
"Tora, Lan, Cuwee. Kalian ingin pergi jalan-jalan tidak? Rasanya aku sangat bosan hari ini. Kayo dan Kak Jackson juga tidak sampai-sampai di sini. Aku sudah hampir mati kering gara-gara menunggu kedatangan mereka," ucap Elea sambil rebahan di punggungnya Tora. Dia membiarkan Cuwee menempelkan moncongnya di samping kakinya yang menggemuk.
Entah apa yang terjadi. Sekarang tubuh Elea membengkak semua, terutama daerah kaki. Dia jadi terlihat seperti penderita penyakit kaki gajah akibat ukuran kakinya yang begitu besar. Tadinya Gabrielle dan mertuanya sempat merasa khawatir dan takut Elea kenapa-napa. Akan tetapi setelah dokter yang bertanggung jawab menangani kandungan Elea menjelaskan bahwa pembengkakan ini lumrah terjadi pada wanita yang sedang hamil tua, barulah mereka bisa merasa tenang. Namun sebagai gantinya sekarang Elea harus rela menahan nyeri seakan kakinya di serang oleh klan semut api. Mengerikan sekali bukan?
"Awwwhhhhh!"
Gggrrrr
Tora langsung menggeram pelan saat Elea tiba-tiba memekik kesakitan. Tepat di pojok kanan perutnya, muncul dua benjolan dengan ukuran yang cukup besar. Sepertinya bayi-bayi yang tinggal di sana sedang bermain bola, makanya mereka menendang dengan sangat kuat hingga menyebabkan Elea kesakitan.
"Nak, jangan kuat-kuat menendangnya. Nanti kalau perut Ibu jebol bagaimana? Kalian tidak punya rumah nanti," ucap Elea berusaha membujuk anak-anaknya. Rasanya begitu nyeri ketika tendangan-tendangan itu tak kunjung berhenti.
Entah karena khawatir majikannya kenapa-napa atau bagaimana, Cuwee bangun dari duduknya kemudian berjalan memutari Elea. Kuda putih ini terus melihat ke arah penjaga yang berdiri tak jauh dari sana, seolah ingin memberitahu kalau majikan mereka sedang kesakitan. Sementara Lan dan Tora, harimau-harimau ini tampak mengawasi Elea dengan mata tajam mereka. Mungkin mereka juga sama khawatirnya seperti Cuwee.
"Elea. Kau kenapa, sayang?"
Liona segera berjalan cepat ke arah Elea yang sedang meringis kesakitan dengan wajah di banjiri banyak keringat. Dia mengetahui hal ini karena tadi Liona kebetulan sedang memeriksa CCTV. Jadilah Liona langsung mendatangi Elea karena khawatir terjadi sesuatu pada kandungannya. Secara, usia kandungan Elea sudah memasuki bulan terakhir. Liona khawatir reaksi Elea ini berasal dari kontraksi yang menandakan kalau cucunya akan segera lahir.
"Bu, cucu-cucu Ibu sedang bermain bola di dalam perutku. Sepertinya mereka terlalu bersemangat saat sedang menendang bolanya. Lihat, benjolannya muncul di sana sini," jawab Elea sembari menunjuk ke arah perut besarnya.
"Ya ampun, cucu-cucu Nenek. Tolong kalian jangan begitu ya, kasihan Ibu kalian. Nanti kalau menangis bagaimana? Kalian pasti tidak bisa menenangkannya 'kan?" ucap Liona mencoba membujuk para cucunya supaya diam. Liona sangat kasihan melihat Elea.
"Bibi Liona, kakak ipar kenapa?"
Kayo dan Jackson yang baru saja tiba di buat sangat kaget melihat Elea yang sedang kesakitan dengan di temani oleh ibu mertuanya. Mereka yang sebenarnya datang sambil membawa salad sampai melemparkannya di tanah saking khawatir pada Elea.
"Bayi-bayinya bermain bola di dalam perut, dan mereka sibuk menendang di sana sini. Elea jadi kesakitan sekarang," jawab Liona sambil mengelus-elus benjolan yang masih saja muncul.
"Coba aku periksa!"
__ADS_1
Segera Jackson meraih sebelah tangan Elea setelah duduk di sebelahnya. Tak lupa juga tadi dia membantu Kayo untuk duduk di atas pahanya yang tertekuk sebelah. Walaupun sedang mengkhawatirkan adiknya, tapi Jackson tidak melupakan Kayo yang juga membutuhkan perhatiannya. Jadilah sekarang Jackson memeriksa Elea sambil memangku istrinya.
