Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Datang Menyapa


__ADS_3

Wajah Kak Ning pucat pasi. Keringat sebesar butiran jagung nampak mengalir deras di keningnya ketika dia berdiri di antara dua makam dimana di sana bertuliskan nama Sandara dan Karim Young. Sungguh, Kak Ning sangat tidak menyangka kalau acara makan malam yang dia bayangkan akan berakhir di pemakaman seperti ini. Murid didiknya ini benar-benar sangat keterlaluan. Bisa-bisanya Elea beralasan mengajaknya bertemu Nyonya Wu sedangkan kenyataan yang dia dapat adalah sesuatu yang sangat mengerikan. Kak Ning begitu takut dengan tempat-tempat horor seperti ini. Dia bahkan hampir kencing di celana begitu kakinya menginjak tanah pemakaman.


"Kak Ning, ayo sapa Mamaku dulu," ucap Elea dengan sengaja. Dia lalu melirik ke arah Lusi dan Jackson yang sedang menahan tawa.


"M-m-menyapa?" tanya Kak Ning dengan suara bergetar. Dia benar-benar sudah tidak kuat berada di tempat ini.


"Iya, ayo cepat sapa Mama Sandara. Sekalian perkenalkan diri Kak Ning sebagai guru desainku di kampus," jawab Elea dengan tampang polosnya.


Ya ampun Elea, kau benar-benar sangat usil. Kau membuat gurumu sampai ketakutan begitu. Dasar gadis nakal, ucap Jackson membatin.


"Kak Ning tidak suka dengan Mamaku ya?"


Matilah. Kak Ning mati kutu melihat raut menyedihkan di wajah Elea. Ingin menolak, tapi dia tidak mau kehilangan kesempatan untuk bertemu dengan idolanya. Tapi masa iya dia harus menyapa seseorang yang sudah terkubur di dalam tanah? Semua ini benar-benar membuatnya gila.


"Em Elea, b-bisa tidak aku menyapa Mamamu dari rumah saja? A-aku takut sekali," ucap Kak Ning dengan wajah memelas.


"Tapi kan Mamaku tidak ada di rumah, Kak Ning. Dia sekarang sudah tinggal di dalam sini," sahut Elea sembari mengusap nisan sang mama. Dia puas sekali melihat raut tersiksa di wajah gurunya ini.


"T-t-tapi Elea, a-a-aku tidak terbiasa menyapa orang yang sudah meninggal. L-lagipula M-Mamamu tidak akan bisa menjawabnya bukan?"


"Siapa bilang Mamaku tidak bisa menjawabnya, Kak. Meskipun Mama Sandara tinggal di alam lain, dia biasanya menjawab sapaan orang melalui alam mimpi. Mama Sandara pasti akan menemui siapa saja yang datang berziarah ke makamnya."


Tawa Jackson hampir pecah saat dia melihat Kak Ning yang langsung melompat ke pelukan Lusi. Sungguh, adiknya ini benar-benar sangat kurang ajar. Bisa-bisanya dia mengerjai gurunya sampai seperti ini. Tak tahan melihat kelucuan yang ada, Jackson memilih untuk berpindah ke sisi makam Kakek Karim. Membiarkan adiknya memuaskan hasrat tengilnya dalam mengerjai kuda nil itu.


"Hiksss Lusi, tolong bawa aku pergi dari sini. Aku tidak mau Mamanya Elea datang ke dalam mimpiku," rengek Kak Ning sambil terisak ketakutan.


"Tenanglah, Kak Ning. Tidak ada ceritanya orang mati bisa pulang ke rumah lagi. Elea hanya bergurau saja," sahut Lusi tak tega melihat gurunya ketakutan. Tubuh Kak Ning bahkan sampai gemeteran saking parnonya dia mendengar ucapan Elea.

__ADS_1


"T-t-tapi Elea bilang Mamanya akan datang ke mimpi orang yang berziarah kemari. Kau dengar itu juga kan tadi?"


"Iya aku dengar. Sudah ya, jangan anggap serius perkataan Elea. Lebih baik sekarang Kak Ning menenangkan diri karena setelah ini kita semua akan langsung pergi ke rumah Nyonya Clarissa."


Bagaimana caranya aku bisa tenang kalau kita saja masih berada di pemakaman? Oh Tuhan, tolong jauhkan makhluk jahat seperti Elea dari hidupku. Aku janji aku tidak akan pernah mencari masalah lagi dengannya. Aku jera, ratap Kak Ning dalam hati.


Sementara pelaku dari ketakutan Kak Ning nampak tersenyum-senyum tidak jelas di samping nisan. Elea, malam ini dia mendapatkan satu kepuasan yang sangat luar biasa. Elea akui kalau sekarang tingkat kejahilannya semakin meningkat. Sebenarnya ini tidak harus terjadi pada Kak Ning kalau saja kuda nil ini berhenti untuk tidak mengejeknya diam-diam. Jadi ya sudah, nikmatilah kejahilan ini sebagai hukuman atas kebusukan hatinya sendiri.


