Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Tekanan Rasa Bersalah


__ADS_3


๐Ÿ“ขJangan lupa bom komentarnya ya gengs ๐Ÿ’œ


Setelah emosinya berhasil teredam, Gabrielle memberanikan diri melangkah masuk ke dalam rumah sakit. Sebenarnya dia dan ayahnya sudah sampai di sini sejak lima belas menit yang lalu. Akan tetapi Gabrielle memilih untuk tinggal di dalam mobil sebentar karena dia tak kuat melangkah masuk ke sana. Namun sebelum Gabrielle sampai di depan ruang operasi, kedua mertuanya sudah lebih dulu sampai di sana. Gabrielle lalu memutuskan untuk melihat mereka dari jauh, mengabaikan sang ayah yang terus membisikkan kata menenangkan di sebelahnya.


"Tenangkan hati dan pikiranmu. Kau harus percaya kalau Elea pasti akan selamat," bisik Greg. Dia serasa menjelma bagaikan iblis karena selama perjalanan Greg terus sama melakukan hal ini agar emosi putranya bisa segera mereda. Demi keamanan bersama, begitu pikir Greg.


"Aku akan mati bersamanya jika dokter-dokter itu tidak berhasil membawa Elea kembali ke pelukanku!" sahut Gabrielle dengan emosi yang kembali mencuat. Dia marah melihat ibu dan ibu mertuanya menangis sambil saling berbalas pelukan.


"Hanya pengecut yang akan bicara seperti itu,"


Gabrielle menoleh. Dia lalu menunjukkan smirk jahat ketika sang ayah menatapnya sambil menelan ludah.


"Ayah, bagaimana jika aku meminta seseorang untuk membunuh Ibu detik ini juga?" tanya Gabrielle sarkas.


"Aku akan membunuhmu kemudian pergi menyusul Ibumu ke surga," jawab Greg dengan cepat.


"Lalu apa bedanya antara aku dengan Ayah?"


"Kita sama-sama pengecut!"


Greg menelan ludah. Astaga, dia tidak paham kenapa Gabrielle bisa begitu mengerikan ketika sisi gelapnya muncul. Perasaan dulu Liona tidak sampai membuatnya ketar-ketir begini. Apa karena dulu Greg melibatkan perasaannya ya jadi dia tidak terlalu merasa tertekan ketika jendral perang itu tengah di kuasai amarah. Entahlah, yang jelas Gabrielle adalah anak yang dia buat bersama Liona. Dan sudah pasti wataknya akan tercampur oleh dua kepribadian yang mana keduanya menjadi sangat mengerikan ketika muncul. Benar tidak kawan-kawan?

__ADS_1


Sementara itu di depan ruang operasi, Yura yang sudah dilanda kepanikan sejak dari rumah langsung jatuh tak sadarkan diri karena tak kuat mendengar perkataan Liona yang mengatakan kalau Elea tidak baik-baik saja. Bryan yang kala itu juga tak kalah panik seperti Yura sampai tidak menyadari kalau istrinya pingsan dan kini sedang di tangani oleh perawat yang ada di sana. Bryan yang memang menyimpan trauma setelah kejadian meninggalnya Sandara mendadak jadi lemas membayangkan jika seandainya Elea keluar dari ruangan ini dalam kondisi tubuh tertutup kain putih.


Tidak-tidak, ini tidak boleh terjadi. Aku mohon, Tuhan. Cukup Sandara saja yang pergi dengan cara seperti itu, tidak dengan Elea. Aku mohon, Tuhan. Tolong selamatkan putriku, jangan ambil dia sekarang. Aku tidak sanggup.


"Tuan Bryan, you okay?" tanya Liona langsung menepuk bahu ayahnya Elea setelah mendengar isi pikirannya. Ini gawat, benar-benar sangat gawat jika seandainya Elea tidak selamat. Selain Gabrielle, akan ada banyak orang yang akan terluka jika Elea sampai pergi dari dunia ini. Hanya satu yang akan tertinggal, kekacauan besar.


"Nyonya Liona, Ares bilang ada orang yang sengaja ingin menabrak Elea. Siapa? Dan kenapa putriku bisa sampai di incar oleh orang itu? Apakah kau dan Gabrielle sedang memiliki lawan bisnis di luar sana? Tapi kenapa harus Elea. Dia sedang hamil besar, sama seperti Sandara ketika dilarikan ke ruang operasi. Ini sangat mengerikan, Nyonya Liona. Aku bisa mati kalau Elea harus memiliki nasib yang sama seperti ibunya. Aku lebih baik mati!" sahut Bryan sambil menjambak rambutnya dengan kuat. Dadanya sesak. Bayangan di mana Sandara di dorong keluar dengan kondisi sudah tak bernyawa membuat Bryan hilang kendali. Dia ingin berteriak, tapi tidak mampu Bryan lakukan karena bayangan kejadian itu membuat lidahnya seakan di tumbuhi oleh jutaan duri tajam.


