
Di pagi hari, Levi bangun dengan wajah bersinar terang mengalahkan sinar matahari. Dia tengah berbunga-bunga setelah semalam pinangan Reinhard di terima oleh kedua orangtuanya. Sambil bersenandung, Levi membersihkan tubuhnya di kamar mandi. Pagi ini dia berniat mengantar teman kecilnya berangkat ke kampus.
"Hehehe, Elea pasti akan sangat sedih jika tahu kalau Ayah dan Ibu sudah menerima lamaran Reinhard. Dengan begini aku bisa menggunakan kesedihannya untuk berbelanja tas keluaran terbaru. Yuhuu... pelakor is coming, Elea!!!"
Mungkin bagi sebagian orang ada yang banyak menganggap kalau Levi terlalu kejam karena terus memeras harta kekayaan Elea. Namun sebenarnya hal itu dia lakukan karena Levi terlalu mencintai setiap waktu yang dia habiskan bersama istrinya Gabrielle itu. Sejak SMA Levi selalu kesepian, hidupnya di kelilingi oleh orang-orang yang hanya mengincar uang dan statusnya sebagai seorang model. Dia bahkan harus menutupi rasa rapuh dan lelahnya dengan berpura-pura menjadi gadis kuat yang tahan banting. Padahal jauh di lubuh hatinya yang terdalam, dia sangat membutuhkan sandaran. Levi butuh seseorang yang bisa memberinya suntikan vitamin untuk hidupnya yang terluka. Dan obat itu baru dia dapatkan ketika tidak sengaja menampar seorang pelayan bertubuh kecil di restorannya Gabrielle. Sejak saat itu Levi seperti menemukan dunia baru. Untuk pertama kali dalam hidupnya Levi bersedia mendatangi lokasi kumuh tempat Elea tinggal, juga beradu mulut dengan bibi jelek yang mengaku bahwa dirinya adalah wanita paling cantik di sana. Pokoknya tidak terhitung sudah seberapa banyak hal baru yang telah Levi rasakan semenjak mengenal Elea. Dan Reinhard adalah yang terindah. Mungkin jika saat itu Ares tidak membawanya ke rumah Gabrielle, sampai detik ini Levi masih belum soldout. Karena di mata para pria, Levita Foster adalah sosok yang menyebalkan dan juga angkuh. Itulah mengapa selama ini dirinya tak pernah menjalin hubungan dengan pria manapun. Image yang terlalu buruk bukan? Tapi tenang saja, itu tidak sepenuhnya benar karena sesungguhnya Levi adalah wanita yang sangat cengeng dan juga manja. Dia menjadi sedikit bar-bar hanya untuk melindungi diri dari rasa kesepian.
"Sayang, kau mau kemana? Ini masih terlalu pagi untuk datang ke kantor," tanya Lolita sambil menahan tangan putrinya yang ingin pergi.
"Aku mau ke rumahnya Gabrielle dulu, Bu. Ini adalah hari kedua Elea masuk ke kampus, dan aku berniat mengantarnya," jawab Levi.
"Memangnya di rumah Gabrielle tidak ada sopir ya sampai-sampai kau yang harus mengantarkan Elea pergi ke kampus?"
Lolita menatap lekat ke arah putrinya yang akan selalu seperti ini jika sudah menyebut nama istrinya Gabrielle. Dia kadang sampai merasa heran sendiri.
"Ada atau tidak ada sopir di rumah Gabrielle aku akan tetap pergi menemui Elea. Dia adalah adikku, Bu. Dan sudah sepantasnya seorang kakak memberikan perhatiannya," ucap Levi sedikit kurang suka dengan jawaban sang ibu.
"Sudahlah, sayang. Biarkan Levita pegi ke rumahnya Elea. Kau jangan menghalang-halangi," timpal Samuel ikut berbicara.
"Tapi Sam, dia ....
Samuel menggelengkan kepala. Dia lalu memberi isyarat pada putrinya untuk segera pergi sana. Levi yang merasa senang pun langsung berlari mencium pipi ayahnya. Dia suka jika keinginannya bisa di pahami dengan cepat.
__ADS_1
"I love you, Ayah," bisik Levi sebelum akhirnya pergi melarikan diri.
Lolita nampak masam ketika dirinya tidak mendapat cium perpisahan dari sang putri. Samuel yang sadar kalau istrinya merajuk pun segera memeluknya. Pagi ini sungguh indah. Indah karena bisa melihat putrinya bahagia dan juga melihat istrinya yang merajuk. Sesuatu yang sudah sangat lama tak pernah Samuel rasakan.