"Elea, apa kau merasa ada yang tidak nyaman dengan tubuhmu?" tanya Jackson ketika merasakan ada yang tidak beres dengan kecepatan detak jantung adiknya. Dia jadi berdebar-debar sendiri.
"Em, tidak ada si, Kak. Tapi semalam aku benar-benar tidak bisa tidur," jawab Elea jujur.
"Kenapa?"
Aku melihat satu bayangan semu yang sangat aneh. Seseorang di dorong masuk ke dalam ruang operasi dalam kondisi tubuh berlumuran darah. Tapi anehnya aku tidak bisa melihat wajah orang tersebut. Itu penyebab aku tidak bisa memejamkan mata, aku gelisah.
Nafas Liona sedikit tertahan ketika mendengar isi pikiran Elea. Pikirannya kemudian langsung tertuju pada tiga orang wanita yang sama-sama sedang hamil besar. Elea, Levi, dan juga Kayo. Nama ketiga wanita inilah yang kini memenuhi benak Liona yang mana membuat menjadi sangat gelisah. Kenapa dia bisa berpikir demikian? Karena Elea tidak bisa melihat masa depan seseorang yang mempunyai kemampuan tertentu. Dan kenapa nama Levi dan Kayo bisa muncul di dalam pikiran Liona, itu karena Elea tidak bisa melihat siapa orang yang di dorong masuk ke dalam ruangan operasi. Ini mencekam. Tidak ada yang tahu siapa dan kenapa orang tersebut bisa bersimbah darah.
"Kak Jackson, anak-anakku akan baik-baik saja 'kan?" tanya Elea cemas. Kemampuan memang kemampuan, tapi yang namanya takdir Tuhan tidak akan ada orang yang bisa melawan. Termasuk dirinya sendiri.
"Untuk pertanyaan ini aku tidak bisa menjawab pasti, Elea. Aku hanyalah seorang dokter biasa, bukan Tuhan yang memiliki kuasa penuh atas nasib seseorang," jawab Jackson sambil terus memeriksa keadaan Elea tanpa menggunakan alat medis.
"Daripada kita tidak mendapat kepastian yang jelas, lebih baik kita semua pergi ke rumah sakit saja. Elea dan cucu-cucuku tidak boleh kenapa-napa, mereka harus secepatnya di periksa!" timpal Liona dengan raut wajah yang begitu panik. "PENJAGA!"
"Dimana Nun?"
"Nun sedang mendisiplinkan pelayan di halaman belakang, Nyonya."
"Minta dia untuk menghubungi pihak rumah sakit dan menemani kami pergi ke sana. Menantu dan cucu-cucuku sedang tidak baik-baik saja, lakukan segala yang di butuhkan secepat mungkin. Panggilkan Hansen dan juga suamiku. Mereka ada di ruang bawah tanah. Sekarang!" perintah Liona tanpa bisa di bantah.
"Baik, Nyonya. Kalau begitu kami permisi!"
Setelah para penjaga pergi melakukan tugas masing-masing, Liona dan Jackson bergegas membantu Elea berdiri. Sedangkan Kayo, dia memilih untuk tidak mengganggu suami dan juga bibinya. Cemburu? Tentu saja tidak. Kayo sangat tahu kalau kakak iparnya sampai kenapa-napa, maka dia akan kehilangan Jackson. Jadi sekarang Kayo hanya bisa berdo'a dalam hati, berharap kalau kakak ipar dan keponakannya akan baik-baik saja. Dengan begitu semua orang baru bisa merasa tenang.
"Honey, ini ada apa? Kenapa penjaga menyalakan alarm darurat?" tanya Greg sambil berlari menghampiri Liona yang sedang memapah Elea bersama Jackson. Dia lalu mengelus puncak kepala Kayo yang juga sedang ada di sana. "Jangan terlalu lama berdiri, sayang. Itu tidak baik untuk kesehatan kandunganmu."
__ADS_1
"Iya, Paman. Terima kasih sudah mengingatkan," sahut Kayo.
