
"Kak Lusi, ambil sepatu yang bergambar burung puyuh itu saja, Kak. Keponakanku pasti akan sangat menyukainya nanti!" ucap Nania sembari menunjuk ke arah rak sepatu. Matanya bersinar terang ketika tak sengaja melihat sepasang sepatu mungil bergambar burung kecil-kecil.
"Hei, Nania. Calon keponakanmu itu bukan berasal dari klan burung puyuh ya. Sembarangan saja kau menamainya!" protes Levi sambil terus meramalkan kata amit-amit amit-amit dalam hati. Sekuat hati dia berusaha untuk tidak membenci bocah tengik yang sudah meledak-letuskan pertahanan emosinya.
"Ishhh, isshh, isshhh. Kalau iri bilang saja, Kak Levi. Tidak perlulah sampai berteriak seperti ini. Itu namanya penyakit hati."
Levi mendengus. Malas meladeni lidah beracun Nania, Levi memutuskan untuk menghampiri Elea yang sedang berdiri diam sambil memandangi deretan pakaian bayi.
"Elea, apa yang sedang kau cari?" tanya Levi penasaran.
"Tentu saja pakaian bayi, Kak Levi. Tidak mungkin kan aku ada di sini karena sedang mencari seorang suami? Kak Iel bisa menangis nanti," jawab Elea tanpa mengalihkan pandangannya dari barang yang ada di hadapannya.
Yang di tanya apa, jawabannya apa. Huh, tidak Nania tidak Elea, mereka berdua sama saja. Sama-sama membuat darah Levita mendidih. Namun jika di bandingkan dengan Nania, Levi lebih memilih Elea karena lidah Elea setidaknya masih bisa dia manipulasi. Sedangkan Nania, oh my God. Kepala sampai ke saraf-saraf Levita sampai tegang semua di buatnya.
"Kak Levi, ayo kita pulang. Aku sudah bosan melihat baju-baju ini, semua sama saja!" ajak Elea sambil menutupi mulutnya yang ingin menguap.
"Pulang?" beo Levi. "Yakk Elea. Aku bahkan belum memilih satupun pakaian untuk bayiku dan kau sudah sibuk mengajak untuk pulang. Sebenarnya kau niat tidak sih mengajak aku dan Lusi berbelanja? Kenapa? Apa uangnya Gabrielle sudah habis sampai-sampai kau ribut ingin pulang karena tidak mampu membayar?"
"Apa? Uang Kak Iel habis?"
Elea terkekeh. "Yang benar saja kalau bicara, Kak. Kalaupun benar uang Kak Iel habis, aku masih memiliki kekayaan yang jumlahnya sangat banyak melebihi harta milik keluarga Kakak. Jadi jangan berpikiran kami tidak memiliki uang lagi hanya karena aku mengajakmu pulang ya. Ckck, miris sekali. Lagipula ya, Kak. Mana ada pelakor yang masih tetap menempel pada istri sah kalau tahu tambang uangnya sudah bangkrut? Iya kan?"
Ya Tuhan, kenapa berat sekali ujian kehamilanku ini. Di hari pertama aku merayakan kebahagiaan ini kenapa aku harus bersama dengan Elea dan Nania. Sudah tidak adakah orang lain yang bisa kuajak berbagi duka? Ya ampun, sial sekali nasibku.
Elea yang melihat Levita merajuk nampak tersenyum samar. Lucu juga ya bisa mengerjai sesama wanita yang sedang hamil. Elea jadi terpikir untuk melakukan rutinitas ini sampai bayi-bayi mereka lahir ke dunia.
Sementara itu di sudut lain terlihat para karyawan toko tengah kebingungan melihat dua wanita yang gerak-geriknya sangat aneh. Bukan aneh yang bagaimana, mereka hanya merasa aneh saja melihat dua wanita yang sama-sama sedang hamil tapi hanya satu yang terlihat sangat antusias mencari perlengkapan bayi. Sedang wanita yang satunya lagi hanya berdiri diam sambil sesekali menarik nafas panjang. Keadaan ini sangat berbanding terbalik karena seharusnya si wanita berperut besarlah yang diam dan tidak banyak bergerak karena begah membawa bayi di perutnya. Aneh, pemandangan ini benar-benar sangat aneh.
"Kak Lusi, lihat. Kotak bayi ini sangat lucu. Kita ambil ini ya sekarang?" tanya Nania sambil mengelus-elus pinggiran kotak berwarna putih bersih di sebelahnya.
__ADS_1
"Astaga, Nania. Masih ada beberapa bulan lagi sebelum Kakak melahirkan, jadi untuk apa kita membeli babybox itu sekarang? Nanti saja ya. Tunggu setelah usia kandungan Kakak memasuki bulan ke delapan atau ke sembilan," jawab Lusi berusaha mencegah keinginan sang adik untuk mengambil barang yang masih belum akan dia gunakan.
"Lah, kenapa begitu, Kak? Beli saja sekarang, siapa tahu Kak Gleen mau tidur di sini dulu sebagai bayi besar. Hitung-hitung untuk bahan percobaan dulu sebelum anak Kakak lahir. Bukankah sebagai orangtua Kakak itu harus memastikan kalau semua barang yang akan di gunakan oleh adik bayi adalah barang dengan kualitas terbaik ya?"
Lusi kicep. Ucapan Nania memang benar, tapi tidak harus menjadikan Gleen sebagai bahan percobaan juga. Karyawan toko yang memang sejak tadi terus memperhatikan Lusi dan Nania nampak berjalan mendekat. Dia lalu membungkukkan tubuh sebelum berbicara.
