Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Belut Dan Kerang


__ADS_3

Reinhard mencium kening Levita yang sedang terlelap setelah mereka menyelesaikan sesi malam pertama dengan begitu panas. Meski baru pertama kali melakukan hubungan suami istri, Levita terkesan liar dan sangat berpengalaman. Bahkan Reinhard yang awalnya ingin perlahan, mendadak jadi tancap gas melihat respon istrinya yang begitu welcome pada perkenalan pertama antara belut hidup dan juga kerang hidup milik mereka. Alhasil, mereka bercinta dengan penuh gelora hingga tidak menyadari kalau durasi waktu yang terpakai mampu menguras tenaga mereka hingga habis tak tersisa.


"Semalam kau hebat sekali, sayang. Sangat kontras dengan sikap awalmu yang terkesan malu-malu. Menggemaskan," bisik Reinhard sembari menarik selimut untuk menutupi tubuh istrinya yang tidak mengenakan apa-apa.


Reinhard mengulum senyum saat dia melihat banyaknya pasukan biru yang mendiami leher, dada, lengan, dan juga di bagian tersembunyi di mana kerang nikmat itu berada. Sungguh, semalam dia benar-benar kalap. Reinhard melahap hampir di setiap bagian tubuh istrinya seperti orang kesetanan. Dia bahkan sampai tidak bisa membedakan mana teriakan dan mana d*sahan karena pikirannya hanya di penuhi dengan yang namanya gairah. Apalagi gairah tersebut sudah di tahannya sejak beberapa malam yang lalu. Jadi ya sudah, tancap gas lah dia semalam. 🀣🀣


Euugghhhh


Levita melenguh sambil menggeliat geli saat merasakan sebuah elusan lembut di bagian pinggulnya. Ingin rasanya dia menendang orang yang berani mengganggu tidurnya, tapi dia tidak punya tenaga. Tulang-tulang di tubuh Levita seperti di lolosi semua, lemas dan juga lemah.


"Sayang," ....


"Jangan berisik. Aku sedang tidak punya tenaga untuk mengajakmu baku hantam. Jadi diam dan biarkan aku tidur dulu untuk memulihkan tenaga," sahut Levita tanpa membuka mata. Saking lemasnya, Levita juga lupa kalau semalam dia baru saja ....


Reinhard hampir saja jatuh terjungkal ke lantai saat Levita tiba-tiba bangun dan menarik selimut yang saat itu menutupi tubuh polos mereka berdua. Entah apa yang terjadi. Yang jelas sekarang Reinhard di buat hampir mati jantungan gara-gara ulah dadakan istrinya ini.


"Jangan melihat ke arahku atau aku akan membumbui biji matamu dengan bubuk cabai. Jangan menatapku, Reinhard!" pekik Levita dengan wajah memerah seperti kepiting rebus. Dia baru sadar penyebab yang membuatnya jadi lemas seperti ini.


Ya Tuhan Levita. Kau ini bodoh atau bagaimana sih. Bisa-bisanya kau lupa kalau semalam kau dan Reinhard baru saja, em ... hehee


Belum selesai berhayal, Levi sudah memukuli kepalanya sendiri karena tiba-tiba memikirkan hal mesum yang terjadi semalam. Dia lupa kalau sekarang di sampingnya ada pria yang tengah menatapnya sambil menelan ludah. Akibat gerakan tangannya, Levita tidak tahu kalau selimut yang di pakainya sudah melorot sampai sebatas dada yang mana memperlihatkan dua gundukan melon segar miliknya.


"Ekhmmm sayang, apa kau sedang menggodaku?" tanya Reinhard dengan suara nafas yang mulai berubah. Dia terpancing birahi melihat sepasang melon segar milik istrinya.


"Kenapa kau bertanya seperti itu, Rein? Apa maksudnya?" sahut Levita balik bertanya.

__ADS_1


Reinhard menggerakkan dagu ke arah yang dia maksud. Dia kemudian maju mendekat, berharap kalau pagi ini akan kembali mengulang aktifitas seperti semalam.


"Kau sengaja melakukannya kan, sayang? Sedang mengundangku kan?" desak Reinhard semakin tak sabar.


"Mengundang kepalamu!" jawab Levita sembari menaikkan selimut untuk menutupi dadanya yang keliatan. "Ck, dengar ya, Rein. Aku tahu tugas seorang istri adalah melayani dan menyenangkan hati suaminya. Tapi kalau untuk sekarang, aku akan menyebutmu sebagai suami kejam jika kau berani meminta jatah lagi padaku. Kau ingin tahu apa sebabnya?"


"Apa?"