Jackson langsung menoleh ke arah Kayo saat menyadari kalau dia lalai memastikan kenyamanannya. Dan ketika Jackson tengah dilanda kebingungan antara ingin tetap menolong Elea atau mengutamakan Kayo terlebih dahulu, Levita datang bersama Reinhard di sampingnya. Dan seperti yang kalian tahu, Jackson langsung terusir dengan tidak hormat begitu si pelakor muncul.
"Bibi, Elea kenapa? Bukankah tadi dia masih baik-baik saja ya saat menelponku? Kenapa sekarang jadi seperti ini?" tanya Levi sambil menyeka keringat yang membanjiri wajah Elea.
"Aku hanya sedang menjadi korban keganasan anak-anakku sendiri, Kak Levi. Mereka bertiga begitu heboh bermain bola di dalam perutku, makanya sekarang aku menjadi lemas dan terus kesakitan. Lihat, benjolannya terus muncul di sana sini. Sepertinya anak-anakku menolak untuk berdamai. Hehee," jawab Elea menggantikan ibu mertuanya menjawab pertanyaan Levi.
Gawat. Ketiga wanita hamil ini sekarang sudah berkumpul semua. Jika penglihatan Elea adalah benar, itu artinya salah satu dari mereka akan segera masuk ke ruang operasi. Tapi siapa dan kenapa? Tidak mungkin Elea 'kan?
Liona menjadi semakin panik memikirkan kemungkinan terburuk yang bisa saja menimpa salah satu dari ketiga wanita hamil ini. Tak mau kecolongan, Liona pun segera memerintahkan Hansen untuk jeli dalam menjaga keamanan di sekitar. Dia takut ada seseorang yang ingin berbuat jahat.
"Jangan sampai lengah, Hansen. Menantu, keponakan, dan juga pelakor di keluarga kita sedang hamil. Aku takut ada seseorang yang sedang merencanakan sesuatu untuk menyakiti salah satu dari mereka," bisik Liona sebelum masuk ke dalam mobil.
"Baik, Nyonya!" sahut Hansen yang langsung mengatur penjagaan ketat untuk mengawal ke rumah sakit.
"Bibi Liona, ini sebenarnya ada apa? Kenapa para penjaga di siagakan seperti ini?" tanya Reinhard kebingungan melihat para penjaga sibuk sambil membawa senjata di tangan masing-masing.
"Cepat masuk ke dalam mobil, Rein. Keadaan ini sulit untuk di jelaskan. Apapun yang terjadi nanti tolong tetap tenang dan fokuskan untuk menolong yang terluka. Siapapun, Rein. Jangan sampai tidak selamat!" sahut Greg sambil menepuk bahu Reinhard yang sedang kebingungan. Tanpa harus mengetahui apa penyebabnya, Greg sudah langsung tanggap mengapa istrinya tiba-tiba menjadi siaga seperti ini. Pasti ada sesuatu yang akan segera terjadi, makanya Liona sampai ketakutan.
"Tapi Paman, aku ....
"Dokter Reinhard, Nyonya Elea harus segera di bawa ke rumah sakit sekarang juga. Kau bisa mati di bunuh Tuan Muda Gabrielle jika masih terus mengulur waktu!" tegur Nun dengan mimik wajah yang begitu datar.
Reinhard keki. Dia tak lagi banyak bertanya begitu mendengar perkataan Nun. Namun yang tidak di sangka-sangka, dari kaca jendela mobil Levi menyembulkan kepalanya lalu menatap sengit ke arah Nun.
"Nun, katakan pada Tuan Muda-mu itu kalau dia berani membunuh suamiku, maka aku akan membawa lari Elea lalu menikahkannya dengan bule yang jauh lebih kaya darinya!" teriak Levi penuh emosi.
"Kak Levi, kau menungging seperti itu apa tidak takut calon mantuku akan tergencet kaca mobil? Duduklah yang benar. Berteriak dengan posisi yang manis kan bisa?" tegur Elea khawatir calon mantunya akan menjadi pipih. Kan tidak lucu kalau Flow menikah dengan laki-laki yang tubuhnya gepeng setipis triplek.
__ADS_1
Teguran Elea yang sangat tidak manusiawi itu membuat orang-orang yang ada di dalam mobil syok seketika. Dan mereka baru tersadar saat mobil mulai bergerak pergi menuju rumah sakit. Mungkin Nun sudah kebal mendengar perkataan-perkataan nyeleneh Elea, makanya dia bisa setenang ini di saat semua orang seperti kehilangan nyawa.
*****