
📢 Jangan lupa mampir ke My Destiny ( Clara & Eland) . Mari kita menangis bombay di sana 💜
Tap tap tap
Suara langkah kaki perlahan mulai terdengar saat menuruni deretan anak tangga. Dan pemilik kaki tersebut terlihat begitu bahagia saat membelai-belai perutnya yang membuncit besar.
"Ughh, anak Ibu. Apa kabar, sayang? Apa kau lapar? Lapar? Astaga, ya sudah ayo kita pergi makan. Ayo kita habiskan semua makanan yang sudah dimasak oleh Nenekmu. Oke?" ucap Levi bertanya pada bayinya yang kemudian dia jawab sendiri.
Usia kandungan Levi berbeda satu bulan dari usia kandungan Elea. Jadi sekarang usia kandungannya baru memasuki bulan kelima. Akan tetapi karena terlalu sehat, di antara Levi, Lusi, Elea, dan juga Kayo, perutnya lah yang terlihat paling besar. Bahkan tak jauh beda dari ukuran perut Cira yang sebentar lagi akan segera melahirkan. Pernah suatu kali Elea meminta seseorang untuk menculiknya kemudian membawanya pergi ke rumah sakit untuk di periksa. Dan hasilnya Levi hanya hamil satu ekor anak, tapi dengan ukuran yang cukup besar. Akibat tindakan ekstrem yang dilakukan oleh Elea, Levi merajuk kemudian minggat ke luar negeri. Dia baru di temukan dan bisa di ajak pulang setelah Elea menjanjikan sebuah apartemen mewah atas nama anaknya nanti yang akan di bangun di salah satu hunian yang di gadang-gadang akan menjadi lokasi perumahan elit yang pernah ada di Negara N. Sangat mahal bukan membujuk seorang pelakor sepertinya? Haha, tapi itu sebanding dengan kegilaan Elea yang tega meminta orang untuk menculiknya hanya gara-gara Elea yang penasaran berapa bayi yang hidup di dalam rahimnya. Gila bukan? Tapi Levi senang karena dengan begitu dia bisa mendapatkan apartemen gratis secara cuma-cuma.
"Oh, sayang. Kau sudah bangun?" tanya Lolita sambil berjalan cepat menghampiri putrinya. Setelah sampai Lolita langsung mengelus perut Levi yang terlihat semakin besar di setiap harinya. "Apa cucu Ibu sudah minum susu?"
"Tentu saja sudah, Nenek. Ayah Reinhard selalu menyediakan susu untuk kami sebelum pergi ke rumah sakit. Jadi Nenek tidak perlu khawatir kalau aku akan dehidrasi di dalam perut Ibu," jawab Levi menjawab pertanyaan ibunya dengan suara yang di buat seperti anak-anak.
Lolita tertawa. Dia kemudian mengajak Levi untuk duduk di ruang makan. Seperti biasa, Lolita selalu menyiapkan makanan sehat dan juga bergizi untuk cucunya. Karena cucunya adalah cucu eksklusif, Lolita dan Samuel sampai meminta Reinhard menuliskan menu apa saja yang paling bagus untuk mereka berikan pada Levita. Lolita dan Samuel sangat berharap kalau cucu mereka nanti akan terlahir dengan watak dan sikap yang tidak sebar-bar Levita. Cukup satu saja yang menaik-turunkan adrenalin mereka, tidak dengan yang kedua.
"Waahh, Ibu. Kalau begini terus lama-lama aku bisa menjadi sapi guling yang sangat gemuk, Bu!" keluh Levi sambil menatap penuh n*fsu ke arah meja makan yang sudah di penuhi banyak makanan enak. Air liurnya bahkan hampir menetes saking tergodanya dia pada masakan tersebut.
"Biar saja. Selagi sehat dan Reinhard mengizinkan, tidak ada salahnya untuk kau dan cucu Ibu menikmati semua makanan ini. Nah, makanlah yang banyak supaya cucu Ibu bisa tumbuh dengan sehat," sahut Lolita sembari mengambilkan makanan untuk Levi. Ini adalah kegiatan yang paling dia sukai semenjak Levita positif hamil.
Dengan mata yang berbinar-binar, Levi menanti sang Ibu selesai mengambilkan makanan untuknya. Namun ketika Levi ingin mencicipi suapan pertamanya, dia di buat waspada akan laporan dari pelayan. Ya, makhluk kecil itu datang. Dan sudah bisa di pastikan kalau dia akan membuat kekacauan di rumah ini.
"Ck, waktunya kenapa tidak tepat sekali sih," gumam Levi.
Lolita menghela nafas. Sudah tahu kalau sebentar lagi pasti akan segera terjadi perang dunia ke empati puluh empat di rumah ini.
"Selamat pagi, Bibi Lolita. Selamat pagi, ibu hamil generasi ke empat," sapa Elea dengan begitu semangat.
__ADS_1
Setelah memberikan dua keranjang bunga pada kakaknya, Elea pergi menyambangi kediaman pelakor ini. Dia juga ingin membagikan kabar bahagia pada wanita yang kini tengah menatapnya sinis.
"Elea, mau apa kau datang kemari?" tanya Levi cetus. Dia masih belum melupakan tragedi penculikan itu.
"Ingin menculikmu lagi, Kak. Kebetulan aku ingin tahu jenis kelamin dari bayi yang sedang kau kandung," jawab Elea asal.