"Permisi, Nyonya. Apakah ada yang bisa saya bantu?"
"Ah, kebetulan sekali!" sahut Nania dengan cepat menyela ketika melihat karyawan toko datang dan bicara pada kakaknya. Dia sedang sangat butuh edukasi sekarang. "Nona, bisakah aku tahu kualitas dari kotak ini? Aku perlu membelikannya untuk kakakku."
"Em, jadi anda bukan membeli untuk diri anda sendiri?"
"Untukku?"
Si karyawan toko mengangguk. "Nyonya sedang hamil, dan sepertinya sebentar lagi Nyonya akan segera melahirkan. Tapi kenapa Nyonya malah membeli babybox untuk bayi lain? Bukankah bayi Nyonya jauh lebih membutuhkan babybox tersebut ya?"
Nania mengerjapkan mata. Dia lalu melihat ke arah kakaknya, juga ke arah Elea dan Kak Levita yang baru saja datang mendekat.
"Maaf, Nona. Dia adikku, dan dia tidak sedang hamil," ucap Lusi mencoba menjelaskan situasi yang sedang terjadi sebelum mulut adiknya meledakkan racun karena tak terima di anggap sedang hamil.
"Hah? Tidak sedang hamil? Tapi perut Nyonya ini begitu besar. Lalu bagaimana bisa beliau tidak hamil?" kaget si karyawan toko sambil menatap sekilas ke arah wanita yang berperut besar. Dia bingung sendiri jadinya.
"Kak Lusi, Nania benar sedang hamil kok. Tapi dia hamil kain, bukan hamil bayi seperti kita bertiga. Iya kan, Nania?" celetuk Elea yang dengan mudahnya malah memperkeruh suasana.
"Iya, Elea. Kau benar sekali," sahut Nania yang dengan polosnya malah mengiyakan celetukan Elea.
"H-hamil kain?"
Astaga, kutukan macam apa yang sedang menimpa wanita malang ini, Tuhan? Kasihan sekali. Hidupnya pasti sangat menderita sekarang.
__ADS_1
Levi dan Lusi sama-sama menarik nafas panjang melihat kelakuan Elea dan Nania yang lagi-lagi menelan korban. Mereka kemudian meminta si karyawan toko tersebut agar kembali saja ke tugasnya. Baik Levi maupun Lusi, mereka tak tega melihatnya terbengang syok setelah mendengar kata mujarab yang keluar dari mulut si kembar siam ini.
"Elea, kau sudah memilih pakaian untuk bayi-bayi dan bayimu belum?" tanya Nania sambil melihat ke arah tangan Elea yang tidak membawa apa-apa. Jiwa ratu shoppingnya langsung memberontak. Nania ingin sekali membantu besti-nya untuk berbelanja.
"Belum, Nania. Tidak ada yang datang membantuku, dan aku juga tidak tahu apa yang harus aku beli," jawab Elea dengan polosnya.
"Bukankah tadi kau di temani oleh Kak Levi ya?"
"Iya sih, tapi keberadaan Kak Levi sama sekali tidak membantu. Dia malah sibuk mengajakku pulang karena sudah bosan berada di sini."
Levi kembali menghela nafas dalam-dalam. Sudahlah, percuma juga kalau dia angkat bicara untuk membela diri. Sekarang Elea sedang memfitnahnya, di tambah lagi dia sedang bersama dengan Nania. Jantung Levi bisa berhenti beroperasi jika dia sampai meladeni kedua wanita ini. Levi masih ingin hidup.
"Wahh, tidak kusangka ternyata Kak Levi jahat juga ya. Sudah untung kau mau mentraktirnya untuk berbelanja, tapi kenapa dia malah bersikap begitu!" sahut Nania sedikit kesal dengan ulah Kak Levi.
"Sudahlah tidak apa-apa, Nania. Sudah nasibku memiliki teman tidak peka sepertinya," sahut Elea berusaha mendramatisir drama yang dia buat.
Baby Flow, apa ini adalah ulahmu memaksa Ibu untuk mengerjai Bibi Levita? Kenapa? Apa karena kau akan menjadi menantunya di masa depan? Hm?
"Jangan sedih, Elea. Masih ada aku yang akan dengan senang hati menemanimu berbelanja. Ayo aku bantu pilihkan barang yang ingin kau beli. Santai saja, tidak perlu ragu untuk menghabiskan uangmu."
"Baiklah. Ayo!"
Nania dan Elea langsung bergandengan tangan kemudian pergi menuju rak-rak tempat perkakas bayi tersimpan. Sedangkan Levi dan Lusi, kedua wanita ini hanya diam sambil melempar pandangan sekilas. Keduanya sama-sama syok melihat drama aneh yang baru saja terjadi.
"Kak Levi, aku minta ma ....
"Jangan di teruskan, Lusi. Lebih baik kita cari tempat duduk saja. Otakku butuh ketenangan saat ini juga!" sela Levi sambil menutup mulut Lusi yang hendak meminta maaf atas nama Nania.
Lusi mengangguk. Setelah itu dengan patuh Lusi mengekori Levi yang membawanya pergi keluar dari toko babyshop tersebut. Mereka kemudian duduk di kursi yang panjang yang ada di sama. Terdiam bisu sambil memikirkan kenapa Tuhan bisa menciptakan dua wanita yang memiliki sikap dan lidah yang hampir serupa. 😅
__ADS_1
*****