
Kak Ning berjalan mondar-mandir di depan ruang kesehatan. Setelah Elea mengalami muntah-muntah karenanya, Kak Ning tak berani lagi menampakkan batang hidungnya di hadapan ibu hamil tersebut. Namun tidak di sangka Kak Ning malah menjadi penyebab Elea masuk ke ruangan ini karena mereka yang tidak sengaja berpapasan di pintu masuk menuju kantin. Alhasil ibu muda tersebut kembali memuntahkan isi perutnya hingga membuatnya lemas dan terpaksa di larikan ke ruangan ini.
Bagaimana ini? Tuan Muda Gabrielle bisa menggantungku jika tahu kalau Elea lemas gara-gara aku. Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Elea yang hamil tapi kenapa aku yang menjadi korban? Ini tida adil.
Di saat Kak Ning tengah kepanikan di luar, di dalam ruang kesehatan Elea tengah tertidur lemah dengan Lusi dan Safira di sampingnya. Mereka berdua duduk dengan sangat nyaman karena ruangan ini telah di sulap bak hotel bintang lima. Bagaimana tidak! Setelah Safira mengabarkan pada Ares kalau Elea masuk ke ruang kesehatan, tiba-tiba saja pihak kampus langsung mengubah tempat ini menjadi tempat yang sangat mewah. Bahkan pihak sekolah mendatangkan beberapa dokter terbaik untuk memeriksa keadaan ibu hamil ini. Catat ya, semua dokter yang di undang berjenis kelamin perempuan. Sepertinya tangan kanan dari Tuan Muda kita sudah memberi peringatan kalau Elea tidak di izinkan untuk dilihat pria lain selain suaminya seorang.
"Lusi, apa menurutmu Tuan Muda akan datang kemari?" tanya Safira mengira-ngira. Dia tengah mencemaskan nasib Kak Ning sekarang.
"Kak Gabrielle sudah pasti datang. Istri dan ketiga calon anaknya sedang tidak baik-baik saja sekarang. Jikapun Kak Gabrielle saat ini berada di dasar neraka, dia pasti akan langsung terbang kemari untuk memastikan keadaan Elea," jawab Lusi pelan. "Elea adalah hidupnya Kak Gabrielle, Kak Safira. Bukankah kita sama-sama tahu betapa bucinnya mereka?"
Safira mengangguk. Setelah itu dia menghela nafas panjang sambil menatap wajah pucat dari ibu hamil yang tengah tertidur di hadapannya.
"Lusi, aku dengar kau juga sedang hamil. Apa benar?"
Lusi mengangguk. "Benar, Kak Safira. Nona Cira, aku, dan Elea hamil bersamaan. Usia kandungan kami hanya berbeda bulan saja."
"Waahhh, kenapa bisa serentak begini ya? Lucu sekali."
"Mungkin kehamilan kami sudah di takdirkan untuk menjadi bagian dari kisah perjalanan hidup anak-anaknya Elea nanti. Dan sekarang kami hanya tinggal menunggu kehamilan Kak Levi dan Nona Kayo."
Brrraaaaakkkk
Safira dan Lusi hampir saja jatuh terjungkal saking kagetnya mereka saat pintu ruangan di buka dengan sangat kuat. Setelah itu mereka berdua langsung berdiri, menatap takut ke arah pria yang datang dengan wajah memerah dan mata berkilat marah.
"Lusi, Elea mana?" tanya Gabrielle dengan nafas menderu.
Bagai orang kesurupan, Gabrielle langsung memacu mobilnya dengan sangat cepat begitu Ares menerima kabar kalau Elea dilarikan ke ruang kesehatan. Dia sudah tidak mempedulikan apapun lagi selain ingin sesegera mungkin tiba di kampus ini.
"Kak, Elea sedang tidur. Tolong jangan berisik, kasihan dia dan bayinya," jawab Lusi dengan sangat hati-hati menunjuk ke arah Elea.Dia takut sekali melihat kemarahan di diri pria ini.
__ADS_1
Gabrielle langsung berkamuflase menjadi ruh saat melangkahkan kaki mendekat ke arah ranjang. Sebisa mungkin dia menahan deru nafasnya agar tidak menggangu tidur sang istri. Dan begitu Gabrielle sampai di dekat Elea, dia langsung memejamkan mata ketika mendapati wajahnya yang pucat pasi seperti mayat.
"T-Tuan Muda."
Semua orang langsung menoleh ke arah pintu saat mendengar suara Kak Ning yang gemetaran. Gabrielle yang memang sudah tahu penyebab istrinya jadi seperti ini langsung berjalan mendekat. Dia lalu mengarahkan kedua tangannya hendak mencekik leher wanita gemulai ini sebelum akhirnya dia seperti mendapat pesan gaib dari anak-anaknya.
Astaga, sadar Gabrielle, sadar. Elea sedang hamil, kau tidak boleh membenci dan menyakiti orang lain jika tak mau anak-anakmu lahir menyerupai bandot lembek ini. Sabar, maafkan kesalahannya. Anggap ini adalah kebajikan yang kau lakukan atas nama baby Karl. Oke?
