
Gleen, Ares, Reinhard, dan juga Jackson menatap kosong ke arah seorang pria yang tengah berdiri kaku sambil menggendong bayi mungil di pelukannya. Mereka bingung, tidak tahu harus melakukan apa pada pria yang telah membangunkan dan meminta mereka agar segera datang ke rumah sakit ini.
"Pokoknya kau harus segera datang ke rumah sakit detik ini juga. Ada kejadian besar yang harus kau saksikan. Cepatlah, ini sangat penting."
Kurang lebih seperti itulah bunyi ucapan seorang Morigan Junio ketika memaksa mereka semua untuk datang. Sungguh, mereka semua berpikir kalau telah terjadi hal buruk pada Patricia dan bayinya karena saat menelpon Junio sama sekali tidak memberitahu kalau bayinya telah lahir. Sebagai seseorang yang saling mengenal, tidak mungkin mereka tidak segera melesat kemari meski nyawa mereka belum berkumpul semua. Bayangkan, Junio dengan tidak manusiawinya membangunkan mereka di jam tiga dini hari. Kalian semua pasti tahu bukan kalau di jam seperti ini adalah waktu yang paling tepat untuk bergelung di bawah selimut? Tapi karena ulah calon ayah baru ini mereka harus rela meninggalkan kesenangan tersebut.
"Dimana Gabrielle? Kenapa batang hidungnya masih belum kelihatan juga sampai sekarang?" tanya Junio dengan suara yang begitu pelan. Dia sedang ketakutan sekarang. Takut kalau-kalau tubuh si bayi kecambah akan hancur jika dia bicara terlalu keras.
"Apa kau pikir Gabrielle akan rela melepaskan dekapannya di tubuh Elea hanya karena kau yang memintanya untuk datang kemari?" sahut Gleen balas bertanya. "Kau tidak seistimewa itu untuk Gabrielle datangi, Jun."
"Benar, aku setuju dengan ucapanmu, Gleen. Huh, tahu begini aku tidur saja di rumah tadi. Gara-gara ulahmu yang tidak berakhlaq ini, aku sampai harus meninggalkan malam pertamaku bersama Levita. Kau sungguh sialan, Junio!" imbuh Reinhard tanpa ragu mengumpat ke arah pria yang baru saja menyandang gelar sebagai ayah baru.
"Ck, kenapa kalian jadi marah-marah padaku sih? Memang apa salahnya kalau aku mengundang kalian semua untuk berbagi kebahagiaan ini. Kalian tahu bukan kalau aku tidak mempunyai keluarga?" ucap Junio lirih.
"Tapi tidak semua nomor yang ada di ponselmu kau hubungi juga, Junio. Lihat ke sana. Untuk apa kau memanggil mereka semua kemari?" tanya Gleen sembari menunjuk ke arah delapan pria yang tengah berdiri masih dengan memakai piyama tidur di tubuh masing-masing.
Kali ini Junio benar-benar keterlaluan. Jika hanya menelpon orang-orang terdekatnya, Gleen masih bisa memahami, bahkan memaafkan. Tapi ini? Manusia yang menyandang status sebagai kolega bisnis mereka pun ikut menjadi korban dari kebodohan si ayah baru tersebut. Coba kalian bayangkan, orang mana yang tidak sakit kepala melihat kelakuan sahabat sendiri yang seperti ini? Jadi wajar kan kalau Gleen mengomel alih-alih ikut bersuka cita akan lahirnya si bayi kecambah.
"Aku sudah tidak bisa membedakan satu persatu nomor orang yang ada di ponselku, Gleen. Jadi tolong kau maklumlah sedikit!" sahut Junio. "Atau begini saja. Nanti saat kau berhasil menghamili Lusi dan mengantarkannya ke ruang bersalin, kau jangan sampai memegang ponselmu agar tidak melakukan kebodohan yang sama seperti yang aku lakukan. Rasanya benar-benar sangat luar biasa, Gleen. Seperti ada sesuatu yang ingin meledak di dalam jantungku begitu mendengar suara jeritan bayi."
Gleen yang tadinya ingin kembali mengomel langsung mengurungkan niat ketika menyaksikan binar kebahagiaan di mata Junio. Dia tertegun. Pria yang dulunya begitu ambisius ingin menjadikan para wanita cantik sebagai manekin kini tanpa di duga-duga bisa memiliki keluarga kecil yang sangat bahagia bersama seorang Patricia Young dan putra kecilnya. Mengingat suka duka yang pernah mereka rasakan bersama tanpa sadar membuat mata Gleen berkaca-kaca. Dia kemudian berjalan mendekat ke arah Junio, menatapnya dalam kemudian menunduk melihat ke arah bayi mungil yang tengah terlelap.
"Bayi ini adalah karma atas semua dosa yang pernah kau lakukan dulu, Jun. Dia terlahir dari rahim seorang wanita cantik yang biasanya hanya akan kau jadikan sebagai korban. Aneh memang, tapi ini adalah sebuah karma manis yang pernah aku saksikan. Selamat bro, aku sangat bahagia melihat kesempurnaan keluarga kecilmu."
