Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Kutukan Tuhan


__ADS_3

Plaaakkkk


"Dasar bodoh. Bagaimana bisa kau tidak tahu kalau Tuan Muda Gabrielle sudah menikah hah? Astaga Altez. Susah payah kami mendidikmu agar tumbuh menjadi gadis pintar dan hebat, tapi kenapa kau malah menyeret keluarga kita ke jurang kehancuran? Di mana kau meletakkan otakmu, hah!"


Altez tergugu sambil memegangi pipinya yang baru saja di tampar oleh ayahnya. Kaget, itu sudah pasti. Selama ini Altez selalu di perlakukan bak seorang ratu di keluarganya. Tapi gara-gara seorang wanita brengsek, sekarang dia jadi harus merasakan betapa panasnya pukulan tangan sang ayah. Dendam. Ya, Altez sangat mendendam pada wanita yang bernama Elea. Dia kemudian menjawab pertanyaan ayahnya sambil mengepalkan tangan menahan amarah.


"Pertama aku ingin memberitahu Ayah kalau aku sangat kecewa atas apa yang baru saja Ayah lakukan kepadaku. Kedua, aku rasa tidak hanya kita yang tidak tahu kalau Tuan Muda Gabrielle sudah menikah dengan Elea. Kalau saja sebelum ini aku tahu hubungan mereka yang sebenarnya, aku tidak akan sudi mengikuti keinginan kalian yang begitu menggebu ingin bekerja sama dengan Group Ma. Kalian bahkan mencuci otakku agar aku bersedia menggoda Gabrielle lalu menjebaknya ke dalam suatu ikatan pernikahan!"


Jeda sejenak.


"Jadi, Ayah. Di sini yang salah bukan hanya aku, tapi kalian juga! Gara-gara ide sesat kalian aku harus rela kehilangan harga diri di hadapan Gabrielle. Dan lihat sekarang, nasib keluarga kita berada di ujung tanduk. Tapi kenapa hanya aku yang di kambinghitamkan? Hah? Ayah bahkan tega berlaku kasar pada satu-satunya anak yang Ayah punya. Ini tidak adil, Ayah. Ini sangat tidak adil untukku!" teriak Altez penuh kekecewaan.


Kedua orangtua Altez diam tertegun melihat Altez yang menangis sesenggukan di hadapan mereka. Menyesal, itu yang mereka rasakan. Karena keserakahan mereka, tanpa sadar mereka telah menggiring Altez menuju jurang kehancurannya sendiri. Sadar kalau perbuatan mereka sudah sangat keterlaluan, keduanya segera mendekati Altez yang sedang menangis sambil memegangi pipinya yang memerah. Dada mereka sesak.


"Sayang, maafkan Ayah ya. Ayah salah, Ayah menyesal sudah menamparmu tadi."


"Hiksss, aku tidak tahu kalau Tuan Muda Gabrielle sudah menikah, Ayah. Kalian sendiri tahu bukan kalau selama ini tidak pernah ada kabar yang menyebutkan kalau dia sedang berkencan dengan seorang gadis? Hiksss, bohong kalau aku tidak tertarik pada pria sesempurna Gabrielle, Ayah. Aku wanita normal, sudah pasti menginginkan pria yang sepadan untuk di jadikan teman hidup sepertinya. Tapi jika itu suami orang, aku tidak mau. Harga diriku terlalu mahal untuk di hancurkan hanya demi menjadi seorang pelakor. Aku masih waras untuk tidak melakukan hal sehina itu. Tapi kenapa kalian tega menyalahkan semua yang terjadi hanya kepadaku? Bukankah kalian sendiri yang mengarahkan aku agar mau mendekati Gabrielle? Harusnya kalian tidak begini padaku!" sahut Altez sambil menangis terisak. Hatinya sakit sekali.


"Iya, Ayah khilaf. Maafkan Ayah ya, Nak. Kami yang egois, kamilah yang salah. Sudah ya jangan menangis lagi. Setelah ini Ayah akan langsung pergi ke kediaman Nyonya Liona untuk memohon agar Tuan Muda Gabrielle tidak menyebarkan rumor buruk tentangmu. Tidak apa-apa kita gagal bekerja sama dengan perusahaan mereka, Ayah bisa terima. Yang terpenting kau tidak bersedih lagi. Ya?"


Masih sambil menangis Altez akhirnya menganggukkan kepala. Dia lalu masuk ke dalam pelukan ibunya, menumpahkan segala kekecewaan dan juga kesedihan di dada wanita yang telah melahirkannya.


Drrrttt ddrrrtttt


Pandangan semua orang langsung teralih ke atas meja saat ponsel milik Altez bergetar. Penasaran, Altez segera melepaskan pelukannya kemudian mengambil ponsel untuk melihat siapa yang menelpon.

__ADS_1


"Nomor siapa ini?" gumam Altez lirih.


"Siapa yang menelpon?"


"Entahlah, Bu. Aku tidak mengenal nomor ini."


"Angkat saja. Siapa tahu itu telfon penting dari salah satu klien di perusahaan."


Altez mengangguk. Dia lalu menggeser tombol hijau kemudian menempelkan ponselnya ke sisi telinga.


