan kakaknya sendiri langsung saling berebut hendak melihat ke dalam mobil. Padahal orang yang pertama kali di tawari adalah dia, tapi kenapa malah ke enam saudaranya yang ambil start lebih dulu. Sialan.


"Dia seperti anak berang-berang ketika sedang tidur dalam posisi seperti itu. Benar tidak, Rei?" tanya Cio sambil terkikik pelan.


"Aku rasa matamu itu sudah rabun, Cio. Jelas-jelas Flowrence itu terlihat seperti putri tidur yang sedang kelelahan setelah bermain dengan teman-temannya," sahut Oliver tak terima Flowrence di katai mirip dengan anak berang-berang.

__ADS_1


"Bermain apa. Dia bahkan sudah dalam kondisi setengah tidak sadar saat kita menggotongnya keluar dari rumah. Lupa atau bagaimana kau, Oli?" ejek Cio enggan kalah. Dia lalu melakukan highfive dengan Reiden ketika melihat Oliver menahan tawa.


Hal berbeda justru di tunjukkan oleh Russell di mana dia hanya diam memandangi Flowrence yang sedang terlelap. Entah kenapa hari ini perasaan Russell terus merasa tidak nyaman. Sejak Russell membuka mata pagi ini, hatinya terus saja di hinggapi perasaan gelisah. Dan ketika melihat Flowrence yang sedang terlelap begini dada Russell tiba-tiba berdebar dengan sangat kuat. Bukan karena perasaannya, melainkan semacam ada rasa kalau akan ada yang terjadi pada Flowrence hari ini.


Tidak mungkin kan Flowrence di bully oleh teman-temannya? Ah, ini mustahil. Tapi jika tidak kenapa aku merasa sangat gelisah ya? Apa yang sebenarnya akan terjadi pada Flowrence?


"Russ, kau kenapa?" tanya Bern yang sejak tadi terus memperhatikan Russell dari samping. Dia merasa ada yang tidak beres dengan diri sepupunya ini.


"Oh, tidak apa-apa. I'm fine," jawab Russell.


"Kata fine yang keluar dari mulutmu sangat bertolak belakang dengan raut wajahmu sekarang. Ada apa? Katakan saja jika memang ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu. Ingat, Russell. Kita semua sudah di peringatkan agar saling menjaga komunikasi dengan baik. Jangan sampi kau melupakan itu atau kita semua akan berada dalam masalah yang sangat besar!" sahut Bern langsung memberikan ultimatum pada Russell. Bern takut kalau sikap aneh Russell berhubungan dengan adiknya.


Sebelum menjelaskan pada Bern, Russell menarik nafas panjang terlebih dahulu. Setelah itu dia mengajak Bern untuk sedikit menjauh karena saudara-saudaranya yang lain mulai berbuat ulah untuk membangunkan Flowrence.


"Bern, aku tidak tahu apakah ini hanya perasaanku saja atau bagaimana. Sejak pagi tadi aku terus saja merasa takut dan gelisah. Dan tadi setelah melihat mata Flowrence yang sedang terpejam, dadaku tiba-tiba saja berdebar dengan sangat kuat. Aku merasa seperti ada sesuatu yang akan terjadi padanya hari ini," ucap Russell.


"Em, cukup masuk akal. Akan tetapi bagaimana cara mereka bisa mengetahui kalau Flowrence bersekolah di sini, Bern? Karena dari yang aku tahu, Flowrence sama sekali tidak menggunakan marga keluargamu saat mendaftar masuk ke sekolah ini. Belum lagi dengan kehidupannya yang sangat jauh berbeda dengan kau dan juga Karl. Apa iya ada seseorang yang mengenali Flowrence sebagai anak bungsu di keluarga Ma?" tanya Russell antara ragu dan juga setuju dengan pemikiran Bern.


"Entahlah. Segala hal bisa saja terjadi bukan jika hati seseorang sudah diliputi keserakahan dan juga kedengkian? Jangankan hanya untuk mencari tahu tentang Flowrence, mencari tahu tentang orang yang sudah lama mati pun mereka sanggup melakukannya jika memang hal tersebut bisa mendatangkan kekayaan dalam hidup mereka," jawab Bern.