__ADS_1
"Hei, kenapa kau membuat suasananya jadi mellow begini, Gleen? Ayolah, ini bukan waktunya untuk kita bersedih. Tertawalah agar bayi kecambahku tidak cemberut!" sahut Junio berusaha agar tidak menitikkan air mata. Dia tentu saja bisa merasakan ketulusan kata-kata dari pria yang sejak remaja sudah menjadi sahabatnya.
"Junio benar, Gleen. Ini bukan saatnya untuk kita bersedih hati. Ayo tertawa, jangan biarkan bayi kecambah itu tumbuh menjadi pengacau seperti ayahnya!" timpal Reinhard ikut merasa haru akan kedekatan kedua pria di hadapannya.
Di saat yang bersamaan, Yura dan Bryan keluar dari dalam ruang bersalin. Mereka berdua segera menghampiri sang cucu yang tengah terlelap di pelukan Junio.
"Aduuuhhh cucu Nenek. Kau tampan sekali, sayang," ucap Yura seraya mengelus pelan pipi sang cucu. Dia terkekeh ketika bayi mungil tersebut langsung mencebikkan bibir saat merasa tidurnya ada yang mengganggu.
"Bu, jangan keras-keras menyentuhnya. Nanti daging di pipinya koyak. Lihat, dia begitu rapuh!" omel Junio dengan raut wajah kepanikan.
Plaaakkkk
Untuk pertama kalinya Yura mengangkat tangan untuk memukul kepala menantunya yang entahlah... dia tidak tahu bagaimana cara untuk menggambarkan. Coba kalian pikir, apakah mungkin sebuah sentuhan halus bisa membuat pipi seorang bayi menjadi koyak? Tidak mungkin kan? Namun pemikiran konyol seperti itu mampu muncul di kepalanya seorang Morigan Junio.
Yura menghela nafas.
"Junio, Ibu tahu kau menyayangi bayimu. Tapi tidak begitu juga dalam mengartikan sentuhan orang lain. Untung tadi kau bicara seperti itu pada Ibu. Jika pada orang lain, Ibu yakin orang tersebut pasti akan langsung tersinggung dan menganggapmu kampungan. Tahu tidak, hm?"
"Bu, aku berkata seperti itu karena memang bayi kecambah ini sangat rapuh. Lihat saja kulit tubuhnya kalau tidak percaya. Semuanya seperti mengelupas, itu artinya dia sangat sensitif pada sentuhan manusia!" sahut Junio.
"Tuan Junio, di mana-mana semua bayi yang baru lahir kulitnya memang akan seperti itu. Tapi itu terjadi bukan di sebabkan oleh sentuhan tangan para manusia, melainkan bawaan dari lahir. Kau itu bukan dokter, jadi stop mengeluarkan analisa yang tidak masuk akal. Paham?" omel Ares yang akhirnya ikut berkomentar. Dia sudah sangat jengah melihat kebodohan pria ini.
Merasa dirinya di serang dari berbagai sisi, mau tidak mau Junio harus mau mengakui kalau pemikirannya sama sekali tidak benar. Dia lalu mengerucutkan bibir ketika ibu mertuanya mengambil bayi kecambah dari pelukannya.
__ADS_1
"Tidak usah memelototi Ibu seperti itu. Ibu hanya ingin menggendongnya, bukan membuangnya ke sungai!" tegur Yura sedikit jengkel.
"Ck, aku hanya khawatir saja kok!" sahut Junio asal.
"Daripada kau terus mengoceh tidak jelas di sini, lebih baik kau temani Patricia saja di dalam. Sebentar lagi dia akan segera di pindahkan ke ruang rawat inap, jadilah orang pertama yang di lihatnya begitu dia bangun!" ucap Bryan sembari menepuk bahu menantunya yang terus saja melirik curiga ke arah sang istri. Dia merasa amat sangat tergelitik melihat kelakuan pria ini.
"Hah? Jadi Patricia tidur?" tanya Junio kaget.
Bryan mengangguk. Dia kemudian menjelaskan penyebab mengapa putrinya bisa tertidur setelah melahirkan. Junio yang mendengar alasan tersebut pun langsung berlari masuk ke dalam untuk menemani istrinya yang baru saja melewati perjuangan yang begitu berat.
Terima kasih untuk semua rasa sakit ini, sayang. Aku berjanji akan menjaga dan mencintaimu beserta anak-anak kita sampai aku mati. Sekali lagi terima kasih untuk semua kebahagiaan ini, Patricia.
πππππππππππππππππ
...MAAF YA GENGSS UP MALAM-MALAM, EMAK BARU AJA PULANG DARI BEROBAT. DOAKAN AGAR EMAK SELALU SEHAT YA π€§...
...πJangan lupa vote, like, dan comment...
...ya gengss...
...πIg: rifani_nini...
...πFb: Rifani...
__ADS_1