
“Kenapa kau?” tanya Karl sembari menatap Flowrence yang terus bergerak-gerak dalam duduknya. Saat ini Karl berniat mengantarkan adiknya ke perusahaan milik Oliver. Gadis genit ini ingin bertemu dengan calon suaminya. Heh.
“Kak, sekarang adalah tanggal merahku. Rasanya sungguh tidak nyaman,” jawab Flowrence memberitahu sang kakak tentang sesuatu yang sejak tadi terus mengganggu kenyamanannya. Flowrence kini terlihat seperti ulat bulu yang tersiram air panas. Menggeliat sambil sesekali mengangkat bokongnya untuk memastikan kalau bendungannya tidak bocor. Walaupun memakai pengaman yang bersayap, bisa saja kan Flowrence kecolongan?
Sebelah alis Karl terangkat ke atas saat dia mendengar kata aneh yang keluar dari mulut adiknya. Dia tidak paham akan maksud dari kata tanggal merah. Penasaran, Karl pun memilih untuk menanyakan langsung pada Flowrence. “Flow, setahuku tanggal merah adalah hari libur. Sejak kapan kau punya tanggal merah sendiri? Aneh,”
“Ck, kau ini bagaimana sih, Kak. Masa kau tidak tahu apa itu tanggal merah? Bodoh sekali.”
Kata-kata bodoh yang keluar dari mulutnya Flowrence sukses membuat mata Karl terbelalak lebar. Ingin rasanya dia memasukkan gadis ini ke dalam karung lalu membuangnya ke tengah laut. Huh, bisa-bisanya ya Flowrence mengatainya bodoh. Jelas-jelas Karl adalah yang paling pintar di antara Flowrence dan kakak mereka.
“Kak Karl, kalau di suatu hari nanti kita sekeluarga tenggelam, siapa orang pertama yang akan kau selamatkan? Di antara aku, kau dan Kak Bern kan kau yang paling pandai berenang. Jadi siapa yang akan kau tolong?” tanya Flowrence iseng-iseng menelisik kepedulian sang kakak.
“Kenapa tiba-tiba kau bertanya seperti itu padaku, Flow? Dan kenapa juga keluarga kita harus tenggelam. Kurang kerjaan sekali,” sahut Karl balik bertanya. Dia lalu menghentikan mobil saat lampu lalu lintas berubah menjadi merah. Setelah itu Karl menoleh, menatap seksama ke arah adiknya yang tengah menatapnya sambil memanyunkan bibir.
“Kemarin aku menonton sebuah video di ponsel Ibu. Di dalam video itu ada satu keluarga yang terjebak banjir. Lalu saat mereka semua hampir tenggelam, salah satu dari mereka berhasil selamat. Kau tahu tidak Kak siapa yang pertama kali diselamatkan oleh orang yang selamat itu?”
“Mana aku tahu. Kan kau yang menonton videonya,”
“Oh, benar juga ya. Hehehehe,”
__ADS_1
Flowrence menggaruk rambutnya yang tak gatal. Dia lalu menunjuk ke arah lampu lalu lintas yang sudah berganti warna menjadi hijau. Dan ketika mobil kembali bergerak, barulah Flowrence memberitahu kakaknya tentang kelanjut video yang kemarin di tontonnya. “Saat orang itu selamat, yang pertama kali di tolongnya adalah seekor anjing peliharaannya. Dia lebih memilih untuk menolong hewan daripada anggota keluarganya. Menurutmu ini adil tidak, Kak?”
“Tergantung,” jawab Karl asal. Sedetik kemudian dia termenung, merasa agak sedikit paham akan makna dari video yang di ceritakan oleh adiknya.
Jelas orang itu lebih memilih menyelamatkan anjingnya karena dia tahu kalau anjing adalah binatang yang sangat setia. Sedang keluarganya, heh. Bahkan keluarga sendiri terkadang tega menyerang anggota keluarganya sendiri demi kepentingan pribadi. Wajar saja kalau ….
Ciiiittttt
Karl menginjak rem mobilnya dengan kuat hingga menyebabkan kepala Flowrence sampai terantuk ke depan. Dia lalu mengerjapkan mata saat Flowrence menangis sambil memegangi keningnya yang benjol.