"Tolong tenang, Tuan Bryan. Ini tidak seperti yang kau pikirkan!" ucap Liona maklum akan ketakutan di diri ayahnya Elea. "Memang benar pagi ini Elea di tabrak oleh seseorang. Namun satu yang perlu kau ketahui, Tuan Bryan. Sebenarnya kecelakaan ini bisa di hindari jika seandainya Elea tidak memilih untuk menolong Levita dan anaknya. Dia sengaja membiarkan tubuhnya yang tertabrak mobil karena tak mau melihat Levita celaka. Agak tidak masuk akal memang, tapi kita harus bangga padanya. Dan aku percaya Tuhan tidak akan sekejam itu mengambil Elea dari kita semua. Yakinlah, Elea kita pasti akan baik-baik saja. Dia dan ketiga bayinya pasti akan keluar dari ruang operasi dengan selamat!"


Bryan terkejut. Segera dia melihat ke arah keponakan Yura, si Levita Foster. Levita yang sadar tengah di tatap oleh pamannya pun langsung menangis sambil mengatupkan kedua tangan di depan dada.


"Hikkkss, maafkan aku, Paman Bryan. Aku telah membuat Elea celaka. Aku salah," ucap Levita.


"Aku juga begitu, Paman. Karena di sini akulah yang akan paling di salahkan jika Elea sampai tidak selamat!"


Tepat ketika Levita selesai bicara, suasana tiba-tiba berubah mencekam saat Gabrielle datang bersama dengan ayahnya dan juga Nun. Semua orang menahan nafas, terlebih lagi Levita. Dia seakan berpindah ke alam lain ketika mata tajam Gabrielle langsung tertuju padanya.


"Ada apa Levita? Apa sekarang kau berniat merebut posisinya Elea, hem?" tanya Gabrielle. Dia kemudian berjongkok, memegang dagu Levita seraya menatapnya lekat. "Jawab!"


"Gabrielle, kau salah paham padaku. A-aku ... aku sama sekali tidak mempunyai niat untuk mencelakai Elea. Ke-kecelakaan itu terjadi begitu cepat, sungguh!" jawab Levita terputus-putus. Mentalnya jatuh drastis melihat sikap mengerikan Gabrielle yang tidak pernah Levita lihat sebelumnya. Tatapan mata Gabrielle seperti seorang monster. Dingin, dan tidak berperasaan.


"Jika tidak salah lalu kenapa kau meminta maaf? Sedang memainkan alibi atau sedang mencari simpati?"

__ADS_1


Mendadak emosi Levi jadi tersulut saat Gabrielle menuduhnya yang bukan-bukan. Entah mendapat keberanian darimana, Levi dengan cepat mengangkat tangan hendak menampar wajah Gabrielle. Akan tetapi sebelum sempat tangan Levi mendarat di sana, tangannya sudah lebih dulu di tahan oleh Nun.


"Perhatikan sikap anda, Nona Levita. Tuan Muda tidak suka di sentuh oleh orang asing!" tegur Nun sambil menatap datar pada wanita yang tengah menjadi sasaran amukan Tuan Muda-nya.


"Kalau begitu beritahu Tuan Muda-mu agar jangan sembarangan menuduh orang. Selama ini Elea sudah kuanggap seperti adikku sendiri, dan juga aku sudah memiliki suami sendiri. Jadi beritahu dia agar tidak berpikir berlebihan tentang aku. Paham!" amuk Levita. Setelah itu dia lanjut menangis, ketakutan karena Gabrielle juga ikut menyalahkannya.


Melihat Levita yang malah menangis membuat Gabrielle merasa jengkel. Dia kemudian beralih menatap Kayo, sepupunya yang sejak tadi hanya diam mendengarkan.


"Kak, maaf. Aku dan Jackson lalai menjaga keselamatan kakak ipar," ucap Kayo tanpa merasa takut sedikitpun. Jujur, Kayo sempat di buat tertegun oleh sikap kakak sepupunya yang terlihat sangat berbeda. Gabrielle bagaikan orang lain ketika sedang bicara dengan Levita tadi.


"Kau masih bisa aku maklumi karena kau sendiri tengah membawa bayi di perutmu. Tapi untuk Jackson dan Reinhard, mereka berdua harus bertanggung jawab atas apa yang menimpa istriku. Mereka lalai, dan sudah seharusnya menerima hukuman!" sahut Gabrielle. Rasa kasih sayang di hatinya seakan lenyap, dia tak peduli apapun dan siapapun. Hanya Elea, itu saja.


Bryan yang saat itu ingin mengajak Gabrielle bicara seketika langsung diam mematung ketika Gabrielle melayangkan tatapan yang begitu mengerikan padanya. Dan dari arah belakang Gabrielle, terlihat Tuan Greg yang membuat gerakan menyerupai sebuah kode yang memintanya agar jangan banyak bertanya dulu. Suasana hati Gabrielle sedang sangat buruk, dan Bryan tanggap akan hal itu.


"Di mana para penjaga yang tadi bersamamu, Nun?" tanya Gabrielle dingin.


"Mereka sedang berjaga di luar rumah sakit, Tuan Muda," jawab Nun. "Apakah anda menginginkan mereka?"


"Ya."


"Baik. Kalau begitu saya permisi!"


Liona dan Greg hanya bisa menarik nafas berat ketika melihat kepergian Nun. Sebentar lagi. Sebentar lagi tempat ini akan menjadi saksi kemarahan putra mereka. Sungguh kasihan nasib para penjaga itu. Terpaksa mereka akan menjadi korban dari seorang psikopat yang telah di bangunkan paksa oleh satu kejadian mengerikan pagi tadi. Miris.

__ADS_1


*****


__ADS_2