Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Rahasia Flowrence


__ADS_3

"Tuan Muda, ini informasi yang anda minta!"


"Apa kalian berhasil menemukan tempat tinggalnya?"


"Iya, Tuan Muda. Setelah kejadian itu dia sempat lupa ingatan dan dirawat secara pribadi oleh keluarganya. Itulah kenapa kita sempat kehilangan jejaknya beberapa tahun lalu."


"Culik, sekap, dan paksa dia agar mau mengatakan apa yang sebenarnya terjadi malam itu. Setelah itu bius. Jangan biarkan dia bangun sampai aku sendiri yang memerintahkan dia untuk sadar!"


"Baik, Tuan Muda."


***


"Ayah, Ibu. Kenapa sih Kak Bern dan Kak Karl tidak tinggal lagi dengan kita?" tanya Flowrence yang kini tengah berbaring di pangkuan sang ibu. Sementara ayahnya sendiri duduk sambil meletakkan tangannya ke pundak ibunya. Mereka manja sekali bukan?


"Karena mereka sudah dewasa, sayang. Makanya Kak Bern dan Kak Karl lebih memilih untuk tinggal di rumah milik mereka sendiri," jawab Elea. "Tumben sekali kau menanyakan hal ini. Ada apa, hem?"


"Tidak kenapa-napa sih, Bu. Aku hanya merasa kesepian saja karena di rumah tidak ada mereka lagi. Kan biasanya Kak Bern dan Kak Karl selalu menemaniku bermain bersama Tola. Aku sekarang sering merasa kesepian, Ibu."


Gabrielle dan Elea saling melempar pandangan mendengar keluhan putri mereka. Lucu, juga menggemaskan. Bahkan sampai detik ini Flowrence masih belum bisa memanggil Tora dengan benar. Selalu saja Tola Tola Tola dan Tola. Hemmmm.

__ADS_1


"Kalau kau merasa kesepian, kau main saja ke rumah Ayah Jackson. Mereka pasti akan senang sekali kalau kau datang berkunjung," ucap Gabrielle memberikan solusi untuk putrinya menghilangkan rasa sepi.


"Ayah Jackson dan Ibu Kayo tidak asik, Ayah."


"Ha? Tidak asik? Tidak asik bagaimana maksudnya?"


"Setiap kali aku meminta sesuatu, mereka pasti akan langsung mengabulkannya. Kan tidak seru," ucap Flowrence kembali mengeluh.


"Ya ampun, Flowrence. Mereka seperti itu karena mereka sayang padamu. Coba kalau tidak sayang, Ayah Jackson dan Ibu Kayo pasti tidak akan memberikan apa yang kau minta. Paham?" sahut Elea sembari memencet ujung hidungnya Flowrence. Ada-ada saja putrinya ini.


"Ibu Levita juga sayang padaku, Bu. Tapi Ibu Levita tidak pernah bersikap seperti mereka. Setiap kali aku meminta sesuatu padanya, Ibu Levita pasti akan langsung mengajakku merampok dulu sebelum membelinya. Entah itu merampok Ayah dan Ibu, atau merampok Kak Oli dan Ayah Reinhard. Pokoknya Ibu Levita selalu mengajarkan aku kalau mendapatkan sesuatu itu tidak ada yang mudah. Harus bersakit-sakit dahulu baru bersenang-senang kemudian. Begitu!"


"Aduhh aduhh aduhhh. Ayah, Ibu. Aku pergi ke toilet dulu ya. Sepertinya tempat parkir di dalam perutku sudah penuh!" ucap Flowrence langsung bangun sambil memegangi perutnya.


Tanpa menunggu jawaban dari Ayah dan Ibunya, Flowrence lari terbirit-birit sambil memegangi bagian belakang celananya. Dia takut ada kendaraan yang memaksa keluar.


Flowrence-Flowrene. Ayah rasa Ayah dan Ibumu bisa mati jika kakakmu sampai tega mencelakaimu. Ya Tuhan, semoga saja takdir buruk ini tidak terjadi pada keluargaku. Aku tidak rela jika harus melihat putri kesayanganku terluka. Sungguh.