Oliver yang melihat Bern sedang berbincang serius dengan Russell pun memutuskan untuk datang mendekat. Dia membiarkan para sepupunya yang lain membangunkan Flowrence yang masih saja terjebak di alam mimpinya.


"Ada apa? Apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya Oliver sambil memegang pundak Bern dan Russell.


"Hanya sedang mengkhawatirkan Flowrence saja," jawab Russell.


"Hmmm, sudah ku duga!"

__ADS_1


Bern menatap sekilas ke arah Oliver. Setelah itu dia melihat ke arah mobil di mana Flowrence akhirnya berhasil di bangunkan. Bern tersenyum. Seserakah-serakahnya dia akan kekayaan yang dimiliki oleh keluarganya, Bern rasa dia tidak akan mungkin sanggup untuk menyakiti adiknya yang menggemaskan itu. Bern memang menginginkan semua aset yang dimiliki oleh Flowrence, tapi bukan berarti itu membuatnya nekad menyakiti adiknya sendiri. Dia kakak yang sangat baik bukan?


"Karena keadaan sedang tidak baik, bagaimana kalau nanti di jam pelajaran terakhir kita semua membolos saja? Hukuman dari membolos kan tidak terlalu mengerikan seperti hukuman jika Flowrence kita terluka. Benar tidak?" ucap Oliver memberi saran. "Lagipula kan sekarang kita semua sedang genting, aku rasa para orangtua akan maklum dengan apa yang akan kita lakukan. Bagaimana?"


"Aku setuju," jawab Russell dengan cepat. Sekolah memang penting, tapi keselamatan Flowrence jauh lebih penting.


"Lalu kau Bern?"


"Kalau Ayah tidak mengancam akan memasungku, aku berniat mendirikan tenda di sini supaya bisa mengawasi Flowrence. Tapi sayang aku tidak mendapat izin!" sahut Bern dingin.


Russell dan Oliver terbengang heran mendengar perkataan Bern. Heran, itu sudah pasti. Beruang kutub ini bisa sampai memiliki pemikiran seperti itu? Luar biasa. Benar-benar moment yang sangat langka.


Sementara itu Flowrence yang kini sudah berdiri di samping mobil nampak kebingungan melihat keberadaan teman-temannya. Kondisi nyawanya yang masih belum berkumpul semua membuat Flowrence belum menyadari kalau sekarang dia sudah sampai di sekolahnya. Bingung, Flowrence akhirnya menoleh ke samping.


"Kak Iyas, mereka itu ruh atau apa? Kenapa ekpresi mereka terlihat aneh sekali?"


"Flow, mereka itu teman-temanmu," jawab Andreas sambil tersenyum. "Kau sekarang sudah berada di halaman depan sekolahmu. Mungkin teman-temanmu heran karena hari ini kau datang ke sekolah dengan di antar oleh ke tujuh kakakmu menggunakan mobil yang sangat bagus. Selama ini kan yang mereka tahu kau adalah seorang gadis miskin, jadi wajar saja kalau sekarang teman-temanmu merasa heran mengetahui siapa kau sebenarnya. Sudah paham?"


Flowrence menggeleng. Setelah itu tanpa berpamitan dia langsung pergi menghampiri teman-temannya. Flowrence lalu menatap Sisil yang sedang terbengang seperti orang tidak sadar.


"Sil, kau belum mati kan? Ayo masuk, sekarang aku sudah punya uang!" ucap Flowrence dengan bangganya.


Bak kerbau yang dicolok hidungnya, Sisil dan teman-temannya yang lain langsung menuruti ajakan Flowrence. Sesekali mereka masih menoleh ke belakang untuk menikmati pemandangan ke tujuh remaja tampan yang kini sedang menyender ke pintu mobil.


Kira-kira Flowrence menemukan ke tujuh remaja tampan itu darimana ya? Aneh.


*******

__ADS_1


__ADS_2