Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Si Tuan Muda


__ADS_3

Buggghhhhhhh


Seorang pria dengan wajah yang di penuhi codet jatuh tersungkur di tanah setelah mendapat satu pukulan di wajahnya. Dia lalu menatap takut ke arah remaja yang tengah menatapnya dengan pandangan yang begitu menusuk.


"Bukankah aku sudah memberitahu kalian agar jangan melibatkan orang lain saat sedang mengeksekusi gadis itu?"


"Maafkan kami, Tuan Muda. Sepertinya anak buah kami salah mengenali target, makanya gadis itu bisa ikut terluka. Tolong ampuni kami, Tuan Muda. Kami salah!"


"Apa kau melihatku sebagai orang yang mudah memberikan maaf untuk orang lain? Di awal perjanjian kita, kau bersedia mati jika misi ini sampai gagal. And see, semuanya gagal total. Gara-gara kebodohanmu dan kebodohan anak buahmu, aku hampir menjadi tersangkanya. Dengan kesalahan sebesar ini mungkinkah untuk aku memaafkan kalian? Heh, jangan bermimpi kau!"


"Tuan Muda, t-tolong beri kami kesempatan untuk kembali menjalankan misi ini dengan rencana yang kedua. K-kami janji hal seperti ini tidak akan terjadi lagi. Sungguh. T-tolong jangan bunuh saya, Tuan Muda. S-saya masih ingin hidup!"


Satu smirk licik muncul di bibir remaja yang di panggil dengan sebutan Tuan Muda oleh bandit yang sedang berlutut memohon ampun di bawah kakinya. Dia lalu mengulurkan tangan ke arah penjaga yang berdiri di sebelahnya.


"Beri aku senjata!"


"Baik, Tuan Muda!"


Wajah si bandit langsung pucat pasi saat dia merasakan rasa dingin di keningnya. Pistol, ya, pistol. Ada senjata api yang kini siap merenggut nyawanya. Tak mau mati konyol, bandit tersebut mencoba mencari cara agar Tuan Muda ini bersedia mengampuni kesalahannya. Dia belum siap mati sekarang.


"Tuan Muda, saya ....

__ADS_1


Door dor dor dor


Remaja yang di panggil dengan sebutan Tuan Muda itu dengan santainya menjilat darah yang memercik ke bibirnya. Dia lalu tersenyum puas melihat empat orang bandit mati dengan kepala hancur berserakan. Kejam memang. Namun, inilah yang dinamakan kehidupan. Siapapun orang yang berani menarik sumpah di atas perjanjian, maka harus siap dengan segala resiko yang datang. Contohnya seperti sekarang ini. Para bandit tersebut gagal memenuhi perjanjian yang sudah mereka sepakati di awal pertemuan, dan sebagai janjinya mereka rela mati jika misi tersebut sampai gagal. Jadi di sini si Tuan Muda tidak bersalah sama sekali setelah menghabisi mereka dengan cara yang cukup sadis. Karena di awal perjanjian, mereka sudah setuju dengan keuntungan beserta resiko yang akan mereka terima.


"Bereskan sampah-sampah ini!"


"Baik, Tuan Muda!"


"Minta mereka untuk menyiapkan pakaian ganti di dalam mobil. Aku tidak mungkin pulang dengan kondisi berlumuran darah seperti ini."


"Semuanya sudah di persiapkan, Tuan Muda. Anda hanya perlu membilas tubuh sebelum masuk ke dalam mobil. Saya akan segera mengambilkan pakaiannya."


"Hmmm,"


Namun, tanpa di sadari oleh mereka, dari kejauhan ada sepasang mata yang tengah membelalak dengan bersimbah air mata. Orang tersebut juga menutupi mulutnya menggunakan tangan, seolah tidak ingin mempercayai apa yang baru saja dilihatnya.


"Nyonya, anda baik-baik saja?"


"Bagaimana mungkin ini terjadi. Dia cucuku, bagaimana bisa. Apa yang baru saja ku lihat?" ucap Liona dengan bibir gemetar hebat.


Sepanjang Liona hidup, baru kali ini dia merasakan sebuah hantaman yang sangat besar di dalam hidupnya. Bahkan ketika dulu Liona menemukan reinkarnasi adiknya, dia tidak sampai seperti ini. Namun ketika dia melihat cucunya, Bern, membunuh para bandit dengan cara yang sangat brutal karena mereka gagal melenyapkan cucu perempuannya, Flowrence, seluruh tulang yang ada di tubuh Liona bagai di kuliti. Rasa perih dan juga sakit yang muncul sangat sulit untuk di gambarkan dengan kata-kata. Liona sangat amat syok, dia tidak percaya kalau apa yang di khawatirkannya benar-benar menjadi kenyataan. Flowrence celaka bukan karena ulah para penculik, tapi adalah karena kejahatan kakaknya sendiri. Katakan, beritahu Liona apa yang harus dia lakukan sekarang. Katakan.