Nafas Levita kembang kempis melihat raut wajah Reinhard yang begitu polos saat berkata apa. Yang benar saja. Bahkan yang semalam saja lemasnya masih terasa sampai sekarang. Bisa lumpuh dia kalau suaminya ini benar-benar mengajaknya untuk bercinta lagi. Ya walaupun rasanya sangat enak, tapi Levita benar-benar sudah sangat tidak berdaya sekarang. Tenaganya sudah dia keluarkan semua tadi malam.


"Apa, sayang?"


"Kau benar-benar tidak tahu atau hanya pura-pura tidak tahu si, Rein. Lupa ya kalau semalam kau membuatku kehabisan tenaga?" sindir Levita sambil mencebikkan bibir.


Reinhard terkekeh. Dia sebenarnya juga ingat, tapi mau bagaimana lagi. Tubuh istrinya terlalu menggoda, membuatnya jadi tidak tahan.


"Tidak!" jawab Levita singkat.


"Kenapa?"


"Hilih, macam tidak tahu saja akal bulusmu, Rein. Kau mengajakku mandi bersama pasti karena ingin mencoba gaya baru di dalam kamar mandi kan?" tuduh Levi. Dia sudah hafal dengan akal-akalan para pria jika sedang menginginkan sesuatu. Dan hal ini dia ketahui dari laporan Elea yang mengatakan kalau di pagi hari Gabrielle akan selalu mengajaknya mencoba gaya baru setelah semalam mereka bercinta.


"Sayang, meski tuduhanmu tidak sepenuhnya benar, tapi aku tidak segila yang kau pikirkan dengan tetap mengajakmu bercinta setelah kita bercinta sepanjang malam. Semalam adalah yang pertama bagi kita berdua, dan aku tahu kalau itu sangat menyakitkan untukmu. Jadi kau jangan khawatir ya. Aku janji kita hanya akan mandi saja," ucap Reinhard memahami ketakutan yang tengah di rasakan oleh istrinya.


"Benar hanya mandi?" tanya Levita penuh selidik. Dia tidak yakin Reinhard bisa semudah ini mengendalikan nafsunya.

__ADS_1


"Iya. Hanya mandi," jawab Reinhard sembari mengangkat kedua jari tangannya ke atas.


Levita dan Reinhard saling berpandangan lama di atas ranjang. Sedetik kemudian mereka sama-sama tertawa, menertawakan percakapan konyol yang baru saja mereka lakukan.


"Hahahahahaha ... ya ampun, kenapa lucu sekali. Pantas saja Elea bilang kalau menikah dengan lelaki yang tepat itu rasanya seperti sedang berada di surga. Sangat bahagia," ucap Levita sambil menyeka sudut matanya yang mengeluarkan air mata.


"Dan aku adalah pria beruntung karena telah mendapatkan ratu yang tepat untuk q bahagiakan. Terima kasih ya sayang sudah bersedia menjadi istriku," sahut Reinhard seraya mengelus lembut pipi istrinya. Memiliki Levita adalah takdir hidupnya, dan hal inilah yang akan Reinhard jaga mulai dari sekarang.


"Aku yang seharusnya berterima kasih padamu, Rein. Kau tahu tidak, hanya kau satu-satunya pria yang mau menerima wanita seangkuh dan sekasar diriku. Rasanya seperti sulit untuk di percaya kalau ada orang yang mau menerima wanita yang memiliki seribu kekurangan sepertiku. Dan perasaan seperti ini masih sering muncul memenuhi benakku, Rein. Terima kasih banyak ya sudah menjadikan aku wanita terbahagia versi Levita Foster. Dan kali ini aku berhutang banyak pada Elea. Tanpanya, kita tidak akan pernah bertemu," ucap Levita. Dia lalu menggeggam erat tangan Reinhard sebelum kembali melanjutkan perkataannya. "Hmmm, tanpa kita sadari kehadiran Elea membawa banyak kebahagiaan di diri semua orang. Berkatnya segala hal yang tidak mungkin bisa menjadi kenyataan. Benar tidak, Rein?"


"Kau benar, sayang. Elea lebih dari sekedar gadis polos yang tidak tahu apa-apa. Dia itu seperti matahari yang memberikan cahaya kebahagiaan pada semua orang. Dan salah satunya adalah kita," jawab Reinhard kemudian menarik Levita ke dalam pelukannya. "Kita beruntung karena bisa mengenal perempuan sehebat dan sebaik Elea."


Levita menganggukkan kepala. Dia lalu memejamkan mata, menghirup aroma tubuh suaminya yang sangat dia cintai.


"Hari semakin siang, kita mandi sekarang ya?"


"Baiklah."


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


...πŸ€Jangan lupa vote, like dan comment...


...ya gengss...


...πŸ€Ig: rifani_nini...

__ADS_1


...πŸ€Fb: Rifani...


__ADS_2