
Sambil tersenyum malu-malu, Levita menatap pantulan tubuhnya di depan cermin kamar mandi. Wajahnya memerah melihat lekuk tubuhnya yang tercetak dengan sangat jelas karena sekarang dia hanya memakai lingerie seksi berwarna hitam dengan renda memanjang di bagian dada.
"Aduhh, kenapa wajahku seperti terbakar api begini sih. Ini kan hanya lingerie, harusnya aku tidak sampai bereaksi seperti ini. Kau kampungan sekali, Levita."
Sudah dua hari Levi dan Reinhard berada di Maldives, tempat wisata dengan sejuta pesona yang mampu memanjakan mata. Berkat kebaikan hati istri sah, sang pelakor akhirnya bisa berbulan madu secara GRATIS. Tapi selama dua hari di sini, mereka sama sekali belum mencicil untuk membuat adonan karena pasukan merah yang masih belum mengibarkan bendera putih pada Reinhard. Jadi selama di sini, Levita dan Reinhard hanya berjalan-jalan saja sambil menikmati pemandangan. Dan sekarang, malam ini Levita baru saja menerima surat penyerahan kalau si pasukan merah berhasil di pukul mundur dan memilih pergi setelah menyiksa Reinhard agar tidak bisa menyentuhnya dulu. Kabar baik ini tentu saja membuat Levita merasa sangat gembira. Akhirnya setelah sekian purnama menunggu, dia bisa merasakan yang namanya belah duren. Kampungan memang, tapi Levita benar-benar sudah sangat menantikan malam pertamanya bersama Reinhard.
"Kira-kira Reinhard langsung memakanku tidak ya kalau dia melihatku keluar dengan lingerie seperti ini? Ahh, sudah pasti iyalah. Secara, Reinhard kan sudah berpuasa selama beberapa hari. Air liurnya pasti menetes deras jika melihatku berpenampilan seperti ini. Hihihi."
Sambil terkikik pelan, Levita akhirnya keluar dari dalam kamar mandi untuk menemui suaminya yang sedang menonton televisi. Sebelum membuka pintu, Levita memastikan terlebih dahulu kalau nafas dan tubuhnya sudah wangi. Bisa rusak malam pertamanya jika Reinhard sampai mencium ada aroma yang tidak sedap dari tubuhnya. Harga dirinya pasti akan langsung tenggelam ke dasar bumi.
Ceklek
"Ekhmm, ekhmmmm!"
Tak ada respon. Levita kembali berdehem, dan kali ini dengan suara yang lumayan kuat. Reinhard yang tidak tahu apa-apa hanya bertanya tanpa mengalihkan tatapannya dari layar televisi. Dia malah dengan santai berbaring menyamping dengan memakai satu tangannya sebagai tumpuan kepala.
"EKHMMM EKHMMMM!"
"Kau kenapa, sayang? Batuk?"
"Tidak. Aku baru saja menelan biji kedondong," sahut Levita dongkol.
Mulut Levita langsung mengerucut saat jawabannya di sambut gelak tawa oleh Reinhard. Dan yang membuatnya semakin kesal, suaminya itu malah asik sendiri dengan film action yang sedang di tontonnya. Sambil menghentak-hentakkan kaki, Levi akhirnya berjalan menuju ranjang kemudian berbaring membelakangi Reinhard. Tak lupa juga dia menyelimuti lingerie seksi yang dia pakai menggunakan selimut hingga menyisakan kepalanya saja.
"Sayang, kau sudah mau tidur? Kenapa tidak mengajakku?" tanya Reinhard tanpa mengalihkan pandangannya dari layar televisi.
"Kau kan bukan bayi empat tahun yang kemana-mana harus di ajak. Kau punya kaki, punya tangan, kau sempurna. Sangat sempurna malah. Jadi jangan terlalu bergantung padaku. Tahu kau!"
Reinhard langsung berbalik menatap ke arah Levita saat mendengar jawabannya yang begitu cetus. Dia mengerutkan kening heran melihat tampilan istrinya yang tertutup selimut. Mirip ulat kepompong.
Apa kata-kataku tadi ada yang salah ya? Tumben sekali Levita bersikap seperti ini. Di mana salahnya?
__ADS_1
Tak ingin membuat Levita semakin bertambah kesal, Reinhard memutuskan untuk ikut tidur saja. Dia mematikan televisi dan juga lampu kamar, setelah itu ikut masuk ke dalam selimut yang menutupi tubuh ramping istrinya.
"Awas, jangan dekat-dekat!" usir Levita sambil menepis tangan Reinhard yang ingin merengkuh pinggangnya.
"Sayang, aku minta maaf kalau kata-kataku tadi membuatmu tersinggung. Aku ....
Whaaaatt?????