"Halo?"


Tidak ada jawaban. Altez mengerutkan kening, bingung karena yang dia dengar hanyalah suara tarikan nafas seseorang.


"Halo. Siapa ini?" tanya Altez lagi.


Nafas Altez sedikit tertahan begitu dia tahu dengan siapa dia sedang berbicara. Sambil mengeratkan pegangan di ponselnya, Altez pun bertanya apa maksud Elea menelponnya.


"Mau apa lagi kau menghubungiku? Apa masih belum puas juga setelah mempermainkan aku dengan menutupi pernikahanmu dengan Gabrielle?"


"Nona Altez, kau dan aku itu sama-sama terlahir sebagai seorang wanita terhormat. Meski kita di takdirkan sebagai kaum yang lemah, tapi kita tidak boleh sampai kalah dalam mempertahankan hak-hak milik kita. Contohnya seperti apa yang aku lakukan pada rumah tanggaku. Kau coba mengusik suamiku, dan aku mempertahankannya dengan cara menekan reputasi keluargamu. Tapi jika kau masih kekeh ingin menggoda suamiku, maka aku tidak akan sungkan untuk melakukan sesuatu yang jauh lebih buruk dari pada ini. Pisau di takdirkan untuk akrab di tangan para wanita. Kau pasti tahu bukan apa maksud pepatah ini?"


Tangan Altez terkepal kuat menyadari kalau Elea sedang mengancamnya. Dia menggeretakkan gigi, geram karena tak memiliki celah untuk membalas kata-kata yang Elea lontarkan. Ya, Altez sangat amat tertohok oleh kata pepatah yang menyiratkan kalau nyawanya akan berada dalam bahaya jika Altez masih tetap nekad mendekati Gabrielle.


"Elea, apa kau sedang mengancamku?" tanya Altez yang sudah kehabisan bahan untuk bicara. Dia mati kutu gara-gara kata pepatah tadi.

__ADS_1


"Aku akan langsung membunuhmu kalau kau tidak mendengarkan peringatanku, Nona Altez. Dan jangan anggap kata-kataku sebagai ancaman karena aku pasti akan melakukannya begitu kau melangkah melewati garis pembatas yang sudah aku buat. Ingat ini baik-baik, Nona Altez. Bahkan Tuhan-pun mengutuk para wanita yang merusak keutuhan rumah tangga milik orang lain. Itu artinya aku berhak untuk menghabisimu kalau kau tetap tidak sadar diri akan hal ini. Kau adalah wanita yang cantik dan berpendidikan. Aku yakin kau tidak akan mau merendahkan harga dirimu hanya untuk mencuri barang bekas milik orang lain. Renungkanlah, agar hidupmu tidak di kutuk oleh Tuhan!"


Tubuh Altez langsung luruh ke lantai begitu Elea memutuskan panggilan. Lemas, benar-benar sangat lemas. Tulang di tubuh Altez seperti di lolosi paksa saat dia mendengar betapa hinanya harga diri seorang wanita yang berani merusak rumah tangga orang. Sungguh, Altez sama sekali tidak mengetahui hal ini sebelumnya. Di kutuk Tuhan, astaga. Semengerikan inikah nasib dari seorang pelakor?


"Sayang, ada apa? Siapa yang tadi menelponmu?" tanya Ibu Altez panik.


"Bu, aku tidak mau menjadi wanita yang merusak rumah tangga orang lain, Bu. Aku tidak mau di kutuk Tuhan. Aku tidak mau, Ibu!" teriak Altez histeris. Dia kena mental sendiri setelah bicara dengan Elea yang entah kenapa terasa seperti orang yang berbeda. Gaya bicaranya sangat dingin, menusuk, dan juga mematikan. Membuat Altez benar-benar mati kutu dan tidak berdaya.


"Ya ampun, Altez. Kau ini kenapa sebenarnya, hm? Apanya yang di kutuk Tuhan?"


"Elea bilang Tuhan sangat amat mengutuk para wanita yang suka merusak rumah tangga orang. Aku tidak mau seperti itu, Ibu. Aku bukan wanita hina yang suka mencuri barang bekas milik perempuan lain. Aku tidak begitu, Ibu. Aku takut!"


Altez kembali menangis saat ucapan Elea terus terngiang di telinganya. Dia kemudian menghambur ke pelukan ibunya dalam kondisi tubuh yang gemetaran. Sungguh, Elea sangat mengerikan. Dia kapok mencari gara-gara dengan perempuan mungil itu. Altez jera.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


GENGSS.... NOVEL TENTANG GERALD SUDAH UP YA. DI SANA ADA GIVEAWAY, SILAHKAN KALIAN BACA SENDIRI PERATURANNYA. OH YA, KARENA MASIH BARU JUDUL NOVELNYA PASTI BELUM MUNCUL DI PENCARIAN. KALIAN LANGSUNG KLIK SAJA DI BIO EMAK YA.



...πŸ€Jangan lupa vote, like dan comment...


...ya gengss...


...πŸ€Ig: rifani_nini...

__ADS_1


...πŸ€Fb: Rifani...


__ADS_2