Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Ayah Yang Serakah


__ADS_3


📢 NANIA UDAH UP DI YUTUP EMAK YA BESTIE. SILAHKAN MAMPIR KALO MAU 💜


📢 JANGAN LUPA BOM KOMENTAR DI NOVEL


- My Destiny ( Clara & Eland)


- Ma Queen Rose


- Marriage Contract With My Secretary


- Pesona Si Gadis Desa


BOM KOMENTAR SEBANYAK-BANYAKNYA YA BIAR EMAK SEMANGAT UP. OK BESTIE 💜


🎗🎗🎗🎗🎗🎗🎗


Gabrielle berjalan memutari mobil kemudian membukakan pintu samping untuk Elea. Dia lalu menyunggingkan senyum manis ketika istri tersayangnya ini mengerling nakal ke arahnya.


"Kita masih di luar, sayang. Jangan menggodaku dulu," ucap Gabrielle setelah Elea keluar dari dalam mobil. Dia lalu mengecup punggung tangan Elea yang masih berada dalam genggamannya. "Kau bisa kelelahan jika memancingku sekarang!"


"Kau tahu, Kak Iel. Aku itu selalu menyukai rasa lelah yang kau ciptakan. Jadi aku sama sekali tidak takut untuk menghadapimu," sahut Elea dengan sengaja menggoda suaminya yang mudah sekali terpancing b*rahi. Sikap mesum Gabrielle sama sekali tidak berubah meski kini mereka telah mempunyai tiga orang anak. Justru yang ada kemesuman di diri suaminya ini malah makin menjadi-jadi yang mana membuat Elea jadi semakin suka untuk menggodanya. Kan lumayan untuk menambah vitamin dari dalam. Hahahaha.


"Hmmm, semakin bertambah usia kau jadi semakin pintar menggodaku ya, sayang. Awas saja, malam ini aku tidak akan melepaskanmu!"


"Uhhh, aku takut sekali. Siapapun tolong aku sekarang,"


Gabrielle dan Elea benar-benar seperti melupakan keberadaa Ares dan juga para penjaga yang kala itu masih berdiri tak jauh dari mereka. Sedangkan Nun, ketua pelayan itu langsung berbalik menghadap ke belakang saat kedua majikannya bercumbu dengan sangat mesra. Bukan tak tahu tempat, tapi Gabrielle memang akan selalu hilang kendali setiap berada di dekat Elea. Dan tentu saja hal ini sudah di ketahui oleh semua orang, terutama yang tinggal di rumah ini. Mata mereka sudah terbiasa di nodai oleh keromantisan Gabrielle pada Elea. Jadi kini mereka sudah tak heran jika tak sengaja melihat percumbuan dari kedua pasangan bucin ini.


"Apa yang sedang kau lihat?"


Hampir saja jantung milik Karl terlempar keluar saat ada yang menepuk pundaknya dari arah belakang. Sambil mengelus dada, dia pun berbalik untuk melihat siapa gerangan manusia kurang ajar yang hampir membuatnya mati muda.

__ADS_1


"Apa?"


"Astaga, Kak. Bisa tidak kau jangan mengageti aku seperti tadi? Kalau aku mati bagaimana?" ucap Karl mengomeli si pelaku yang ternyata adalah kakaknya.


"Kalau kau mati aku dan yang lainnya tinggal membuat acara pemakaman saja untukmu. Gampang 'kan?" sahut Bern santai.


"Ck, beginilah jika mempunyai suadara kembar tanpa ada ikatan batin. Bukannya meminta maaf kau malah sibuk merencanakan pemakaman untuk saudaramu sendiri. Kejam sekali kau, Kak. Menyesal aku sudah menjadi kembaranmu dan juga Flow!" ucap Karl bersungut-sungut. Rasanya sungguh sangat sia-sia saja bicara dengan manusia kutub seperti kakaknya ini.


Bern tersenyum tipis. Dia lalu sedikit membuka horden untuk mencaritahu apa yang tengah dilihat oleh Karl. Namun, baru juga Bern mengintip dia sudah kembali menutup horden tersebut begitu tahu pemandangan seperti apa yang tadi dilihat oleh adiknya.


"Hehehe. Terkejut ya?" tanya Karl dengan tampang meledek.


"Kau masih lima belas tahun, Karl. Tidak sepantasnya melihat sesuatu yang seperti itu!" tegur Bern sambil menghela nafas.


"Lho, memang apa salahnya, Kak? Lima belas tahun pun sudah bisa di kategorikan sebagai orang dewasa. Lagipula ya, Kak Bern. Ayah dan Ibu kan hanya berciuman saja, aku bahkan pernah melihat yang lebih panas lagi dari apa yang mereka lakukan!" sahut Karl enggan mengakui kesalahannya.


Dan begitu Karl selesai berucap, barulah dia tersadar kalau telah salah bicara. Sambil meringis menampilkan deretan giginya yang putih bersih, Karl mengangkat kedua jari tangannya ke atas lalu meminta maaf pada sang kakak yang kini tengah menatapnya dengan sangat tajam.


"Sorry,"


"Kak, please. Film itu tidak ada di ponselku," sahut Karl langsung menyembunyikan ponsel ke belakang punggungnya. Bisa gawat nanti kalau sang kakak benar-benar menyita ponsel miliknya. Hehee.


"Lalu?"