Bola mata Reinhard hampir melompat keluar begitu dia menyibak selimut yang menutupi tubuh istrinya. Dia yang tadinya tidak merasakan apa-apa, seketika merasa gerah saat mendapati kalau istrinya hanya memakai sepotong kain seksi, atau yang biasa di sebut lingerie.
"Lihat apa kau?" tanya Levita cetus.
"Hehee, sayang," jawab Reinhard seraya tersenyum mesum. "Kenapa kau memakai lingerie? Apa pasukan merahnya sudah menyerah?"
Levita mengulum senyum mendengar pertanyaan suaminya. Dengan pipi merona, dia berbalik menatap Reinhard.
"Pasukan merahnya sudah mengibarkan bendera putih. Apa sekarang kau senang?" tanya Levita malu-malu.
"Kau cantik, istriku."
"Jangan membual."
"Cantik," ....
Perasaan wanita mana yang tidak akan terbang melayang jika di sanjung seperti itu oleh pria yang kita cintai. Begitu pula yang di rasakan oleh Levita sekarang. Tak mau terus mengulur waktu untuk berkenalan dengan belut hidup milik suaminya, Levita tanpa ragu menurunkan tali lingerie yang terpasang di tubuhnya. Dia lalu mencubit lengan Reinhard saat melihatnya yang hanya terdiam dengan mulut ternganga lebar.
"Isshh, kenapa kau malah terlihat seperti orang yang tertempel jin halus sih, Rein? Tidak mau ya belah duren dengan istrimu yang masih perawan ting-ting ini?" tanya Levita.
Sebuah seringai kecil langsung muncul di bibir Reinhard saat dia mendengar kata belah duren dan juga perawan ting-ting. Sedetik kemudian, keadaan sudah berubah dengan Reinhard yang menindih tubuh Levita. Dia lalu menggerakkan satu tangannya untuk membelai wajah cantik wanita yang telah membuat juniornya menderita beberapa malam terakhir.
"Kau milikku malam ini, Levita Foster. Untuk menebus malam yang telah terbuang sia-sia, maka kau tidak ku izinkan mengeluh sampai besok pagi. Malam ini aku akan membuatmu tunduk dan patuh kepadaku," bisik Reinhard. "Apa kau takut?"
__ADS_1
"Tuan Reinhard tersayang, seorang Levita Foster mungkinkah merasa takut pada ancaman yang nikmat itu? Pewaris dari Group Ma saja aku berani melawan, apalagi kau yang jelas-jelas adalah suamiku. Jangankan hanya malam ini, untuk malam-malam selanjutnya aku juga tidak keberatan untuk tunduk dan patuh kepadamu," jawab Levita dengan gaya bicara yang sangat sensual.
Setelah saling menyatakan kesiapan, tanpa membuang waktu lagi keduanya mulai mengarungi kenikmatan yang layak untuk mereka reguk setelah menyandang status sah sebagai pasangan suami istri. Baik Reinhard maupun Levita, mereka berdua sudah sama-sama menantikan malam ini. Menantikan malam panjang yang akan di penuhi dengan gelora hangat dan juga sentuhan nikmat di berbagai titik sensitif di tubuh mereka.
"Rein, ini yang pertama untukku. Lakukan dengan sangat perlahan. Kalau sampai robek, aku akan menendangmu ke lantai," ucap Levita sambil terengah-engah. Wajah dan lingerienya sudah sangat berantakan akibat ulah pria yang kini sedang sibuk bermain di gumpalan daging kenyal.
"Aku akan melakukannya perlahan-lahan, sayang. Tapi jika sakit, itu artinya aku khilaf karena tubuhmu yang terlalu nikmat. Jadi tolong pertimbangkan jika ingin menendangku dari atas ranjang. Sekarang tolong diam dan nikmati saja apa yang sedang aku lakukan pada tubuhmu. Kau ... sangat candu, sayang," sahut Reinhard dengan suara serak. Dia sedang berjuang agar tidak menjebol gawang milik istrinya dulu karena Reinhard ingin menjelajah menikmati maha karya Tuhan yang err ... sangat luar biasa seksi.
"K-kalau begitu tunggu apalagi, Rein. L-lakukan sekarang saja."
"Nanti."
"Nanti?"
Levita mengerutkan kening. Dia tidak paham maksud dari perkataan suaminya barusan.
"Nanti. Tunggu setelah aku membuatmu merasakan apa yang di namakan kenikmatan bercinta. Dan sekarang ....
Levita memekik kaget saat Reinhard tiba-tiba menarik paksa sisa lingerie yang masih menempel di tubuhnya. Dia tertawa geli saat suaminya ini mendaratkan satu kecupan di atas perut ratanya sebelum akhirnya .....
πππ
πππππππππππππππππ
...πJangan lupa vote, like dan comment...
...ya gengss...
...πIg: rifani_nini...
...πFb: Rifani...
__ADS_1