
Di kediaman keluarga Young, semua orang nampak tidak sabar menunggu kedatangan Elea. Terlebih lagi Patricia. Wanita yang sedang hamil muda itu sudah tidak tahan ingin segera melihat manusia yang bernama Kak Ning. Dia terus melihat ke arah pintu sambil mengelus-elus perutnya.
"Sabar ya bayi kecambah. Sebentar lagi keinginanmu akan segera terpenuhi,"
"Kau sedang bicara dengan siapa, Cia?" tanya Junio. Dia sengaja pulang cepat dari kantor demi agar bisa ikut makan malam bersama istri kesayangannya ini.
"Dengan angin," jawab Patricia asal.
"Ck, ketus sekali. Tidak sopan bicara seperti itu pada suamimu."
"Lagipula kenapa juga kau masih bertanya di saat tanganku sedang mengelus perut. Memangnya kau melihat ada orang lain di sini selain bayi kecambah ini? Tidak kan?" ucap Patricia sewot.
Junio menarik nafas. Dia harus banyak isi ulang kesabaran dalam menghadapi hormon ibu hamil yang selalu naik turun. Melihat wajah istrinya yang begitu masam, Junio berinisiatif untuk mencium tengkuk Patricia. Dia berjalan dengan begitu perlahan sebelum akhirnya mendaratkan sebuah kecupan hangat di sana.
Cup
"Hehe."
"K-kau... apa yang kau lakukan barusan?" tanya Patricia dengan pipi merona.
"Mencium tengkukmu. Kenapa memangnya? Kurang?" jawab Junio meledek.
"Dasar aki-aki mesum."
"Biar saja, yang penting aku sudah berhasil menghamilimu. Itu artinya kau juga sangat menikmati kemesuman dari aki-aki ini. Benar tidak?"
Patricia langsung menoleh ke arah lain, dia mati kutu. Dan di saat bersamaan, orang yang di tunggu-tunggu oleh penghuni rumah akhirnya datang juga. Patricia dengan begitu antusias langsung menghampiri sang adik kemudian memeluknya dengan penuh sayang.
"Kau lama sekali, Elea."
"Hehehe, maaf Kak. Kami perlu bertukar pakaian dulu setelah pulang dari pemakaman. Kan tidak baik jika aura jahat sampai terbawa masuk ke rumah ini. Kasihan bayi kucingnya," sahut Elea sembari meraba perut sang kakak.
"Siapa yang kau sebut bayi kucing?" protes Junio tak terima. Enak saja. Susah payah Junio membuat anak malah di katai sebagai anak kucing. Istrinya Gabrielle ini kadang-kadang.
"Humm, begitu saja marah."
"Marah lah."
__ADS_1
Elea mencebikkan bibir ke arah suami kakaknya. Setelah itu dia langsung menghambur ke pelukan sang nenek begitu melihatnya muncul di sana.
"Aduhh cucu Grandma," ledek Clarissa gemas.
"Grandma, aku membawa seseorang yang begitu mengidolakanmu. Dia juga adalah guru desain di kampusku," ucap Elea.
"Oh ya? Siapa? Dimana orangnya?"
"Tunggu sebentar ya. Mungkin sekarang dia sedang memoles lipstik di bibir lemesnya itu."
Tepat ketika Elea hendak keluar, Lusi, Jackson, dan Kak Ning masuk ke dalam rumah. Kak Ning yang melihat keberadaan idolanya langsung diam mematung seperti kehilangan nyawa. Sungguh, dia sangat tidak menyangka kalau dirinya benar-benar bisa bertatap muka secara langsung dengan wanita yang menjadi panutan dalam dunia mode.
"Lihatlah Grandma. Namanya Kak Ning, dan Grandma adalah role modenya dalam dunia desain," ucap Elea memperkenalkan sang guru. Dia merasa tergelitik melihat reaksi kaget di wajah Kak Ning.
"Halo Kak Ning, apa kabar? Senang bertemu denganmu. Terima kasih banyak ya sudah mau menjadi guru untuk cucuku," ucap Clarissa sembari mengulurkan tangan ke arah Kak Ning.
"Ha-halo N-Nyonya W-Wu. K-kabarku sangat baik, dan aku juga s-sangat senang bertemu denganmu. Sangat senang," sahut Kak Ning tergagap. Dia seperti terserang penyakit tremor ketika berjabat tangan dengan sang idola.
"Santai saja, Kak Ning. Grandma-ku bukan hantu yang akan mendatangimu di alam mimpi seperti almarhum Mamaku. Jadi tidak perlulah sampai salah tingkah begitu," ledek Elea.
Semua orang tertawa melihat Kak Ning yang langsung memasang wajah panik saat Elea menyebut kata hantu. Tak lama kemudian pasangan tuan rumah akhirnya datang bergabung. Elea dengan manjanya langsung memeluk ayah dan ibunya. Mengabaikan Kak Ning yang masih terbengang tak percaya setelah bertemu dengan neneknya.
