
📢📢📢 BESTIE, JANGAN LUPA DUKUNGANNYA YA SUPAYA JOVAN DAN NANIA BISA MENANG DI LOMBA DI YOU ARE A WRITER SEASON 8. OKE 💜💜💜
***
Langkah Karl terhenti saat dia hendak membuka pintu kamar. Pikirannya melayang pada percakapan antara dia dengan ibunya ketika berada di taman. Tadi setelah Karl menemani sang ibu melakukan perawatan di salon dan juga berbelanja beberapa barang, sang ibu tiba-tiba saja mengajaknya pergi membeli cemilan di pinggir jalan. Meski sebenarnya Karl merasa enggan, tapi tetap dia lakukan karena tak kuasa menolak keinginan sang ibu. Lalu setelahnya mereka berduapun duduk di kursi taman dengan kepala sang ibu menyender di bahunya. Bagi yang tidak tahu mereka pasti akan mengira kalau Karl dan ibunya adalah sepasang kekasih yang sedang menikmati waktu kencan mereka. Dan di sanalah satu percakapan membuat Karl terngiang-ngiang hingga sekarang.
Flashback
“Karl, kau tahu tidak kenapa Ibu mengajakmu kemari?” tanya Elea sembari menikmati jajanan di tangannya.
“Karena Ibu ingin menghabiskan waktu bersama putra Ibu yang paling tampan ini. Benar tidak?” jawab Karl dengan percaya dirinya.
__ADS_1
“Ya, benar. Itu adalah salah satu alasannya. Tapi Karl, ada hal lain yang ingin Ibu sampaikan padamu. Apa kau mau mendengarnya?”
Karl mengerutkan keningnya, merasa heran dengan sikap ibunya yang tiba-tiba bicara dengan nada suara lirih. Mirip seperti orang yang tengah menahan tangis. Penasaran ada apa gerangan, dengan lembut Karl menarik kepala sang ibu agar menatapnya. Setelah itu Karl menangkup kedua pipinya, menatap sang ibu dengan seksama sambil mengisyaratkan kalau dia bersedia untuk mendengar. Jujur, Karl penasaran. Dia merasa kalau ibunya tengah menutupi sesuatu darinya.
“Sejak kecil Ibu selalu ingin mempunyai saudara. Hidup Ibu sangat kesepian, susah dan senang hanya bisa Ibu nikmati sendirian. Dan ketika Ibu bertemu dengan Ayahmu, Ibu tak pernah lagi merasa sendirian. Ayahmu dan semua keluarganya selalu memperlakukan Ibu dengan begitu baik meski saat itu Ibu hanyalah seorang gadis miskin yang tidak punya apa-apa. Dan setelah Ibu melahirkan kalian bertiga, entah kenapa Ibu merasa sedih. Kau tahu bukan kalau salah satu dari kalian telah di gariskan memiliki takdir hidup yang tidak terlalu baik? Di sini Ibu hanya ingin menyampaikan entah itu kau, kakakmu ataupun adikmu, Ibu tidak akan pernah meninggalkan kalian. Ibu akan selalu sayang dan juga akan selalu mencintai kalian terlepas dari kejahatan apapun yang akan kalian lakukan nanti!” ucap Elea di iringi dengan butiran cairan bening menetes di sudut pipinya. “Karl, jika suatu hari nanti kakakmu ataupun adikmu melakukan sesuatu yang jahat kepadamu, Ibu harap kau mau memaafkan mereka. Kau yang paling bisa mengerti Ibu, kau juga yang paling pandai mengambil hati Ayah dan Ibu. Tolong mengerti mereka ya? Karena sejahat apapun kakak dan adikmu, mereka adalah saudara kandungmu. Kalian kembar, jadi sudah seharusnya kalian untuk saling memaafkan dan juga melindungi. Ibu bisa mengharapkan hal ini darimu ‘kan?”
“Kenapa Ibu tiba-tiba mengatakan hal seperti ini padaku? Apa Ibu tidak khawatir kalau orang itu adalah aku?” tanya Karl sedikit tercekat mendengar perkataan sang ibu. Terdengar tulus dan menderita, hingga mampu menohok hatinya Karl yang memang telah terliputi dendam dan kebencian.
