
📢 Jangan lupa mampir ke My Destiny ( Clara & Eland). Mari kita menangis bombay di sana. Jangan lupa tinggalkan jejak ya gengss 💜
📢 Pesona Si Gadis Desa juga up ya gengss... Jangan lupa mampir dan tinggalkan jejak. Oke 💜
Sementara itu di kediaman keluarga Bryan, terlihat Cira yang sedang bercanda dengan anaknya Patricia. Bayi tampan itu terlihat nyaman bersamanya, tapi sesekali bayi itu kedapatan menatap Cira dengan pandangan yang cukup aneh. Dan hal ini rupanya di sadari oleh Patricia, induk semangnya di bayi kecambah. Ingin menegur, tapi Cio masih bayi. Jadi Patricia memilih untuk mengajak Cira berbicara saja. Biasanya insting seorang bayi bisa menandakan sesuatu hal, dan Patricia khawatir terjadi sesuatu pada Cira dan kandungannya.
"Cira, kau sedang dalam suasana hati yang baik-baik saja bukan?" tanya Patricia. Dia menatap lekat wajah cantik istrinya Ares ini.
"Aku tentu baik-baik saja. Kenapa kau bertanya seperti itu padaku?" jawab Cira. Dia lalu membalas tatapan Patricia dengan ekpresi heran.
"Em, tidak. Aku perhatikan sejak tadi Cio terus menatapmu dengan ekpresi yang aneh. Biasanya ... ini hanya biasanya ya. Jika bayi bersikap seperti itu, biasanya dia sedang merasakan kalau ada sesuatu yang akan terjadi pada orang tersebut. Dan aku mengkhawatirkanmu. Tolong kau jangan tersinggung ya?"
Cira tersenyum. Dia lalu mengelus puncak kepala Cio yang sedang asik dengan mainan di tangannya. Cira tidak bodoh, dia juga merasakan kalau bayi ini sering menatapnya seolah ada sesuatu yang ingin di sampaikan. Sayang Cira bukan seseorang yang memiliki indra ke-enam. Dia pasti akan langsung tahu kenapa bayi ini bisa bersikap demikian padanya jika seandainya Cira memiliki kelebihan itu. Tapi ya sudahlah, mungkin ini hanya kebetulan saja.
"Aku sebentar lagi melahirkan. Mungkin Cio hanya sedang tidak sabar menunggu kelahiran temannya saja. Makanya dia selalu menatapku seperti itu," ucap Cira mencoba untuk mencairkan suasana.
"Ah, benar juga ya."
Patricia tertawa.
"Oya, Cira. Apa kau sudah mengetahui jenis kelamin anakmu? Ares tak pernah menjawab setiap aku dan Junio menanyakan hal ini padanya. Suamimu itu sungguh pelit. Padahal kan aku dan Junio hanya tidak ingin salah membelikan hadiah saat bayimu lahir nanti!" tanya Patricia mengeluhkan sikap Ares yang begitu menjaga privasi rumah tangganya bersama Cira. Tidak seperti Junio yang blak-blakan pada semua orang bahkan tentang aktifitas ranjang mereka.
Huh, kenapa aku jadi merindukan pria gila itu ya?
"Sebenarnya Ayah dan Ibu mertuaku juga sangat ingin mengetahui jenis kelamin dari bayi kami, Patricia. Akan tetapi aku dan Ares lebih memilih untuk menjadikannya sebagai kejutan saja saat hari melahirkan tiba. Aku dan Ares sudah sepakat akan menerima apapun jenis kelamin anak kami nanti. Bukannya pelit, kami hanya ingin kebahagiaan ini benar-benar sempurna saja. Rasanya pasti akan jauh lebih menyentuh lagi saat kami mengetahui hal ini di akhir perjuangan. Entah laki-laki ataupun perempuan, bayi ini adalah buah cinta kami. Jadi kami ingin membungkusnya agar menjadi momen yang tidak akan pernah bisa terlupakan!" jawab Cira seraya mengelus-elus perutnya yang membuncit besar.
__ADS_1
"Waahhhh, itu ide yang sangat brillian, Cira. Kalau begini ceritanya sih aku seratus persen mendukungmu!" sahut Patricia sangat antusias akan keinginan Cira.
"Terima kasih."
Tak lama kemudian datanglah Yura yang muncul sambil membawa dua gelas jus di tangannya. Oh ya, mungkin di antara kalian ada yang merasa penasaran kenapa Cira bisa ada di rumah ini. Sejak Mama Clarissa meninggal, Bryan memaksa Ares agar membiarkan Cira tetap tinggal di rumah ini. Alasannya hanya satu, Cira adalah putri angkat mendiang ibu mertuanya, jadi Bryan merasa bertanggung jawab atas kebahagiaan Cira selanjutnya. Dan untungnya kedua orangtua Ares mengizinkan meski di awal-awal ibunya Ares sempat hampir mencuri Cira dari rumah ini. Konyol bukan? Tapi inilah kebahagiaan yang sesungguhnya. Dan Yura akhirnya bisa memiliki semua kebahagiaan ini setelah perjuangan panjang dalam meluluhkan hatinya Bryan.
"Aduhhh, cucu Nenek. Kenapa kau semakin tampan saja sih. Nenek kan jadi gemas!" ucap Yura sembari meletakkan dua gelas jus di hadapan Cira dan Patricia. Setelah itu Yura langsung mengambil Cio kemudian memangkunya. "Nah, kalian minumlah jus itu."
