
"Nona, tolong rawat temanku ini dengan baik agar tubuhnya bisa beraroma kembang tujuh rupa. Malam ini dia akan melakukan sebuah ritual penting!" ucap Levi pada salah seorang karyawan salon.
"Baik, Nona!"
"Oh satu hal lagi, pastikan itunya bisa menggigit ya. Tenang saja, aku akan membayar dua kali lipat jika pekerjaan kalian memuaskan. Jangan khawatir!" sahut Levi seraya menunjuk ke bagian yang akan menjadi menu utama buka puasanya Gabrielle dan Elea.
Saat berkata seperti itu, raut wajah Levi terlihat begitu percaya diri. Bagaimana tidak! Mau sebanyak apapun dia membayar kinerja karyawan salon di sini, tagihannya akan masuk ke perusahaannya Gabrielle. Jadi di sini Levi benar-benar tidak mengeluarkan modal apapun selain hanya menjadikan Elea sebagai tumbal agar dirinya bisa mendapatkan perawatan secara gratis. Mungkin di dunia novel hanya Levita Foster lah seorang pelakor yang memiliki nasib begitu mujur karena begitu di manja oleh istri sah. Jika di novel lain, Levi pasti sudah menjadi bulan-bulanan para pembaca. Benar tidak? π€£
"Kak Levi, kenapa kau tidak bilang pada karyawan di sini kalau yang akan membayar mereka adalah Kak Iel?" tanya Elea dengan sengaja. Dia tiba-tiba ingin mengerjai pelakor ini.
"Ssttt, pelankan suaramu, Elea. Lagipula apa untungnya sih kalau mereka tahu Gabrielle lah yang akan membayar biaya perawatan kita. Tidak ada kan?" sahut Levi sambil memelototkan mata. Makhluk kecil ini benar-benar ya. Bisa-bisanya Elea bicara sejelas itu kalau bukan Levi yang akan membayar tagihan di sini. Harga diri Levi kan jadi lecet.
"Tentu saja ada untungnya lah, Kak. Kalau begini ceritanya sih kau yang mendapat jackpot dobel namanya. Sudah melakukan perawatan gratis, juga menerima anggapan baik dari para karyawan di sini. Sebagai istrinya Kak Iel aku merasa rugi berat. Aku ... emmpptttt!"
Elea langsung memekik kaget saat mulutnya tiba-tiba di jejali tisu oleh Levi. Sungguh, Elea benar-benar tidak menyangka kalau Levi akan melakukan hal ini padanya. Sambil mengeluarkan tisu yang ada di dalam mulutnya, Elea berusaha menahan diri agar tidak tertawa. Raut wajah Levi sekarang sangat lucu. Perpaduan antara marah, dongkol, malu, dan juga gengsi. Benar-benar sangat menggemaskan.
"Hehehe."
"Sekali lagi kau berani membongkar kelicikanku di hadapan orang lain, tidak hanya tisu saja yang akan aku jejalkan ke dalam mulutmu, Elea. Tapi juga rambut-rambut yang berserakan di lantai ini. Mau kau?" geram Levi seraya menunjuk gumpalan rambut kribo yang teronggok di lantai.
"Iya-iya maaf. Aku janji tidak akan nakal lagi," sahut Elea.
"Awas saja kau ya."
"Iya, Kak."
Setelah itu Levi langsung meminta karyawan salon untuk mulai melakukan perawatan. Pertama-tama Levi dan Elea di bawa ke ruang pijat untuk merelaksasi urat-urat di tubuh mereka. Lalu mereka mulai di bawa untuk melakukan tahap demi tahap perawatan yang bisa membuat kulit tubuh dan kulit wajah mereka terlihat segar dan bercahaya. Levi yang memang sejak dulu rutin melakukan perawatan terlihat begitu menikmati pelayanan yang di berikan oleh karyawan salon. Sementara Elea, dia lebih terfokus pada kulit tubuhnya yang kemungkinan besar tidak akan lolos dari jamahan tangan suaminya.
Hehe Kak Iel, semoga saja nanti malam kau tidak mati jantungan ya melihatku memakai kostum haram. Demimu Kak, aku rela bersaing dengan para makhluk gaib karena memakai kain putih transparan agar sesuai dengan fantasimu. Ahh, aku jadi tidak sabar ingin segera pulang ke rumah. Hehehe.
__ADS_1
"Kau pasti sedang berpikiran mesum ya, Elea?" tanya Levi yang heran melihat Elea senyum-senyum sendiri ketika kuku tangannya sedang di cat.
"Tahu saja kalau aku sedang membayangkan hal mesum, Kak. Iri ya?" jawab Elea dengan sengaja.
"Iri gigimu!" sahut Levi. "Elea, ngomong-ngomong kau sudah menyiapkan rencana apa untuk buka puasa nanti malam? Sudah punya kostum belum?"
