
Sementara itu di dalam ruang ICU, para dokter tengah bersiap untuk memindahkan si Nona Muda ke kamar rawat inap. Walaupun luka di tubuhnya masih lumayan parah, setidaknya keadaan gadis menggemaskan ini sudah jauh lebih baik. Jadi mereka memutuskan untuk di pindahkan saja agar memudahkan pihak keluarga untuk menjenguk.
"Hiksss, Ayah. Sekarang aku jadi jelek seperti mumi Mesir. Bagaimana kalau Kak Oliv tidak mau menyayangiku lagi?" tanya Flowrence begitu melihat Ayah Jackson muncul kemudian ikut membantu para dokter memindahkannya ke ruang rawat inap.
"Stttt, siapa bilang kau jadi jelek. Kau tetap putri Ayah yang paling cantik dan juga menggemaskan!" jawab Jackson sambil tersenyum kecil saat menanggapi pertanyaan dari putrinya. Hatinya terasa pedih, tapi dia tetap berusaha untuk tegar.
"Tapi tubuhku banyak korengnya. Nanti pasti baunya akan sangat busuk,"
"Kan nanti lukanya akan di obati oleh Paman dokter, sayang. Jangan khawatir. Uang Ayah sangat banyak, kau bisa menggunakan semuanya untuk mengembalikan kulitmu seperti semula. Zaman sekarang ilmu kedokteran sudah sangat canggih, jadi kau tidak perlu takut luka-luka itu akan membekas. Oke?"
"Benarkah?"
Jackson mengangguk. Dia lalu melirik ke arah dokter yang sedang menahan tawa mereka. Wajarlah. Memangnya siapa sih yang mampu menahan diri untuk tidak tersenyum saat Flowrence berbicara. Jackson akui kalau putrinya sedikit bodoh. Akan tetapi dalam hal menyenangkan hati orang lain, Flowrence adalah juaranya. Sungguh.
Oya, jika kalian merasa penasaran mengapa Kayo tidak ikut datang menjenguk Flowrence, jawabannya adalah karena Russel yang mendadak tidak mau di tinggal. Akhirnya dengan sedikit terpaksa Jackson datang melihat keadaan Flowrence seorang diri. Mau bagaimana lagi, putranya juga sedang terluka. Jadi mau tidak mau Kayo terpaksa tidak bisa pergi bersamanya kemari.
"Ayah, bagaimana keadaan Russel dan Sisil? Mereka tidak mati 'kan?"
Sreeeettt
Para dokter tiba-tiba berhenti melangkah saat mereka mendengar pertanyaan Flowrence yang begitu frontal. Sejenak mereka bingung harus bersikap seperti apa. Jackson yang melihat reaksi terkejut di diri para dokter pun segera meminta mereka untuk kembali berjalan. Dia tahu, sangat amat-tahu kalau Flowrence seratus persen adalah jelmaan Elea. Jadi selain bahagia, gadis kecil ini juga bisa membuat jantung orang lain berhenti berdetak.
"Sayang, keadaan Russel sekarang sudah baik-baik saja. Tapi Sisil, dia koma. Saat kau pingsan, Sisil sempat terperosok jatuh namun kakinya tersangkut akar pepohonan. Karena terlalu lama tergantung terbalik, sebagian pembuluh darahnya pecah dan membuat peredaran darah ke otaknya tersumbat. Kita sama-sama berdoa saja ya supaya Sisil bisa secepatnya sadar," ucap Jackson prihatin akan nasib dari teman putrinya.
"Hikssss, Ayah. Apakah semua itu gara-gara aku?" tanya Flowrence sambil menangis. Dia menangis tapi bentuk wajahnya tak berubah. Datar. Bukan karena pura-pura, tapi karena kulit wajahnya terkelupas yang mana membuat Flowrence tidak bisa membuat ekpresi sedih ataupun senang. Kalian bayangkan sendiri saja ya.
"Bukan, sayang. Semua itu bukan karenamu, tapi karena kecelakaan. Jadi kau jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri ya? Russel dan Sisil terluka bukan karenamu, tapi karena segerombolan penjahat yang ingin menculik kalian. Kau tidak lupa kan pada mereka?" jawab Jackson sambil mengelus pelan bagian tangan Flowrence yang tidak terbungkus perban.
__ADS_1
Di saat yang bersamaan ke enam bodyguard tampannya Flowrence muncul. Segera ke enam remaja tersebut berlari mendekat, terlebih lagi Oliver. Dia langsung ikut mendorong ranjang yang di tempati Flowrence sambil sesekali memperhatikan luka-luka yang ada. Kedua rahangnya tampak mengerat kuat.
Kau gadis nakal, setelah ini aku tidak akan membiarkanmu bersekolah di sekolah itu lagi. Cukup sekali ini saja kau membuatku ketakutan setengah mati. Dan tidak akan kubiarkan hal ini terulang kedua kali. Tidak akan.
Dan niatan Oliver pun di sambut dengan sebuah smirk licik dari seseorang yang ada di belakangnya. Ya, seperti yang kalian pikir. Dari ke tujuh bodyguard-nya Flowrence, satu di antara mereka ada yang bisa mendengarkan isi pikiran orang lain. Kalau Russel, dia hanya tak sengaja mengetahui kalau ayahnya Flowrence bisa membaca pikiran orang lain. Tolong di catat ya, HANYA TAK SENGAJA MENGETAHUI KELEBIHAN AYAHNYA FLOWRENCE. Oke, 😅
"Paman, Flowrence mau di bawa kemana?" tanya Karl penasaran. Dia meringis ngeri saat tak sengaja melihat luka adiknya yang tersingkap dari balik perban.