“Karena hanya dirimu saja yang Ibu percaya. Kakakmu begitu dingin, bahkan kadang terkesan tak mau merespon. Lalu adikmu? Kau tahu sendiri bukan kalau Flow itu istimewa? Dia tidak tahu apa-apa, Karl. Yang Flow tahu Ayah dan Ibu adalah orangtuanya, sedang kau dan kakakmu adalah saudaranya. Flow tidak akan mengerti jika Ibu mengajaknya bicara seperti ini,” jawab Elea sebelum akhirnya terisak lirih. Hatinya seperti di iris-iris melihat manik mata putranya. Dan besar keinginan Elea kalau permintaannya ini bisa menyadarkan Karl dari amarahnya. Elea sangat berharap itu.
“Karl, Ibu bisakan berharap padamu untuk hal ini?” tanya Elea penuh harap.
“Bu, aku ini tidak sebaik yang Ibu pikir. Aku khawatir kalau aku adalah orang yang terlahir dengan karma buruk itu,” sahut Karl resah apakah dia harus menolak atau mengiyakan keinginan sang ibu.
__ADS_1
“Sayang, bukankah tadi Ibu sudah mengatakan kalau Ibu akan tetap mencintai dan menyayangi seperti apapun kalian nanti. Jikapun benar kau adalah orangnya, maka kasih sayang Ibu tidak akan mungkin berubah. Sejahat apapun dirimu, kau tetap putra Ibu yang paling membanggakan. Jadi jangan khawatir ya? Ibu akan selalu ada untukmu. Oke?”
Flashback On
“Kenapa, Bu? Kenapa Ibu harus menjebakku di situasi sulit seperti ini? Langkahku sudah sejauh ini, Bu. Tolong jangan menjadi batu sandungan untuk aku memiliki segalanya dan juga menyingkirkan Nenek Liona. Gara-gara jendral sialan itu, sekarang hidupku menjadi tidak tenang. Setiap malam aku harus menerima siksaan dari arwah-arwah orang tak bersalah yang telah di bunuhnya. Aku tidak mau jika harus melepaskan rencana ini begitu saja, Ibu. Aku tidak rela!” teriak Karl dengan marahnya.
Kedua mata Karl nampak berkilat marah saat batinnya terus bergejolak memikirkan raut sedih sang ibu. Tak kuat menahan luapan emosinya, dengan kuat Karl meninju dinding berkali-kali. Dan perbuatannya ini menyebabkan jari-jari tangannya terluka. Darah nampak menetes keluar dari luka itu, tapi rasa sakit yang muncul sama sekali tak membuat Karl menghentikan perbuatannya. Karl terus berteriak dan menyakiti dirinya sendiri. Hati dan perasaannya terluka karena dendam dan juga rasa bersalah.
“Tidak Karl, tidak. Kau tidak boleh melemah. Hanya sedikit lagi, Karl. Setelah Amora mati, kau hanya harus membuat Bern di depak dan di usir pergi dari keluarga Ma. Lalu kau tinggal melenyapkan Flowrence lewat cara yang sama seperti yang pernah kau lakukan dulu. Dan setelah semua rencana itu terlaksana, kau tinggal menikmati hasilnya dengan menjadi pewaris satu-satunya atas aset yang dimiliki oleh keluarga Ma, terutama yang atas nama Nenek Liona dan Ayah Gabrielle. Ya, hanya itu. Kau jangan sampai kalah, Karl. Kau tidak lemah!” ucap Karl sambil memukuli kepalanya sendiri.
Namun, tidak di pungkiri kalau sebenarnya Karl sangatlah sedih mengingat kekejaman yang akan dia lakukan pada kedua saudaranya. Sebagai anak yang terlahir kembar, Karl da kedua adiknya jelas memiliki ikatan batin yang sangat kuat. Akan tetapi mengingat penderitaannya yang selalu di hantui oleh arwah-arwah gentanyangan itu, juga dengan fakta kalau Flowrence yang akan mewarisi semua kekayaan keluarganya, serta di angkatnya Bern menjadi CEO di perusahaan, membuat Karl merasa sangat tidak tahan. Dia merasa terabaikan. Posisinya sebagai anak kedua seolah tidak memiliki arti apa-apa. Sangat menyakitkan.
“Ibu, apa yang harus aku lakukan sekarang? Andai bisa memilih, aku juga tidak mau memiliki takdir yang seperti ini. Aku menyayangi Bern dan Flowrence, aku mencintai mereka. Tapi kekejaman Nenek Liona di masa lalu telah membuatku menderita selama bertahun-tahun. Bagaimana caraku membalas penderitaan ini? Tolong berikan aku jalan agar aku tidak lagi menuruti keinginan para arwah itu. Bantu aku, Ibu. Aku sudah lelah berpura-pura. Aku ingin menjadi diriku sendiri. Tolong aku!”
__ADS_1
***