
๐ข๐ข๐ข BESTIE, JANGAN LUPA DUKUNGANNYA YA SUPAYA JOVAN DAN NANIA BISA MENANG DI LOMBA DI YOU ARE A WRITER SEASON 8. OKE ๐๐๐
***
Karl diam membisu menyaksikan video yang sedang terputar di layar televisi. Matanya yang tajam nampak sedikit berkaca, seolah ingin memberitahu udara yang ada di sana kalau sekarang perasaannya sedang terjebak dalam dilema yang begitu besar. Bern dan Amora, sepasang anak manusia yang sebelumnya sudah Karl atur untuk melancarkan rencananya, tiba-tiba saja membuat jantungnya berdenyut nyeri. Melihat kedua orang itu yang terlihat begitu bahagia saat sedang bersenda gurau entah mengapa membuat perasaan Karl menjadi tidak karu-karuan. Jika dulu Karl akan menatap Bern dengan pandangan penuh dendam, sekarang perasaan itu lenyap entah kemana. Yang ada Karl malah berkeinginan untuk membuat kedua orang itu bahagia bersama. Tapi mampukah dia merelakan semua pesakitan yang telah di tanggungnya selama ini? Bern dengan nyamannya tertawa bahagia bersama seorang gadis yang harusnya menjadi titik penghancur hidupnya. Mampukah dia merelakannya? Ini terlalu menyakitkan, tapi sisi nurani Karl seperti tergugah setelah kemarin dia menghabiskan waktu bersama ibunya. Ucapan sang Ibu yang menyebut akan terus mencintai dan juga menemani anaknya yang terlahir dengan karma buruk membuat pertahanan Karl secara perlahan mulai goyah. Sepulang dari sana Karl seperti bukan Karl yang penuh dendam dan juga tipu muslihat. Dia berubah seperti seekor siput yang hanya di bagian kepalanya saja yang keras. Sedang hatinya berubah lembek seperti bubur. Memalukan sekali bukan?
__ADS_1
Praaanngggg
โArggghhhhhhhhh, brengsek! Kenapa aku jadi seperti ini sekarang. Kemana perginya Karl yang dulu. Kemana?!!โ teriak Karl histeris setelah melemparkan asbak ke layar televisi yang masih menyala. Dia lalu menjambak rambutnya dengan kuat, frustasi memikirkan emosinya yang lenyap tak berbekas. โDasar iblis sialan. Kemana perginya kalian hah! Kenapa kalian meninggalkan aku di saat-saat seperti ini? Bukankah selama ini kalianlah yang selalu mendesakku agar menghabisi semua orang yang berhubungan dengan jendral sialan itu. Kenapa sekarang kalian menghilang? Dasar bedebah. Muncul kalian semua. Arghhhhh!โ
Di dalam ruangan yang begitu megah suara teriakan Karl terdengar begitu membahana. Mungkin jika suara tersebut di dengar oleh orang lain, bisa di pastikan kalau orang tersebut akan langsung lari terbirit-birit karena ketakutan. Pikiran Karl yang sedang gundah gulana memaksanya untuk datang ke labolatorium ini. Dia butuh ketenangan. Karena penasaran mengapa Bern bisa membiarkan Amora pergi bersama Flowrence, jadi Karl memutuskan untuk meretas cctv yang ada di rumahnya. Dan begitu rekaman di sambungkan ke layar televisi, Karl langsung disuguhkan pada pemandangan dimana Bern untuk pertama kalinya bisa tersenyum lebar di hadapan seorang wanita. Mengejutkan, tapi hal tersebut tak dipungkiri mampu mendatangkan perasaan asing yang baru pertama kali ini Karl rasakan. Sedetik dia tersenyum, sedetik kemudian dia murung. Lalu di detik selanjutnya Karl emosi, lanjut lagi dengan terpaan rasa kecewa yang begitu besar. Dan sekarang emosi Karl tiba-tiba tersulut saat dia tak mendengar bisikan sesat yang selama ini telah menuntunnya menjadi seorang pria berhati dingin nan kejam.
โIbu, kenapa aku harus terlahir seperti ini? Tolong bebaskanlah aku. Aku tidak ingin melakukannya, aku sayang pada kalian semua. Harus bagaimana sekarang?โ ucap Karl dengan mata memerah. Bukan marah, tapi lebih ke menderita. Sedetik kemudian Karl tiba-tiba terdiam dengan tatapan kosong.