"Flowrence sudah bisa di pindahkan ke ruang rawat inap. Selain tinggal luka-lukanya yang belum mengering, keadaannya sudah cukup membaik," jawab Jackson.
"Oh, syukurlah kalau begitu. Akhirnya detik-detik mengerikan ini bisa terlewat juga. Huffttt,"
Saat Karl sibuk mengkhawatirkan keadaan adiknya, Flowrence sendiri malah asik mencuri-curi pandang ke arah Oliver. Entah kenapa calon suaminya ini terlihat semakin tampan dalam kondisi yang acak-acakan. Flowrence jadi semakin yakin untuk menikah dengannya. Sungguh.
"Flow, kau lapar tidak?" tanya Cio iseng. Dia jengah melihat kebucinan gadis cilik ini.
"Kalau lapar ya makan, bukan malah memandangi Oliver seperti itu. Wajah tampannya tidak akan mungkin membuatmu merasa kenyang,"
Semua tertawa. Bahkan dokter yang ada di sana pun tak kuasa menahan suara tawa mereka melihat Flowrence yang langsung tersipu malu karena ketahuan sedang mengagumi ketampanan Oliver. Eh tidak semua deng. Bern sama sekali tak menunjukkan ekpresi apapun saat adiknya di goda oleh Cio. Dia hanya diam menyimak sambil berjalan paling belakang bersama Andreas.
"Flow, rasanya sakit tidak di perban seperti itu?" tanya Karl sambil bergidik takut. Lagi-lagi matanya tak sengaja melihat luka menganga di lengan adiknya.
"Tidak kok. Kenapa? Apa Kakak ingin mencobanya?" jawab Flowrence.
"Hiiiii, maaf-maaf sa ....
"Baiklah. Tolong tunggu sampai aku sembuh dulu ya, baru nanti aku akan meminta Ayah Gabrielle untuk menyeret Kak Karl sampai luka-luka seperti aku. Aku adik yang baik bukan?" tanya Flowrence menawarkan bantuan dengan setulus hati.
__ADS_1
"A-apa?". Karl syok setengah mati. Kakinya sampai tidak bisa bergerak saking kagetnya dia mendengar ucapan Flowrence. " Yakkk Flowrence Wufien Ma. Kapan-kapan aku menjawab ingin merasakan apa yang kau alami? Jangan mengada-ada ya!"
"Bukankah tadi Kakak yang menanyakan apakah aku kesakitan atau tidak? Iya kan, Kak Oliv?" tanya Flowrence mencari kebenaran.
"Iya, Karl memang bertanya seperti itu padamu," jawab Oliver sambil tersenyum kecil. Flowrence sangat hebat, dalam keadaan seperti ini pun dia masih bisa mengguncang emosinya Karl. Luar biasa.
"Nah kan? Justru aku memberikan solusi terbaik dengan menawarkan seperti apa rasanya di seret mobil kemudian di bungkus menyerupai mumi Mesir. Sensasinya sangat menyegarkan, Kak. Sungguh, aku tidak bohong!"
"Apa? Mumi Mesir?"
"Iya mumi Mesir. Lucu kan namanya,"
Karl mendengus kesal. Dia pikir Flowrence akan menjadi sedikit lebih pintar setelah mengalami insiden ini. Eh, ternyata tidak. Flowrence masih Flowrence yang sama dimana adiknya ini suka membuat emosinya naik ke ubun-ubun. Membuat orang frustasi saja. Huh.
"Permisi, Tuan-Tuan. Karena kami perlu membuka beberapa perban yang sudah kotor terkena rembesan darah, jadi bisakah Tuan-Tuan jangan ikut masuk dulu ke dalam? Nanti setelah perbannya di ganti, kalian semua boleh mengajak Nona Muda mengobrol sampai puas. Tidak apa-apa 'kan?" tanya dokter dengan sopan menghentikan semua orang agar jangan ikut masuk ke dalam ruangan rawat ini.
"Oh, baiklah dokter. Kami semua akan menunggu di luar," sahut Andreas paham akan tugas para dokter.
"Ayah, Ayah kan laki-laki. Jadi Ayah tidak boleh ikut masuk ke dalam. Iya kan Paman dokter?" cegah Flowrence ketika melihat sang ayah ikut mendorongnya masuk ke dalam kamar.
Jackson tersenyum.
"Sayang, kau lupa ya kalau Ayah adalah seorang dokter? Pekerjaan Ayah sama dengan pekerjaan Paman dokter yang sedang mengobatimu. Masa kau lupa," jawab Jackson sambil menutup pintu ruangan.
"Oh, benar juga ya. Waahhhh, sepertinya aku menjadi pikun gara-gara jatuh ke jurang. Aku sampai lupa kalau Ayah adalah seorang dokter,"
Para dokter dan juga perawat kembali di buat gemas oleh sikap Flowrence. Setelah itu mereka meminta perawat wanita untuk mengganti perban di tubuh Flowrence dengan perban yang baru. Sedangkan Jackson dan dokter laki-laki, mereka mendiskusikan masalah lain sembari menunggu para perawat selesai dengan tugas mereka. Sungguh, betapa sangat di sayang Nona Muda satu ini. Fokus semua orang seakan tertuju hanya padanya seorang. Luar biasa sekali bukan?
__ADS_1
*******