Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Ungkapan Rasa


__ADS_3

📢📢📢 BESTIE, JANGAN LUPA DUKUNGANNYA YA SUPAYA JOVAN DAN NANIA BISA MENANG DI LOMBA DI YOU ARE A WRITER SEASON 8. OKE 💜💜💜



***


“Kak, aku dan Amora sudah selesai bermain. Kapan kau akan datang untuk menjemputnya?”


Kedua sudut bibir Bern tertarik ke atas saat dia membaca pesan yang di kirim oleh Flowrence. Sebenarnya sudah dari lima belas menit yang lalu Bern sampai di mall ini. Akan tetapi dia memutuskan untuk tidak langsung menghampiri adiknya yang sedang sibuk menarik Amora pergi kesana kemari untuk berbelanja berbagai macam barang. Jujur, entah kenapa Bern merasa bahagia sekali melihat Amora tertawa lepas bersama dengan adiknya. Meski tidak di pungkiri kalau Bern juga sempat mendapati Amora yang terlihat tertekan saat adiknya mengatakan sesuatu yang nyeleneh. Biasalah, Flowrencenya adalah gadis yang unik. Wajar kalau Amora belum terbiasa dengan keanehan tersebut.


Alih-alih membalas pesan adiknya, Bern memilih untuk langsung menghampiri Flow dan Amora yang kini tengah duduk menikmati es krim. Bern berjalan sambil memasukkan satu tangan ke saku celana, sedang matanya tak pernah lepas dari mengawasi setiap ekpresi yang muncul di wajah Amora.


Mungkinkah aku jatuh cinta padanya? Hanya satu malam dan perasaanku bisa tumbuh sebegini besarnya. Apakah ini tidak terlalu mustahil? Tak apalah. Lagipula aku sudah berjanji akan menjaga dan juga melindunginya, lalu apa salahnya kalau aku memiiki perasaan lebih pada Amora? Aku dan dia sama-sama manusia normal, wajar saja jika kami menjalin hubungan.


Flow diam-diam meng*lum senyumnya ketika mendengar isi pikiran sang kakak yang ternyata sudah ada di sana. Tak mau merusak moment kasmaran tersebut, Flow meminta izin pada Amora untuk pergi ke toilet. Dia ingin memberi ruang untuk kakaknya bermesraan dengan calon kakak iparnya yang manis ini.


“Jangan lama-lama ya, Flow,” ucap Amora agak keberatan saat dirinya ingin di tinggal sendirian.


“Tidak. Paling hanya satu tahun aku perginya,” sahut Flowrence bercanda.


“Dasar,”


Amora kembali fokus menikmati es krim setelah Flow pergi meninggalkannya. Saking fokusnya Amora pada makanan tersebut, dia sampai tidak menyadari kalau Bern sudah berdiri di belakangnya. Dan Amora hampir saja tersedak es krim saat ada orang yang tiba-tiba mencium puncak kepalanya. Takut kalau pelakunya adalah orang jahat, Amora pun segera menoleh untuk melihatnya.


“Bern?”

__ADS_1


“Ya, ini aku,” sahut Bern sambil tersenyum. Satu tangannya bergerak mengusap sudut bibir Amora yang kotor terkena es krim. “Umurmu sudah dua puluh tahun, tapi kenapa masih belepotan begini saat makan es krim, hem? Ingin kusuapi atau bagaimana?”


“B-Bern, kapan kau sampai di sini? Bukankah Flowrence barusaja mengirimkan pesan padamu ya. Cepat sekali,” tanya Amora yang kaget melihat kemunculan Bern. Dia lalu diam tertegun saat Bern menj*lat jari yang tadi dia gunakan untuk menyeka bekas es krim di bibirnya.


Jantungku kenapa berdebar? Aku tidak mungkin jatuh cinta pada Bern kan? Ya Tuhan, bagaimana ini. Bern terus saja bersikap manis padaku. Apa mungkin aku akan baik-baik saja dengan perlakuannya?


“Kenapa? Terpesona?” ledek Bern sambil menarik kursi ke samping kursi yang yang di duduki Amora.


“Ti-tidak. Ak-aku tidak terpesona kok,” sahut Amora agak kikuk saat di goda seperti itu oleh Bern. Dia lalu mengalihkan diri dengan kembali menikmati es krim, mencoba mengabaikan Bern yang tengah menatapnya.


Bern yang baru menyadari model baru rambut Amora pun segera membelainya dengan lembut. Dia bahkan tak ragu untuk mencium rambut Amora yang ternyata sangat wangi. “Salon mana yang tadi kau datangi dengan Flowrence? Mereka cukup pintar karena berhasil membuatku pangling dengan tampilan rambut barumu. Kau … cantik.”


“Em itu … itu ….


Amora terbata. Sungguh malu sekali di puji seperti ini oleh seorang pria yang telah menghabiskan malam dengannya. Tangan Amora sampai mengeluarkan keringat dingin saat Bern tak berhenti menyebutnya cantik. Sebagai wanita normal, mustahil perasaan Amora tidak berbunga-bunga mendapat pujian yang begitu manis dari seorang pria. Apalagi yang memujinya adalah pria tampan. Sudah pasti perasaan Amora seperti di jungkirbalikkan. Ya gugup, ya senang, ya malu. Semua perasaan itu bercampur aduk memenuhi rongga hatinya. Sungguh.