Lusi tersenyum ke arah suaminya yang baru saja datang. Dia sedikit salah tingkah ketika Gleen mencium keningnya di hadapan semua orang.
"Yakk, perhatikan dimana kau berada. Dasar tungau busuk!" tegur Junio jengkel.
"Maaf, aku tidak melihat keberadaanmu. Aku kira kau mahluk tak kasat mata tadi, ternyata manusia," sahut Gleen tanpa malu.
Air liur Kak Ning hampir menetes keluar begitu melihat rupa dari om-om yang menjadi suaminya Lusi. Barulah dia merasa menyesal karena tidak mengiyakan ucapan Elea yang membuka jasa pelakor dalam rumah tangganya Lusi dan Gleen.
"Ekhmmm, sepertinya ada yang sedang menyesal di sini," sindir Elea sambil melirik ke arah gurunya yang sedang tercengang melihat ketampanan seorang Gleen.
"Siapa, Elea?" tanya Patricia penasaran.
"Kak Ning."
Glukkk
__ADS_1
Jangan di tanya seperti apa malunya Kak Ning sekarang. Mulut Elea benar-benar sangat keterlaluan. Bisa-bisanya anak nakal ini membongkar semuanya di hadapan semua orang. Jackson yang melihat kepanikan di wajah Kak Ning memilih untuk pergi dari sana. Perutnya hampir kram gara-gara ulah adiknya yang tidak berhenti menjahili kuda nil tersebut.
"Em Nyonya Clarissa, apakah aku boleh meminta air minum di rumahmu? Tiba-tiba saja tenggorokanku terasa begitu kering," ucap Kak Ning sambil menahan malu.
"Oh, Kak Ning haus ya? Kalau begitu ayo ikut aku. Aku akan menemanimu pergi ke dapur untuk mengambil air minum," sahut Patricia dengan penuh semangat. Ini adalah kesempatan besar untuknya agar bisa berdekatan dengan Kak Ning. Akhirnya ngidamnya si bayi kecambah terpenuhi juga.
"Baiklah. Maaf merepotkanmu, Nona,"
"Tidak masalah. Ayo!" ajak Patricia langsung menggandeng lengan Kak Ning dengan penuh kebahagiaan.
"Hati-hati Kak Ning, kau jangan memakan kakakku. Dia sedang hamil muda," celetuk Elea sambil menahan tawa.
"Kau pikir aku drakula apa!" keluh Kak Ning lirih. Dia di buat gila oleh gadis nakal itu.
Elea dan Lusi tertawa cekikikan membayangkan betapa jengkelnya Kak Ning karena terus-terusan di kerjai. Sementara yang lainnya nampak menatap aneh ke arah dua wanita ini.
"Sweety, Kak Ning itu makhluk jenis apa? Dari bentuk tubuhnya aku tidak yakin kalau dia manusia sungguhan," tanya Gleen penasaran.
"Husss, jangan sembarangan bicara Gleen. Biarpun seperti itu Kak Ning adalah guruku dan Elea. Kau harus sopan padanya," tegur Lusi.
"Aku kan hanya bertanya, Sweety. Aku khawatir kalau anaknya Patricia bisa tertular virus yang dia bawa. Memangnya kau tidak lihat betapa menempelnya Patricia pada Kak Ning? Aku bahkan bisa melihat kalau Patricia begitu bern*fsu untuk memeluknya. Mengerikan bukan?"
Dan begitu Gleen selesai bicara, Junio langsung menghilang dari pandangan. Pria gila itu sangat khawatir kalau-kalau keberadaan Kak Ning mengancam keselamatan bayi kecambahnya. Kesigapan Junio dalam menjaga anak dan istrinya mengundang gelak tawa semua orang. Pria itu sama sekali tidak sadar kalau Gleen hanya sedang mencandainya saja.
"Kau ini, Gleen. Bagaimana kalau nanti Junio tiba-tiba menyerang Kak Ning? Dia itu tidak salah apa-apa," omel Lusi sambil menggelengkan kepala.
"Jangan khawatir, Kak Lusi. Karena pada dasarnya Paman Junio dan Kak Ning memiliki gen yang sama. Pasti akan sangat seru jika mereka sampai terlibat baku hantam. Benar tidak, Grandma?" tanya Elea pada sang nenek.
"Grandma tidak membenarkan. Akan tetapi jika di pikir lucu juga sih kalau Junio sampai bertarung dengan laki-laki yang berpakaian seperti perempuan. Dia pasti akan kebingungan memilih bagian mana yang akan dipukul. Iya kan?" jawab Clarissa yang mendadak jadi tertular ketengilan cucunya.
Setelah puas menertawakan Junio dan Kak Ning, Bryan mengajak semua orang untuk pergi ke ruang makan. Mereka terus berbincang hangat sambil menunggu kedatangan tiga orang yang masih berada di dapur.
πππππππππππππππππ
...πJangan lupa vote, like, dan comment...
...ya gengss...
__ADS_1
...πIg: rifani_nini...
...πFb: Rifani...