"Sialan!"
"Jangan mengumpat, tidak baik untuk wanita hamil bicara kasar. Iya kan, Bibi Lolita?"
"Kau benar sekali, Elea. Setelah Tuhan memberi kehidupan pada janin yang kita kandung, maka janin tersebut sudah bisa mendengar dan merasakan apa yang terjadi di sekelilingnya. Terutama pada orangtuanya, mereka peka," jawab Lolita yang tidak bisa tidak membenarkan perkataan Elea.
"Nah, kau dengar itu kan, Kak Levi? Coba saja kau bicara kasar seperti tadi, nanti saat lahir anakmu pasti akan mengikuti apa yang sering kau ucapkan," ucap Elea dengan tengilnya menakut-nakuti Levita. "Coba kau bayangkan, Kak. Di saat anakmu lahir nanti, alih-alih menangis dia malah akan mengumpat padamu. Contohnya seperti ini ....
Levi menelan ludah saat Elea ingin mempraktekan bagaimana cara bayinya menyapanya kelak.
Setelah berkata seperti itu Elea tertawa terbahak-bahak. Puas sekali rasanya dia bisa menjahili pelakor ini meski pada akhirnya dia harus rela menerima sebuah cubitan kecil di pinggangnya.
"Hehehe, just kidding, Kak Levi. Maaf!"
"Maaf-maaf. Sembarangan saja kau kalau bicara. Kalau semua itu benar-benar terjadi bagaimana? Memangnya kau mau melihatku mati jantungan karena syok dimaki oleh bayiku sendiri? Iya?" amuk Levi sembari mengusap-usap bekas cubitan di pinggang Elea. "Sakit tidak?"
"Sedikit."
"Yang benar?"
"Sedikit. Tapi nanti aku akan tetap mengadu pada Kak Iel supaya gaji dokter Reinhard di potong," jawab Elea kembali menjahili Levi.
__ADS_1
"Hehhh, sabar-sabar."
"Hehehehe."
Setelah itu Levi melirik ke arah keranjang bunga yang di bawa oleh Elea. Dia terpesona melihat cantiknya bunga-bunga yang di rangkai di dalam keranjang tersebut.
"Ini untukmu, Kak Levi," ucap Elea sembari menyodorkan keranjang bunga. "Semalam bayi-bayiku berkedut untuk yang pertama kalinya. Dan aku membuat keranjang bunga ini untuk memperingati kebahagiaan tersebut. Tolong dirawat ya Kak bunga-bunganya."
"Bayi-bayimu berkedut? Wooaahhhh, selamat ya Elea. Aku senang sekali mendengarnya!"
Levita langsung memeluk Elea dengan sangat erat setelah mendengar kabar bahagia tersebut. Matanya sampai berkaca-kaca, tidak menyangka kalau teman kecilnya sebentar lagi akan benar-benar menjadi seorang ibu. Ini sangat ajaib. Setelah pertemuan dan kedekatan mereka yang mengundang banyak drama, kini mereka akan segera melewati babak baru sebagai orangtua. Tuhan benar-benar mengganti semua kesedihan mereka dulu dengan kejutan kebahagiaan yang datang tiada henti. Levita sangat terharu.
"Terima kasih banyak, Kak Levi. Dan mari kita tunggu calon mantu ikut menunjukkan eksistensinya bulan depan. Oke?"
Senyum di bibir Levi langsung musnah saat Elea menyinggung tentang calon mantu. Lolita yang merasakan kalau atmosfer mulai berubah pun sudah siap pasang badan. Dia sudah sangat hafal kalau sebentar lagi Levita pasti akan kesurupan setan reog karena Elea kembali membahas tentang cucunya yang akan menjadi pasangan dari salah satu bayi yang di kandungnya.
"Elea, apa kau pernah mendengar aku mengatakan kalau nanti anakku akan aku nikahkan dengan salah satu dari ketiga anakmu? Tidak 'kan?" tanya Levi setelah mengurai pelukannya. Dia sangat was-was setiap kali Elea memanggil anaknya dengan sebutan calon mantu.
"Tidak pernah."
"Lalu kenapa kau selalu memanggil bayiku dengan sebutan calon mantu? Kau tahu bukan kalau aku tidak ingin berbesan denganmu?"
"Maaf, Kak Levi. Aku dan Kak Iel tidak menerima penolakan dan perihal tentang mantu-menantu itu aku sudah membayar dp-nya terlebih dahulu. Apartemen itu, kau pikir itu gratis? Hahaha, tidak semudah itu, Kak Levi. Kau sudah menandatangani kontrak sehidup semati dengan kami berdua. Hehehe!"
Rasanya Levi seperti tersambar petir begitu mendengar kenyataan tersebut. Sungguh, ingin sekali dia membotaki kepala Elea lalu membuangnya ke dunia antah berantah agar keselamatan anaknya nanti tidak terusik.
Kau benar-benar jahat Gabrielle, Elea. Bisa-bisanya ya kalian menyuapku dengan cara selicik ini. Awas saja, tak akan kubiarkan anakku menjadi menantu kalian. Tapi ngomong-ngomong sayang juga kalau apartemen itu dilepas begitu saja. Aaaaa, bagaimana ini? Kenapa aku jadi dilema begini? Tolong aku, Tuhan....
__ADS_1
*****