“Iya. Hari ini aku benar-benar merasa sangat bahagia sekali. Meskipun beberapa kali aku sempat syok mendengar celotehan Flowrence, tapi dia sungguh baik dengan membawaku pergi melihat-lihat barang hampir di semua toko yang ada di mall ini. Dan Bern, maaf ya jika aku menghabiskan banyak uangmu untuk membeli pakaian dan banyak barang lainnya. Aku tidak kuasa menolak rengekan Flowrence. Kau … tidak marah ‘kan?” jawab Amora merasa tak enak hati sambil melirik ke deretan paperbag yang berjejer di lantai. Dan itu semua adalah miliknya. Flowrence sangat curang dengan hanya membeli cangkir couple yang katanya akan dia gunakan untuk bersantai dengan kekasihnya. Gadis itu nakal sekali bukan?


“Untuk apa aku marah? Bukankah aku sudah bilang kalau mulai sekarang hidupmu adalah tanggung jawabku. Jadi kau bisa tenang menghabiskan uangku sebanyak apapun yang kau mau. Jangan khawatir,” sahut Bern. Dia lalu memajukan tubuhnya agar bisa sejajar dengan wajah Amora. “Suapi aku es krim itu. Aku haus.”


“Mau kupesankan minum tidak?”


“Tidak. Cukup berikan aku es krimmu saja.”


“Tapi ini bekasku, Bern,” ucap Amora agak sungkan.

__ADS_1


“Tidak apa-apa. Kita bahkan pernah berbagi selimut yang sama. Jadi bukan masalah untukku menggunakan sendok bekasmu,” sahut Bern menyatakan ketidakberatannya untuk menggunakan barang yang sama dengan Amora. Bahkan penyakitnya seperti hilang begitu saja saat Bern berada di dekat gadis ini. Aneh sekali bukan? Padahal mereka barusaja saling kenal, tapi kenapa perasaannya sudah berkembang sejauh ini?


Meskipun canggung, Amora akhirnya menyuapi Bern menggunakan sendok miliknya. Dia kemudian tersenyum kecil saat Bern tak henti memandanginya. “Jangan menatapku terus, Bern. Aku ini wanita, bagaimana jika aku sampai terbawa perasaan dan menganggap kalau kau sedang menggodaku?”


“Aku bukan sedang menggodamu, tapi aku sedang memperhatikanmu. Di hadapanku ada seorang gadis yang sangat cantik, sangat mubadzir sekali bukan jika aku membiarkannya begitu saja? Lagipula tidak ada salahnya juga memperhatikan wanita sendiri. Benar tidak?”


Bern segera meraih tangan Amora yang terkejut mendengar pengakuannya. Dengan penuh perasaan Bern menciumi jar-jari tangan Amora kemudian dia tempelkan ke pipinya. Sambil menatapnya dalam, Bern memutuskan untuk mengakui perasaannya. Dia bukan anak-anak ataupun remaja yang suka mengulur waktu. Bern sudah dewasa. Dan akan sangat memalukan sekali jika dia harus memendam perasaannya seperti yang ada di film-film.


“Amora, aku tahu ini terlalu cepat. Sebenarnya akupun merasa aneh, tapi aku tidak bisa mengendalikan perasaanku yang berkembang dengan sangat cepat. Kita memang baru saling mengenal, dan itupun terjadi karena sebuah kesepakatan. Namun rasaku ini tulus dari dasar hati. Aku ingin terus menyayangmu, Amora. Bisakah?”


“B-Bern, kau ….


“Bersediakah kau menjadi milikku? Aku tidak akan mengucapkan janji yang muluk-muluk, tapi aku berjanji akan memastikan kebahagiaanmu. Aku ingin kau dan aku menjadi kita, Amora. Aku ingin menjalin hubungan lebih denganmu. Bisakah?” ucap Bern dengan cepat memotong perkataan Amora. Dia tidak akan membiarkannya melakukan penolakan. Amora harus menjadi miliknya. Harus.


“Tapi Bern, kau tahu bukan alasan kenapa aku datang ke rumahmu? Tidak apa-apa tidak ada hubungan, aku akan tetap tinggal bersamamu. Kau tidak layak bersama gadis sepertiku. Kau berhak mendapatkan yang lebih, dan itu bukan aku!” sahut Amora antara sedih dan juga senang.


“Aku tidak peduli dengan semua itu, Amora. Aku hanya butuh dirimu di sisiku. Jadi jangan menolakku karena itu akan sangat menyakiti perasaanku. Oke?”


“Beri aku waktu.”


Bern menaikkan sebelah alisnya ke atas. “Waktu?”


“Iya. Bisa ‘kan?”


“Tentu. Apapun itu asal kau bersedia untuk bersamaku.”

__ADS_1


Amora hampir terkena serangan jantung saat Bern tiba-tiba mencium bibirnya. Mungkin jika mereka sedang berada di tempat yang sedikit privasi, Amora tidak akan sekaget ini. Tapi sekarang mereka itu sedang berada di mall dimana ada banyak sekali orang yang berlalu-lalang di sana. Astaga. Amora malu sekali. Sungguh.


***


__ADS_2