Di dalam kamar mandi, Flowrence tampak meneteskan air matanya begitu duduk di atas kloset duduk. Dan apa kalian tahu penyebab mengapa Flowrence menangis? Bukan. Flowrence menangis bukan karena parkirannya jebol, tapi dia menangis karena mendengar sebuah suara yang berasal dari pikiran ayahnya. Ya, kalian benar. Sejak kecil Flowrence sudah menyadari kalau ada yang berbeda dengan dirinya. Awalnya Flowrence berniat untuk memberitahukan keistimewaan ini pada keluarganya. Akan tetapi setelah dia mengetahui fakta mengejutkan tentang salah satu kakaknya, Flowrence memutuskan untuk merahasiakan kelebihan ini dari semua orang. Flowrence juga dengan terpaksa bersikap layaknya anak yang mengalami keterbelakangan dalam berpikir demi untuk melindungi diri dari kekejaman sang kakak. Ya, yang kalian semua pikirkan sangatlah benar. Selain mampu mendengar isi pikiran orang lain dari jarak yang cukup jauh, Flowrence juga memiliki kemampuan aneh lainnya. Yaitu menerawang apa yang akan dia alami dan mampu melihat arwah-arwah mengerikan yang datang dari masa lalu. Sebenarnya Flowrence sangat amat tertekan dalam menjalani hari-harinya yang berat ini. Namun dia berusaha tabah karena ada sesosok orang asing yang telah menjanjikan padanya kalau segala kelebihan yang Flowrence miliki akan hilang setelah perhitungan karma itu selesai dijalani oleh keluarganya. Dan satu fakta lagi yang tidak di ketahui oleh siapapun. Flowrence, dia telah melihat rupa dari seseorang yang membawa karma untuk keluarganya. Flowrence juga sudah tahu siapa di antara kedua kakaknya yang benar-benar adalah orang jahat. Namun Flowrence berusaha menyembunyikan semuanya karena tak ingin keluarganya tahu kalau Flowrence tidak sepolos yang mereka kira. Biarlah penderitaan ini dia tanggung sendiri. Selama Oiver ada bersamanya, Florence yakin dia pasti kuat.

__ADS_1


"Hikssss, Ayah, Ibu. Tolong maafkan aku yang tidak berdaya ini. Aku sungguh tidak bisa memberitahu kalian siapa jendral itu dan siapa di antara Kak Bern dan Kak Karl yang terlahir dengan menanggung karma buruk itu. Aku serba salah Ayah, Ibu. Mereka semua adalah orang-orang yang sangat aku sayang, dan pengakuanku bisa memecah belah hubungan keluarga kita jika kalian sampai tah siapa pembawa karma itu. Aku tidak mau hal mengerikan itu sampai terjadi Ayah, Ibu. Hikssss," ujar Flowrence sambil terisak lirih. Rasanya sungguh sangat sakit terjebak dalam situasi seperti ini. Dia butuh pelindungnya. "Apa aku telpon Kak Oli saja ya? Tapi aku sedang di dalam kamar mandi sekarang. Kira-kira Tuhan melihat apa yang sedang aku lakukan tidak ya?"


Mungkin karena sudah terbiasa bersikap bodoh, suasana hati Flowrence bisa berubah dengan cepat. Terbukti dengan dia yang baru saja menangisi keluarganya, langsung berubah semringah begitu menyebut nama Oliver. Flowrence bagaikan memiliki dua kepribadian ganda. Yang satunya bodoh, sedang yang satunya lagi hampir mengetahui semua tentang keluarganya. Jika kalian ada di posisinya Flowrence, kira-kira apa yang akan kalian lakukan? Bunuh dirikah, atau berusaha menjadi orang paling bodoh di dunia agar tidak ada yang tahu kalau kau itu sebenarnya sangat istimewa? Tolong tulis pendapat kalian di paragraf ini ya teman-teman.


Setelah kendaraan yang parkir di dalam perut keluar semua, Flowrence pun kembali menghampiri Ayah dan Ibunya. Karena tadi di dalam toilet dia menangis, matanya jadi terlihat sembab dan ujung hidungnya jadi memerah. Dan hal ini ternyata di sadari oleh ibunya karena begitu Flowrence duduk, pipinya langsung di elus oleh sang ibu yang menatapnya penuh rasa khawatir.


"Sayang, kau menangis?" tanya Elea kaget melihat keadaan putrinya.


"Flow, apa yang terjadi? Cepat beritahukan pada Ayah dan Ibu!" cecar Gabrielle tak kalah kaget melihat jejak air mata yang tertinggal di pipi putrinya.


"Iya tadi aku menangis saat berada di dalam kamar mandi," jawab Flowrence dengan jujur.


"Ya ampun, sayang. Kenapa bisa begitu sih. Memangnya apa yang terjadi di dalam kamar mandi sampai kau bisa menangis seperti ini, hm?"


"Ibu, tadi saat aku sedang mengeluarkan kendaraan yang parkir di dalam perutku, ada paman kecoa yang memelototiku sambil duduk di pojokan. Aku takut. Jadi sepanjang aku mengeluarkan beban dari dalam perutku, aku terus saja menangis sambil terus bertatap-tatapan dengan paman kecoa. Matanya besar sekali. Aku sungguh sangat takut Bu, Ayah."


Gabrielle dan Elea? Lebih baik kalian jangan membayangkan seperti apa ekpresi mereka sekarang. Pokoknya jangan di bayangkan. Oke? 🤣🤣🤣🤣🤣


***

__ADS_1


__ADS_2