"Hmmm ... rencananya sih aku hanya ingin menyiapkan makan malam romantis di dalam kamarku dan Kak Iel, Kak. Kalau mengenai kostum, sebenarnya aku ingin memakai kostum kalajengking yang hari itu kau pilihkan. Tapi Kak Iel bilang dia sangat ingin melihatku memakai gaun putih transparan saat berbuka puasa nanti. Jadi ya sudah. Aku memutuskan untuk menjadi makhluk gaib nanti malam agar Kak Iel tidak merasa kecewa. Keputusanku sudah benar kan, Kak?"
Ctaaakkkk
Levi dan Elea langsung melihat ke arah karyawan salon yang baru saja menjatuhkan alat untuk membersihkan kuku. Suasana di sana mendadak hening sebelum akhirnya Levi tertawa terbahak-bahak.
"Hahahaha, kenapa? Kau kaget ya mendengar perkataan temanku ini?" tanya Levi tanggap akan kekagetan karyawan tersebut.
"M-maaf, Nona. Saya-saya baru pertama kali ini mendengar ada orang yang ingin berubah menjadi makhluk gaib untuk suaminya. Tolong maafkan kelancangan saya barusan, Nona. Saya sungguh tidak ada niat mengganggu pembicaraan kalian. Saya tidak bohong!" jawab si karyawan salon dengan raut wajah bersalah.
"Hei, kenapa kau ketakutan begitu sih. Santai saja!" sahut Levi geli melihat reaksi di diri karyawan tersebut. "Menjadi makhluk gaib itu masih belum seberapa kalau kau mau tahu. Mulut wanita ini bahkan bisa mengeluarkan kata-kata yang lebih nyeleneh lagi. Kalau tidak percaya, tetaplah di sini melayani kami sampai semua perawatannya selesai. Aku jamin cacing di dalam perutmu akan kram semua nanti."
"Nah, kau dengar sendiri bukan? Meskipun aku dan Elea adalah wanita yang bau uang, tapi kami bisa berteman dengan siapapun. Jadi jangan ragu kalau kau ingin ikut mengobrol."
"Begitu ya?" sahut si karyawan salon sambil menarik nafas lega.
Levi dan Elea kompak mengangguk. Setelah itu mereka kembali mengobrol bersama sambil menikmati pelayanan di salon tersebut. Sesekali terdengar gelak tawa dan juga pekikan kaget saat lidah Elea kembali berselancar menebar kata-kata ambigu nan nyeleneh.
Setelah menghabiskan waktu selama kurang lebih lima jam, Levi dan Elea akhirnya keluar dari salon. Wajah keduanya terlihat segar setelah mendapat perawatan ekstra yang di sediakan oleh salon tersebut.
"Ah, aku seperti baru keluar dari dalam air terjun. Sangat segar dan cerah," ucap Levi sembari berjalan menuju mobil.
"Berarti kau adalah siluman ular air ya, Kak?" celetuk Elea.
__ADS_1
"Sembarangan. Mana ada siluman ular air secantik aku, Elea? Kau ini kalau bicara asal-asalan saja!" sahut Levi jengkel. Yang benar saja dia di sebut siluman ular air, istrinya Gabrielle sepertinya sudah tidak waras.
"Lho, siluman ular air itu memang benar-benar ada, Kak Levi. Kau jangan tidak percaya."
"Oh, benarkah? Apa kau pernah melihatnya dengan mata kepalamu sendiri, hm?" tanya Levi setelah duduk di dalam mobil. Dia kemudian bergeser ke samping untuk memberi ruang pada Elea.
"Pernahlah."
"Dimana?"
"Di dalam mobil ini. Karena sekarang siluman ular air itu sedang duduk tepat di sampingku. Hehehe,"
Elea meringis saat daun telinganya di jewer oleh Levita. Suara ringisannya yang terdengar cukup keras membuat pengawal yang duduk di kursi kemudi sampai menoleh ke belakang.
"Nyonya, apa yang terjadi?"
"Nyonyamu baru saja di patuk oleh siluman ular air!" sahut Levi emosi.
"Siluman ular air?"
Malas meladeni, Levi memilih untuk memejamkan mata sambil menyenderkan kepala di kursi mobil. Seperti biasa, emosinya di buat naik turun oleh makhluk kecil yang kini tengah terkikik lirih di sebelahnya.
Astaga Gabrielle, istrimu ini benar-benar kelewatan. Aku sudah tidak tahu lagi harus bagaimana menghadapi kebodohan Elea. Siluman ular air? What the f*ck...
πππππππππππππππππ
...πJangan lupa vote, like, dan comment...
...ya gengss...
__ADS_1
...πIg: rifani_nini...
...πFb: Rifani...