
📢 Bestie, di sini nama perusahaan milik Tuan Kendra akan emak ganti menjadi Airan Group karena kemarin ada slah satu pembaca yang ngelabrak emak gara-gara make nama perusahaan milik Tuan Saga. Jujur, emak nulis nama itu secara spontan tanpa ada niat menjiplak. Dan karena emak nggak mau nama Antarna Group membawa dampak buruk buat novel ini, emak putuskan untuk mengganti namanya dengan yang baru. Yaitu Airan Group. Jadi tolong untuk para pembaca jangan langsung menuduh karya emak sebagai plagiat hanya karena memiliki jenis nama yang sama. Kalau kalian merasa nggak nyaman, kalian boleh kok memberikan teguran ke emak. Dengan syarat kata-katanya harus sopan. Oke.
***
"Kak, ayolah. Airan Group itu adalah perusahaan yang lumayan besar, kita bisa mendapatkan keuntungan yang tak kalah besar jika kau bersedia untuk menolong Tuan Kendra. Oke?" ucap Karl pantang menyerah membujuk sang kakak agar bersedia menyelamatkan Airan Group dari kebangkrutan.
"Karl, aku bukan tidak tahu apa penyebab hingga kau merengek seperti ini padaku. Airan Group, perusahaan yang bahkan tidak bisa menyadari kalau telah membesarkan seorang pencuri itu apakah mungkin untuk aku menolongnya? Kau itu hanya ingin mencari alasan saja supaya bisa terbebas dari urusan kantor dan kembali lagi ke goa jelekmu itu. Iya 'kan?" sahut Bern tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop. Sejak masih di kantor, adiknya ini terus saja merengek meminta agar Bern bersedia membantu Tuan Kendra menyelamatkan perusahaannya. Bahkan anak ini pantang menyerah hingga memburunya sampai ke rumah. Menyebalkan sekali bukan?
"Ck, mulutmu benar-benar sangat luar biasa kejam, Kak Bern. Labolatorium milikku itu bukan goa, tapi sebuah tempat berharga tempatku meneliti temuan-temuan indah bekas peninggalan masa lalu. Dan tentu saja semua hasil temuanku memiliki harga jual yang sangat tinggi jika sampai masuk ke pelelangan kelas internasional. Dinasti Ming. Zaman itu di kenal sebagai salah satu zaman paling makmur di bawah kepemimpinan seorang jendral kuat bernama Liang Zhu. Dan jika aku bisa menemukan pedang sakti miliknya, maka aku akan mendapatkan jackpot yang sangat luar biasa besar, Kak. Jadi kau mana boleh menganggap remeh barang-barang hasil temuanku. Kau salah jika berpikir seperti itu!" protes Karl tak terima saat labolatorium miliknya di sebut sebagai goa jelek.
Pandangan Bern akhirnya teralih saat Karl membahas tentang seorang jendral dari masa lalu bernama Liang Zhu. Aneh. Tiba-tiba saja Bern seperti merasakan sebuah kesedihan yang teramat sangat dalam begitu mendengar nama tersebut. Bahkan Bern merasa kalau kedua matanya sedikit memanas layaknya orang yang sedang menahan tangis.
Apa yang terjadi denganku? Kenapa aku menjadi emosional begini setelah mendengar nama Jendral Liang Zhu. Siapa dia? Ada hubungan apa di antara kami sampai rasa sedih ini begitu menggelayut di dalam hati? Aneh.
Karl menatap dengan seksama ketika kakaknya malah diam melamun setelah Karl memberitahukan tentang keistimewaan labolatoriumnya. Dia yakin sekali kalau kakaknya pasti sedang menyesali ucapannya yang menyebut labolatoriumnya sebagai goa jelek. Haha. Kakaknya belum tahu saja kalau Karl bisa menjadi seorang jutawan dalam sekejap jika semua barang yang ada di sana dia jual. Suka meremehkan orang sih.
"Keuntungan apa yang bisa kita dapatkan jika aku bersedia untuk menyelamatkan Airan Group?" tanya Bern mencoba menghilangkan rasa sedih dari dalam pikirannya. Bern tak mau hatinya menjadi tergerak dampak dari rasa sedih yang tiba-tiba muncul di hatinya. Dia tak mau menjadi orang yang lemah.
"Nah, ini dia yang aku tunggu-tunggu sejak tadi!" seru Karl kegirangan. Dia lalu tersenyum lebar saat sang kakak melirik sinis ke arahnya.
__ADS_1
"Jangan bertingkah berlebihan atau aku akan menarik kembali ucapanku. Paham?"
Karl langsung kicep. Dia membenarkan posisi duduknya sebelum menjelaskan keuntungan apa yang di dapat oleh Group Ma jika membantu Tuan Kendra keluar dari masalahnya.
"Karena masalah yang membelit Airan Group cukup pelik, aku berpikir akan sangat setimpal jika kita meminta separuh saham yang dimiliki oleh Tuan Kendra sebagai salah satu syarat kalau kita akan bersedia untuk membantunya. Dan juga ....
Ucapan Karl terjeda. Dan ini membuat Bern menghela nafas kasar. Dia tentu tahu kata seperti apa yang akan segera terucap keluar dari mulut adiknya yang bawel ini.