__ADS_1


"Hiksss, kenapa semuanya jadi seperti ini. Bern, Flowrence adalah adikmu, dia saudara kembarmu. Tapi kenapa kau bisa setega ini padanya? Apa yang sebenarnya terjadi, Bern? APA?"


"Nyonya, tolong kendalikan emosi anda. Di sana masih ada orang-orangnya Tuan Muda Bern, kita bisa ketahuan kalau anda terus histeris seperti ini, Nyonya Liona!" ucap penjaga khawatir.


"Kita pulang. Masalah ini tidak boleh di biarkan!" sahut Liona sambil menyeka air matanya.


"Baik, Nyonya!"


Liona hampir saja jatuh ke tanah kalau penjaga tidak sigap menangkap tubuhnya yang mendadak terasa sangat lemas. Dengan di papah dan langkah setengah di seret, Liona akhirnya sampai di dalam mobil. Dia lalu memutuskan untuk menghubungi Greg, berniat menyampaikan kengerian apa yang baru saja dilihatnya.


"Honey, kau di mana sekarang? Aku berkeliling mencarimu di rumah sakit, tapi kau tidak bisa kutemukan. Kau di mana, hm? Tolong jangan membuatku khawatir seperti ini ya. Beritahu aku sekarang kau sedang ada di mana dan dengan siapa. Oke?"


"Greg, dalang dari kecelakaan yang di alami oleh Flowrence adalah Bern. D-dia ... dia yang telah meminta para penculik itu untuk mencelakai cucu kita. Dia penyebabnya!" ucap Liona dengan suara terputus-putus. Rasanya sungguh sakit mengetahui fakta kalau cucu sulungnya adalah orang yang telah menciptakan kegaduhan ini.


Tak kuat mendengar Greg yang terus mencecar keberadaannya, Liona akhirnya memutuskan untuk menon-aktifkan ponselnya. Dia kalut.


"Ya Tuhan, sebenarnya karma apa yang sedang menimpa keluargaku. Kenapa kau membiarkan Bern menjadi orang yang seperti ini. Apakah masih belum cukup semua kebaikan dan juga kebaktian keluargaku terhadap-Mu? Ini terlalu menyakitkan, Tuhan. Aku tidak sanggup melihat cucuku saling mencelakai seperti ini. Aku tidak sanggup," ratap Liona sambil menekan dadanya yang terasa sesak. "Pertama Rose, kau membuat kami kehilangan dia. Dan sekarang. Sekarang kau membuat kami jauh lebih menderita lagi dengan fakta bahwa Bern adalah seorang remaja yang mempunyai hati begitu kejam. Tuhan, tak bisakah Kau membiarkan aku saja yang menanggung karma? Apapun itu, asal jangan melibatkan cucu-cucuku. Kasihani mereka, Tuhan. Aku mohon," ....


Penjaga yang sedang menyetir mobil terus memperhatikan Liona dari kaca spion. Sebagai orang yang telah lama mengabdi pada keluarga Ma, penjaga ini tentu sangat amat paham akan kepedihan yang tengah mendera hati majikannya. Karena jujur, sebenarnya dia juga sangat amat syok setelah menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Tuan Muda Bern menghabisi sekelompok bandit yang telah gagal menghabisi nyawa Nona Muda Flowrence. Sungguh, kenyataan ini adalah yang paling mengerikan yang pernah dia lihat di mana dia harus menyaksikan sendiri bagaimana orang-orang kaya tega ingin menghabisi nyawa saudara kandungnya hanya demi memperebutkan harta. Benar-benar sangat mengerikan.


Kalaupun benar Tuan Muda Bern adalah dalang di balik musibah yang di alami oleh Nona Muda, tapi kenapa aku merasa seperti ada sesuatu yang sengaja mendorong Tuan Muda agar nekad menyakiti seorang gadis yang bahkan tidak mengerti apa-apa? Kalaupun benar itu tentang harta, bukankah yang cocok menjadi pesaingnya adalah Tuan Muda Karl? Lalu kenapa malah Nona Muda Flowrence yang menjadi sasaran? Ini tidak masuk akal.

__ADS_1


*******


__ADS_2