“Hikssss, Kak Karl. Apa kau marah gara-gara aku bertanya seperti itu padamu? Jahat sekali. Aku bertanya karena aku bingung kenapa orang itu tidak mau menolong keluarganya sendiri. Kenapa kau malah membuat kepalaku benjol? Kalau Kak Oli sampai tidak mau bertemu denganku bagaimana? Hiksss,” keluh Flowrence sambil mengelus pinggiran keningnya yang membenjol cukup besar. Untung kecantikannya alami tanpa hasil make-up. Jadi sebanyak apapun air mata yang menetes keluar, itu tak membuat wajah Flowrence berubah mengerikan seperti hantu valak.
Dengan raut wajah yang sangat dingin, Karl meminta pada karyawan apotek agar memberikannya alat kompres beserta es batu. Tak lupa juga dia membeli salep untuk menghilangkan luka lebam. Tanpa mengindahkan tatapan memuja dari para wanita yang melihatnya, Karl bergegas kembali masuk ke dalam mobil dan segera menepikannya ke pinggir jalan.
“Apa itu, Kak?” tanya Flowrence sambil memperhatikan kakakknya yang tengah memasukkan es batu ke dalam alat pengompres.
“Batu neraka,” jawab Karl bersungut-sungut. “Sudah tahu ini adalah es batu, kenapa kau masih bertanya sih. Pura-pura buta atau bagaimana?”
Flowrence mengerucutkan bibirnya. Dia lalu mendesis kesakitan saat benjolan di kepalanya di kompres menggunakan bungkusan batu neraka. Bisa kalian bayangkan sendiri bukan betapa panasnya benda itu?
__ADS_1
🤣🤣🤣🤣
“Mendekatlah sedikit agar aku bisa meniup lukanya,” ucap Karl tak tega melihat mata adiknya berkaca-kaca. Sebenci-bencinya Karl pada Flowrence, mereka tetap terikat dalam tekanan perasaan yang sama karena mereka kembar. Jadi melihatnya menahan sakit seperti ini membuat dadanya Karl terasa nyeri.
“Umm, kau ternyata baik sekali ya, Kak. Nah, tiuplah lukanya selama mungkin agar rasa sakitnya bisa segera hilang,” sahut Flowrence dengan polos mendekatkan wajahnya ke depan wajah kakaknya. Dia lalu tersenyum lebar saat kakaknya menatapnya datar. “Sudah, Kak. Ayo tiup.”
“Aku bilang lukanya, Flowrene. Kenapa kau malah menyodorkan wajahmu?” kesal Karl tak habis pikir dengan kebodohan adiknya.
“Ah, maaf. Ck, bodoh sekali aku,” sahut Flowrence merutuki kebodohannya sendiri.
“Baru sadar kalau kau itu bodoh, hah?”
Karl dengan perlahan mengompres benjolan di kepala Flowrence sambil sesekali meniupnya. Sedangkan Flowrence, dia dengan santainya memejamkan mata menikmati perhatian yang jarang sekali dia dapat dari kakak keduanya. Karl yang melihat kelakuan Flowrence pun memilih abai meski ingin sekali dia memencet benjolan di kepalanya.
Setelah dirasa agak membaik, Karl berhenti mengompres kemudian mengoleskan salep ke luka di kepala Flowrence. Dengan penuh perhatian Karl meniupnya lalu meminta Flowrence untuk duduk dengan benar. Setelah itu Karl merapihkan alat-alat yang tadi dia gunakan sebelum akhirnya kembali melajukan mobil menuju perusahaan Oliver. Selama dalam perjalanan, Karl terus saja memikirkan kejanggalan dari ceritanya Flowrence. Entah mengapa dia merasa kalau adiknya ini tengah memastikan sesuatu di dirinya. Semacam kepedulian, mungkin.
Tidak mungkin Flowrence tahu siapa aku kan? Ini mustahil. Tapi jika tidak, kenapa dia tiba-tiba menceritakan hal seperti itu padaku? Aku harus menyelidiknya. Jika dia hanya berpura-pura bodoh, maka aku harus segera membunuh Flowrence secepatnya. Dia tidak boleh merusak semua rencana yang sudah susah payah kubuat. Tidak boleh.
Teman-teman, bisakah kalian bayangkan seperti apa takutnya Flowrence saat mendengar isi pikiran kakaknya? Saat ini, telapak tangannya sudah mengeluarkan keringat dingin akibat Flowrence yang merasa sangat tertekan berada dalam posisi ini. Memang benar tujuannya bercerita bohong seperti itu adalah karena Flowrence yang ingin melihat sejauh mana kakaknya ini menyimpan kebencian. Awalnya Flowrence merasa terharu melihat kepedulian kakaknya. Namun ….
__ADS_1
***