__ADS_1
Setelah pemikiran seperti itu muncul di dalam kepala Karl, dia langsung beranjak menuju salah satu ruangan yang selama ini hanya dia seorang yang boleh masuk. Karl kemudian menempelkan sidik jari tangannya pada satu layar kaca yang tersembunyi di balik sebuah lukisan kerajaan yang tak lain adalah kerajaan yang didiami oleh raja dari Dinasti Ming. Bayangkan. Bertahun-tahun Karl hidup dengan memburu segala hal yang berhubungan dengan Liang Zhu, bahkan lukisan di zaman itu Karl mampu memilikinya. Bisa kalian bayangkan sendiri bukan betapa tersiksanya dia selama ini?
Sreeettttt
Pintu terbuka. Dan pemandangan pertama yang menyambut kedatangan Karl adalah lukisan jendral Liang Zhu yang tengah duduk di atas seekor kuda sambil membawa pedang kesayangannya. Untuk beberapa saat Karl tertegun ketika memandangi lukisan tersebut. Harusnya โฆ harusnya dia merasa bangga karena neneknya merupakan seseorang yang begitu legendaris di zamannya. Namun sayangnya kebanggaan itu harus hilang karena dendam membara yang dibawa oleh arwah-arwah yang mati di tangannya. Takdir sangat mengerikan bukan? Entah berapa tahun silam peperangan itu terjadi, tapi dampaknya masih terbawa sampai sekarang. Dan sialnya Karl yang harus menanggung imbas dari karma yang di perbuat oleh sang nenek.
โJendral Liang Zhu, beritahu aku apa yang harus dilakukan sekarang. Kau begitu kokoh berada di hadapanku, tapi kenapa kau tak mampu membawa karma buruk ini pergi bersamamu? Kenapa harus aku dan kedua saudaraku yang menanggungnya. Salah kami apa, hah!โ geram Karl sambil mengepalkan kedua tangan. Dia lalu tersenyum sinis saat tangannya mengelus pedang yang ada di dalam lukisan. โPedang ini, pedang ini penyebabnya. Kau yang mengayunkan pedang, tapi kenapa harus tanganku yang berdarah? Apa salahku, brengsek!โ
__ADS_1
Lukisan itu diam tak bergeming saat Karl tak henti memakinya dengan kata-kata yang cukup kasar. Andai bisa meminta, orang di dalamnya pasti akan lebih memilih untuk tidak mengorbankan api dendam di dalam hatinya. Andai saja tahu kalau kejadiannya akan seperti ini, dia pasti akan memilih untuk merelakan kematiannya dan juga kematian adiknya. Namun apa mau dikata, Tuhan telah menakdirkannya untuk melewati sebuah reinkarnasi dimana orang ini berpindah waktu dan tinggal di dalam tubuh seorang gadis lemah bernama Liona Serra Zhu. Andai bisa memilih. Namun sayangnya dirinya tak mampu melawan kehendak Tuhan. Dan semua kisah ini berawal dari luapan dendam yang disertai dengan sumpah ketidakrelaan seorang Liang Zhu. Untuk para pembaca yang budiman, ada kalanya hati kita diliputi satu amarah yang tidak tertahankan. Akan tetapi betapa baiknya jika kita bisa menjaga lisan serta belajar ikhlas untuk memaafkan. Walaupun perih dan juga sakit, tapi jauh lebih baik kita sendiri yang merasakan. Kenapa demikian? Contoh saja kisah hidup Liang Zhu. Dia yang tidak terima akan kematian sang adik tanpa sengaja membawa ruhnya datang ke sebuah kehidupan yang tidak seharusnya dia jalani. Liang Zhu bukan melawan takdir, hanya saja Tuhan tengah memperingatkannya bahwa yang hidup pasti akan mati. Entah itu manusia yang baik ataupun jahat. Dan kini Liang Zhu hanya bisa menyesali kekerashatiannya dulu karena karma dari perbuatannya kini harus para cucunya yang menanggung. Ingatlah para bestie, sejahat apapun perbuatan orang lain jangan kita balas dengan kejahatan yang sama pula. Karena pada akhirnya kita akan tetap menerima karma meskipun yang kita lakukan sekedar untuk membalas mereka yang jahat saja. Mungkin ini hanya novel biasa, tapi penulis berusaha menyampaikan betapa pentingnya kita untuk menjaga omongan agar di suatu hari nanti kita tidak perlu merasakan penyesalan. Contohlah kisah tokoh-tokoh yang ada di novel ini, terutama karakter Liang Zhu. Darinya ada banyak sekali pelajaran yang bisa kita ambil. Semoga saja para pembaca bisa merasakan pesan moral yang terkandung di dalamnya. Amiinnn. ๐๐๐๐
***