"Sayang, Levita sebentar lagi akan menikah. Biarlah dia melakukan apa yang dia mau."
"Aku tahu, Sam. Tapi apa iya harus menjadi sopirnya Elea? Gabrielle kaya raya, mengapa juga harus putriku yang mengantarkan istrinya pergi ke kampus? Seperti sudah jatuh miskin saja," sahut Lolita masih merasa tak rela.
"Bukan masalah kaya atau tidak, Lolita. Ingat tidak kalau Levita pernah berkata bahwa Elea adalah cahaya dan juga selimut yang datang dalam hidupnya yang kesepian? Di mata Levita istrinya Gabrielle itu lebih berharga daripada kita. Gadis muda itu bisa membawa kebahagiaan di hidup Levita yang tidak pernah dia rasakan dari kita. Kau jangan sampai melupakan fakta ini!" ucap Samuel mengingatkan.
Lolita tertegun saat mendengar ucapan sang suami. Benar, untuk sesaat dia melupakan fakta kalau Elea memiliki arti yang sangat besar di hidup putrinya. Dia jadi posesif begini karena terbawa perasaan setelah Reinhard melakukan lamaran. Bukannya apa, Lolita hanya ingin menghabiskan waktu lebih lama dengan putri semata wayangnya itu. Dan jujur saja ada kecemburuan besar di dalam hatinya ketika Levita lebih mementingkan pergi ke rumah orang lain di bandingkan sarapan pagi bersama dia dan juga suaminya. Dia ibu yang sangat menyedihkan bukan?
"Jika Levita menolak?" tanya Lolita pelan.
"Maka kita yang akan ikut kemanapun mereka akan tinggal. Putri kita sangat suka berbuat seenaknya, apa salahnya jika sesekali kita mencontoh sikap buruknya itu? Ya anggap saja ini adalah hiburan di hari tua kita. Dan aku yakin seorang Levita Foster yang bar-bar tidak akan sejahat itu pada orangtuanya."
Setelah berkata seperti itu Samuel dan Lolita sama-sama tertawa. Ya, jalan satu-satunya supaya bisa terus berada di dekat putri mereka hanyalah menebalkan muka. Kemungkinan terburuk jika mereka memaksakan kehendak mungkin hanya mendapat omelan dan kata-kata pedas setiap hari. Ya sekalian saja untuk latihan gendang telinga mereka, hehehe.
Sementara itu di jalan, Levita yang terlihat begitu bahagia tidak henti-hentinya menyenandungkan lagu cinta. Sesekali dia juga melirik ke arah kaca untuk memastikan kalau kecantikannya tetap yang paling sempurna.
"Hehe, pantas saja Reinhard begitu tergila-gila padaku. Rupanya karena wajahku selalu menampakan cahaya yang terang benderang. Aura seorang gadis bangsawan begitu melekat kuat di tubuhku. Huh, kau sungguh wanita yang sangat luar biasa, Levita!" ucap Levi memuji dirinya sendiri.
__ADS_1
Mungkin karena masih pagi, jalanan di Negara N belum terlalu ramai. Hal ini membuat mobil Levita bisa melesat cepat hingga tak berapa lama dia akhirnya sampai di depan pintu gerbang rumahnya Gabrielle. Sambil menunggu penjaga membukakan pintu, Levi kembali memeriksa penampilannya. Kali ini dia harus menjadi pemenang karena di dalam nanti dia akan bertemu dengan saingan beratnya.
"Cuwee, jangan pikir dengan bulumu yang putih bersih itu kau bisa merebut perhatian Elea, ya. Kau itu hanya pendatang baru, pesonamu tidak akan mampu untuk mengalahkan pesona pelakor senior sepertiku," gumam Levi dengan mata menyala-nyala.
Begitu pintu gerbang terbuka, Levi segera melajukan mobilnya untuk masuk ke dalam. Matanya yang tajam langsung menatap sengit ke arah Cuwee yang tengah ditarik oleh penjaga. Cuwee yang melihat kedatangan sang musuh hanya cuek-cuek saja. Dia dengan santai duduk di atas rerumputan sambil menatap datar ke arah mobil dimana kini terlihat satu hari tengah yang di arahkan padanya.
"F*uck you Cuwee-Cuwee!" umpat Levi sambilmenggerakkan mulutnya tanpa suara.
πππππππππππππππππ
Salam dari mbak pelakor dan dokter tampan
...πJangan lupa vote, like, dan comment...
...ya gengss...
...πIg: rifani_nini...
...πFb: Rifani...
__ADS_1