"Dan juga, Tuan Kendra itu memiliki tiga orang anak yang semuanya sangat cantik dan mempesona. Mungkin kau bisa meminta pada Tuan Kendra agar menjodohkan salah satu putrinya denganmu, Kak. Secara, kau itukan sudah tua. Aku rasa Ayah dan Ibu tidak akan keberatan jika berbesan dengan Tuan Kendra. Benar tidak?" ucap Karl antusias saat menyampaikan ucapannya.
"Oh, sudah tua ya?"
"Kalau aku sudah tua, lalu kau apa? Tiga menit. Aku terlahir tiga menit lebih dulu sebelum kau terlahir ke dunia. Dan itupun di hari, tanggal, bulan dan tahun yang sama juga. Lalu bagaimana bisa kau menyebutku tua kalau kau sendiri terlahir di hari yang sama denganku?" ejek Bern sambil menyipitkan sebelah matanya. Ekpresinya kembali berubah dingin saat akan melanjutkan ucapannya. "Jangan bercanda, Karl. Kau tahu bukan kalau aku paling tidak suka pada manusia yang suka membuang waktuku secara tidak jelas?"
"Ya ya ya, aku tahu," sahut Karl sembari memutar bola matanya. Dia jengah melihat sikap dingin kakaknya ini. "Kalau begitu apa keputusanmu, Kak? Kau mau menolong Tuan Kendra atau tidak?"
"Kau aturlah semuanya. Dan antarkan berkasnya ke ruanganku besok!" jawab Bern yang akhirnya mengabulkan apa yang diminta oleh Karl. Juga karena Bern tahu kalau adiknya ini cukup jenius dalam memilah perusahaan mana yang bisa mendatangkan keuntungan besar bagi Group Ma. Atau istilah sederhananya, Bern mempercayai apapun keputusan yang di ambil oleh Karl.
"Baiklah, kakakku tersayang. Besok pagi berkas itu sudah akan berada di atas meja kerjamu. Kalau begitu aku permisi dulu ya. Tuan Kendra sedang menungguku sekarang!" ucap Karl segera pamit pulang setelah berhasil membujuk kakaknya.
__ADS_1
Bern mengangguk samar saat Karl berpamitan padanya. Setelah itu Bern kembali termenung, memikirkan tentang hatinya yang merasa aneh begitu mendengar nama Jendral Liang Zhu.
"Apa jangan-jangan Jendral Liang Zhu ini adalah nenek moyang keluarga Ma ya? Makanya rasa sedih yang dia rasakan bisa tersalur padaku. Aneh sekali," gumam Bern sesaat sebelum dia kembali fokus pada layar laptopnya.
Sementara itu Karl yang baru saja masuk ke dalam mobil, segera menghubungi Tuan Kendra yang kebetulan baru saja mengirimkan pesan ke ponselnya. Karl berniat menyampaikan kabar baik ini pada Tuan Kendra, sekalian ingin meminta keuntungan tambahan padanya. Yahhh, kalian pasti tahulah apa yang ingin Karl minta. Hehe.
"Halo, Tuan Muda Karl. Saya baru saja sampai di rumah anda. Sekarang saya harus bagaimana?"
"Kau tunggulah dulu di dalam rumahku, Tuan Kendra. Nanti aku akan meminta penjaga agar membawamu masuk ke dalam rumah," jawab Karl sambil menyalakan mesin mobilnya. Setelah itu Karl melajukan mobil sambil terus berbicara lewat telepon. "Oya, Tuan Kendra. Aku ingin menyampaikan kabar baik untukmu kalau kakakku telah bersedia untuk membantu Airan Group. Namun salah satu syaratnya kau harus memberikan salah satu putrimu untuk dijadikan istri oleh kakakku. Bagaimana? Apa kau merasa keberatan dengan syarat yang diminta olehnya?"
Tuan Kendra tak langsung menjawab pertanyaan Karl yang secara terang-terangan telah meminta salah satu putrinya menjadi menantu di keluarga Ma. Karl maklum kalau pria itu terkejut, hal yang wajar menurutnya. Namun adalah kesalahan fatal jika sampai menolak menjadi besannya Ibu Elea dan Ayah Gabrielle, pasangan berpengaruh kedua setelah Kakek Greg dan Nenek Liona.
"Tuan Muda, bisakah kita membicarakan masalah ini setelah anda sampai di rumah saja? Rasanya sungguh tidak sopan jika saya membahas hal sepenting ini lewat telepon. Anda tidak keberatan bukan?"
"Oh, begitu. Ya sudah, nanti kita bicarakan masalah ini lagi setelah aku sampai di rumah. Kalau begitu aku matikan dulu panggilannya. Oke?"
Karl langsung memekik kesenangan setelah panggilan terputus. Dia yakin sekali kalau Tuan Kendra pasti tidak akan menolak permintaannya.
"Hehe, lihatlah betapa aku sangat perhatian sekali padamu, Kak. Aku bahkan tidak malu mencarikan wanita yang akan menemani hidupmu. Akhirnya ya beruang kutub itu akan segera laku juga. Hahay!"
__ADS_1
***