"Aku melihat film itu di ponsel milik temanku. Sungguh!"


Bern menaikkan satu alisnya ke atas. Dia tidak akan mempercayai perkataan Karl begitu saja. Sungguh, Bern benar-benar tak habis pikir mengapa adiknya bisa sampai menonton film-film seperti itu. Padahal Nenek mereka sudah pernah mengingatkan agar tidak menonton apalagi menyimpan video yang berhubungan dengan pelecehan pada wanita. Entah masalalu seperti apa yang pernah terjadi di rumah ini, yang jelas ada sanksi yang sangat berat bagi semua orang yang berani memandang rendah harga diri seorang wanita. Karena jika hal itu sampai terjadi, mereka akan langsung di ungsikan ke pulau tak berpenghuni sebagai upaya penebusan dosa. Tapi Karl, astaga. Adiknya ini polos atau bodoh sih. Sengaja menantang sengsara hanya demi sebuah video gila yang bisa menyesatkan pikiran manusia. Benar-benar.


"Karl, kau tahu bukan hukuman seperti apa yang bisa kau terima dari Nenek Liona jika beliau sampai mengetahui keburukan yang kau lakukan? Memangnya kau mau tinggal seorang diri di sebuah pulau sunyi, hm?" tanya Bern dengan pandangan dingin yang begitu menusuk.


"Tidak maulah, Kak. Bisa mati berdiri aku jika harus tinggal sendirian di sana," jawab Karl jujur.


"Kalau begitu cepat serahkan ponselmu!"

__ADS_1


"Tidak mau!"


"Serahkan, atau aku akan mengadu pada Ayah dan Ibu!" ancam Bern. "Kalau aku yang memeriksa, mungkin kau masih bisa terbebas dari hukuman mengerikan itu. Tapi jika sampai Ayah atau Ibu yang memeriksanya, aku tidak yakin kau masih bisa bersenang-senang seperti sekarang!"


Karl menelan ludah. Kali ini posisinya terjepit, dia sudah tidak mempunyai jalan keluar lain selain menyerahkan ponselnya pada sang kakak.


Aduh, bagaimana ini. Kalau ponselku sampai di buka oleh Kak Bern, dia pasti akan mengetahui segalanya. Tapi kalau ponselku tidak aku serahkan padanya, Ayah dan Ibu pasti akan sangat murka padaku. Belum lagi Kakek Greg dan Nenek Liona. Apa yang harus aku lakukan sekarang ya? Aaa, pusing.


"Karl, aku hitung sampai tiga. One, two ... thr....


"Oke-oke aku akan menyerahkannya padamu saja, Kak!" ucap Karl mengalah. Dia lalu menyerahkan ponselnya dengan raut wajah yang begitu pasrah. "Tolong nanti kau jangan marah jika melihat sesuatu yang tidak-tidak di dalam sana ya, Kak. Oke?"


"Tergantung gambar apa yang aku lihat!"


Setelah itu Bern pun mulai memeriksa satu-persatu file yang tersimpan di dalam ponselnya Karl. Sesekali alisnya tampak mengkerut saat mendapati ada gambar-gambar aneh di dalam ponsel tersebut. Karl yang melihat ekpresi tak biasa di wajah sang kakak pun hanya bisa pasrah ketika file-file miliknya terus di periksa. Dia sudah siap kalau setelah ini sang kakak akan mengamuk kemudian menghajarnya sampai jelek.


"Bern, Karl. Apa yang sedang kalian lakukan di sini, sayang?"


Tubuh Karl kaku, sedang Bern sempat berjengit kaget saat sang ibu tiba-tiba bertanya pada mereka.


"Hei, kalian berdua ini kenapa menatap Ibu seperti sedang melihat hantu. Ada apa, hem? Apa yang sedang kalian sembunyikan?" tanya Elea sambil mengelus bergantian pipi kedua putranya.


"Em, Ibu tumben sekali pulang bersama Ayah. Tadi singgah ke kantor Ayah dulu ya?" sahut Karl mengalihkan pembicaraan.


"Memang apa salahnya kalau Ibu kalian pulang bersama Ayah? Tidak boleh?" tanya Gabrielle langsung memprotes perkataan Karl yang seakan tak terima Elea pulang bersamanya. Menyebalkan.


"Haih, Ayah mulai lagi."


"Mulai apanya?"


"Anak sendiri pun di cemburui. Ingat, Ayah. Ibu itu bukan hanya milik Ayah saja. Akan tetapi Ibu itu milikku, milik Kak Bern, dan juga miliknya Flow. Jadi Ayah harus rela berbagi Ibu dengan kami bertiga. Lagipula kami kan bisa ada di sini karena Ayah yang membuat adonan, jadi Ayah mana boleh serakah dan ingin menguasai Ibu seorang diri. Iya kan, Kak?"


"Iya, benar!" sahut Bern.

__ADS_1


Dan di detik selanjutnya, Bern dan Karl harus rela kepala mereka menjadi bulan-bulan sang ayah yang murka karena di katai serakah oleh Karl. Sedang Elea, dia hanya tertawa saja melihat kelakuan anak dan suaminya. Sayang, putrinya yang manis sedang tidak ada di rumah. Kalau ada, Elea dan Flow pasti akan menjadi wasit setiap kali Gabrielle dan si kembar ini bertengkar.


******


__ADS_2