"Aku memafkanmu. Tapi tolong sekarang kau pergilah dari sini," ucap Gabrielle sekuat hati memaksakan kedua bibirnya untuk tersenyum.
Kak Ning yang tidak menduga-duga akan terjadi hal seperti ini hanya terdiam syok dengan mata melotot lebar. Sungguh, awalnya Kak Ning pikir dia akan langsung di gantung hidup-hidup di atas gedung universitas ini. Siapa yang akan menyangka kalau Tuan Muda Gabrielle malah memaafkannya dan bahkan bicara seraya tersenyum manis.
In-ini tidak mimpi kan? Tuan Muda memaafkan aku begitu saja tanpa ada embel-embel hukuman? Astaga, ini nyata atau aku sedang terjebak oleh ilusi sih. Aaaaa, aku bisa gila.
Sikap aneh Gabrielle tidak hanya membuat Kak Ning saja yang terheran-heran. Bahkan Lusi dan Safira pun sampai ternganga seperti orang bodoh. Ini suatu keajaiban yang sangat langka. Seorang Gabrielle bisa memaafkan orang yang sudah membuat istri kesayangannya terkapar tak berdaya. Tidakkah menurut kalian ini sangat mengherankan?
Ares yang baru saja tiba terlihat kebingungan melihat semua orang diam mematung sambil menatap aneh ke arah Tuan Muda-nya. Khawatir terjadi sesuatu, Ares segera melongok ke dalam ruangan untuk memastikan kalau Nyonya kecilnya dalam kondisi baik-baik saja.
"Saya tidak bermaksud lancang, Tuan Muda. Saya hanya ingin melihat keadaan Nyonya Elea," sahut Ares dengan cepat memberi penjelasan.
"Alasan!"
Gabrielle mendengus. Setelah itu dia menatap tajam ke arah Kak Ning yang masih belum beranjak dari hadapannya. "Mau sampai kapan kau terus berdiri di depanku?"
Dalam sekejap mata, tubuh Kak Ning langsung lenyap tak berbekas begitu Gabrielle membuka suara. Hal itu menyebabkan semua orang menjadi sangat kaget. Setakut itukah Kak Ning sampai-sampai meminjam jurus menghilang dari salah satu karakter di film anime?
"Siapa yang memeriksa Elea?" tanya Gabrielle sambil berjalan kembali menuju ranjang. Dia kemudian membelai wajah pucat Elea dengan sangat lembut.
"Pihak universitas memanggil beberapa dokter untuk datang memeriksa Nyonya Elea, Tuan Muda," jawab Safira seraya menghela nafas panjang.
__ADS_1
"Aku tidak akan mau menjadi pendonor dana lagi kalau mereka sampai ....
"Semua dokter yang datang berjenis kelamin wanita, Tuan Muda," sela Safira dengan cepat.
"Oh."
Mungkin karena mendengar suara orang yang terus bercakap-cakap, Elea akhirnya membuka mata. Dia kemudian menoleh, tersenyum ketika mendapati sang suami yang tengah membelai-belai wajahnya.
"Apa suara mereka mengganggu tidurmu?" tanya Gabrielle. Dia menuduh orang-orang sebagai penyebab bangunnya Elea.
"Iya. Suaranya terdengar seperti knalpot bocor yang sangat berisik, Kak," jawab Elea. Dia lalu menceritakan pada suaminya tentang apa yang terjadi sebelum di bawa masuk ke ruangan ini. "Kak Iel, sepertinya salah satu dari anak-anakku ada yang tidak menyukai Kak Ning. Padahal aku dan Kak Ning baru saja berbaikan. Ini pertanda apa ya, Kak?"
"Bukan anak-anakku, tapi anak kita, sayang," sahut Gabrielle membenarkan anggapan Elea.
"Hehe, iya anak kita. Aku lupa kalau Kak Iel-lah yang sudah memupuk rahimku dengan pupuk kualitas terbaik."
Ares tanggap. Segera dia menggiring Lusi dan Safira untuk keluar dari sana agar tidak mengganggu kemesraan Tuan Muda-nya.
"Apa yang telah dilakukan Kak Ning pada Nyonya Elea?" tanya Ares pada Safira setelah mereka berada di luar ruangan kesehatan.
"Mereka hanya tidak sengaja berpapasan di pintu masuk menuju kantin, Tuan Ares. Kak Ning sama sekali tidak melakukan apapun pada Nyonya Elea," jawab Safira jujur.
"Benarkah? Tapi kenapa Tuan Muda membiarkan Kak Ning pergi begitu saja?"
Safira dan Lusi saling melempar pandangan. Setelah itu mereka berdua memberitahu Ares tentang apa yang terjadi sebelum dia sampai di sini.
Apa memaafkan kelalaian Kak Ning di anggap sebagai amal kebajikan oleh Tuan Muda ya? Lalu kebajikan kali ini di peruntukan untuk bayi yang mana? Bern atau Karl? Astaga, bisa-bisanya.
*****
__ADS_1
HAYOOO MANA BOM KOMENTARNYA