"Elea, sepertinya nanti aku tidak bisa ikut malam di rumahmu. Gleen baru saja mengirimiku pesan kalau dia sedang dalam perjalanan pulang ke rumah," ucap Lusi sambil mengarahkannya layar ponselnya ke depan Elea. Dia sedikit kesulitan karena Kak Ning memeluknya dengan begitu erat.


"Yaaahh, sayang sekali. Padahal di sana nanti ada Kak Cia dan Paman Junio juga. Hummm," sahut Elea sambil mengerucutkan bibir.


"Maaf ya. Lain kali aku janji akan ikut makan malam di rumah ayahmu. Jangan marah, oke?"


"Bukankah suamimu dan Junio adalah sahabat dekat ya? Kenapa tidak sekalian saja kau ajak dia untuk makan malam di rumah Elea? Suasananya pasti akan semakin ramai jika kita bisa berkumpul bersama di sana," timpal Jackson.


"Ah iya benar. Aku baru ingat kalau Paman Gleen dan Paman Junio satu geng," ucap Elea seraya menepuk keningnya sendiri. "Sudah Kak, ajak sana Paman Gleen ke rumahku. Bilang padanya kalau dia menolak, aku akan pergi menjemputnya bersama Cuwee. Akan kubuat dia patah pinggang jika tidak patuh pada ucapanmu."


"Ada apa, Kak Ning? Kenapa kau mendorong Kak Lusi seperti itu?" tanya Elea sambil menatap tajam ke arah Kak Ning. Dia tidak suka saudaranya di perlakukan kasar seperti tadi.


"Em em itu, anu Elea ... Lusi sudah menikah?" tanya Kak Ning gugup dan juga bingung.


"Sudah, kenapa memangnya? Kak Ning mau mendaftar jadi pelakor?"


Kriikk krriikk krriikk


Jiwa Kak Ning seperti terbang keluar begitu mendengar jawaban Elea. Pelakor? Ya Tuhaaaaannnn.... Mendengar Lusi sudah menikah dengan om-om saja membuat bulu kuduk Kak Ning berdiri semua. Bagaimana mungkin dia ingin menjadi seorang pelakor? Meskipun Kak Ning bukan wanita seutuhnya, dia sangat anti dengan gelar-gelar seperti itu. Dia paling tidak suka dengan wanita yang rela merendahkan harga dirinya hanya demi seorang pria. Dia tidak suka itu.

__ADS_1


"Kak Ning, kau boleh saja merasa geli sekarang. Tapi nanti saat kau melihat suaminya Kak Lusi, aku jamin hidungmu akan langsung mimisan. Karena apa? Karena Paman Gleen sangat tampan, tubuhnya juga bau uang. Kau akan menyesal jika menolak untuk menjadi pelakor!" ucap Elea dengan raut wajah yang sangat serius.


"Elea, sudahlah. Sebaiknya kita segera kembali sebelum cacing di dalam perut keluargamu mengamuk. Kita sudah cukup lama berada di sini," lerai Lusi. Jika tidak segera di hentikan, perempuan nakal ini pasti akan terus mengerjai Kak Ning.


"Biar saja mereka mengamuk. Nanti aku tinggal menumbalkan tubuh Kak Ning untuk mereka. Iya kan Kak Ning? Tubuhmu begitu berdaging, cacing-cacing itu pasti akan langsung kenyang dalam sekali santap."


Kak Ning tak ingin lagi meladeni kegilaan Elea. Dia lebih memilih mengikuti langkah Jackson yang mulai beranjak pergi dari sana.


"Oh ya Elea, Kak Gabrielle ikut makan malam bersama kita tidak?" tanya Lusi sambil berjalan keluar dari pemakaman.


"Tidak. Dia sedang sibuk mencari nafkah untukku membeli berlian."


"Hmm, rajin sekali ya. Aku jadi iri."


"Kalau iri ganti suami saja, Kak. Nanti aku bisa meminta Grandma Clarissa untuk mencarikan pria tampan yang dari nafasnya saja bisa keluar uang. Bagaimana, mau tidak?"


"Hahaha, kau gila Elea."


"Hehehe," ....


Eh, bukannya Gabrielle itu seekor keledai ya? Bagaimana mungkin Elea ingin mengajaknya ikut makan malam? Yang benar saja. Dan apa itu tadi, mencari nafkah? Oh astaga, aku bisa gila jika terus bersama wanita-wanita ini. Sepertinya aku harus pergi ke psikolog setelah bertemu dengan Nyonya Wu, batin Kak Ning sambil bergidik ngeri.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


...πŸ€Jangan lupa vote, like, dan comment...


...ya gengss...

__ADS_1


...πŸ€Ig: rifani_nini...


...πŸ€Fb: Rifani...


__ADS_2