"Baik, Ibu!" sahut Patricia.
"Terima kasih, Bibi Yura. Kau begitu baik padaku," ucap Cira kemudian mulai menyesap jus buah miliknya.
Mama, apa kau melihat semua kebahagiaan ini dari atas surga sana? Mereka begitu menyayangi dan menjagaku, aku tidak sendirian. Tapi kenapa aku masih begitu merindukanmu? Aku rindu kehangatanmu, Ma.
"Cira, kapan hari kelahiranmu tiba?" tanya Yura sambil menimang-nimang cucunya yang entah kenapa menjadi sangat pendiam setelah menatap Cira. Aneh, tapi Yura tidak tahu apa penyebabnya.
"Pasti, sayang. Semua orang pasti akan mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua. Kau tidak sendirian, jangan khawatir."
"Ibu benar, Cira. Kita semua adalah keluarga, dan sudah pasti kami semua akan selalu menemanimu. Tenang saja, melahirkan itu sama sekali tidak sakit kok. Hanya seperti orang yang ingin mengeluarkan batu beton dari dalam perut saja!"
Yura dan Cira tergelak mendengar perkataan Patricia. Setelah itu mereka bertiga tertawa bersama, merasa lucu mendengar cara Patricia menjuluki rasa sakit pada orang yang akan melahirkan.
Drrrttt ddrrrrtttt
"Ah, Elea menelpon," ucap Patricia sambil mengangkat layar ke hadapan ibu dan juga Cira. "Haihh, wanita hamil ini pasti akan mengatakan sesuatu hal yang sedikit tidak masuk akal. Haruskah aku mengangkatnya?"
__ADS_1
"Kau ini. Sudah angkat, nanti adikmu meneror seluruh rumah kalau panggilannya di abaikan," ucap Yura menengahi keusilan Patricia.
"Hahh, Ibu ini kenapa pilih kasih sekali sih. Aku kan jadi iri."
"Iri apa. Kau, Elea, Cira, kalian adalah anak-anak Ibu. Kasih sayang Ibu sama besarnya pada kalian bertiga. Sudah sana angkat sebelum adikmu melakukan sesuatu yang lain. Sana angkat!"
"Iya-iya,"
Patricia menekan tombol hijau di layar ponselnya kemudian menyalakan tombol loudspeaker. Dia ingin semua orang mendengar secara langsung apa yang akan di ucapkan oleh adiknya yang tengil itu.
"Ya ampun, Kak Cia. Kenapa lama sekali mengangkat panggilanku? Pulsaku sampai habis gara-gara menunggu. Ya ampun."
Sudah, jangan di bayangkan seperti apa reaksi ketiga wanita ini. Kalian pasti bisa memikirkannya sendiri-sendiri bukan? Habis pulsa, oh my God. Bahkan Group Ma memiliki kemampuan untuk memadamkan semua sinyal di negara ini. Tapi kenapa Elea mengeluhkan hal-hal yang tidak seharusnya dia keluhkan? Ingin heran, tapi ini adalah Elea. Jadi ya sudah, lebih baik iya-iya saja daripada urusannya jadi panjang. 😅
"Aku sedang bermain dengan baby Cio tadi, makanya agak sedikit lama saat akan menjawab panggilanmu," sahut Patricia sambil terkekeh pelan. "Ada apa, hm? Sepertinya kau ingin mengatakan sesuatu yang sangat penting. Apa?"
"Karena kau memaksa, aku akan langsung memberitahumu, Kak. Nanti malam semua generasi ibu hamil akan menghabiskan waktu bersama brondong. Kita semua akan makan malam bersama mereka. Em sebenarnya Kak Lusi yang mengidam, tapi rasanya tidak afdol kalau membiarkan Kak Lusi bersenang-senang sendirian, jadi aku putuskan untuk mengajak kalian semua. Tolong bersiap ya. Brondongnya sangat tampan, Kak Iel yang memilihkannya langsung untuk kita!"
"Makan malam bersama brondong?"
Patricia langsung menoleh ke arah Cira dan ibunya. Entah apalagi rencana Elea, tapi ajakannya cukup menggiurkan. Lagipula ini adalah kegiatan yang sangat amat berguna untuk kesehatan mata. Jadi tanpa meminta persetujuan dari Cira Patricia langsung mengiyakan tawaran Elea.
"Baiklah, Elea. Aku dan Cira akan bersiap nanti malam," ucap Patricia dengan begitu semangat. "Tapi ngomong-ngomong sekarang kau sedang ada di mana, Elea? Kenapa aku seperti bisa mendengar suaraku sendiri ya?"
"Coba sekarang kau lihat ke arah pintu, Kak."
__ADS_1
Patricia, Yura, dan juga Cira langsung melongo seperti orang bodoh begitu melihat ke arah pintu masuk. Elea, perempuan yang sedang hamil enam bulan itu kini tengah tersenyum lebar sambil melambaikan tangan pada mereka. Sungguh, hal-hal tidak masuk akal seperti ini hanya Elea saja yang mampu melakukan. Bagaimana tidak? Orangnya sudah sampai di rumah ini tapi kenapa malah menelpon? Ingin heran tapi ini adalah Elea. Nalar manusia normal seakan tak mampu menyaingi pemikiran wanita ini yang selalu saja berhasil membuat orang lain sesak nafas dan juga frustasi sendiri. Sungguh sebuah prestasi yang sangat tidak ada lawan. 🥴
*****